Bagian V: Penebusan yang Terlambat
Andra terus berlari menelusuri koridor yang tak berujung, memanggil nama Ratih hingga tenggorokannya terasa berdarah. Akhirnya, ia tiba di sebuah ruangan besar yang ia kenali sebagai ruang tengah ber-cermin besar.
Di depan cermin itu, Ratih sedang berdiri tegak. Di belakangnya, sosok Lisa berdiri memeluk pundak Ratih dengan mesra, seperti seorang sahabat lama. Tangan Lisa yang membusuk perlahan merayap ke leher Ratih.
"Ratih! Menjauh dari sana!" teriak Andra.
Ratih berbalik menatap Andra. Air matanya bercampur darah. "Ndra... dia tidak akan melepaskan kita. Dia bilang, ide yang kita curi adalah seluruh hidupnya. Sekarang, dia mau mengambil hidup kita sebagai gantinya."
"Tidak! Aku yang mengambil draf itu dari mejanya! Aku yang merencanakan semuanya! Lisa! Ambil aku, jangan Ratih!" Andra bersujud di lantai, memukul-mukul papan kayu dengan frustrasi. Untuk pertama kalinya, ego seorang Andra runtuh total. Ia mengakui dosanya.
Mendengar itu, sosok Lisa melepaskan Ratih. Ia berjalan perlahan mendekati Andra. Setiap langkahnya menimbulkan suara berderak dari tulang-tulangnya yang patah. Ia berlutut di depan Andra, wajahnya yang hancur kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Andra.
"Kau mau menggantikannya, Andra?" bisik Lisa, baunya seperti kematian yang membusuk di bawah matahari.
"Ya. Tolong lepaskan Ratih," bisik Andra pasrah, memejamkan matanya, bersiap menerima kematian yang mengerikan.
Namun, kematian itu tidak kunjung datang. Ketika Andra membuka mata, ruangan itu mendadak sunyi. Sosok Lisa telah lenyap. Ratih terduduk di lantai, pingsan namun masih bernapas. Kabut di luar jendela perlahan menipis, dan berkas cahaya matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi.
Vila itu mendadak terasa seperti vila tua biasa yang kosong. Tidak ada bau kemenyan, tidak ada suara ketukan sepatu.
Andra segera memeluk Ratih yang perlahan sadar. Mereka berdua menangis di tengah ruangan yang sunyi itu. Mereka selamat. Atau setidaknya, begitulah pikir mereka.
Epilog: Gema di Jakarta
Dua minggu setelah malam jahanam di Lembah Sunyi, Andra dan Ratih kembali ke Jakarta. Mereka adalah satu-satunya yang selamat dari perjalanan dinas maut tersebut. Polisi menyatakan kematian Doni, Maya, dan Gani sebagai akibat dari "psikosis massal akibat keracunan gas alam di pegunungan"—sebuah penjelasan logis yang dipaksakan untuk kasus yang tidak masuk akal.
Andra dan Ratih langsung mengundurkan diri dari agensi. Mereka mendatangi rumah ibu mendiang Lisa, menyerahkan seluruh tabungan mereka, dan mengakui semua perbuatan mereka di depan wanita tua yang menangis itu. Sang ibu memaafkan mereka, meski dengan berat hati.
Andra mengira kutukan itu telah berakhir. Penebusan telah dilakukan.
Suatu malam, Andra sedang lembur di ruang kerja apartemen barunya untuk membangun bisnis konsultasi kecil-kecilan. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Keadaan sangat tenang.
Tiba-tiba, ponsel Andra yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah notifikasi surel masuk.
Andra mengklik surel tersebut. Pengirimnya adalah sebuah alamat surel yang sudah dihapus dua minggu lalu: lisa.anindita@agency.com.
Subjek surel: Revisi Kampanye Terakhir.
Jantung Andra berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, ia membuka surel tersebut. Tidak ada teks di dalamnya, hanya sebuah lampiran video berdurasi sepuluh detik.
Andra memutar video itu. Layar menampilkan rekaman CCTV koridor apartemennya sendiri, diambil beberapa detik yang lalu. Di dalam video, tampak pintu depan apartemennya perlahan terbuka. Sesosok wanita dengan leher patah merangkak masuk menembus kegelapan, menuju ke arah ruang kerjanya.
Saat video itu berakhir, Andra mendengar suara yang sangat akrab dari arah balik pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka.
Tuk... Tuk... Tuk...
Suara ketukan sepatu hak tinggi di atas lantai marmer.
Andra menatap pintu itu dengan kaku. Ia menyadari satu hal yang terlambat: Lembah Sunyi tidak pernah benar-benar melepaskan mereka. Vila itu hanya mengizinkan mereka pulang untuk menyadari bahwa beberapa kesalahan di dunia ini terlalu besar untuk ditebus hanya dengan kata maaf, dan beberapa hantu tidak mencari keadilan—mereka hanya menginginkan teman di dalam kegelapan yang abadi.
Pintu kerja Andra terbuka perlahan, dan lampu ruangan mati total.
Selesai.