Bagian I: Gerbang Angin dan Kabut Semu
Bus sewaan itu batuk-batuk sebelum akhirnya mati total di tanjakan tajam yang membelah lereng Gunung Lawu. Kabut tebal seketika bergulung turun dari puncak, menelan badan bus seperti raksasa yang menelan mangsanya bulat-bulat.
Andra menatap layar ponselnya. Nol sinyal. Di sebelahnya, Ratih sedang memijat pelipisnya yang berdenyut, sementara di kursi belakang, tiga rekan kantor mereka—Doni, Maya, dan Gani—mulai mengeluh bising. Mereka adalah tim kreatif dari sebuah agensi periklanan di Jakarta yang sedang melakukan perjalanan team building. Setidaknya, itu alasan resmi di atas kertas. Alasan aslinya: mereka sedang melarikan diri dari atmosfer beracun di kantor setelah kematian tragis salah satu rekan kerja mereka, Lisa, tiga minggu lalu.
"Sopirnya bilang kita harus jalan kaki. Tinggal satu kilometer lagi di depan," kata Gani setelah berbicara dengan pria paruh baya di depan yang pasrah memandangi mesin bus yang berasap.
"Jalan kaki di tengah kabut seperti ini? Yang benar saja!" gerutu Maya, merapatkan jaket bulu tebalnya.
Namun, tidak ada pilihan lain. Menetap di dalam besi tua yang mendingin di tengah hutan pinus yang gelap bukanlah opsi yang menyenangkan. Mereka turun membawa tas ransel masing-masing. Udara pegunungan menusuk tulang, membawa aroma aneh yang menusuk hidung—campuran antara tanah basah, pinus busuk, dan sesuatu yang samar-samar mirip bau besi berkarat.
Setelah lima belas menit berjalan menembus keheningan yang mencekam, kabut tiba-tiba menyibak. Di hadapan mereka berdiri sebuah gerbang kayu hitam yang megah namun lapuk. Di atasnya tertulis papan nama dengan cat merah yang memudar: Pesanggrahan Lembah Sunyi.
"Akhirnya," desah Doni lega.
Tempat itu tampak seperti vila kolonial tua yang dipadukan dengan arsitektur Jawa klasik. Atap joglonya tinggi menjulang, dengan pilar-pilar jati berukuran raksasa yang menopang beranda depan. Di selasar, berdiri seorang wanita tua mengenakan kebaya hitam dan kain jarik motif parang rusak. Wajahnya keriput, namun matanya yang sehitam arang menatap mereka dengan ketajaman yang tidak wajar.
"Selamat datang, Gusti," sapa wanita itu. Suaranya serak, seperti dua bilah bambu yang saling bergesekan. "Saya Mbok Sum. Saya yang merawat tempat ini."
Andra maju melangkah, mencoba bersikap sopan meski bulu kuduknya meremajang tanpa alasan. "Malam, Mbok. Kami yang memesan tempat ini lewat agensi di kota."
Mbok Sum mengangguk perlahan. "Rumah ini sudah menunggu kalian. Terutama... apa yang kalian bawa di dalam hati kalian."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan penekanan yang membuat Ratih tersentak. Andra melirik Ratih, wajah tunangannya itu mendadak pucat pasi. Mereka semua tahu apa yang tersembunyi di dalam hati mereka masing-masing. Sebuah rahasia kelam tentang bagaimana mereka berlima bersekongkol mencuri ide kampanye besar milik Lisa, merundungnya hingga depresi, dan berpura-pura terkejut saat gadis itu melompat dari lantai sebelas gedung kantor mereka.