Alkisah, seorang yang dulu berapi-api, sekarang justru tersakiti oleh apinya sendiri.
Zein Abbas adalah nama panjangnya, atau orang terkadang mengenalnya sebagai Zein "Si Karbit" atau "Cecep", nama kecil yang disematkan teman-teman masa sekolahnya.
Zein Abbas—atau Zein "Si Karbit", atau Cecep—lahir di sebuah tempat bernama Al Hese. Tempat yang kala itu dihuni oleh berbagai kesatria dan petualang dari berbagai penjuru dunia karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan daerah kekuasaan para naga. Hal ini menjadikannya tempat yang rawan diserang, namun di sisi lain, juga pusat berkumpulnya orang-orang kuat sebagai pembasmi naga.
Keluarga Zein kecil tidaklah mudah dan harmonis. Ayahnya adalah seorang buruh angkut di pasar dan pekerja serabutan. Terkadang, ketika benar-benar tidak ada pekerjaan, ayah Zein bekerja sebagai pengangkut di asosiasi pembasmi naga kota. Tugasnya sederhana: mengangkut material naga yang sudah mati kembali ke kota. Namun, dengan bayaran sedikit dan jarak yang jauh, ayah Zein seringkali tidak berada di rumah. Zein pun dititipkan ke tempat penitipan, di mana anak-anak lain juga ditinggalkan oleh ayah mereka.
Ibunya sudah lama meninggal ketika Zein berumur empat tahun karena sebuah penyakit perut. Sosok yang seharusnya penting bagi anak seusianya, namun Tuhan berkata lain. Tanpa sosok ibu dan ayah yang jarang bertemu, tidak menjadikan Zein kecil muram atau berperilaku buruk. Justru sebaliknya, masa kecil Zein dipenuhi perjuangan dan semangat yang membara.
Semuanya berawal dari sebuah momen sederhana ketika Zein berumur sepuluh tahun. Momen di mana ayahnya memukuli Zein kecil dengan sebatang tongkat karena gagal dalam perhitungan dasar. Jika digambarkan betapa kerasnya sang ayah, saking kuatnya pukulan yang dilancarkan, pernah suatu hari tongkat itu patah menjadi dua.
Bekas memar pasti akan muncul setiap kali ayahnya menyuruh Zein mengetes kemampuan menghitungnya. Suatu hari, karena kesal anaknya tetap tidak bisa menghitung, Zein dipukuli lebih parah sampai-sampai tidak bisa menggerakkan satu jari pun. "Tidak ada ruang untuk kegagalan!!" Kalimat itu keluar dibarengi pukulan tongkat yang dilancarkan.
Hati kecilnya ingin sekali menangis dan berteriak, tapi ketika Zein kecil menangis, pukulan sang ayah bukannya melambat malah semakin keras. "Tidak pantas menangis bagi orang yang gagal!!"
Zein kecil benci sekali dengan ayahnya. Ketika ayah teman-temannya pulang memberikan berbagai macam hadiah dan tertawa ria, dirinya malah tidak diberi apa-apa dan justru dipukuli. Apakah ayah tidak menyayanginya? Apakah ayahnya hanya menjadikan dirinya sebagai pelampiasan rasa lelah dan kesal? Zein kecil kali ini tidak bisa menerima rasa sakit lagi. Kali ini, dirinya akan berusaha sebaik mungkin dalam belajar agar ayahnya tidak bisa memukulinya lagi.
Trauma itu terus mendorongnya untuk belajar dan membalas dendam atas perbuatan ayahnya. Bahkan, Zein sampai bekerja sesekali untuk mengumpulkan uang demi membayar seseorang mengajarinya perhitungan.
Malam itu, semuanya sudah diperhitungkan. Sekarang adalah saatnya sang ayah kembali dari pekerjaannya dan datang mengunjunginya sejenak. Seperti biasa, ayahnya datang dengan wajah kasarnya, sorot mata yang tajam, dan tentu tongkat di tangannya. Usaha tidak mengkhianati hasil. Zein berhasil melakukan tes tanpa kegagalan sedikit pun. Puas sekali hatinya melihat sang ayah tidak mengangkat tongkat itu sedikit pun. Sudah pasti sang ayah kesal karena tidak bisa melampiaskan rasa lelahnya kepada sang anak.
Tapi ternyata sang ayah tersenyum lebar dan berseri-seri. Menakutkan, karena sepanjang hidupnya, ayah yang suka memukul ini tersenyum layaknya seorang ayah kepada anaknya. Entah mengapa, Zein kecil juga ikut tersenyum, terlepas dari perlakuan kasar ayahnya. Sebuah perasaan yang memberikan kepuasan, kelegaan, dan berbinar-binar layaknya bintang di angkasa.
Sang ayah mengelus kepala anaknya itu dengan penuh haru. "Itulah buah bagi mereka yang terus berjuang tanpa kenal lelah, namanya adalah kesuksesan." Sang ayah mengeluarkan sesuatu, ternyata itu adalah sepotong pakaian baru yang bagus sekali.
