Di kampus itu, Dosen R dikenal cerdas dan tegas. Semua mahasiswa menghormatinya—termasuk seorang mahasiswi yang rajin dan pendiam. Nilainya selalu rapi, catatannya lengkap, dan kehadirannya nyaris sempurna.
Awalnya tak ada yang aneh.
Sampai komentar-komentar kecil mulai terasa berlebihan.
Dosen R mengingat detail yang seharusnya tak penting: jam pulang, kebiasaan duduk, bahkan warna sampul buku catatan. Bukan pujian—lebih seperti pengawasan.
Mahasiswi itu mulai merasa tidak nyaman. Setiap kali presentasi, tatapan Dosen R terlalu lama. Setiap tugas, koreksi datang lebih cepat dari yang lain. Bukan karena istimewa—melainkan karena diawasi.
Ia memilih bertindak bijak.
Ia menyimpan bukti: email, catatan komentar, waktu pertemuan. Ia bercerita pada sahabatnya, lalu pada dosen pembimbing akademik. Perlahan, pola itu terlihat jelas—bukan perhatian akademik, melainkan obsesi yang melanggar batas.
Kampus bergerak.
Prosedur berjalan. Tim etik turun tangan.
Di hari terakhir semester, mahasiswi itu melangkah keluar kelas dengan napas lega. Ia belajar satu hal penting: diam bukan solusi, dan keberanian adalah perlindungan terbaik.
Cerita itu berakhir bukan dengan ketakutan—melainkan dengan keselamatan, keadilan, dan harga diri yang terjaga.