Hujan baru saja reda, menyisakan bau tanah basah yang menyegarkan. Raka berdiri di depan warung tua milik neneknya, memandangi jalanan kecil yang mulai kering. Di kejauhan, ia melihat sosok yang sudah lama dikenalnya—Sari—sedang berjalan pelan sambil memegang payung lipat.
Sudah tiga tahun sejak mereka terakhir berbicara. Dulu, mereka sering duduk berdua di bangku kayu di bawah pohon beringin, bercerita tentang mimpi-mimpi mereka. Namun, perpisahan itu datang tiba-tiba ketika ayah Sari harus pindah tugas ke kota lain. Tidak ada pesan perpisahan yang jelas, hanya sebuah buku catatan kecil yang ditinggalkan Raka di depan rumahnya.
Hari ini, tanpa diduga, Sari kembali. Ia berhenti tepat di depan warung, matanya menatap Raka dengan senyum tipis yang sama seperti dulu.
"Masih ingat tempat ini?" tanyanya pelan.
Raka mengangguk, hatinya berdebar kencang. "Tentu saja. Semua yang ada di sini tak pernah berubah... kecuali waktu."
Sari mengeluarkan sebuah buku catatan dari tasnya—buku yang sama yang ditinggalkan Raka bertahun-tahun lalu. "Saya membaca setiap tulisanmu. Dan saya selalu berharap bisa kembali untuk menyelesaikan cerita yang belum selesai."
Angin senja berhembus lembut, membawa kesejukan. Di bawah langit yang mulai berwarna jingga, mereka berdua kembali duduk di bangku kayu tua, seolah waktu berhenti sejenak. Cerita mereka tidak berakhir, melainkan baru saja mendapatkan babak baru.