Wahyu Istiqomah adalah seorang pemudi sederhana yang hidup dengan dunia yang tidak terlalu banyak memberi kemudahan. Ia bukan orang terkenal, bukan juga orang yang dianggap berhasil. Namun di dalam kepalanya, selalu ada dunia lain yang jauh lebih luas—penuh cerita, tokoh, dan imajinasi yang tak pernah habis.
Sejak lama Wahyu ingin menjadi penulis. Ia mencoba menulis di aplikasi novel seperti Fizzo dan platform lainnya. Namun hasilnya tidak selalu seperti yang ia harapkan. Ceritanya sering sepi pembaca, dan ia beberapa kali merasa gagal. Meski begitu, ia tidak pernah benar-benar berhenti.
Masalahnya hanya satu: ia tidak punya HP yang layak.
HP lamanya sudah rusak, layarnya retak, kadang mati sendiri, bahkan lebih sering tidak bisa digunakan. Setiap kali ia ingin menulis, ia harus menunggu HP itu “berbaik hati” untuk menyala. Dan di saat-saat seperti itu, banyak ide yang akhirnya hilang sebelum sempat dituliskan.
“Kalau aku punya HP walaupun bekas atau rongsokan sekalipun, aku pasti bisa lebih produktif,” gumamnya suatu malam sambil menatap langit-langit rumahnya yang sederhana.
Bagi orang lain, HP rongsokan mungkin tidak ada nilainya. Tapi bagi Wahyu, itu bisa menjadi jembatan antara pikirannya dan dunia luar. Dengan itu, ia bisa menulis kapan saja, menuangkan semua khayalan yang selama ini hanya berputar di kepalanya.
Hari-hari berikutnya, Wahyu mulai menyisihkan sedikit demi sedikit uangnya. Ia melakukan pekerjaan kecil, membantu orang tua, dan menghemat apa pun yang bisa ia hemat. Tujuannya sederhana: membeli HP bekas yang masih bisa dipakai untuk menulis.
Namun jalan itu tidak mudah. Setiap kali ia hampir mengumpulkan cukup uang, selalu ada kebutuhan lain yang harus diprioritaskan. Kadang ia merasa lelah, kadang ia ingin menyerah.
Suatu hari, seorang temannya berkata, “Ngapain sih repot-repot? Tulis aja kalau ada kesempatan.”
Wahyu hanya tersenyum kecil. “Kalau aku nunggu kesempatan, ceritaku nggak akan pernah selesai.”
Dan di situlah ia bertahan.
Bukan karena ia sudah berhasil, tapi karena ia percaya satu hal: mimpi besar bisa lahir dari alat yang paling sederhana sekalipun—bahkan dari HP rongsokan.
Malam itu, Wahyu kembali menulis di buku kecilnya, sambil berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti, ia tidak akan lagi terhenti oleh layar yang mati. Ia akan punya HP sendiri, dan dari sana, semua cerita yang ia simpan akan akhirnya hidup.
Dan mungkin, dari HP rongsokan itulah, awal dari seorang penulis besar akan dimulai.
.
..