Di sebuah kota kecil yang dikelilingi perbukitan, Piyya tumbuh bersama seorang sahabat masa kecil bernama Soggy.
Mereka sering menghabiskan malam di sebuah bukit yang menghadap langit penuh bintang.
Di sana, mereka memiliki kebiasaan aneh.
Setiap malam, mereka memilih satu bintang lalu menceritakan mimpi mereka.
"Aku mau jadi penulis," kata Piyya suatu malam.
"Aku mau keliling dunia," jawab Soggy.
"Lalu kalau kita berjauhan?"
Soggy menunjuk bintang paling terang.
"Kita lihat bintang yang sama."
Saat itu mereka masih terlalu kecil untuk memahami bahwa perpisahan bisa benar-benar terjadi.
Namun beberapa minggu kemudian, keluarga Soggy pindah ke kota lain.
Perpisahan datang lebih cepat daripada yang mereka bayangkan.
Malam terakhir sebelum keberangkatan, mereka bertemu di bukit.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada janji berlebihan.
Hanya satu kalimat dari Soggy.
"Kalau suatu hari kita lupa satu sama lain, semoga hati kita masih ingat."
Piyya menganggap itu kalimat yang aneh.
Bagaimana mungkin seseorang lupa?
Tahun demi tahun berlalu.
Piyya tumbuh dewasa.
Begitu juga Soggy.
Mereka menjalani kehidupan masing-masing.
Anehya, wajah Soggy mulai kabur dalam ingatan Piyya.
Ia masih ingat pernah memiliki sahabat yang sangat berharga.
Tetapi detail-detailnya perlahan hilang.
Seperti foto lama yang warnanya memudar.
Yang tersisa hanya perasaan.
Perasaan bahwa seseorang pernah mengisi sebagian besar masa kecilnya.
Suatu malam.
Bertahun-tahun kemudian.
Hujan meteor melintas di langit.
Piyya yang kini berusia tujuh belas tahun berdiri di stasiun kereta sambil menatap langit.
Orang-orang sibuk mengambil foto.
Namun entah mengapa, hatinya terasa sesak.
Seolah ia sedang menunggu seseorang.
Seseorang yang bahkan tidak bisa ia ingat namanya.
Di peron seberang, seorang pemuda juga sedang menatap hujan meteor.
Soggy.
Mereka saling menoleh.
Mata mereka bertemu.
Hanya beberapa detik.
Namun waktu seakan berhenti.
Tidak ada kenangan yang muncul.
Tidak ada kilasan masa lalu.
Tetapi keduanya merasakan hal yang sama.
Perasaan rindu yang tidak memiliki alasan.
Kereta datang.
Orang-orang bergerak.
Mereka kehilangan pandangan satu sama lain.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Piyya berlari mengejar seseorang yang bahkan tidak dikenalnya.
Begitu pula Soggy.
Mereka berlari melewati kerumunan.
Melewati tangga stasiun.
Melewati suara pengumuman yang menggema.
Hingga akhirnya mereka bertemu lagi di luar stasiun.
Keduanya terdiam.
Napas terengah.
Tidak tahu harus mengatakan apa.
Karena bagaimana cara menjelaskan bahwa seseorang terasa begitu penting padahal kau bahkan tidak mengenalnya?
Akhirnya Soggy tersenyum.
"Maaf."
Piyya tertawa kecil.
"Kenapa minta maaf?"
"Aku cuma merasa..."
Ia berhenti sejenak.
"...aku sudah mencari kamu sangat lama."
Mata Piyya mulai berkaca-kaca.
Karena anehnya, ia merasakan hal yang sama.
Malam itu mereka berjalan bersama.
Menceritakan hidup mereka.
Membicarakan mimpi mereka.
Dan tanpa sadar, langkah mereka membawa mereka ke sebuah bukit.
Bukit yang sama.
Tempat yang sudah bertahun-tahun tidak mereka kunjungi.
Di atas sana, bintang-bintang bersinar terang.
Persis seperti malam-malam masa kecil mereka.
Lalu tiba-tiba, sebuah kenangan muncul.
Satu per satu.
Tawa.
Janji.
Mimpi.
Perpisahan.
Semuanya kembali.
"Jadi itu kamu..." bisik Piyya.
Soggy tersenyum.
"Jadi aku berhasil menemukanmu lagi."
Air mata jatuh dari sudut mata Piyya.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena ada orang yang tetap kembali meskipun waktu mencoba menjauhkan mereka.
Malam semakin larut.
Namun tak ada yang ingin pulang.
Karena mereka akhirnya memahami sesuatu.
Bahwa cinta bukanlah tentang menemukan seseorang yang sempurna.
Melainkan menemukan seseorang yang tetap terasa seperti rumah, bahkan setelah bertahun-tahun tersesat.
Bahwa waktu bisa menghapus nama.
Bisa menghapus wajah.
Bisa menghapus kenangan.
Tetapi tidak selalu bisa menghapus makna yang ditinggalkan seseorang di hati kita.
Dan di bawah langit yang dipenuhi bintang, Soggy dan Piyya menyadari bahwa sejak awal mereka bukan sedang mencari jalan menuju masa lalu.
Mereka sedang mencari jalan untuk kembali satu sama lain.
Karena beberapa orang hadir dalam hidup bukan untuk sekadar dikenang.
Melainkan untuk ditemukan kembali.