Bagian IV: Satu Demi Satu Gugur
Di lantai atas, keadaan jauh lebih mengerikan.
Doni bersembunyi di dalam lemari pakaian di kamarnya setelah mendengar jeritan Maya dari kamar sebelah. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, air matanya mengalir deras. Ia bersumpah dalam hati, jika ia selamat dari malam ini, ia akan mengundurkan diri dan menyerahkan seluruh uang bonusnya kepada keluarga Lisa.
Sreeek... Sreeek...
Suara sesuatu yang diseret terdengar mendekati lemarinya. Melalui celah kecil di pintu lemari, Doni melihat sepasang kaki yang hancur, berjalan terseok-seok menyeret tubuhnya. Kaki itu berhenti tepat di depan lemari.
Pintu lemari perlahan terbuka dari luar. Namun, bukan Lisa yang berdiri di sana. Melainkan Maya.
Wajah Maya tampak aneh. Kulitnya pucat kebiruan. Ketika Maya membuka mulutnya untuk berbicara, bukan suara Maya yang keluar, melainkan suara printer kantor yang sedang mencetak dokumen dengan cepat. Tiba-tiba, dari tenggorokan Maya, selembar demi selembar kertas H4 keluar dengan paksa, merobek sudut bibirnya hingga berdarah. Kertas-kertas itu adalah draf ide iklan milik Lisa yang pernah dicuri oleh Maya. Kertas itu terus keluar tanpa henti, menyumbat jalur napas Maya hingga matanya melotot dan ia tumbang di depan Doni, tewas tercekik oleh rasa bersalahnya sendiri dalam bentuk fisik.
Doni berteriak kesetakan dan mencoba berlari keluar jendela, namun sebelum ia sempat mencapainya, bayangan hitam besar berwujud Lisa muncul dari balik tirai, mencengkeram leher Doni, dan melemparkannya menembus kaca jendela hingga jatuh ke halaman berbatu di bawah.
Sementara itu, Gani ditemukan keesokan harinya di kamar mandi. Ia telah menguliti tangannya sendiri menggunakan pecahan kaca cermin, mencoba menghapus "noda hitam" yang ia klaim terus merayap di kulitnya sejak ia memakan sup di ruang makan.