Di kota yang tak pernah benar-benar tidur, nama Arka dikenal semua orang. Ia dijuluki tuan mafia—dingin, berwibawa, dan selalu memakai jas hitam rapi. Tak banyak yang tahu isi pikirannya, apalagi perasaannya.
Namun ada satu hal yang selalu membuat Arka berbeda.
Itu adalah gadis biasa yang bekerja di sebuah toko buku kecil di sudut kota.
Gadis itu tak tahu dunia gelap Arka. Ia hanya tahu bahwa pria itu selalu datang setiap hari Jumat, membeli buku yang sama sekali tak terlihat seperti bacaan seorang mafia—novel klasik dan buku filsafat. Selalu membayar tepat, selalu mengucapkan terima kasih, dan selalu memastikan gadis itu pulang dengan aman saat hujan turun.
Tanpa pernah berkata berlebihan, Arka memperhatikan hal-hal kecil:
Ia tahu gadis itu suka teh hangat, bukan kopi.
Ia tahu jadwal kerjanya berubah tiap hari Rabu.
Ia tahu saat gadis itu tersenyum, dunia terasa lebih tenang.
Saat bahaya mendekat ke toko buku itu—tanpa pernah dijelaskan bagaimana—semuanya menghilang begitu saja. Tidak ada kerusakan. Tidak ada keributan. Hanya ketenangan yang kembali seperti semula.
Arka tidak pernah mengaku. Ia hanya berkata pelan suatu hari,
“Tempat ini… penting. Jangan tutup.”
Gadis itu tidak tahu bahwa di balik jas hitam dan tatapan dingin itu, Arka memilih menjadi pelindung dari jauh. Bukan dengan kata manis atau sentuhan, tapi dengan keputusan sunyi dan perhatian yang tak pernah meminta balasan.
Karena bagi Arka, menjaga seseorang tetap aman
adalah bentuk cinta paling jujur yang ia tahu.