Zein kecil mengenakannya dengan kegirangan. Sebuah hal yang Zein kecil sangka tidak bisa dia dapatkan. Jika memang usaha yang didapatkan sebanding dengan hasilnya, sudah pasti Zein akan berusaha untuk mendapatkannya. "Ingat baik-baik pesan ayah, Nak. Rasa sakit dari berjuang keras lebih baik daripada penderitaan karena kegagalan. Jadilah orang sukses, jadilah orang sukses, jadilah orang sukses. Jangan menjadi orang yang penuh dengan kegagalan seperti ayah." Mata sang ayah dikaburkan oleh air mata. Dengan tersedu-sedu, sang ayah memeluk anaknya itu. "K-K-Kaulah satu-satunya bukti keberhasilanku, Zein." Kalimat terakhir ayahnya sebelum berpulang kepada Sang Maha Kuasa.
Zein kecil mengambil kesimpulan dalam pelukan ayahnya kala itu, "Kegagalan adalah puncak penderitaan dan kesuksesan adalah kebahagiaan sejati. Tidak masalah jatuh ketika berjuang, cukup bangkit sampai tujuanku berhasil." Inilah kalimat yang selalu dia pegang sejak hari itu, bahkan sampai dimasukkan ke dalam liang lahat.
Setelah kematian ayahnya, Zein Abbas hidup mandiri. Pekerjaannya hampir sama seperti ayahnya: serabutan dan buruh angkut material naga. Pekerjaannya berat dan melelahkan. Pekerjaan ini hanya cukup untuk menutup perut dan bekerja kembali untuk menutup perut, tanpa akhir. Banyak orang meremehkan Zein kecil dan menyamakannya sebagai bentuk kegagalan yang tak jauh beda dengan ayahnya. Tentu Zein tak tinggal diam diremehkan dan dianggap sebuah kegagalan. Dadanya dipenuhi amarah dan tekad untuk membungkam cacian mereka. Zein mencoba meningkatkan pekerjaannya menjadi pasukan pembasmi magang.
Dan siapa sangka, Zein memiliki kemampuan yang luar biasa dalam bertarung dan berperang. Selama bertahun-tahun, usahanya banting tulang dan penuh luka. Akhirnya, di tahun keenam masa magangnya berakhir dan ia resmi diangkat menjadi pembasmi naga. Memang bukan yang terbaik, tapi itu hanya tinggal menunggu waktu saja.
Tentu tidaklah cukup bagi seorang Zein yang berambisi besar menjadi pembasmi naga biasa. Zein berniat untuk masuk ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan seluruh tabungannya selama enam tahun dan digabung dengan warisan ayahnya, Zein Abbas pergi ke daerah yang jauh dan mendaftarkan diri ke akademi khusus berperang. Ia mengenyam pendidikan hingga empat tahun sebelum akhirnya keluar sebelum lulus karena dirasa sudah mampu dan, terutama, biaya yang mahal.
Sekembalinya Zein Abbas ke kampung halaman setelah empat tahun lamanya, diadakan kembali acara seleksi besar berupa perburuan kilat untuk melihat para pembasmi naga yang potensial agar dilirik oleh regu-regu yang terdaftar. Dengan kemampuannya, Zein Abbas dilirik oleh sebuah regu bernama "Dragon Enforcer" yang beranggotakan tiga orang, dan Zein menjadi anggota keempatnya. Dari sinilah kariernya sebagai pembasmi naga mengalami peningkatan signifikan. Banyak daerah dan kerajaan merekrut regu mereka. Lusinan wyvern terpenggal, dan tentu kepala naga api perkasa menjadi trofi dan ciri khas regu Dragon Enforcer.
Kemampuan mereka tidak diragukan lagi, apalagi Zein sering menjadi bintang utamanya karena dialah satu-satunya garda depan dalam regu, dibandingkan anggota lainnya yang rata-rata adalah seorang penyihir dan pemanah.
Namanya terkenal luas di kalangan masyarakat, dan tak jarang surat-surat cinta memenuhi kotak posnya. Bahkan, Zein digadang-gadang lebih pantas menyandang titel pemimpin Dragon Enforcer ketimbang pemimpin sebenarnya. Zein merasakan bahwa tujuannya untuk menjadi pembasmi naga terbaik sudah berada di genggaman tangannya. Satu kali lagi dirinya mengikuti perburuan besar tahun depan dan berhasil dengan hasil besar, sudah pasti dirinya akan berada di puncak. Hanya masalah waktu saja.
Iri dengki bukanlah sesuatu yang bisa dihindarkan, terutama dari Farel si pemanah berkumis dan Lukita si penyihir jamet. Mereka merasa akan benar-benar tersingkirkan dan tidak akan dilirik lagi jika dalam perburuan besar Zein menjadi bintang utamanya lagi. Mereka harus segera bertindak.
Kedua orang itu mendesak pemimpinnya untuk mengeluarkan Zein Abbas dari regu Dragon Enforcer dan menggantinya dengan seorang penyihir tanah nyentrik yang memiliki kemampuan membuat pertahanan yang tidak kalah bagusnya. Pemimpin Dragon Enforcer pun terhasut untuk mengganti Zein Abbas.
