Detik jam dinding di kamar berdebu itu selalu berdentang dua belas kali, lalu dunia akan runtuh. Bagi Alistair, kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah tombol reset yang menyebalkan. Sudah sembilan puluh sembilan kali ia terbangun di kasur yang sama, menyaksikan kota kelahirannya hancur dihantam meteor yang sama, dan mati di menit yang sama. Ia terjebak dalam lingkaran waktu yang membosankan dan terus berulang.
Namun, pada siklus keseratus, ada yang berbeda. Ketika Alistair terbangun, matanya terasa perih seperti terbakar. Saat ia membuka kelopak matanya, dunia tidak lagi terlihat sama. Ia kini bisa melihat jalinan takdir berupa benang-benang bercahaya, aura energi mahluk hidup, dan yang paling mengejutkan: sebuah retakan vertikal tak kasat mata di sudut kamarnya yang memancarkan cahaya keperakan.
Mata batinnya telah terbuka.
"Mungkin ini tiket keluar dari neraka waktu ini," bisik Alistair. Tanpa berpikir panjang, tepat tiga menit sebelum meteor fana itu menghantam bumi, ia melompat masuk ke dalam keretakan waktu tersebut.
Sensasi tubuhnya seperti ditarik dan dipelintir melewati dimensi yang runtuh. Ketika Alistair membuka mata, ia tidak lagi berada di kamarnya yang sempit. Rasa sesak berganti dengan udara bersih yang mengalirkan aroma magis yang pekat.
Di hadapannya, berdiri sebuah kastil megah yang melayang di atas gumpalan awan sewarna merah muda dan emas. Menara-menara kastil itu menjulang tinggi membelah langit, terbuat dari material yang tampak seperti kristal cair dan batuan kuno. Burung-burung dengan sayap pendar cahaya melesat di antara celah menara. Alistair telah terlempar ke sebuah dunia isekai—Aethelgard, dunia para penyihir dan pemburu harta karun dimensi.
Menggunakan kemampuan mata batin barunya, Alistair bisa melihat bahwa kastil melayang itu diselimuti oleh kabut energi purba. Di sinilah petualangan barunya dimulai. Ia bukan lagi pemuda tak berdaya yang menunggu ajal dalam lingkaran waktu. Di dunia ini, ia adalah seorang penjelajah.
"Anak muda, kau datang dari celah yang salah," sebuah suara berat mengejutkannya. Seorang pria tua dengan jubah berhias rasi bintang berdiri di dekatnya, memegang tongkat kayu yang ujungnya memancarkan batu safir. "Kastil Chronos ini tidak menerima tamu sembarangan. Di dalamnya tersimpan Harta Karun Aethel-Core, inti energi yang bisa mengendalikan ruang dan waktu."
Mendengar kata 'waktu', mata Alistair berbinar. Mata batinnya menangkap pancaran energi luar biasa besar yang tersembunyi di menara tertinggi kastil tersebut. Jika ia bisa mendapatkan harta karun itu, ia tidak hanya bisa mengamankan posisinya di dunia ini, tetapi juga memastikan ia tidak akan pernah tersedot kembali ke dalam lingkaran waktu yang menyiksanya dahulu.
Dengan senyuman penuh tekad, Alistair menatap lurus ke arah kastil megah di atas awan tersebut. Langkah kakinya terasa ringan, dipenuhi rasa penasaran yang sudah lama mati. Keretakan waktu telah membawanya pada takdir yang baru, dan di dunia fantasi yang tak terbatas ini, Alistair siap berpetualang dan merebut harta karun tertingginya.