Bab 1: Jam Ke-25
Jika Anda berjalan cukup jauh ke arah timur Alun-Alun Regia, melewati deretan toko barang antik yang menjual jam dinding tanpa jarum, Anda akan menemukan sebuah gang sempit yang dinamai Gang Sunyi. Di ujung gang itu berdiri sebuah kedai kopi kecil bernama "Anomalas".
Karel tahu persis bahwa kedai itu tidak ada di peta digital mana pun. Kota Somnus, tempat ia tinggal selama tiga puluh tahun terakhir, adalah kota metropolitan yang dikendalikan oleh satu hukum mutlak: Efisiensi. Di Somnus, waktu adalah komoditas yang paling berharga. Pemerintah telah berhasil mengekstrak "waktu tidur" manusia menggunakan cip saraf bernama Somno-Shield. Manusia tidak lagi perlu tidur delapan jam sehari. Cukup lima belas menit pengisian daya gelombang otak, dan tubuh akan kembali bugar.
Namun, Karel adalah seorang anakronisme berjalan. Ia adalah seorang kurator arsip manual di Perpustakaan Pusat—sebuah pekerjaan yang hampir punah karena semua data sudah dipindahkan ke peladen kuantum. Dan yang lebih parah, Karel menderita penyakit langka yang oleh para dokter disebut Insomnia Eksistensial. Ia tidak bisa tidur, bukan karena tubuhnya menolak, melainkan karena jiwanya merasa ada yang hilang setiap kali malam tiba.
Malam itu, jam digital di pergelangan tangan Karel menunjukkan pukul 23.59. Namun, ketika angka itu berubah, layar digitalnya tidak menunjukkan 00.00. Layar itu berkedip, menampilkan angka yang mustahil: 24.00.
Karel mengerutkan kening. Ia mengusap matanya. Di luar jendela kedai Anomalas, dunia tiba-tiba melambat. Klakson mobil di jalan raya membeku dalam nada yang panjang dan terseret. Lampu-lampu neon kota yang biasanya berkedip cepat, kini berpendar dalam ritme yang lambat, seolah-olah listrik sedang merayap di dalam kabel.
"Kau melihatnya juga, kan?"
Sebuah suara membuyarkan lamunan Karel. Di balik meja bar, seorang wanita dengan rambut perak sepundak sedang mengelap cangkir porselen. Namanya Anya, pemilik kedai Anomalas.
"Jamnya... error?" tanya Karel, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Anya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan rahasia ratusan tahun. "Bukan error, Karel. Ini adalah Jam Ke-25. Waktu yang disembunyikan oleh kota ini agar manusia terus bekerja tanpa sempat berpikir."
Karel berdiri dari kursinya. Ia melangkah ke pintu kedai dan mendorongnya. Udara di luar terasa berbeda—lebih tebal, beraroma tanah basah dan kertas tua, aroma yang sudah lama hilang dari Somnus yang steril. Ketika ia melangkah ke trotoar, ia menyadari sesuatu yang mengerikan sekaligus menakjubkan.
Semua orang di jalanan membeku.
Seorang eksekutif muda membeku dalam posisi setengah berlari, tas kerjanya melayang beberapa senti di udara. Seorang pembersih jalanan berdiri mematung dengan sapu yang menempel pada selembar daun kering. Kota Somnus telah berhenti. Hanya Karel, Anya, dan kedai Anomalas yang masih bergerak.
"Apa yang terjadi?" bisik Karel.
"Pemerintah mengambil delapan jam waktu tidurmu dan mengubahnya menjadi produktivitas," Anya berjalan keluar, berdiri di samping Karel sambil melipat kedua tangannya. "Tapi hukum kekekalan energi tidak bisa dibohongi. Waktu yang dicuri itu tidak hilang. Ia terakumulasi di sini, di celah antara detik terakhir hari ini dan detik pertama hari esok. Selamat datang di waktu yang sebenarnya, Karel."
Bab 2: Para Penjaga Sisa Waktu
Karel mencoba menyentuh lengan pria yang membeku di dekatnya. Kulit pria itu terasa hangat, namun keras seperti patung lilin.
"Jangan terlalu lama menyentuh mereka," peringat Anya. "Jika kau terlalu lama berinteraksi dengan objek yang membeku, kau bisa terseret ke dalam arus waktu mereka yang mandek. Dan percaya padaku, terjebak dalam keabadian yang statis itu melelahkan."
"Mengapa aku bisa bergerak?" Karel berbalik, menatap Anya dengan penuh selidik. "Mengapa kau bisa bergerak? Siapa kau sebenarnya, Anya?"
