"Aku akan selalu ada untukmu, Syisi. Dalam suka maupun duka, kita hadapi dunia sama-sama."
Kata-kata itu meluncur begitu mulus dari bibir Tiyo Donald. Tatapan matanya begitu meyakinkan, seolah ia adalah pria paling setia di seluruh jagat raya. Bagi Syisi, kalimat itu terdengar seperti komitmen suci. Tiyo pandai sekali merangkai kata, membuat Syisi merasa menjadi perempuan paling beruntung karena telah menemukan pelabuhan terakhirnya. Setiap janji yang diucapkan Tiyo terasa seperti jaminan masa depan yang indah.
Waktu berjalan, dan badai ujian kehidupan mulai datang. Janji "suka dan duka" yang dulu digaungkan Tiyo perlahan diuji oleh realitas.
Saat situasi sedang menyenangkan dan penuh suka, Tiyo selalu ada di garis depan untuk menikmati segalanya. Namun, begitu badai duka dan kesulitan datang menghampiri, Tiyo mulai menunjukkan warna aslinya. Alih-alih menggenggam tangan Syisi, Tiyo justru sibuk mencari seribu alasan untuk menghindar. Kata-kata manisnya mendadak menguap, digantikan oleh sikap dingin dan egois.
Syisi akhirnya terbangun dari mimpi buruk itu. Ia menyadari bahwa semua kalimat cinta, janji setia, dan sumpah untuk bertahan bersama dalam duka hanyalah sebuah skenario fiktif.
Semua itu adalah bullshit—omong kosong yang dirancang Tiyo hanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan pada saat itu. Tiyo Donald tidak pernah benar-benar berniat untuk ada di sana saat situasi memburuk. Dia hanyalah seorang pengecut yang pandai merayu, meninggalkan Syisi dengan kenyataan pahit bahwa manusia yang paling manis bicaranya bisa menjadi yang paling berengsek tindakannya.