Saat-saat di mana Zein Abbas dikeluarkan tidaklah dramatis atau penuh dengan ketegangan. Zein hanya dipanggil menghadap sang pemimpin, disuruh untuk mengemas perlengkapannya, dan diberi uang makan sebagai kompensasi tambahan, sebelum akhirnya namanya dicoret dari kartu regu.
"Aku gagal?" Zein tidak menyangka dan benar-benar tidak mengerti kenapa dirinya dikeluarkan dari regu. Apakah dirinya melakukan sebuah kesalahan? Atau karena performanya yang kurang baik? Selama menyantap makanannya, Zein hanya memainkan makanan dengan sendok. Pikirannya tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Hingga akhirnya Zein mengambil kesimpulan: mereka iri dengan dirinya yang lebih sukses dan terkenal.
Pupus sudah harapannya untuk menjadi pembasmi naga terbaik. Zein tidak bisa mengikuti perburuan besar jika tidak masuk grup terkenal, dan jika Zein tidak mengikuti perburuan besar, tujuannya tidak akan pernah tercapai. Artinya, dirinya telah gagal. Itu kira-kira yang dipikirkan Zein dalam lamunannya.
Zein menggebrak meja dengan keras, sangat-sangat kesal. Tidak pernah dalam hidupnya terbayangkan bahwa kegagalan yang dialaminya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan faktor campur tangan orang lain. Menyebalkan! Bajingan! Keparat! Setiap caciannya mewakili alat makan yang hancur karena dilemparkan.
Sakit. Kata yang mendeskripsikan hatinya sekarang. Jadi, inilah kegagalan. Inilah yang ayahnya takutkan. Zein, dengan segala amarahnya, bersumpah untuk membuat regu pembasmi naga yang lebih baik, lebih terkenal daripada Dragon Enforcer.
Zein akan membuat Dragon Enforcer menjadi regu yang tidak ada apa-apanya dibandingkan regu miliknya sendiri. Saking tidak ada apa-apanya, regu itu terpaksa mengambil misi murah dan gampang seperti membasmi goblin atau menangkap anak kucing. Setiap malam mereka akan mabuk-mabukan di bar sembari bertengkar karena menyesal telah mengeluarkan dirinya dari regu. Hidup mereka akan sengsara, sampai-sampai harus membayar sewa kamar murah yang ditempati oleh mereka berempat dan tidur saling berdempetan layaknya sarden. Sedangkan dirinya tinggal di istana megah dan berpesta setiap hari.
Tujuannya sekarang sudah berubah. Bukan lagi menjadi pembasmi naga terbaik. Tujuan Zein sekarang adalah menghancurkan Dragon Enforcer dengan menyalip ketenarannya.
Dibuatlah regu baru buatan Zein yang bernama "Vengeance". Nama yang didasari oleh perasaan dan tujuannya: dendam dan amarah. Zein mati-matian belajar serta riset mengenai kepemimpinan, strategi, dan komposisi regu. Merekrut anggota yang terbaik dari yang terbaik, membeli perlengkapan paling mahal sampai harus berhutang, dan membuat koneksi dengan orang-orang demi intelijen.
Semuanya benar-benar sempurna. Ketenaran regu Vengeance melonjak drastis, bahkan gila-gilaan. Dari awalnya cuma regu biasa, kini menjadi regu dengan anggota elit terbanyak dan penuntasan tugas tercepat dibandingkan regu pembasmi naga lainnya. Bahkan, Zein sendiri menjadi salah satu orang yang berpengaruh dalam sejarah pembasmi naga. Salah satu strateginya—wajib ada satu garda depan ahli pedang—menjadi standar baru dalam regu pembasmi naga. Namanya lebih terkenal dibandingkan sebelum dikeluarkan dari regu Dragon Enforcer.
Para pemuda mengidolakannya, para wanita tergila-gila kepadanya. Bahkan, bukan hanya dari kalangan para pembasmi naga, Zein dilirik oleh kerajaan besar untuk mengajarkan ilmu berpedangnya kepada elit infanteri, yang sudah tentu memiliki pengaruh politik yang besar.
Zein sekarang sudah berumur enam puluh tahun. Istana kecilnya berada di ibu kota dengan luas hampir seperempat kerajaan. Harta dan kekayaannya penuh, segudang-gudang. Anak-anaknya menjadi orang-orang hebat dan berpengaruh, bahkan ada yang menjadi menteri. Para wanita cantik mengelilinginya setiap saat dan melayaninya. Para tamu berdatangan dari berbagai belahan dunia hanya sekadar meminta nasihat dan restunya.
Namun, malam itu, di balkon istana megahnya, tepat di bawah sinar rembulan dan bintang-bintang yang menghiasi malam, Zein duduk sendirian di atas singgasana agungnya, menatap semua pencapaiannya. Zein bergumam kepada dirinya sendiri.
"Aku adalah sebuah kegagalan."
