Aroma tanah basah sisa hujan sore itu menguar ke udara, bercampur dengan wangi bunga-bunga liar yang bermekaran di sepanjang jalan setapak menuju bukit. Langit yang tadinya kelabu perlahan membuka diri, memamerkan gradasi warna jingga dan biru pastel yang memanjakan mata. Di atas sepeda tua berwarna biru pudar yang rantainya sesekali berderit, Angga mengayuh dengan ritme konstan. Di belakangnya, mencengkeram erat seragam putih abu-abunya, ada telapak tangan mungil milik kesayangannya.
Rania menyandarkan pipinya di punggung tegap Angga. Rambut kuncir kudanya bergoyang seiring dengan kayuhan sepeda. Ada rasa hangat yang menjalar di dada Rania setiap kali momen seperti ini terulang. Baginya, masa-masa sekolah bukan tentang rumitnya rumus kalkulus atau hafalan sejarah yang membosankan. Masa sekolah adalah tentang punggung Angga, aroma parfum maskulin yang bercampur keringat tipis, dan angin sore yang menerpa wajah mereka.
"Angga," panggil Rania setengah berbisik, namun suaranya langsung tersapu angin sore.
"Ya? Kenapa, Ran? Capek?" Angga sedikit menolehkan kepalanya ke kiri, memastikan gadis di boncengannya baik-baik saja.
"Enggak," Rania tersenyum manis, mengencangkan pelukannya di pinggang Angga. "Cuma mau panggil aja. Takut kamu hilang."
Angga terkekeh geli. Suara tewanyanya terdengar seperti melodi paling merdu di telinga Rania. "Mana bisa aku hilang kalau kamu peluk seerat ini? Bisa-bisa aku malah nggak bisa napas, Tuan Putri."
Cerita cinta di masa sekolah memang persis seperti apa yang tertulis di buku-buku novel remaja. Kadang manis bagaikan permen gulali yang meleleh di lidah, namun tak jarang terasa asam dan getir ketika cemburu atau kesalahpahaman kecil datang melanda. Rania ingat betul bagaimana minggu lalu mereka sempat mogok bicara hanya karena Angga kedapatan meminjamkan tip-ex kepada siswi kelas sebelah. Mengingat hal konyol itu, Rania diam-diam tertawa sendiri di balik punggung Angga.
"Kenapa ketawa? Ada yang lucu di punggungku?" tanya Angga heran, merasakan getaran di punggungnya.
"Ingat kejadian minggu lalu. Aku masih kesal ya kalau ingat kamu sok pahlawan minjamin barang ke cewek lain," timpal Rania sambil mencubit pelan pinggang Angga.
"Aduh! Sakit, Ran. Kan udah dibilang, dia cuma minjam karena butuh darurat. Lagian, hati aku kan cuma dipinjam sama kamu. Selamanya," goda Angga sambil menaik-turunkan alisnya, meskipun Rania tidak bisa melihatnya langsung.
Wajah Rania merona merah, senada dengan warna langit senja yang kian meredup. Kalimat-kalimat gombal Angga selalu sukses membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Sepeda terus melaju menuruni jalanan berbukit. Di kanan dan kiri mereka, hamparan kelopak bunga berwarna merah muda dan ungu berguguran, menciptakan suasana magis seolah alam semesta sedang merayakan perasaan mereka berdua. Bagi Angga, Rania adalah cinta pertamanya, definisi dari segala rasa penasaran dan kebahagiaan masa muda yang meledak-ledak. Bagi Rania, Angga adalah rumah tempatnya pulang setelah lelah seharian menghadapi tekanan ujian sekolah.
Matahari hampir sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh temaram lampu jalanan yang mulai menyala satu per satu. Di atas sepeda tua itu, di antara tawa kecil dan bisikan angin, mereka berdua tahu bahwa masa-masa sekolah ini mungkin akan berakhir dalam beberapa bulan ke depan. Namun, rasa yang tumbuh di antara kayuhan sepeda dan pelukan erat ini, akan tetap tinggal dan abadi di dalam ingatan mereka sebagai cinta pertama yang paling indah.