Katanya cinta suci itu tidak butuh status. Tapi mengapa ketika aku melihatnya dengan yang lain hatiku terasa begitu sesak?
"Rien!"
Aku lantas tersentak dari lamunanku ditengah kelas. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Semuanya menatap ke arahku. Ekspresi bingung, heran, bahkan tatapan sinis tertuju padaku.
"Maaf, bu," ucapku dengan penuh rasa bersalah karena tidak mendengarkannya.
Kelas berlanjut dan saat aku menatap ke arahnya.. ia duduk begitu dekat dengan gadis lain. Julie, dia cantik, manis. Semuanya yang bukan diriku. Gadis itu tertawa kecil dengan apa yang dikatakan Daniel.
Hatiku berdenyut sakit. Kenapa aku tidak bisa berada di posisinya?
Bel sekolah berbunyi keras, menandakan waktu sekolah yang telah usai.
Kuambil tasku dan langsung keluar dari kelas begitu saja tanpa melihat ke arah yang lain. Perasaanku cukup hancur melihat kedekatan mereka.
Saat baru saja akan keluar dari gedung sekolah, gemuruh petir seketika menyambar. Satu hal yang kutahu berikutnya, hujan sudah turun dengan sangat deras. Sialnya aku lupa membawa payungku. Sampai..
"Hei, kau gak bawa payung?"
Suara halus itu.. Daniel!
"A- ah, iya aku lupa. Siapa sangka tiba-tiba hujan begini?" Aku tertawa canggung sambil menatap laki-laki yang tinggi itu.
"Nih pake payungku aja." Daniel tersenyum manis sambil menyodorkan payungnya yang masih terbungkus rapi.
Aku bingung sambil melihatnya. "Lalu kau akan pakai apa?"
"Udah gak usah pusing. Pake aja," balasnya, memaksa.
Orang normal mana yang tidak senang jika seseorang yang disukainya ingin meminjamkan barangnya? Ini bisa menjadi kesempatan untuk mengobrol lebih lanjut nantinya, pikirku.
"Terima kasih," ucapku sambil mengambil payung dari genggaman tangannya.
Beberapa hari kemudian..
"Eh, lo tahu gak sih? Si Daniel sama Julie jalan bareng mulu di luar sekolah!" Seorang siswi bergosip dengan temannya.
"Gak heran sih. Apalagi mereka udah dekat dari SMP. Gw gak akan heran kalau mereka tiba-tiba pacaran," balas salah seorang temannya.
Aku yang mendengar gosip itu langsung tersentak, terdiam di luar pintu kelas sambil menggenggam erat gagang pintu, buku jariku memutih karena saking eratnya.
"Bodoh. Sungguh bodoh diriku berpikir dia juga suka padaku," gumamku sebelum berbalik arah, pergi meninggalkan kelas untuk sekadar menenangkan pikiran.
Setibanya aku di taman sekolah, aku kemudian duduk di salah satu bangku dan menarik napas dalam. Pikiranku begitu kalut. Kenapa hidupku seperti ini? Kenapa aku selalu jadi orang yang tidak beruntung dalam percintaan?
"Rien?" Suara itu lagi.
Kubuka mataku perlahan dan langsung berpandangan dengan Daniel yang tersenyum khawatir padaku. Wajah itu membuat hatiku semakin terenyuh.
Aku berkedip cepat, menahan air mata ini supaya tidak jatuh.
"Daniel! Kenapa kau disini?" tanyaku sambil tertawa ringan seolah tidak terjadi apa-apa padaku.
Lelaki itu menghela napas sebelum duduk disebelahku. Hatiku langsung berdegup kencang hanya karena ia duduk dekat denganku. Sungguh, ini adalah hal yang kuinginkan selama ini.
"Aku melihatmu tiba-tiba pergi dari kelas dengan raut wajah yang..sulit kujelaskan. Kau gak apa-apa?"
Ah, jadi ini rasanya dikhawatirkan seseorang yang kita sukai.
"Tentu. Aku cuman mau kesini aja. Capek aja sih."
Bohongku sungguh terlihat. Dia pasti sadar.
"Begitu, ya? Aku khawatir padamu, Rien," balasnya yang kemudian merogoh sesuatu di saku seragamnya.
