Di dalam mobil, di siang hari yang panas, serta di tengah kemacetan kota.
"♪♪♪" bunyi dering ponsel.
"Ya, ada apa," ucapku pada penelepon.
"Tender kita ditolak lagi, haduh.. ini udah kesekian kalinya pada kuartal ini."
"Kenapa bisa ditolak... Hah, kita ditikung perusahaan lain, lagi?"
"Ok, ok, nanti kita bahas lagi setelah makan siang,"
"Hahhhhhhhhhh," keluhku pada diri sendiri.
~
Yah begitulah hidup, maaf karena tidak sempet memperkenalkan diri. Hari ini benar-benar lagi ga beruntung, project yang super penting tiba-tiba batal digarap gara-gara kalah tender. Ngomong-ngomong, namaku U-6, kebetulan hari ini dikarenakan kejebak macet aku mutusin buat ke vihara, sebenarnya sekalian makan siang juga sih.
~
Di vihara, siang yang sama.
"Permisi..."
"Siang bhante," sapaku pada bhante sembari melakukan Anjali dan mengucapkan 'Namo buddhaya'.
"Wah, mas U-6. Tumben banget datang ke vihara di hari kerja."
"Iya bhante, tadi saya kejebak macet sekitar sini, jadi saya mutusin buat sekalian aja sembahyang. Mumpung ada waktu."
"Ngomong-ngomong bhante udah makan siang?" tanyaku pada Bhante.
"Sudah, kebetulan baru aja tadi ada umat yang berdana nasi pecel," jawab bhante dengan candaan.
"Haha, begitu to. Yaudah bhante, saya permisi dulu."
"Iya mas, dupanya ama koreknya ada di rak ya mas."
~
Yah.. itu percakapan cukup biasa.
~
"Kenapa hidup ini susah ya, tiba-tiba aja project penting ilang gitu aja. Huhhhhhhh.. ko bisa hal sepenting itu lepas," gumamku sembari meletakan dupa.
"Kayanya lagi banyak masalah ya mas."
"Bh..bhante, yah begitulah. Buat umat awam kaya saya, masalah yang paling ngeganggu tuh masalah ekonomi ama kerjaan."
"Oh masalah kerjaan toh, kalo boleh, bisa masnya ceritain masalahnya apa?"
"Boleh ko Bhante, sebenarnya masalahnya itu lumayan berat juga. Saya kehilangan project gara-gara kalah tender, semua hal yang saya coba udah ga berarti lagi sekarang," ujarku.
"Ouhhh, begitu to."
"Mas U-6 menurut masnya, apa hal paling berharga didalam hidup ini?" ujar Bhante, pertanyaan ini jarang diutarakan beliau.
"Menurut saya, hal paling berharga itu.. sesuatu yang ga bisa kita dapat/miliki, sama sesuatu yang udah ga ada/pergi."
"Menarik ya, ngomong-ngomong mas, saya punya satu cerita. Masnya mau denger?"
"Boleh-boleh, mohon pembabaran atas dhamma-nya bhante," ucapku sembari mengangkat tangan berpose Anjali dan duduk di tempat yang pantas.
"Hahaha, ya tolong disimak ya mas. Ceritanya ini punya judul Makkaṭaka-jāla;
~
Suatu ketika, ada seekor laba-laba yang mendapatkan kebijaksanaan karena hidup di samping sebuah arama (tempat persinggahan atau taman yang dibuat khusus untuk biksu Buddha). Karena kecerdasannya dan pemahamannya atas ajaran Buddha, dia akhirnya diakui sebagai makhluk bijaksana (telah mencapai jhana).
Sebab pencapaian tersebut, sang Buddha yang welas asih tersentuh dan akhirnya mewujud dalam salah satu ranting di pohon tempat jaring laba-laba itu terikat. Saat Buddha bertemu dengan laba-laba itu Dia pun bertanya;
"Apa yang paling berharga dalam hidup, temanku laba-laba?" ujar Buddha.
