Bagian II: Makan Malam yang Amis
Interior vila itu dipenuhi barang-barang antik. Ada cermin besar berkaki kuningan di ruang tengah, beberapa lukisan potret bangsawan Jawa zaman dulu yang tatapannya seolah mengikuti ke mana pun mereka melangkah, dan bau kemenyan yang samar namun gigih merasuki udara.
Setelah membersihkan diri, mereka berkumpul di ruang makan panjang pada pukul delapan malam. Hidangan sudah tersaji di atas meja kayu panjang: ayam betutu, gudeg, dan semangkuk besar sup daging bumbu kluwek yang hitam pekat.
"Mbok Sum pintar memasak," ujar Gani, langsung menyendok sup hitam itu ke piringnya. Ia mengunyah dengan lahap. "Dagingnya empuk sekali. Tapi... rasanya agak aneh. Agak manis."
Maya memotong ayam betutunya, namun tiba-tiba ia menjatuhkan pisunya ke lantai. Prang.
"Ada apa, May?" tanya Andra.
Maya menunjuk ke arah piringnya dengan jari gemetar. Dari dalam serat daging ayam yang setengah terpotong, keluar beberapa helai rambut hitam yang panjang. Bukan satu atau dua helai, melainkan seikat rambut yang tampak seperti dicabut paksa dari kepala seseorang.
"Jorok sekali!" teriak Maya, berdiri dari kursinya dengan rasa mual yang memuncak.
Gani mendadak berhenti mengunyah. Wajahnya berubah dari kepuasan menjadi kengerian murni. Ia memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut, mencoba memuntahkan apa yang baru saja ia telan. Ketika ia memuntahkan isi perutnya ke lantai, yang keluar bukan sekadar makanan setengah cerna, melainkan cairan merah kental berbau busuk yang dipenuhi dengan potongan kuku manusia yang pecah-pecah.
"Kalian tidak suka makanannya?"
Suara Mbok Sum terdengar dari kegelapan sudut ruangan. Wanita tua itu berdiri di sana tanpa suara, memegang sebuah lampu minyak kuno.
"Apa-apaan ini, Mbok?!" bentak Doni, berdiri menantang. "Ini makanan busuk! Kami bayar mahal untuk tempat ini!"
Mbok Sum tidak marah. Ia hanya tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang hitam dan rusak. "Makanan di rumah ini selalu menyesuaikan dengan apa yang dimakan oleh jiwa tamunya. Jika jiwa kalian memakan bangkai sesama manusia untuk bertahan hidup di kota, maka itulah yang disajikan meja ini."
"Gila! Wanita ini gila!" teriak Maya. "Andra, ayo kita pergi dari sini! Sekarang!"
Andra melihat jam tangannya. Angka digitalnya berkedip kacau, menunjukkan pukul 00:00, padahal baru beberapa menit yang lalu saat mereka duduk jam menunjukkan pukul delapan lewat sedikit. Di luar, hujan deras tiba-tiba turun disertai angin kencang yang menghantam jendela kaca hingga bergetar hebat. Badai telah mengunci mereka di dalam Lembah Sunyi.