Selalu berputar pada lingkar waktu yang sama, hari demi hari panas kian menyala. Dia tanyakan ini padamu: "Apakah aku terlambat?"
Kamu terduduk diatas kasur dahulunya mewah sekarang tak ada harga dirinya lagi, matamu memandang terarah jendela penthouse menampilkan cahaya mentari menyala kuat seperti bintang.
Radio, televisi, dan alat eletronik modern terus menanyangkan kondisi sekarang—menggila. Kamu tak mampu melihat kerusuhan yang ditayangkan oleh televisi.
Apalagi suhu terus bertambah tiap menit.
Kamu mulai berpikir, akankah dia terus bersamanya dikala dunia akan berakhir? Hatimu bergetar oleh rasa khawatir ketidakepulangan sang kasih. Kamu mencengkram pakaian yang basah oleh keringatmu sendiri
Kamu hampir gila karena dia tak kunjung pulang! Televisi terus menanyangkan beberapa korban jiwa, bukan karena panas melainkan kerusuhan yang mereka buat sendiri. Derita dijadikan hiasan—pujian. Sementara luka nyata tersisihkan dan nurani perlahan mati.
5 menit.. suhu bertambah.
Tangismu pecah, dibawah bendera harapan yang justru mereka bakar sendiri. Kamu akhirnya mengerti bahwa panas ini bukan dari kehendak alam sendiri, mereka lah penyebab semua ini. Makhluk hidup terpintar adalah penyebab semua ini terjadi.
Di saat air matamu terus mengalir tak ada hentinya, pintu penthouse terbuka. Kamu terpenjat akibat suara pintu berderit di lantai. Tanganmu reflek meraih benda keras apapun disana—berjaga-jaga bisa aja itu penjahat.
Karena dunia ini tak lagi aman, kriminal menjadi hal normal di tahun ****
Bayangan seseorang mulai terlihat, kamu mengencangkan genggaman pada benda keras kamu pegang, bersiap menghajar penjahat yang berani-beraninya masuk ke dalam penthouse kekasihnya!
"Aku tak peduli akan mati, mereka tak pantas berada disini." Pikirmu, tanganmu menganyunkan benda keras itu lalu...
"Y/N?"
"S-Sae??!" Kamu langsung menjatuhkan benda keras yang tadi kamu genggam erat.
Pria berambut merah berada dihadapannya, pria yang kamu khawatirkan, pria yang telah ditunggu-tunggu olehmu, pria yang telah memberi kehidupan bahagia sepanjang hidupmu.
Kamu mencoba menjelaskan mengapa kamu melakukan ini, sialnya kata-katamu tertahan di tenggorokan. Kamu bicara begitu belepotan di depannya.
Sungguh memalukan.
Pria itu awalnya diam, lalu dia bergerak .. Menarikmu ke dalam pelukan hangatnya, tangannya menyelip di bagian belakang rambutmu, wajahnya terbenam di bahumu. Dia tak mengatakan apapun, tapi bahasa tubuhnya jelas dia lega kamu masih hidup.
"Kupikir kau diserang ... Syukurlah, Y/N.." Bisiknya tepat di telingamu.
Matamu awalnya menahan air mata, akhirnya menitikkan kembali di bahu lebar miliknya. "Sae, kupikir kau tidak akan pernah kembali."
"Shh.. Jangan mengatakan itu," Dia mengangkat wajahnya, telapak tangannya mulai membelai pipimu. "Ayo, kita habiskan waktu bersama lagi."
Sae mulai menuntunmu, menuju sofa yang berhadapan dengan mentari begitu terang.
Tanganmu, tangannya, saling bertaut. Tak ingin lepas, tak ingin ditarik kembali.
Sae menatapmu, jelas kamu menyadarinya dan menatapnya kembali. Dia mulai merasa canggung. "Ada masalah apa, Sae?"
"Kita sudah lama seperti ini," jawabnya, "Bahkan di saat dunia berada difase paling akhirnya."
"Aku tahu ini semua terlambat, sangat terlambat." Dia terhenti, perlahan senyuman kecil terpancar begitu tangannya lainnya membuka kotak cincin berisi cincin berlian.
Matamu membelalak tak percaya, matamu mengamati batu berlian berkilau—kamu sendiri tak tahu dimana dia dapatkan karena dunia ini sedang amat rusuh. Jantungmu berdebar begitu kencang, rasanya kamu ingin menangis lagi—menangis bahagia.
Kamu mengulurkan tanganmu kepadanya.
"Dimana kau dapatkan ini semua??" Tanyamu, nadamu memancarkan kebahagian lega.
Dia memakaikan cincin itu, di jari manisnya yang tlah lama kosong. "Itu tak penting, Y/N."
Jri manisnya terpasang cincin berlian sempurna, "Kau begitu cantik, istriku." Dia berkata sembari mengecup telapak tangannya.
"Ku tak tahu harus berkata apalagi," Ujarmu bergetar. "Jangan tinggalkan aku lagi."
"Tidak akan. Aku akan terus disini." Jawabnya, "Apakah aku terlambat?"
Kamu mendengar hal itu, tertawa kecil. "Tidak. Kamu membuatku tenang."
Suhu bertambah, cahaya kian menyala.
Genggaman tangan mereka berdua begitu erat, penuh kasih. Matahari kian menyinari begitu terang hingga bintang itu membakar bangunan-bangunan yang tlah manusia bangun penuh bangga.
Matamu menutup erat—bukan karena takut namun saking terangnya matahari, matamu dibuat buta olehnya begitupula pasangan seumur hidupmu.
"Sae, jangan lepaskan genggaman ini."
"Aku tidak akan pernah melepaskan genggaman ini, Y/N"
"Sampai maut tak dapat memisahkan genggaman ini."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
End.