Michelle dan Gerald sudah berpacaran selama tiga tahun.
Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Mereka tumbuh bersama, tertawa bersama, dan saling mengenal hingga ke kebiasaan-kebiasaan kecil yang bahkan orang lain tidak tahu.
Michelle selalu yakin, suatu hari Gerald akan menjadi suaminya.
Namun hidup kadang mengubah segalanya hanya dalam hitungan bulan.
Ketika Michelle harus pergi ke kota lain untuk bekerja selama tujuh bulan, mereka berjanji akan saling menjaga hati.
"Aku tunggu kamu pulang," kata Gerald saat mengantar Michelle ke terminal.
Michelle tersenyum sambil menahan air mata.
"Aku juga."
Awalnya semua baik-baik saja. Mereka masih saling menelepon dan mengirim pesan. Namun lama-kelamaan Gerald mulai berubah. Balasannya semakin singkat. Telepon mereka semakin jarang.
Michelle mencoba berpikir positif.
Mungkin Gerald sibuk.
Mungkin Gerald lelah.
Mungkin Gerald baik-baik saja.
Sampai suatu hari, saat Michelle kembali ke kotanya, seorang teman memberinya kabar yang membuat dunianya runtuh.
"Michelle... kamu belum tahu?"
"Tahu apa?"
"Gerald sudah punya pacar baru."
Michelle membeku.
Dan yang lebih menyakitkan lagi...
"Mereka minggu depan akan menikah."
Seolah langit jatuh tepat di atas kepalanya.
Dadanya sesak.
Orang yang paling ia cintai ternyata mampu menggantikan dirinya hanya dalam tujuh bulan.
Malam itu Michelle menangis sampai matanya bengkak.
Ia tidak mengerti apa yang salah.
Apa tiga tahun cinta mereka tidak berarti apa-apa?
Apa tujuh bulan cukup untuk menghapus semuanya?
Malam sebelum pertunangan Gerald, Michelle berjalan sendirian di taman kota.
Ia hanya ingin menghilangkan penat dan kesedihan yang terus menghantuinya.
Angin malam berembus dingin.
Namun langkah Michelle tiba-tiba terhenti.
Di depan sana...
Gerald berdiri.
Jantung Michelle seakan berhenti berdetak.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berbalik dan berlari.
Ia tidak sanggup melihat wajah pria itu.
Pria yang telah menghancurkan hatinya.
"Michelle!"
Gerald berteriak.
Michelle terus berlari.
Namun Gerald lebih cepat.
Pria itu berhasil mengejarnya dan meraih pergelangan tangannya.
"Aku mau ngomong sama kamu!"
Michelle menepis tangannya.
"Apa lagi yang mau dibicarakan?" suaranya bergetar.
"Besok kamu tunangan, kan?"
Kalimat itu membuat suasana menjadi sunyi.
Michelle berusaha menahan air matanya.
Berusaha terlihat kuat.
Berusaha berpura-pura bahwa ia baik-baik saja.
Namun Gerald tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan.
Dan saat itu...
Pertahanan Michelle runtuh.
Tangisnya pecah.
Semua luka, semua rindu, semua kecewa yang ia tahan selama berbulan-bulan akhirnya keluar.
"Aku benci kamu..." isaknya.
Gerald memejamkan mata.
"Aku minta maaf."
Pria itu perlahan berlutut di hadapan Michelle.
Air mata juga mengalir dari matanya.
"Aku cinta kamu, Michelle."
Michelle terdiam.
"Aku nggak mau kehilangan kamu."
"Kalau cinta kenapa kamu punya perempuan lain?" tangis Michelle semakin keras.
Gerald menunduk.
"Aku pikir kamu nggak akan kembali."
Michelle menatapnya tidak percaya.
"Aku bodoh. Aku salah. Aku nyesel setiap hari."
Malam itu mereka sama-sama menangis.
Dua orang yang saling mencintai namun tersesat dalam keputusan yang salah.
Keesokan harinya, Gerald membuat keputusan terbesar dalam hidupnya.
Ia membatalkan pertunangannya.
Semua orang marah.
Keluarganya kecewa.
Tunangan Gerald menangis.
Namun Gerald tetap pada keputusannya.
"Aku tidak bisa menikahi orang yang tidak benar-benar aku cintai."
Michelle merasa sangat bersalah.
Ia merasa menjadi perempuan jahat.
Merasa telah menghancurkan kebahagiaan orang lain.
Namun tunangan Gerald justru tersenyum pahit.
"Lagipula, aku juga nggak benar-benar mencintai Gerald."
Michelle terkejut.
Perempuan itu lalu bercerita bahwa sejak lama ia menyukai sepupu Gerald.
Dan ternyata...
Sepupu Gerald juga menyukainya.
Hubungan mereka selama ini hanyalah perjodohan keluarga yang dipaksakan.
Untuk pertama kalinya Michelle merasa sedikit lega.
Beberapa minggu kemudian, Michelle dan Gerald meninggalkan kota itu.
Mereka memulai hidup baru di kota lain.
Jauh dari gosip.
Jauh dari penilaian orang.
Hanya ada mereka berdua.
Mereka menikah secara sederhana.
Tanpa kemewahan.
Tanpa pesta besar.
Namun penuh cinta.
Saat mengucapkan janji pernikahan, Gerald menggenggam tangan Michelle erat.
"Aku pernah hampir kehilangan kamu."
Michelle tersenyum sambil menahan haru.
"Dan aku pernah hampir kehilangan diriku karena terlalu mencintai kamu."
Gerald mencium keningnya.
"Kali ini aku akan menjaga semuanya."
Bertahun-tahun kemudian, mereka hidup bahagia bersama.
Sementara mantan tunangan Gerald akhirnya menikah dengan sepupu Gerald, pria yang memang dicintainya sejak lama.
Dan untuk pertama kalinya, semua orang mendapatkan kebahagiaan yang memang ditakdirkan untuk mereka.
Karena terkadang cinta memang tersesat.
Namun jika dua hati masih saling memilih, mereka akan menemukan jalan pulang satu sama lain. ❤️
Selesai