~
"Bukan kah itu pertanyaan yang bhante berikan padaku barusan?"
"Yah, dan karena itu saya menceritakan cerita ini."
"Ternyata begitu, baik bhante, tolong lanjutkan."
~
"Yang paling berharga dalam hidup ini adalah segala sesuatu yang tidak pernah kumiliki, dan segala sesuatu yang telah lenyap/hilang dariku," ujar laba-laba kecil itu.
~
"Dia menjawabnya sama dengan yang saya jawab?" tanyaku dengan bingung pada bhante.
"Yah, mas dan laba-laba ini sepertinya punya pikiran yang sama soal pertanyaan ini."
"Baik bhante, tolong lanjutkan."
"Hahaha iya, iya, iya."
~
Mendengar jawaban tersebut, sang Buddha hanya tersenim tipis pada laba-laba kecil itu. Setelah memikirkan jawaban tersebut sang Buddha pun pergi, kembali ke alam tak terkondisi. Sebelum Dia pergi, Dia berpesan pada laba-laba kecil bahwa keesokan harinya Beliau akan kembali, dan bertanya pertanyaan yang sama. Jadi sang Buddha menyuruh si laba-laba untuk memikirkan kembali jawaban yang telah ia berikan.
Namun sayang seribu sayang kemalangan menimpa si laba-laba, di malam setelah ia bertemu dengan Buddha yang agung. Rumah/jaringnya diterpa oleh badai hebat, pohon yang menopang jaring itu bergetar seperti ingin meninggalkan tanah. Jaringan sutra yang ia tenun dengan susah payah diterpa oleh tetesan air hujan.
Namun, dari malapetaka tersebut ia tidak merasakan penderitaan sama sekali. Dia menganggap malapetaka itu sendiri sebagai hal yang memang seharusnya ia dapat. Dan saat dia sedang mempertahankan jaringnya, sebuah tetesan air seindah permata dan sebening kristal mengembun di untaian benang sutra milik laba-laba. Ia sangat terpesona, ia sangat ingin memilikinya, ia jatuh cinta dengan keindahan yang terpancar dari tetesan sejernih danau kaspia. Namun, sayang seribu sayang. Angin membawa embun itu pergi, meninggalkan rasa pedih dan sakit hati.
.
Keesokan harinya, Buddha kembali mendatangi laba-laba kecil itu. Melihat rumahnya yang hancur, Buddha merasa kasihan. Namun Dia tetap bertanya hal yang sama seperti kemarin;
"Laba-laba kecil, menurutmu apa yang paling berharga dalam hidup ini?"
Laba-laba itu hanya terdiam dan mengucapkan beberapa kata saja;
"Sama.. seperti.. kemarin," ucapnya dengan pelan.
Buddha yang welas asih akhirnya memberikan wejangan bagi makhluk bijaksana;
"Dalam hidup ini kamu sudah mencapai kebijaksanaan walaupun dengan tubuh dan pikiran hewan. Semoga di kehidupan selanjutnya kamu mendapatkan hal yang senantiasa kamu cari itu teman kecil. Dan di akhir hidup keduamu, Aku akan bertanya hal yang sama seperti yang Ku tanyakan hari ini."
~
"Seberapa penting embun itu bagi laba-laba, sampai dia bisa merasakan penderitaan karnanya bhante, padahal waktu jaring-jaringnya rusak dia bahkan tidak merasa gundah apalagi kecewa."
"Sulit untuk mengerti perasaan seseorang, namun mudah bagi kita untuk menjelaskan perasaan diri sendiri. Kenapa mas U-6 ga nanya ke diri masnya sendiri."
Aku hanya terdiam setelah mendengar ucapan bhante. Yah, pada akhirnya bhante melanjutkan kisah ini. Walaupun begitu, aku tidak mengerti sama sekali dengan perkataan bhante barusan.
