Bagian III: Jam Berdetak Terbalik
Mereka memutuskan untuk mengunci diri di kamar masing-masing. Andra dan Ratih menempati kamar utama di lantai bawah, sementara Doni, Gani, dan Maya berada di lantai atas. Suasana malam itu berubah menjadi siksaan psikologis yang lambat.
Di dalam kamar, Ratih terus menangis di pojok tempat tidur, memeluk lututnya.
"Ini salah kita, Ndra. Lisa datang. Dia tahu kita di sini," bisik Ratih dengan suara parau.
"Tenang, Ratih. Lisa sudah mati. Dia dikubur di Jakarta. Ini cuma halusinasi karena kita stres dan tempat ini sialan berhantu," kata Andra, mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meski tangannya sendiri gemetar saat menyalakan rokok.
Tiba-tiba, lampu minyak di meja kamar berkedip-kedip lalu mati. Kamar seketika gulita.
Dari langit-langit kamar, terdengar suara detak yang aneh.
Tuk... Tuk... Tuk...
Itu bukan suara tikus atau kayu yang memuai. Itu adalah suara ketukan sepatu hak tinggi di atas lantai kayu. Masalahnya, suara itu terdengar tepat di atas kepala mereka, berputar-putar di langit-langit yang kosong.
Tuk... Tuk... Tuk...
Lalu, suara itu berhenti tepat di atas tempat tidur mereka.
Andra memberanikan diri menyalakan senter ponselnya dan mengarahkannya ke atas. Di sana, menempel di langit-langit seperti seekor labah-labah raksasa, sesosok wanita dengan gaun kantor yang robek-robek dan berlumuran darah menatap mereka terbalik. Lehernya patah ke samping dengan sudut sembilan puluh derajat, menyisakan tulang leher yang mencuat menembus kulit. Wajahnya hancur sebelah—akibat hantaman beton lantai sebelas—namun mata kirinya yang masih utuh menatap Andra dengan kebencian yang tak terperikan.
Itu Lisa.
"K-kampanye... baru kita... bagus... kan?" bisik sosok itu. Suaranya keluar bersamaan dengan muntahan darah hitam yang menetes tepat ke atas selimut Andra.
Ratih menjerit histeris. Ia melompat dari tempat tidur, membuka pintu kamar, dan berlari keluar menuju koridor yang gelap gulita.
"Ratih! Tunggu!" teriak Andra, ikut berlari mengejarnya.
Namun, begitu Andra melangkah ke koridor, tata letak vila itu seolah berubah. Koridor yang tadinya pendek kini memanjang tanpa ujung, dipenuhi pintu-pintu kayu yang tertutup rapat. Dari balik pintu-pintu itu, terdengar suara bisikan ribuan orang yang menggunjing, suara ketikan kibor komputer yang bising, dan suara tawa melengking yang pernah mereka lontarkan saat mengucilkan Lisa di pantry kantor.