Anya tidak langsung menjawab. Ia memberi isyarat agar Karel mengikutinya berjalan menyusuri jalanan kota yang sunyi. Tanpa suara mesin kendaraan, Somnus terasa seperti kuburan megah yang dibangun dari baja dan kaca.
"Aku adalah salah satu dari mereka yang menolak cip Somno-Shield di generasi pertama," kata Anya sambil berjalan. "Kami menyebut diri kami The Remnants—Sisa-Sisa. Kami bertugas menjaga agar Jam Ke-25 ini tidak runtuh. Karena jika jam ini runtuh, seluruh waktu yang ditabung oleh kota ini akan tumpah sekaligus. Bayangkan, tiga puluh tahun waktu tidur yang dirampas dari jutaan orang, terjadi dalam satu detik. Kota ini akan hancur oleh kelelahan massal."
Mereka tiba di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjadi markas besar Chronos Corp, perusahaan yang menciptakan Somno-Shield. Di dinding gedung itu, sebuah layar raksasa menampilkan wajah Direktur Chronos Corp, seolah-olah ia adalah dewa yang mengawasi warga. Dalam kebekuan waktu ini, wajah di layar itu tampak mendistorsi, pikselnya bergerak sangat lambat seperti selai yang menetes.
Tiba-tiba, Karel mendengar suara detak yang keras.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Suara itu bukan berasal dari jam tangannya. Suara itu menggema dari bawah tanah, getarannya terasa hingga ke sol sepatu Karel.
"Mereka datang," wajah Anya tiba-tiba menegang.
"Siapa?"
"Para Pemulung Waktu," Anya menarik lengan Karel, memaksa pria itu berlari menuju bayang-bayang sebuah bangunan tua. "Mereka adalah manifestasi psikologis dari stres dan kelelahan warga kota yang bermanifestasi di dimensi ini. Mereka mencari siapa saja yang bergerak untuk menghisap sisa waktu yang kita miliki."
Dari ujung jalan, muncul makhluk-makhluk tanpa wajah yang terbuat dari kabut hitam pekat. Di dada mereka terdapat sebuah jam pasir yang pasirnya mengalir ke atas, menentang gravitasi. Setiap kali mereka melangkah, aspal di bawahnya tampak melepuh dan menua dengan cepat.
Karel merasakan jantungnya berdegup kencang. Di dunia yang membeku ini, rasa takutnya justru terasa berkali-kali lipat lebih hidup.
"Karel, dengarkan aku," Anya berbisik di telinganya saat mereka bersembunyi di balik pilar beton. "Kau memiliki kemampuan ini bukan karena kecelakaan. Arsip-arsip tua yang kau jaga di perpustakaan... kau membaca buku harian fajar yang ditulis sebelum era Somno-Shield, kan?"
Karel mengangguk pelan. "Ya. Buku harian dari orang-orang yang menulis tentang mimpi mereka."
"Mimpi," Anya mendesah. "Itulah kuncinya. Di kota ini, mimpi telah dilarang karena dianggap tidak produktif. Tapi kau, melalui buku-buku itu, mempertahankan kapasitas untuk bermimpi. Itulah yang membuatmu memiliki 'berat' di dimensi ini. Sekarang, aku butuh kau mengingat satu mimpi yang paling indah yang pernah kau baca, atau yang pernah kau miliki."
"Untuk apa?"
"Untuk menciptakan perlindungan. Jika tidak, para Pemulung itu akan menemukan kita dalam hitungan detik."
Karel memejamkan mata. Di luar, suara langkah kabut hitam itu semakin mendekat. Bau hangus mulai tercium. Ia mencoba menggali ingatan di kepalanya yang biasanya dipenuhi oleh angka, kode arsip, dan laporan efisiensi.
Ia ingat sebuah fragmen dari buku harian tahun 2020 yang ditulis oleh seorang gadis tanpa nama. Gadis itu menulis tentang laut. Laut yang berwarna biru bebas, dengan ombak yang memecah buih di pantai, dan angin yang membawa rasa asin yang menenangkan. Karel belum pernah melihat laut; Somnus dikelilingi oleh dinding pembatas beton yang tinggi.
Karel memikirkan laut itu. Ia membayangkan suaranya. Byur... Byur...
Ketika ia membuka mata, sebuah keajaiban terjadi.
Bagaimana kelanjutan aksi Karel dan Anya? Apakah ingatan tentang laut itu mampu menyelamatkan mereka dari Pemulung Waktu? Dan apa sebenarnya konspirasi besar di balik Chronos Corp?
Catatan: Karena target kita adalah 20.000 kata, silakan beri tahu saya apakah Anda ingin cerita ini dilanjutkan ke Bab 3 dan seterusnya dengan gaya penceritaan seperti ini. Kita bisa membangun dunianya bersama-sama!