"Omong-omong, kau sibuk gak pulang sekolah?"
Kenapa dia bertanya seperti itu? Pikirku.
Daniel lalu menyodorkan sebuah gantungan kunci. Saat kulihat detailnya, ini persis seperti yang pernah kuceritakan padanya. Dulu sekali saat kita baru pertama berkenalan, waktu dimana aku jatuh hati padanya.
"Ini..?" ucapku bingung saat melihatnya.
Ia masih ingat?
"Gantungan kunci yang kau inginkan. Yang kau bilang padaku waktu itu," ucap Daniel. Ia kemudian memegang tanganku dan menaruh benda kecil itu di telapak tanganku.
Wajahku terasa panas. Dan jujur saja, bukan karena cuaca.
"Jadi, kau sibuk gak pulang sekolah nanti?" ia bertanya untuk yang kedua kalinya.
Dengan cepat aku membalas, "Iya. Aku senggang kok!"
Laki-laki itu tersenyum lembut sebelum akhirnya melepaskan tanganku. Perasaan dari tangannya yang menggenggam tanganku masih begitu terasa walaupun ia sudah melepaskannya. Hatiku berdegup kencang tak karuan seperti orang yang habis berlari maraton. Aku bermimpi, kan?
"Baguslah. Temui aku sepulang sekolah, ya?"
Sebelum aku sempat membalas, ia sudah beranjak dan pergi darisana.
Sepulang sekolah, aku melihatnya sudah menunggu di pagar. Tapi, dia gak sendiri. Julie di sebelahnya, menggenggam erat lengannya.
Kutenangkan pikiranku sambil berjalan ke arah mereka.
"Daniel! Julie!" ucapku menyapa keduanya walau dengan senyum yang terasa sedikit dipaksakan.
Daniel dan Julie tersenyum kepadaku sambil melambaikan tangan.
Entah bagaimana ceritanya, kami bertiga nongkrong bareng di pasar malam dekat sekolah. Gulali kupegang di tanganku, namun mulutku terasa pahit walaupun makanan yang kubawa sangat manis. Aku menatap keduanya yang tengah asik bermain sebuah permainan di salah satu stan.
Perasaan ini lagi..
Kalau memang ia mau jalan dengan Julie, kenapa ia harus mengajakku sampa repot-repot membelikanku gantungan kunci?
Hatiku terasa makin hancur karena harapan yang sudah digantungkan dengan begitu tinggi malah dihancurkan oleh realita ini. Sakit..
Aku merogoh sakuku dan langsung membuang gantungan kunci yang diberikannya.
"Kenapa aku berharap?" Pikirku dalam hati sebelum beranjak pergi darisana tanpa memberitahukan keduanya.
Sepulangnya dari pasar malam, ponselku berbunyi beberapa kali. Notifikasi beberapa pesan masuk sekaligus.
Saat kubuka, isinya:
"Rien, dimana?"
"Gantungan kuncinya gak sengaja jatuh ya?"
"Kamu gak apa-apa?"
"Rien?"
Pesan beruntun itu makin membuat hatiku hancur berkeping-keping. Air mata pun jatuh membasahi wajahku. Kalau memang bukan aku yang engkau suka kenapa harus berbaik hati seperti ini?
"Gak apa-apa. Bersenang-senanglah dengan Julie:)"
Sungguh ironis aku masih bisa mengirim simbol wajah tersenyum padahal jiwaku meraung dalam kesedihan. Saat itu aku sadar, aku hanyalah pengalihan untukmu, kan?
Semalaman, aku meluapkan emosiku. Kecewa, sedih, semua bercampur jadi satu. Apakah hatiku benar-benar tidak penting? Perasaanku invalid?
Sejak hari itu, aku mulai menjaga jarak dengan Daniel dan Julie. Perasaan ini sudah hilang tak bersisa sejak di pasar malam itu.
Dari sini aku belajar bahwa apa yang kuharapkan di dunia ini bukannya pasti akan jadi kenyataan. Terkadang, harapan yang ada dalam benak harus menyisakan ruang untuk ikhlas. Agar ketika ekspektasi tidak sesuai realita, hati tidak akan hancur sepenuhnya.