Orang bilang cinta dan benci itu bedanya setipis kertas. Aku baru percaya setelah 15 tahun ngatain Arka 'monyet', lalu semalam aku memimpikannya mengusap rambutku.
Hah, mimpi?
Aku tersentak dari tidurku saat alarmku berbunyi keras. Saat aku melihat ke arah alarm, sudah menunjukkan pukul 6:30 pagi. Ih, Kirana bodoh!
Aku langsung loncat dari kasur dan berlari menuju kamar mandi. Tidak butuh waktu lama, 5 menit kemudian aku sudah selesai dan buru-buru memakai seragam. Untungnya aku sudah menyiapkan tasku semalam. Save me the burden, at least.
Dengan langkah cepat, aku turun dari lantai dua dan bergegas ke dapur untuk mengambil sarapanku.
"Ma, kok gak bangunin aku sih?" ucapku sedikit kesal.
"Loh? Mama kira kamu libur. Tumben banget kamu telat!" balas ibuku sambil tertawa ringan.
Aku hanya mendengus pelan dan mengambil kotak bekalku. Kuberlari menuju sekolah tanpa memedulikan apapun lagi. Ah, bodo amat deh yang penting sampai sekolah dulu!
Begitu melewati pintu gerbang, aku diam sebentar dengan lutut yang sedikit kutekuk. Aku menarik napas dahulu sambil berusaha menenangkan jantungku yang berpacu cepat karena berlari.
Disaat itu, tiba-tiba bayangan seseorang jatuh padaku.
"Telat?"
Pagiku sudah dimulai dengan buruk, kenapa harus ada dia lagi?
"Diem deh!" Aku berdiri tegak dan menatap tajam laki-laki di depanku, Arka.
"Dih, cuman ditanya gitu langsung marah. Emang titisan iblis kayaknya." Arka memutar bola matanya, sengaja untuk membuatku makin marah dan ya.. berhasil.
"Kau-!" Aku hampir saja menarik kerahnya, tapi kemudian aku menghentikan diriku karena ingat kalau kita bukan lagi anak kecil.
Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan penuh kekesalan.
"Gak kusangka kamu masih kayak bocah," ucapku dengan senyuman bak iblis sungguhan.
Arka melirik pelan ke arahku dengan senyuman dingin.
"Coba ulang," tantangnya.
"Arka monyet masih kayak bocah!" balasku dengan penuh ejekan.
"Kirana jelek!"
Entah sejak kapan perselisihan ini dimulai. Mungkin sejak kami berusia 5 tahun? Aku tidak terlalu ingat detailnya. Pokoknya aku benci dia!
Kala itu saat kami kecil..
Aku tengah bermain bersama anak-anak kecil lain di TK. Rokku sedikit kotor karena bermain dengan cat lukis, tapi hatiku sungguh senang. Awalnya semua baik-baik saja sampai Arka tiba-tiba muncul.
"Namamu siapa?" Ungkapan perkenalan sederhana. Seharusnya tidak ada apapun yang terjadi, kan?
"Kirana," balasku dengan polos.
Bocah jelek itu langsung tertawa begitu mendengar namaku. Aku yang waktu itu sungguh bingung. Anak kecil sepolos aku pasti berpikir untuk berteman seperti biasa saat ditanyai nama. Tertawa setelah aku menyebutkan namaku? Sungguh tidak terpikir olehku.
"Jelek banget."
Dua kata itu membuat hatiku seperti hancur untuk pertama kalinya. Patah hati pertama.
"Jelek?" gumamku dengan air mata yang langsung jatuh dengan derasnya.
Disitu aku tidak sadar, raut wajah Arka berubah bingung sebelum akhirnya ia pergi dari sana, meninggalkanku yang sedang ditenangkan oleh teman-temanku.
12 tahun berlalu dan perselisihan di antara kami tidak serta merta mereda meskipun kedua orangtua kami adalah teman.
Mendengarnya memanggilku "jelek" membuatku teringat akan masa lalu. Aku menggigit bibir bagian bawahku dengan penuh rasa sakit.
Aku tak berkata apapun dan hanya berjalan melewatinya, sengaja menabrak bahunya dengan keras. Anehnya, Arka juga tidak berkata apapun padahal biasanya ia sangat berisik kalau aku berlaku demikian.
Selama kelas berlangsung, aku hanya diam seribu bahasa dan hanya berbicara seperlunya. Aku bahkan tidak melihat ke arahnya. Benci rasanya kumelihatnya.
Entah mengapa sejak perkelahian kami di pagi itu, ia sama sekali tidak mendekatiku untuk mengolok-olokku selama beberapa hari selanjutnya. Aneh.
Di Minggu pagi saat aku bersantai, tiba-tiba ponselku berdering beberapa kali.
Menyelesaikan catatan pelajaranku, kuambil ponsel yang ada di sebelahku dan membuka kuncinya.
'Musuh' mengirim pesan.
'Musuh' mengirim pesan.
'Musuh' mengirim pesan.
Notifikasi beruntun yang aneh. Tidak biasanya ia seperti ini.
Aku membaca pesannya yang berisi:
"Hei."
"Gadis bodoh."
"Di rumah gak?"
Wajahku langsung berkerut. Aku di rumah atau tidak, gak ada urusannya dengan dia.
"Gak tahu," balasku acuh.
"Di rumah gak?" Arka bertanya lagi. Di titik ini, aku merasa makin marah karena dia terus menekanku untuk menjawab.