Kalimat itu melayang ke udara dan menyatu dengan alam semesta. Kenapa Zein yang sudah memiliki segalanya, yang bagi orang di sekitarnya pun prestasinya sudah luar biasa, yang segala hal mustahil di masa lalu bisa digapainya dengan mudah, mengatakan bahwa dirinya telah gagal? Tidak masuk akal. Bahkan lebih terdengar seperti ejekan yang merendahkan kepada orang yang prestasinya di bawahnya.
Sederhana. Zein gagal mencapai tujuan untuk menghancurkan dan lebih terkenal dari regu Dragon Enforcer. Di masa sekarang, Dragon Enforcer adalah sebuah legenda yang menghabisi raja naga dan mengembalikan kedamaian ke seluruh dunia. Jika dalam sejarah, nama Zein sang pemimpin Vengeance tercantum di buku dasar-dasar pembasmi naga dan ilmu berpedang, maka nama Dragon Enforcer tercatat di seluruh buku sejarah dan dikenang bahkan oleh orang awam di seluruh dunia sebagai pahlawan penyelamat umat manusia. Sudah pasti, itu jauh lebih terkenal dibandingkan dengan dirinya.
"Hei, itu konyol sekali. Orang yang bernama Zein Abbas itu sudah mempunyai segalanya dan mengatakan dirinya adalah kegagalan hanya karena kurang terkenal dibandingkan regu Dragon Enforcer? Lalu, apa alasanmu memberikanku masa lalu si Zein?"
Sesuatu yang berasal dari dalam karung goni bersuara, "Karena itu syarat agar kau bisa membawaku pergi bersamamu. Lagi pula, kenapa benda istimewa sepertiku diperlakukan setara dengan rongsokan dalam karung gonimu ini?!" Rahman tidak menghiraukan ocehannya karena sudah lelah seharian bekerja. Rahman berjalan melewati lorong-lorong gelap dan kotor hingga akhirnya mencapai ujung dungeon dan segera bergegas pulang ke rumah.
Rumah miliknya tidaklah bagus, bahkan kata sederhana masih tidak bisa mendeskripsikannya. Atapnya dari sisa rongsokan dan tertutup jerami di bagian yang lainnya. Dinding kayunya sudah lapuk dimakan usia, dan pintu rumahnya terkadang runtuh jika didorong terlalu kuat. Di sanalah sebuah keluarga tinggal untuk bertahan hidup.
"Aku pulang." Rahman menginjakkan kakinya ke dalam rumah dan tentu hal paling pertama yang ia temui adalah istrinya yang marah sembari menggendong bayi di pangkuannya. Rahman mencari-cari alibi untuk melindungi diri dari amarah istrinya. Apa saja yang ada di dalam pikirannya akan dikeluarkan. "Begini, aku bisa jelaskan, aku..."
"Keterlaluan!" Istrinya memotong sebelum Rahman selesai berbicara. "Sudah kubilang jangan bekerja terlalu keras pada dirimu sendiri. Sudah hampir seminggu kau bekerja mencari rongsokan di bawah sana dan nyaris pulang dengan luka-luka." Rahman biasanya akan kesal dimarahi, tapi kali ini rasa lelahnya begitu hilang, digantikan dengan sesuatu yang membuat bibirnya berseri. "Ya ampun, istriku ternyata mengkhawatirkanku. Romantis sekali sih." Istrinya membuang muka ke samping untuk menutupi rona merah di wajahnya yang semakin panas. "T-Tidak. Siapa juga yang khawatir denganmu. Aku hanya berpikir jika kau kenapa-kenapa atau jatuh sakit karena memaksakan diri, siapa yang akan menafkahi istri dan kelima anakmu ini? Jangan salah paham."
Rahman tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang imut sekali baginya, dan berniat untuk mencubit hidungnya walaupun sang istri terus menghindar. "Berhenti, aku bukan anak kecil lagi. Sudahlah, berikan aku karung gonimu. Kita lihat apa saja yang kau bawa dari bawah sana."
"Besi tua, sekumpulan tulang, kain-kain lusuh, dan beberapa tumpukan kayu. Isinya rongsokan. Semua kalau dijual pun dengan harga mahal, paling cuma beberapa perunggu atau perak jika beruntung. Ini hanya akan cukup untuk makan besok. Lalu bagaimana dengan bayar hutang kita?" Sang istri melonggarkan pakaiannya untuk memberikan ASI ke anak yang masih bayi. "Untuk sekarang, buat makan dulu. Urusan hutang, pokoknya kamu tahu lunas saja, jadi jangan khawatir." Sang istri menggertakkan giginya. Ia tahu persis apa yang akan dilakukan suaminya. Suaminya akan melakukan pekerjaan berbahaya lainnya, seperti yang dulu dilakukan untuk menutup hutang. "Jangan, bila—" kalimatnya terhalang oleh jari yang menekan bibirnya. "Tenang saja. Bukan yang itu, kok." Sang istri menghela napas panjang karena tahu tidak akan menang melawan suaminya yang keras kepala.
