Suatu malam Evi menerima pesan.
"Aku kangen kamu."
Namun pesan itu bukan dari Dimas.
Melainkan dari nomor yang tidak dikenal.
Evi segera membalas.
"Maaf, mungkin salah nomor."
Sayangnya tepat saat itu Dimas sedang berada di sampingnya.
Ia sempat melihat isi pesan tersebut.
Wajahnya langsung berubah.
"Siapa itu?"
"Nggak tahu."
"Kok bisa bilang kangen?"
"Salah kirim."
Namun Dimas tidak langsung percaya.
Selama beberapa hari suasana menjadi canggung.
Sampai akhirnya nomor tersebut kembali menghubungi.
Kali ini melalui video call.
Evi mengangkatnya.
Ternyata seorang pria tua muncul di layar.
Ia tampak kebingungan.
"Maaf Nak, saya salah simpan nomor. Saya kira ini nomor istri saya."
Evi dan Dimas saling berpandangan.
Beberapa detik kemudian mereka tertawa bersama.
Dimas sampai memegangi kepalanya sendiri.
Lagi-lagi prasangka membuat masalah kecil terasa besar.
Dan lagi-lagi kenyataan memberi pelajaran yang berharga.
Tamat.