"Di rumah atau gak, apa urusannya sama kamu?" jawabku lagi dengan ketus di chat.
"Aku di depan rumahmu."
Mataku terbelalak kaget ketika ia berkata demikian. Apa-apaan dia? Tidak ada angin, tidak ada hujan, ia tiba-tiba datang seolah rumahku hanya salah satu dari sekian banyaknya destinasi yang bisa ia datangi sesuka hati.
"Pergi. Gak nerima tamu."
"Mamamu nampaknya lebih suka tamu."
Semakin dibaca, semakin aku merasa seperti berbicara langsung dengannya. Nada bicaranya yang menyebalkan itu terasa sampai tembus ponselku. Tidak adakah satu hari yang tenang dari orang gila ini?
Sebelum aku mampu membalas pesannya lagi, mama sudah datang dan memberitahuku kalau Arka datang.
"Nak, Arka di depan tuh," ucap mama dengan lembut memberitahuku.
"Gak tahu. Gak peduli. Suruh dia pulang!" Aku membalas dengan nada yang begitu ketus.
Mama menghela napas pelan sambil terus berdiri di pintu.
"Nak Arka itu tamu. Mau segimanapun kamu gak suka, namanya tamu harus disambut dengan baik. Udah, kamu pake baju yang rapi aja, ya?"
Mendengar mama yang berkata seperti itu membuatku tidak tega untuk membantah lagi. Dengan setengah hati, aku beranjak dari kasur dan berganti baju yang lebih rapi.
Saat aku turun dari lantai 2, Arka dengan santainya duduk di sofa sambil menyantap kue yang disajikan mama. Cih, lagaknya kayak yang punya rumah!
Begitu Arka melihat ke belakang dan bertatapan denganku, ia kemudian mengelap tangannya dengan tisu.
"Baru bangun?" Satu alisnya diangkat. Entah mengapa, hatiku berdegup kencang saat melihatnya seperti itu.
Mengesampingkan kebencianku, Arka memang laki-laki yang tampan. Bahkan ia sangat populer di sekolah. Adik kelas, seangkatan, bahkan kakak kelas semuanya terpikat olehnya. Aku bingung, bukankah ia dapat mengganggu gadis-gadis lain? Kenapa harus aku yang jadi korbannya!
"Gak ada urusan sama kamu." Aku memutar bola mataku.
Kulihat Arka menghela napas pelan sebelum akhirnya berdiri dari sofa. Kupikir dia mau pulang, ternyata..
"Sentuh rumput sekali-kali. Ngurung diri mulu di kamar," ucapnya dengan nada yang sama menyebalkannya dengan wajahnya. Aku menyesal mengakui ketampanannya.
"Gak usah sok ngatur deh!"
Tapi, entah bagaimana, kini aku berjalan bersamanya. Berdua menyusuri jalanan kota yang sedikit basah karena hujan. Baunya wangi. Maksudku, bunga-bunga di jalan! Bukan.. Arka.
"Aku masih benci walaupun jalan berdua begini," ucapku dengan nada kesal, tapi suaraku sedikit halus kali ini. Sedikit saja.
Arka tiba-tiba berhenti, membuatku langsung menabrak punggungnya.
"Hei, apa-apaan?"
Lelaki itu perlahan berbalik dan melihatku dengan tatapan yang aku tak bisa jelaskan.
"Sebenci apa dirimu padaku?"
Suara di sekitar rasanya jadi hening begitu ia bertanya demikian. Dia bodoh, atau pura-pura tidak tahu?
"Jangan pura-pura bego sekarang." Aku menyilangkan lenganku di dada sambil menatapnya tajam.
"Aku serius. Apa yang membuatmu sangat benci padaku?" Ia bertanya kembali, membuatku semakin kesal.
"Ah, udah deh. Aku pergi!" Tanpa menunggunya berkata apapun, aku berbalik arah dan pergi dengan langkah cepat.
Arka diam beberapa saat sebelum akhirnya mengikuti dari belakang. Ia tidak berkata apapun, menungguku untuk tenang dahulu. Setelah berjalan beberapa saat, aku berhenti di taman. Arka juga ikut berhenti.
"Aku membencimu sejak hari itu di TK." Suaraku bergetar, mataku berkaca, tanganku kukepal erat. Mengingat hal yang membuatku sakit hati, rasanya makin membuatku hancur. Di titik ini, aku benar-benar percaya kalau dia benar-benar mengejek namaku waktu itu.
"Di TK?" Bisiknya bingung.
Aku tidak melihat ke arahnya tapi aku tahu ia tengah menatapku dalam dan penuh kebingungan.
"Aku.. tidak tahu kau memasukkannya ke hati. Jujur saja aku tidak tahu kau sakit hati akan apa yang kukatakan."
Pengakuan kecil yang entah bagaimana terdengar tulus, walaupun keluar dari mulutnya.
"Maaf."
Satu kata, tapi cukup membuat hatiku luluh.
Tangisan yang kutahan selama ini akhirnya pecah tanpa bisa kutahan lagi. Hanya ini.. yang kutunggu selama ini.
Angin bertiup pelan, membawa serta lukaku yang kini disembuhkan olehnya yang mengakui salahnya. Selama ini, yang kuinginkan hanya pengakuannya dan maafnya. Gadis kecil kala itu sembuh dengan cara yang begitu sederhana pada akhirnya.