Malam itu hujan turun pelan. Jerome duduk sendirian di teras rumah sambil memandangi langit yang gelap. Di tangannya ada secangkir kopi yang sudah dingin sejak tadi.
Entah kenapa, malam itu ingatannya kembali pada seseorang yang sudah lama pergi dari hidupnya.
Aurelie.
Gadis yang dulu selalu membuat harinya berwarna.
Jerome tersenyum kecil saat mengingat suara lembut Aurelie yang sering mengomel padanya.
"Dasar bodoh..."
"Kamu idiot ya?"
"Bodoh banget sih, Jerome!"
Dulu Jerome selalu pura-pura kesal.
"Kenapa sih aku selalu dibilang bodoh?"
Aurelie hanya tertawa sambil menjulurkan lidah.
Kini, justru kata-kata itu yang paling ia rindukan.
"Dasar bodoh..."
Sederhana.
Tapi tidak ada lagi yang mengatakannya.
Tidak ada lagi Aurelie.
Mereka bertemu saat Aurelie masih berusia tujuh belas tahun. Gadis itu sangat polos dan pemalu. Bahkan saat pertama kali Jerome mengajaknya makan bakso berdua, Aurelie sampai salah memasukkan sambal ke mangkuknya.
Jerome yang melihatnya tertawa.
"Aurelie, itu sambalnya kebanyakan."
Aurelie langsung panik.
"Hah? Serius?"
"Iya."
Begitu bakso pertama masuk ke mulutnya, wajah Aurelie langsung merah.
"Kepedasan!"
Jerome tertawa sampai hampir tersedak.
Sedangkan Aurelie malu setengah mati karena merasa dirinya terlihat konyol.
Kenangan sederhana itu masih tersimpan jelas di kepala Jerome.
Lalu ada kenangan saat mereka menonton pertandingan sepak bola bersama.
Aurelie sama sekali tidak mengerti aturan sepak bola.
"Kenapa mereka rebutan bola?"
Jerome menatapnya heran.
"Ya karena itu pertandingan."
"Oh..."
Lima menit kemudian.
"Kenapa yang pakai baju merah sedih?"
"Karena kebobolan."
"Oh.".
Beberapa menit lagi.
"Offside itu apa?"
Jerome menghela napas panjang.
"Aurelie, kamu nonton bola atau ujian?"
Aurelie malah tertawa.
Jerome masih ingat bagaimana gadis itu selalu bertanya hal-hal lucu dengan wajah polosnya.
Dan kenangan yang paling tidak bisa ia lupakan adalah hari saat ia menyatakan perasaannya.
Di bawah langit sore yang berwarna jingga.
Jerome berdiri gugup di depan Aurelie.
"Aurelie... aku suka kamu."
Aurelie langsung membeku.
Wajahnya merah sampai ke telinga.
Jerome menunggu jawaban.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Tetap diam.
"Aurelie?"
Gadis itu menunduk semakin dalam.
"Kalau diam gini artinya apa?"
Aurelie tidak menjawab.
Jerome mulai panik.
"Ditolak?"
Aurelie menggeleng pelan.
"Diterima?"
Aurelie tetap diam.
Sampai akhirnya Jerome tertawa.
"Kamu malu ya?"
Aurelie menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Diamnya saat itu ternyata adalah jawaban iya.
Kenangan itu menjadi awal kisah cinta mereka.
Namun hidup tidak selalu berjalan seperti yang diinginkan.
Setelah lulus sekolah, Aurelie mendapat kesempatan kuliah di kota lain..
Awalnya mereka berjanji akan tetap bersama.
Tetapi jarak perlahan mengubah segalanya.
Kesibukan kuliah.
Kesibukan pekerjaan.
Pesan yang semakin jarang.
Telepon yang semakin singkat.
Sampai akhirnya hubungan mereka terputus begitu saja.
Tanpa pertengkaran.
Tanpa perpisahan yang jelas.
Hanya menghilang perlahan.
Bertahun-tahun kemudian, Aurelie pulang ke kota asalnya.
Jerome mendengar kabar itu dari teman lama.
Jantungnya berdebar seperti dulu.
Ia ingin bertemu.
Ingin melihat senyum yang pernah menjadi rumah baginya.
Namun saat itu semuanya sudah terlambat.
Jerome sudah memiliki tunangan.
Dan Aurelie hanya menjadi seseorang dari masa lalu.
Malam itu Jerome kembali membuka album foto lama.
Ada foto mereka saat makan bakso.
Ada foto saat menonton bola.
Ada foto Aurelie yang tersipu malu saat difoto diam-diam.
Jerome tersenyum, tetapi matanya terasa panas.
Kadang penyesalan bukan karena cinta itu hilang.
Melainkan karena kita tidak cukup berjuang untuk mempertahankannya.
Di luar, hujan semakin deras.
Jerome menatap foto Aurelie terakhir kalinya malam itu.
"Dasar bodoh..."
Ia tertawa pelan.
Kalimat yang dulu membuatnya kesal kini justru menjadi hal yang paling ia rindukan.
Karena sekarang, yang tersisa hanyalah kenangan.
Dan kenangan, sayangnya, tidak pernah bisa dipeluk kembali.
Tamat