Tania Nadira—atau akrab dipanggil Era oleh warga kampung—memutuskan berhenti bekerja di gedung pencakar langit Jakarta bukan karena gagal meraih impian. Ia hanya lelah menghirup polusi kota dan ingin memulihkan tenaga di tanah kelahirannya yang masih sejuk dan asri. Namun, Era lupa satu hal: ketenangan alam sering kali harus dibayar dengan kebisingan mulut tetangga yang tak pernah puas.
Di tengah keriuhan warga, ada satu sosok yang selalu menjadi pusat gosip: Bu Yarti.
Bu Yarti merasa hidupnya sudah sempurna. Alasannya? Putrinya, Nova, berhasil dinikahi seorang dokter spesialis di rumah sakit besar di kota Riau. Ditambah lagi, suami keduanya, Pak Herman—yang membesarkan Nova sejak kecil—adalah pengusaha sukses yang mampu memenuhi segala keinginannya. Bagi Bu Yarti, pencapaian ini membuatnya berhak menilai hidup orang lain.
Sore itu, Era sedang membaca buku sambil menikmati angin di teras rumahnya ketika Bu Yarti lewat, mengenakan daster bermotif mencolok dan berjalan dengan langkah sombong.
"Eh, Era! Masih betah saja di rumah? Kapan balik ke Jakarta?" sapa Bu Yarti dengan suara lantang, sengaja agar tetangga di sekitar mendengar. "Anak sekolah tinggi-tinggi, kerja di kantor bagus, kok akhirnya pulang menganggur? Sudah tidak laku dicari orang ya di sana?"
Era menutup bukunya perlahan. Kata "tidak laku" terasa begitu kasar, seolah wanita hanyalah barang dagangan yang harus segera terjual agar dianggap berharga.
"Saya sedang beristirahat sejenak, Bu. Belum ada rencana untuk kembali bekerja dalam waktu dekat," jawabnya sopan namun tegas.
Tapi Bu Yarti tak mau berhenti begitu saja. Ia mendekati pagar dengan wajah berpura-pura prihatin.
"Daripada diam saja di rumah dan membebani orang tua, Ibu ada kenalan bagus lho. Namanya Joni, gagah badannya, selalu terlihat sibuk di jalanan. Cocok rasanya buat teman hidupmu," ujarnya antusias.
Era hampir tertawa sarkas. Joni? Pemuda yang dimaksud itu terkenal di kampung karena sering membalap motor berisik, begadang di pos ronda, bahkan pernah ditahan polisi karena tawuran. Menjodohkannya dengan Era—sarjana yang memiliki karir mapan dan tabungan sendiri—terasa seperti menghina akal sehat.
Namun, Era tetap tenang. Ia sudah terbiasa menghadapi orang yang berpikiran sempit selama bekerja di perusahaan besar. Baginya, ucapan Bu Yarti justru menunjukkan keterbatasan cara pandang wanita itu.
Bu Yarti menilai keberhasilan seseorang hanya dari pasangannya. Nova dianggap sukses karena bersuami dokter; dirinya merasa berharga karena dibiayai suami. Ia tak bisa memahami bahwa seorang wanita bisa hidup layak, bahagia, dan bermakna tanpa harus bergantung pada orang lain.
Era berdiri perlahan dan berjalan mendekati pagar, dengan tatapan tenang dan percaya diri.
"Terima kasih atas perhatiannya, Bu Yarti," ucapnya lembut namun tegas. "Namun saya punya prinsip: saya tidak akan menyerahkan masa depan saya kepada siapa pun—terutama kepada orang yang bahkan belum mampu membeli bensin motornya sendiri tanpa meminta uang orang tua. Dan satu hal lagi: jika menurut Ibu keberhasilan wanita hanyalah soal memiliki suami kaya, sayang sekali Pak Herman. Beliau yang bekerja keras membesarkan anak dan membangun kehidupan ini, tapi Ibu yang sibuk memamerkan hasil kerja orang lain sebagai kebanggaan diri sendiri."
Wajah Bu Yarti memucat mendadak. Ucapan Era tepat sasaran—menyentuh titik lemah harga dirinya yang sebenarnya dibangun di atas kesuksesan orang lain.
Sebelum Bu Yarti sempat membuka mulut, Era melanjutkan dengan nada lebih halus namun menusuk:
"Permisi, Bu. Saya mau masuk. Udara kampung memang segar, tapi kadang terganggu oleh suara orang yang sebenarnya tidak memiliki hak apa pun untuk menilai hidup saya."
Era berbalik dan menutup pintu rumahnya dengan tenang. Ia meninggalkan Bu Yarti yang terpaku di depan pagar, baru sadar bahwa statusnya sebagai "ibu mertua dokter" tak ada artinya di hadapan wanita yang sudah mengetahui nilai dirinya sendiri.