Lalu sang istri mengeluarkan kembali sesuatu dari dalam karung goni, benda terakhir dan paling bawah. Sebuah artefak berbentuk hati naga. Istrinya bertanya apa yang dibawanya ini, dan sang suami mengatakan bahwa benda itu adalah jantung dari naga yang dibunuh puluhan tahun yang lalu. "Kenapa kau membawa ini? Kita bisa tertangkap karenanya. Buang saja. Aku akan pergi ke kamar anak-anak untuk menidurkan mereka. Awas, jangan coba-coba pergi lagi malam ini, kau dengarkan?!"
Sang istri menggendong satu per satu anak-anaknya yang tertidur di lantai beralaskan tikar dan membawa semuanya sekaligus ke kamar. "Kau pasti orang yang sabar karena mampu menghadapi istri pemarahmu," ucap artefak itu, berkomentar.
"Aku tidak mengerti, kenapa orang sepertimu yang jelas-jelas menyedihkan dengan pekerjaan sebagai pemulung, tapi mempunyai lima anak yang masih kecil-kecil dan istri yang rasnya setengah hewan, lebih rendah darimu secara kedudukan, dan kau mau menikahinya bahkan punya anak. Lalu, membayar hutang dan makan pun harus banting tulang. Apakah kau tidak berpikir sebelum mempunyai anak atau menikah mengenai kelangsungan hidup? Kau mau hidupmu sengsara dan menyakitkan?"
Rahman menyeringai masam dan sedikit terkekeh. "Tapi sampai sekarang keluargaku masih hidup, bukan? Memang benar aku hanya pemulung di dalam dungeon. Aku tidak bisa membuat rumah yang bagus atau membelikan pakaian baru untuk istriku. Tapi komitmen kami, selama kami tidak kelaparan di keesokan harinya, itu sudah sangat cukup. Kami merasa bersyukur dan berbahagia. Sesekali aku tersiksa karena harus terus bekerja keras setiap harinya, tapi hei, uang yang kau ambil dengan kerja yang lebih keras, walaupun sedikit, terasa sangat cukup dan bermakna."
"Dan istriku, memang dia berasal dari ras yang berbeda dan pernikahan kami dicemooh banyak orang. Istriku bawel dan suka marah-marah ketika aku pulang bekerja. Terkadang aku kesal, namun terkadang juga aku tersenyum. Istriku selalu menungguku setiap malam di depan pintu masuk dan marah-marah soal kondisiku yang pulang terkadang babak belur, sebelum akhirnya mengobatiku semalaman."
"Kau sangat aneh, manusia. Kau bahagia karena hal kecil seperti bisa makan dan dimarahi istrimu setiap pulang. Tujuan yang kau gapai kecil dan menghasilkan kebahagiaan yang kecil juga. Apakah kau tidak berpikiran untuk menggapai sesuatu yang lebih besar? Aku percaya kau bisa menjadi penjelajah dungeon yang hebat dari skill bertarungmu. Kenapa kau memilih menjadi pemulung?"
Rahman mendengus pelan dan samar-samar mendengarkan suara istrinya yang menyanyikan lagu tidur di kamar anak-anak. "Karena jika aku menginginkan tujuan yang besar, kapan aku akan bahagia? Aku mengapresiasi setiap tindakan sekecil apa pun yang membuat anak-anakku tertawa dan membuat istriku mencium keningku di waktu malam. Tapi kalau disuruh memilih, tujuan besarku sekarang adalah membayar hutang tepat waktu."
"Bagi skala orang lain, tujuan besarmu pun masih dianggap sederhana. Apakah ada alasan khusus atau motivasi yang membuatmu menjadi seperti ini? Bagaimana asal-usulnya? Katakan semuanya padaku!" Artefak itu mulai bercahaya merah tidak karuan dan terbang tepat di depan wajah Rahman. "Sayang, jangan berisik, anak-anak mau tidur." Suara sang istri memecah keributan yang terjadi. Rahman pun mengiyakan untuk bercerita, tapi jangan berisik, katanya.
"Sejak aku dilahirkan ke dunia, ayahku sudah meninggal karena sebuah insiden, tepatnya ketika umur kandungan ibuku tujuh bulan. Tempat tinggalku bersama ibu adalah rumah jelek ini. Bisa dibayangkan betapa sulitnya seorang ibu mengurus seorang bayi seorang diri, tanpa ada sosok suami yang menjaga dan menafkahi.
Ibu bekerja sebagai penjahit pakaian dari sisa kain yang sudah robek atau tidak terpakai, atau malah dari pakaian petualang yang mati di dalam dungeon. Selain penjahit pakaian, biasanya ibu bekerja serabutan sebagai tukang masak di rumah orang lain atau menjadi pembantu ketika usiaku dinilai cukup untuk ditinggal sendirian. Jadi, walaupun masa kecilku sulit, untungnya aku tumbuh dengan sosok ibu yang baik hati dan penyabar.
Banyak sekali momen yang berkesan bersama ibuku. Salah satu yang paling favoritku adalah ketika ibu selalu memuji dan senang atas prestasi kecil apa pun yang kulakukan. Misalnya, ketika aku berhasil menyelesaikan perhitungan tambahan, ibu pasti bilang, 'Rahman anak pintar.' Atau lebih sederhana lagi, seperti bisa mengangkat ember air pun, ibuku pasti senang. Hidupku penuh dengan kasih sayang dan perlindungan ibu. Bahkan tanpa ayah sekalipun, aku merasa anak yang paling bahagia.