~
Singkat cerita, akhirnya laba-laba itu menjalani kehidupan untuk keduakalinya. Dia dalam kehidupan ini menjadi seorang putri pejabat yang terkenal dermawan dan pintar, cantik serta rupawan. Dia dipenuhi dengan kehidupan membahagiakan, buah dari kebijaksanaan masa lampau yang membuat sang Buddha sendiri terpicu untuk menghampiri.
Suatu hari putri pejabat sedang berjalan-jalan di taman rusa milik kerajaan. Di sana seorang sarjana muda sedang diarak atas pencapaiannya menjuarai ujian kerajaan. Dalam satu tatapan kecil, putri pejabat itu langsung terpesona oleh kebijaksanaan si sarjana muda, dia seperti laba-laba yang melihat tetesan air. Terpesona, dan telah terikat pada cinta buta bak kelelawar di siang hari.
Pertemuan itu membuat dia mengharapkan untuk bisa menikah dengan sarjana muda itu. Namun sayang seribu sayang, kemalangan menimpa bagi orang-orang mabuk asmara. Raja ternyata malah menjodohkan putrinya dengan sarjana muda, membuat seorang anak pejabat biasa sepertinya kehilangan kesempatan. Sungguh naas, sang pemuda dibawa pergi oleh putri raja.
~
"Akhir yang tragis, tapi bhante. Apa konklusi cerita ini?" tanyaku pada bhante.
"Sebenarnya cerita ini masih memiliki lanjutannya. Namun lebih baik mas U-6 yang cari sendiri ending buat cerita ini."
"Tapi, gimana caranya bhante?"
"Coba mas U-6 mulai dari mencari makna dari hal yang paling berharga itu."
"Begitu ternyata. Baik bhante, kalo begitu saya pamit undur diri. Terimakasih atas pembabaran dhamma yang bhante berikan," ucapku sembari berpose Anjali.
Walaupun aku pada akhirnya tidak mengerti apapun tapi setidaknya aku memiliki sebuah PR sekarang. Saat aku kembali ke sini lagi aku pasti akan bisa menjawab pertanyaan bhante....
### **True Ending**
Setelah mendengar kabar pernikahan itu, putri pejabat akhirnya jatuh sakit karena depresi berat. Di penghujung hidupnya, di kamar mewah miliknya, seorang pangeran kerajaan datang menghampirinya yang terbaring kaku tak berdaya. Dia datang dan menangis tersedu-sedu...
"Nona, taukah engkau, aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu di taman rusa, namun bodohnya aku karena tidak pernah mengungkapkan isi hati ini. Sampai sekarang semuanya telah terlambat. Nona, maaf karena aku tidak bisa melakukan apa-apa di kala anda terpuruk, maaf karena saya baru mengetahui tentang keadaan anda, orang yang selalu saya cintai. Nona, hidup saya sudah tidak berarti lagi tanpa mu."
Akhirnya si pangeran mahkota itu bunuh diri di depan orang yang sekarat. Dan di penghujung napasnya, putri pejabat itu didatangi oleh Buddha yang welas asih.
"Temanku, laba-laba kecil. Apa yang paling berharga dalam hidup ini?" tanya Buddha.
"Wahai Buddha, yang paling berharga bukanlah yang telah pergi atau yang tidak bisa kumiliki. Tapi yang paling berharga adalah yang selalu ada untuk kita, untukku. Seperti pangeran yang selalu mencintaiku tanpa syarat, seperti pula pohon besar yang menahani jaring laba-laba kecilku agar tidak terbawa angin. Sesuatu yang selalu mencintai tanpa perlu diminta atau dikejar. Yang senantiasa kita miliki."
Akhirnya dalam akhir kehidupan dan napas yang pengap, putri pejabat itupun mencapai pencerahan, menjadi arahat dalam dua kehidupan.
Tamat.
Tamat..