Celia adalah gadis manis berusia dua puluh dua tahun yang memiliki satu masalah besar dalam hidupnya.
Bukan tugas kuliah.
Bukan pekerjaan.
Bukan juga soal uang.
Masalahnya adalah... ayahnya.
Ayah Celia terkenal galak.
Tatapannya saja sudah cukup membuat tetangga yang sedang bergosip langsung bubar. Bahkan kurir paket sering terlihat gugup saat mengantarkan barang ke rumah mereka.
"Ayah cuma ingin menjaga kamu," begitu kata ayahnya setiap kali Celia mengeluh.
Masalahnya, cara menjaga versi ayah terasa seperti penjagaan presiden.
Karena itulah Celia merahasiakan hubungannya dengan seorang pria bernama Daren.
Daren sebenarnya baik, sopan, pekerja keras, dan penyayang.
Tapi ada satu hal yang membuat Celia yakin ayahnya bakal langsung naik darah.
Daren punya tato di lengan kanan dan kiri.
Memang bukan tato yang menyeramkan. Salah satunya bahkan gambar kompas dan bunga mawar.
Namun Celia tahu ayahnya tidak akan melihat gambarnya.
Yang dilihat pasti cuma satu.
"TATO!"
Suatu sore, Celia dan Daren janjian bertemu di taman kota.
"Celia, sampai kapan kita sembunyi-sembunyi begini?" tanya Daren sambil menyerahkan es krim.
"Sampai ayahku pensiun jadi ayah galak."
Daren tertawa.
"Itu kapan?"
"Mungkin seratus tahun lagi."
Mereka tertawa bersama.
Namun nasib buruk datang tanpa undangan.
Saat sedang duduk berdua, Celia melihat sosok yang sangat dikenalnya berjalan di kejauhan.
Topi hitam.
Kemeja kotak-kotak.
Tatapan tajam.
Ayah!
"Waduh!" pekik Celia.
"Kenapa?"
"Itu ayahku!"
Daren hampir menjatuhkan es krimnya.
"Yang mana?"
"Yang wajahnya seperti mau menangkap penjahat itu!"
Daren langsung menoleh.
"Astaga..."
Tanpa pikir panjang, Celia menarik tangan Daren.
"Ayo sembunyi!"
Mereka berlari ke balik semak-semak.
Sayangnya semak itu terlalu pendek.
Kepala mereka masih kelihatan.
"Pindah!" bisik Celia.
Mereka pindah ke belakang patung.
Ternyata ayah Celia berjalan ke arah patung.
"Pindah lagi!"
Mereka akhirnya bersembunyi di belakang gerobak bakso.
Tukang bakso sampai bingung.
"Kalian lagi main petak umpet?"
"Iya, Pak," jawab Celia cepat.
Untung saja ayahnya tidak melihat mereka.
Sejak hari itu, Celia makin hati-hati.
Namun rahasia tidak bisa disimpan selamanya.
Suatu malam, Daren mengantar Celia pulang.
Mereka berhenti beberapa rumah dari rumah Celia.
"Besok ketemu lagi?" tanya Daren.
"Ketemu."
Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba terdengar suara berat dari belakang.
"Celia."
Dunia seakan berhenti berputar.
Celia menelan ludah.
Pelan-pelan ia menoleh.
Ayah berdiri di sana.
Selesai.
Tamat.
Riwayat hidup berakhir.
"Celia," ulang ayahnya.
"I-iya, Yah..."
"Siapa dia?"
Daren maju selangkah.
"Selamat malam, Pak. Nama saya Daren."
Ayah Celia melirik tato di lengannya.
Alisnya langsung terangkat.
"Tato?"
Daren mengangguk.
"Iya, Pak."
Celia hampir pingsan.
Namun Daren tetap berdiri tenang.
"Saya tahu Bapak mungkin tidak suka."
Ayah diam.
"Tapi saya serius dengan Celia."
Suasana menjadi hening.
Celia merasa jantungnya seperti drum konser.
Ayah menatap Daren beberapa detik.
Lalu berkata,
"Kerja apa?"
Daren menjawab.
Ayah bertanya lagi.
Daren menjawab lagi.
Pertanyaan demi pertanyaan keluar seperti wawancara kerja.
Setelah hampir lima belas menit, ayah akhirnya menghela napas.
"Celia."
"Iya, Yah?"
"Lain kali jangan
sembunyi-sembunyi."
Celia terkejut.
"Hah?"
Ayah menatap mereka berdua.
"Ayah memang galak. Tapi bukan berarti tidak bisa diajak bicara."
Daren dan Celia saling berpandangan.
"Lagipula," lanjut ayah, "yang penting bukan tatonya."
Celia berkedip.
"Bukan?"
Ayah menggeleng.
"Yang penting bagaimana dia memperlakukan kamu."
Untuk pertama kalinya malam itu, Celia tersenyum lega.
Daren pun tersenyum.
Meski begitu, sebelum masuk rumah, ayah masih sempat berkata dengan wajah datar,
"Kalau bikin anak saya menangis, tato itu tidak akan menyelamatkan kamu."
Daren langsung berdiri tegak.
"Siap, Pak!"
Celia menahan tawa.
Ternyata ayahnya memang masih galak.
Tapi di balik semua itu, ia hanya seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya. ❤️
Selesai