Ketika umurku sudah cukup besar, sekitaran remaja awal, aku mulai membantu pekerjaan ibuku dengan mencari material apa pun di dalam dungeon. Terkadang sampai terlalu dalam, sampai-sampai aku harus bertarung dengan beberapa slime atau, paling sial, goblin kecil. Aku tidak pernah memberitahu ibuku tentang aku terluka atau dari mana asal material ini. Yang jelas, ini membantu ekonomi ibu. Ibu bekerja sebagai pembantu di rumah orang lain, katanya menabung untuk biaya pendidikanku. Jadinya, ibu selalu pulang larut malam atau bahkan tidak pulang sama sekali. Sekalinya pulang, ibu selalu dalam keadaan letih dan kantong matanya yang menghitam, walaupun ketika kutanya apakah ibu lelah, jawabannya hanya 'tidak' atau tidak menjawab sama sekali. Bahkan karena terlalu lelah, ibu tidak bisa memikirkan alasan yang baik untuk membuatku tidak khawatir.
Kemampuan berpedangku lahir dari ambisi menolong ekonomi ibuku. Semakin dalam aku menjelajah, semakin sulit juga sesuatu yang kulawan. Hingga akhirnya, seperti yang kau lihat sekarang, bahkan raksasa bisa kukalahkan.
Umur dewasa, ibu berencana memasukkanku ke sekolah formal, katanya agar aku menjadi seorang pegawai sipil. Namun, aku bilang ingin menjadi penjelajah dungeon karena, yah, aku lebih ahli mengayunkan pedang daripada menggoreskan pena. Terjadi perselisihan antara aku dan ibu, dan bodohnya aku malah keras kepala dan tidak mau mendengarkan saran ibu. Yah, akhirnya ibu mengalah dan mengizinkanku.
Singkat cerita, semua tabungan ibu selama jadi pembantu digunakan sebagai uang pendaftaran, dan ternyata aku berhasil ikut salah satu regu penjelajah dungeon. Siapa sangka, uang yang dihasilkan cukup banyak untuk misi pertamaku. Jadinya, aku berusaha semaksimal mungkin, bahkan menjadi salah satu dari lima yang terbaik. Sayangnya, takdir berkata lain. Hal yang tidak kuketahui kala itu adalah persaingan di antara para penjelajah dungeon itu sangat tidak sehat dan keras. Yang berkuasa berpengaruh, yang lemah diinjak.
Itulah yang terjadi padaku. Reguku sendiri mengeluarkanku karena iri dan takut tersaingi. Aku mencoba melawan ketidakadilan itu dengan menuntut mereka ke pengadilan, dan akhirnya aku kalah. Selain kalah, aku juga dihukum atas pencemaran nama baik dan dilarang untuk mengikuti misi dungeon mana pun.
Bayangkan betapa hancurnya diriku kala itu. Semuanya gagal dan berantakan.
Aku tidak seperti Zein Abbas yang bangkit ketika dirinya gagal. Justru pelarianku adalah sesuatu yang menjijikkan: mabuk-mabukan dan alkohol. Setiap malam, hal yang kupikirkan adalah aku mengecewakan ibuku. Betapa bodohnya aku, usahanya menjadi sia-sia dan berakhir tragis karena kebodohan anaknya sendiri. Mungkin pikirku, jika seandainya aku memilih jalan yang ibu pilihkan, kondisiku tidak akan semenyedihkan ini.
Aku sangat kesal pada diriku sendiri karena gagal menjadi kebanggaan ibu dan sukses. Ditambah, menyakiti hati ibu ketika aku memaksa jadi penjelajah karena aku egois.
Di titik terendah itu, aku berpikiran untuk mengakhiri hidupku sendiri karena merasa tidak berguna. Namun, untungnya ibu datang karena mendengar dari orang-orang bahwa aku terlihat mabuk-mabukan, padahal setahu ibuku, aku membenci alkohol. Ibuku masuk ke dalam kamarku dan melihat anaknya mencoba menggoreskan pisau ke lehernya sendiri. 'HENTIKAN!!' teriak ibuku untuk menghentikan diriku yang mencoba bunuh diri. Setelah delapan tahun berpisah, seharusnya aku memberikan ibu hadiah dan berkata, 'Lihatlah, Ibu, aku sudah sukses!!' Tapi, pertemuan kembali kami malah menyedihkan, dengan anaknya menjadi pemabuk yang gagal dan mencoba bunuh diri.
Malu sekali rasanya. Aku merasa ingin cepat-cepat meninggalkan dunia ini waktu itu juga.
Namun, Ibu mengambil paksa dan melemparkan pisau itu jauh dariku. Aku membenamkan wajahku, mencoba untuk tidak memandang sang ibu. Ibu mencoba membujukku dan menenangkanku bahwa semuanya baik-baik saja. Entah karena pengaruh alkohol atau memang sakit jiwa, aku malah membentak ibuku dengan mengatakan, 'Jangan berpura-pura!! Kau pasti marah dan kesal melihatku seperti ini? Bagaimana melihat semua yang kau perjuangkan, anakmu yang kau urus dari bayi sampai besar, hanya berakhir menjadi seorang pemabuk yang gagal?'
