Namaku Badu. Aku seorang seniman tukang kayu yang membuat perabot rumah tangga dengan tangan. Tempat kerjaku ada di belakang rumahku di sebuah perkampungan kecil. Di rumah sebelah, tinggallah keluarga Prasetyo. Pak Prasetyo seorang sopir truk yang sering keluar kota selama seminggu atau lebih, dan istrinya, Dewi, seorang wanita yang bekerja sebagai penjaga toko kecil di dekat pasar.
Kita akrab karena aku sering memperbaiki perabot rumahnya yang rusak – mulai dari kursi yang patah hingga pintu yang macet. Ia bercerita tentang kehidupannya yang penuh tantangan – harus bekerja dan mengurus rumah sendirian ketika suaminya pergi, harus menghadapi tekanan dari keluarga suaminya yang tidak menyukainya, dan harus bersusah payah memenuhi kebutuhan hidup. Aku hanya bisa membantu dengan cara yang ku bisa – memperbaiki barang-barang tanpa mengenakan biaya mahal atau memberikan kayu ekstra untuk membuat mainan bagi anaknya.
Suatu sore, ia datang ke bengkelku dengan wajah yang pucat dan tubuh yang gemetar. Suaminya telah pulang dengan membawa seorang wanita lain dan mengatakan bahwa ia akan tinggal bersama wanita itu. Ia tidak punya tempat lain untuk pergi dan takut akan apa yang akan dikatakan orang-orang di sekitarnya.
"Kamu bisa menggunakan ruang penyimpanan kecil di belakang bengkelku," kataku sambil melihat ruangan yang pernah kubuat untuk menyimpan bahan kayu. "Aku bisa memperbaiki dan menghangatkannya agar bisa ditempati. Kamu dan anakmu bisa tinggal di sana sampai kamu menemukan tempat yang lebih baik."
"Tapi kamu tidak akan merasa terganggu?" tanyanya khawatir.
"Tidak sama sekali," jawabku. "Aku hanya seorang tukang kayu yang tahu bagaimana memperbaiki hal-hal yang rusak – termasuk memberikan tempat berteduh bagi orang yang membutuhkan."
Selama beberapa bulan ia tinggal di ruangan kecil itu. Aku selalu menjaga jarak dan memberikan privasinya. Aku bangun pagi untuk bekerja di bengkel, dan dia keluar setelah aku sudah mulai bekerja agar tidak ada kesalahpahaman. Aku tidak pernah mencoba berbuat sesuatu yang tidak pantas atau mengatakan kata-kata yang bisa membuatnya merasa tidak nyaman. Aku hanya menjadi seorang seniman tukang kayu yang membantu memperbaiki kehidupan seseorang dengan cara yang paling sederhana dan tulus.
Ketika ia akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap dan menemukan tempat tinggal sendiri, ia datang untuk mengucapkan terima kasih. Ia membawa sebuah bingkai foto kecil yang dibuat dari kayu yang kuberi padanya. "Kamu adalah orang yang paling jujur dan baik yang pernah kujumpai," katanya dengan air mata di matanya. "Kamu tidak pernah menjadi pelakor atau seseorang yang ingin mengambil apa-apa dariku – hanya seorang teman yang benar-benar ingin membantu."
Kini, aku masih sering memperbaiki barang-barang untuknya ketika ada yang rusak. Kita menjadi teman baik yang saling menghargai. Aku tetap menjadi seniman tukang kayu yang suka memperbaiki hal-hal yang rusak, bukan seseorang yang ingin merusak apa yang sudah ada dengan cara yang salah.