pyarr
gelas kaca pecah karena di lempar dengan sengaja tidak hanya itu suara barang jatuh mulai terdengar dari ruang sempit yang minim cahaya. Nathan yang mendengar itu, segera berlari mematikan kompor dan lari ke kamar.
pintu kayu setengah terbuka menyisakan celah kecil. Nathan mendorong pelan pintu, pupil matanya melebar melihat pecahan kaca gelas yang berceceran ia masuk dengan hati-hati.
"Luna ... " suara Nathan terdengar lirih ia berjalan pelan mendekati gadis yang tengah meringkuk di bawah tempat tidur.
Luna berjongkok di lantai dingin memengangi kedua lututnya wajahnya tenggelam tertutup rambut tablet miliknya tergeletak di kasur dengan kondisi layar menyala terang.
"Luna?"
Luna mendongak di balik temaram cahaya lampu ia melihat sosok Nathan yang berdiri di depannya.
Luna berdiri memeluk Nathan dan tangisnya langsung pecah saat itu juga. tangan Nathan bergerak mengusap rambut belakang Luna yang dibiarkan tergerai.
Nathan tidak bertanya ia hanya diam memeluk Luna menunggu tangisan gadis itu reda setelah merasa cukup tenang. keduanya duduk di tepi ranjang, Luna menyandarkan kepala pada dada bidang Nathan tubuh kecilnya tenggelam disana.
"Nathan, apa menurut mu aku bodoh?"
"No! siapa yang bilang begitu?" tanyanya hati-hati.
"Apa aku tidak pantas menjadi penulis?"
"Aku menyukai tulisan mu bahkan semua tentangmu."
Luna mendongak menatap wajah lembut Nathan yang teduh ia kemudian berdiri tangannya terangkat keatas.
pyarr
satu tamparan mendarat di wajah Nathan namun pria itu tidak membalas ia bahkan menarik pinggang Luna lalu memeluknya.
"Apa yang membuat mu semarah ini?" bahkan dalam situasi chaos suaramya tetap lembut.
"katanya, aku kurang membaca karena tulisan terlalu mengeksekusinya pakai ai." suara Luna terdengar tajam, sorot matanya dingin.
ia merasa egonya seolah tergores. "Aku memang sengaja pakai Ai hanya untuk mempersingkat waktu. Tidak ku sangka, ternyata naskah ku malah di tolak." imbuhnya.
"Kalo begitu, jangan terburu-buru. aku akan menemanimu." Nathan melepaskan pelukannya, ia meraih tangan Luna gadis itu masih melihat dinding kosong.
"Apa kau lapar? aku sudah memasak nasi goreng kesukaan mu. kau sudah bekerja keras hari ini." Nathan mencium punggung tangan Luna untuk menyadarkan jika ia tidak sendirian.
Luna menunduk menatap Nathan kedua tanganmya terulur kedepan. "Gendong aku!" pintanya.
Nathan tersenyum tipis ia mengangkat tubuh Luna menggendongnya seperti koala meninggal kamar redup yang berantakan dan penuh pecahan kaca.
———
sepiring nasi goreng di sajikan diatas meja uap hangat mengepul diatasnya Luna meraih sendok dengan malas lalu menyuapkan dalam mulutnya.
"Bagaimana? apa kau menyukainya?"
jujur Luna masih kesal bukan karena penolakan yang ia terima melainkan merasa dirinya seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. melihat wajah teduh Nathan gadis itu tersenyum jahil.
Luna beranjak dari kursinya membawa sepiring nasi goreng ia berjalan kearah Nathan yang duduk di depannya.
Luna duduk di pangkuan Nathan mengambil sesendok nasi lalu menyodorkannya kedepan.
"buka mulut mu—aaaa"
Nathan menerima suapan itu. "Kau juga sudah bekerja keras hari ini. maafkan aku" Luna mengecup pipinya yang memar bekas di tampar.
Nathan menarik pinggang Luna membuat tubuh keduanya semakin menempel. "Hanya itu saja? kau tidak akan memberikan hal lain?" godanya.
Luna mengalungkan tangan pada leher Nathan lalu mengecup dahi, kedua pipi dan bibirnya secara bergantian.
"Apa tuan Prahadi sudah puas?" tanyanya yang di balas gelengan pelan Nathan.
"Aku jadi ingin memakan mu." tubuh Luna terangkat keatas meja Nathan semakin menekannya tanpa aba-aba ia langsung melumat bibir gadis itu.