Padam wajah ibu mendengarkan ucapanku, dan yah, aku bersiap mendengarkan semua hardikan serta umpatan yang siap dilontarkan kepadaku.
'IYA!! AKU SANGAT MARAH DAN KESAL!! AKU MARAH KARENA KAU MELIHAT SEMUA USAHAKU MEMBESARKANMU HANYA DEMI AGAR KAU MEMBALASNYA LEBIH BESAR? AKU MEMBESARKANMU MURNI KARENA AKU MENYAYANGIMU SEPENUH HATI, KARENA KAU ADALAH ANAKKU, RAHMAN.' Keluarlah semua ucapan yang tersimpan dalam hati sang ibu.
Seharusnya aku marah karena disentak begitu, tapi aku malah menangis di pangkuannya. Tak kuasa menahan air mata dari penyesalan dan kelegaan. Ibu memelukku balik dan mengusap kepalaku, layaknya aku belum pernah dewasa.
'Aku senang, sangat senang, jika anakku menjadi seorang yang besar dan sukses. Namun, aku lebih memilih anakku tidak menjadi siapa-siapa, jika menggapai tujuan besar itu membuatmu menderita dan tidak bahagia.'
'Anakku. Aku bahagia merasakan anakku berada di sisiku dan diam-diam suka menolong ekonomi ibu. Ibu senang sekali rasanya. Jadi tolong, menyerahlah dengan tujuanmu dan kembalilah kepada ibu.'
Dan yah, aku kembali membantu ibuku sesuai keinginannya. Mulung di kedalaman dungeon, cari barang berguna, kembali ke rumah, jual, dan begitu seterusnya. Pekerjaanku yang ini benar-benar membuat ekonomiku berada di situ-situ saja. Paling, sekarang setidaknya aku tidak perlu mengambil air dengan menimbanya, atau bisa menutup sebagian atap yang bocor.
Ibu mengekangku? Itu memang benar. Tapi siapa peduli, karena pada akhirnya tujuanku adalah membahagiakan sang ibu, dan ibu bahagia aku berada di sisinya. Itu sudah cukup sebagai tolak ukur kebahagiaanku. Aku tidak akan keluar dari zona nyamanku seperti mencari pekerjaan yang lebih baik, selama sekarang masih cukup, tidak masalah.
Hingga beberapa tahun kemudian, ibu jatuh sakit dan tidak ingin berobat. Bukan karena tidak punya uang atau aku tidak memaksa, tapi katanya ingin segera bertemu ayah di dalam sana. Aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku hanya bisa menangis di setiap napas ibu yang makin melemah. Di saat terakhirnya, ibu memberikan nasihat, 'Hiduplah dengan bahagia, berjuanglah ketika sengsara. Kebahagiaan datang dari penyelesaian masalah, dan masalah didapatkan dari tujuan yang ingin digapai. Jika tujuannya baik, maka masalah yang datang pun akan baik, begitu pun sebaliknya.'
Sekali lagi, terima kasih kepada ibuku. Semoga bahagia bersama sang suami di dunia sana.
Hal yang paling beruntung dalam hidupku selain ibu yang baik adalah istri yang cantik dan sangat mencintaiku, walaupun, yah, dia itu malu-malu kucing mengakuinya. Istriku mudah diajak hidup bersama, walaupun kadang mengeluh dan marah-marah karena aku selalu pulang larut malam. Tapi dia dengan setia tidak meninggalkanku dan merawat kelima anak-anakku. Di mana lagi mencari istri sebaik istriku, bukan? Yang dia minta dariku sederhana, 'Jangan membiarkan mereka kelaparan dan ketakutan.' Aku berhasil penuhi semuanya. Dia tidak meminta apa pun lebih, seperti perhiasan atau pakaian baru setiap bulannya, tapi mementingkan anaknya di atas segalanya."
Rahman membasahi tenggorokannya setelah cerita yang panjang. Ia melirik ke arah jam, dan sekarang sudah pukul sebelas malam. "Yah, sampai situ saja ceritanya. Ada hal lain lagi yang ingin kau tanyakan? Silakan, tapi cepat, aku mau tidur."
Artefak itu masih melayang di depan muka Rahman. Kali ini, cahaya merahnya redup, sebelum akhirnya keluar suara darinya. "Aku sudah mencatat semuanya. Jadi, menurutmu kondisimu yang miskin tetapi bahagia lebih baik daripada kehidupan Zein Abbas yang sukses tapi penuh dengan penyesalan?"
Rahman tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya. "Kau salah kaprah dalam mengambil hikmah dari cerita kami. Yang menjadikan kebahagiaan itu bukan kaya atau miskin, bukan gagal atau sukses. Seandainya aku di posisi Zein Abbas, aku akan tetap bahagia. Dan seandainya Zein di posisiku, dia akan sengsara. Karena yang mempengaruhi kebahagiaan bukanlah kondisi, tapi cara berpikir kita. Kunci utamanya adalah di perbedaan nilai yang diambil kami berdua. Nilai yang diambil Zein adalah melebihi kesuksesan Dragon Enforcer yang mencampakkannya. Nilai yang dia ambil mendorongnya menjadi orang yang mempunyai segalanya, tapi di sisi lain membuatnya sengsara."
