Alya tidak menikah dengan laki-laki yang kasar.
Suaminya tidak pernah memukulnya.
Tidak pernah membentaknya di depan orang banyak.
Tidak pernah berselingkuh.
Namun setiap hari, Alya merasa hatinya hancur sedikit demi sedikit.
Karena suaminya adalah laki-laki yang egois dan plin-plan.
Dan luka yang ditinggalkan orang seperti itu sering kali tidak terlihat.
...............
Di awal pernikahan, Alya percaya dirinya wanita paling beruntung.
Raka adalah pria yang pandai berbicara.
Ia tahu cara membuat Alya merasa dicintai.
"Aku akan selalu ada untuk kamu."
"Aku janji akan jadi suami yang baik."
"Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama."
Alya mempercayai setiap kata itu.
Dengan penuh cinta dan tanpa ragu.
Namun beberapa bulan setelah menikah, Alya mulai menyadari sesuatu.
Raka sangat mudah berubah pikiran.
Hari ini ia berkata ingin menabung untuk membeli rumah.
Besok ia menghabiskan tabungan itu untuk membeli barang yang sebenarnya tidak penting.
Hari ini ia berkata ingin membangun masa depan bersama.
Besok ia berkata,
"Kita lihat nanti aja."
Hari ini ia berjanji menemani Alya ke dokter.
Besok ia membatalkannya karena ada acara dengan teman-temannya.
Awalnya Alya berpikir itu hal kecil.
Namun semakin lama, janji-janji yang diingkari mulai menumpuk seperti gunung.
Yang paling menyakitkan adalah ketika Alya sedang hamil anak pertama mereka.
Saat itu kehamilannya tidak mudah.
Ia sering mual.
Mudah lelah.
Dan sering menangis tanpa alasan.
Suatu malam Alya berkata pelan,
"Mas, besok kontrol kandungan ya."
"Iya, aku antar." Jawab Raka sambil mengelus ounggung istrinya
Alya tersenyum lega.
Namun keesokan paginya Raka berkata santai,
"Kayaknya kamu naik ojek online aja deh."
Alya terdiam.
"Tapi semalam kamu bilang mau antar." Tanyanya
"Iya sih... tapi aku ada urusan." Kata Raka sambil memakai sepatunya
"Urusan apa?"
"Mau main futsal."
Saat itu Alya hanya mengangguk.
Namun setelah pintu tertutup, air matanya jatuh.
Bukan karena harus pergi sendiri.
Melainkan karena ia sadar dirinya selalu berada di urutan terakhir.
Semakin lama, Alya semakin lelah.
Setiap kali ingin membuat keputusan, Raka selalu berubah-ubah.
Saat Alya mengikuti maunya, Raka berubah pikiran.
Saat Alya mengikuti perubahan itu, Raka berubah lagi.
Tidak ada kepastian.
Tidak ada arah.
Hidup bersama Raka seperti berjalan di atas pasir yang terus bergerak.
Suatu malam listrik rumah padam karena tagihan terlambat dibayar.
Padahal Alya sudah berkali-kali mengingatkan.
"Aku urus nanti."
"Itu gampang."
"Tenang aja."
Kalimat-kalimat itu selalu keluar dari mulut Raka.
Sampai akhirnya semuanya terlambat.
Alya duduk dalam gelap sambil menggendong anak mereka yang menangis ketakutan.
Sedangkan Raka malah marah-marah.
"Kamu sih cerewet terus."
Alya menatap suaminya tidak percaya.
Untuk pertama kalinya ia bertanya dalam hati,
"Kenapa aku yang selalu disalahkan?"
Tahun demi tahun berlalu.
Raka tetap sama.
Setiap kali Alya mengeluh, Raka berkata,
"Kamu terlalu sensitif."
"Jangan dibawa perasaan."
"Masalah kecil aja dibesar-besarkan."
Padahal yang membuat Alya hancur bukan satu masalah besar.
Melainkan ribuan kekecewaan kecil yang datang setiap hari.
Janji yang tidak ditepati.
Tanggung jawab yang dihindari.
Keputusan yang berubah-ubah.
Dan perasaan tidak pernah dianggap penting.
Suatu malam, setelah anak mereka tertidur, Alya duduk di meja makan.
Rumah itu sangat sunyi.
Dan ia memandang foto pernikahan mereka.
Foto yang penuh senyum.
Foto yang dulu membuatnya yakin bahwa ia akan bahagia.
Tanpa sadar air matanya jatuh.
Raka yang baru pulang melihatnya.
"Kamu kenapa lagi?" Tanyanya
Tapi Alya malah diam
Biasanya Alya akan menjelaskan.
Biasanya Alya akan menangis dan memeluknya.
Biasanya Alya akan berusaha membuat suaminya mengerti.
Namun malam itu tidak.....
Alya hanya tersenyum lelah.
"Aku capek, Mas." Jawabnya setelah terdiam selama beberapa saat.
"Cuma gara-gara itu?" Kata Raka
Alya menggeleng pelan.
"Bukan gara-gara hari ini."
"Lalu?"
"Karena aku sudah terlalu lama berjuang sendirian." Jawab Alya
Raka terdiam.
Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang berbeda di mata istrinya.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Melainkan sorot mata yang kehilangan harapan.
Saat itulah Raka akhirnya sadar.
Istrinya tidak terluka karena satu kejadian.
Istrinya terluka karena bertahun-tahun merasa tidak diprioritaskan.
Merasa sendirian dalam pernikahan yang seharusnya dijalani berdua.
Merasa harus kuat setiap saat karena suaminya tidak pernah benar-benar bisa diandalkan.
Dan luka seperti itu...
Tidak meninggalkan memar di tubuh.
Tetapi meninggalkan retakan di hati yang jauh lebih sulit disembuhkan.
Karena terkadang, yang menghancurkan seorang istri bukanlah suami yang kasar.
Melainkan suami yang terus-menerus membuatnya merasa bahwa perasaannya tidak pernah penting.