"Nilai yang kuambil adalah bahagia dengan hal kecil. Memang, di sisi lain, nilai itu tidak membawaku kepada puncak kesuksesan. Tapi hei, lihatlah sisi positifnya. Kehidupanku yang tidak berada di puncak kesuksesan membawaku kepada istri yang baik dan anak-anak yang lucu. Coba bayangkan jika aku sukses menjadi penjelajah dungeon. Mungkin aku akan menikah dengan wanita yang cantik dan terkenal, tapi apakah wanita itu mampu mengurus lima anak?"
Artefak itu kembali redup, sesekali menyala kemudian redup. "Apakah kau tidak masalah dianggap sebagai seseorang yang bukan siapa-siapa dan tidak menggapai puncak dari kehidupan? Apakah kau puas dengan kondisimu saat ini?"
Rahman mendengus lagi dan tersenyum tipis. "Apakah kau tahu puncak dari kehidupan itu apa? Puncak kehidupan itu adalah mati. Semua orang di muka bumi ini pasti akan mati, dan itulah puncak kehidupan manusia. Memang benar, aku bukan siapa-siapa dan kehidupanku melarat, bahkan terkesan menyerah menggapai kesuksesan. Tapi dengarlah, mau itu manusia sukses ataupun gagal sepertiku, ujung-ujungnya mereka akan mati dan menyatu dengan tanah. Bedanya, mereka yang mengejar kesuksesan besar harus melawan ujian yang besar pula dan merasakan kebahagiaan besar di masa tua mereka. Sedangkan aku yang mengejar kesuksesan kecil harus melawan ujian yang kecil dan merasakan kebahagiaan kecil itu setiap saat. Aku tidak bilang jalanku lebih baik, tapi aku lebih suka memilih jalan ini."
Artefak itu kembali bercahaya merah, kali ini lebih kuat. "Pertanyaan terakhir. Apakah pernah sekali saja kau, di kamar ketika tidur atau duduk diam seperti ini, berpikir: bagaimana jadinya jika aku menang di pengadilan? Bagaimana seandainya reguku tidak iri dan menendangku keluar? Apakah pernah muncul di benakmu hal seperti itu?"
Rahman mengambil gelas yang kosong dan meletakkannya di rak. "Aku tidak akan tahu bagaimana kalau aku menang di pengadilan, karena pada kenyataannya aku kalah dan gagal. Seandainya aku menang, maka aku akan tahu bagaimana kesuksesan itu dan tidak tahu bagaimana gagal. Aku yang sukses akan menjalani hidup sukses, aku yang gagal akan menjalani kehidupan yang gagal. Keduanya sama-sama akan menghargai saat ini pada jalur masing-masing. Jadi, aku tidak ambil pusing dengan jalur hidup yang tidak kuambil. Aku lebih ambil pusing dengan bayar hutang. Jadi, buat apa terbebani?"
Artefak itu menyala merah sepenuhnya, tidak berkedip dan tidak redup. "Baru kali ini aku merasa bantuanku tidak akan berguna atau mengubah kehidupan seseorang. Banyak orang yang bertemu denganku, awalnya sengsara, berubah menjadi lebih baik, bahkan sukses. Tapi kali ini, seandainya aku memberikan harta segunung pun, itu tidak akan memengaruhimu. Karena mau kau miskin atau sukses, pada akhirnya sama saja, kau akan tetap bahagia. Aku merasa tidak diperlukan."
"Apa maksudmu? Bantuanmu akan berguna bagiku, dan aku akan merasa terbantu. Berikan aku uang untuk membayar hutang, niscaya aku akan sangat bahagia."
"Hahaha. Seperti biasa, keinginan kecil untuk kebahagiaan kecilmu." Artefak itu mengeluarkan cahayanya, dan muncullah beberapa koin emas di telapak tangan Rahman. Cahaya artefak itu redup, dan kemudian mati.
Rahman mengantongi koin itu ke sakunya, lalu menyimpan artefak itu ke dalam sebuah kotak kecil dan menguburnya di halaman rumah.
"Terima kasih. Ini lebih dari cukup." Salam singkatnya pada sang artefak.
Rahman kembali ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar. Istrinya masih bangun, mengelus-elus anak paling kecil. "Udah dibuang?"
"Sesuai yang diminta, my bini. Sayang, mau dipeluk juga, dong." Rahman menyeringai manja kepada istrinya.
"Dasar manja. Kau sudah berjenggot, masih saja bertingkah seperti anak kecil. Sini, tidur di pangkuanku, anak manja."
"Makasih, sayang. Hehehe."
Dan malam itu, Rahman tertidur lelap dengan menempel di pangkuan istrinya. Usapan lembut membelai kepalanya, dan itu cukup. Sangat cukup.