๐๐ฎ๐ด๐ถ๐ฎ๐ป ๐ญ
Hujan turun tipis pagi itu.
Tidak deras, tidak juga cukup ringan untuk diabaikan. Butir-butir air membentuk garis-garis samar di jendela kelas, menciptakan pola yang terus berubah setiap kali angin datang.
Aku duduk di bangku dekat jendela seperti biasa.
Tempat aman.
Tempat di mana aku bisa melihat keluar tanpa harus terlalu banyak melihat orang.
Di depan kelas, suara guru bercampur dengan derit spidol yang sesekali menulis di papan. Sebagian murid memperhatikan. Sebagian lagi sibuk dengan dunia mereka sendiri.
Aku termasuk yang diam.
Bukan karena tidak mendengar.
Aku hanya sudah terlalu terbiasa menjadi pengamat.
Kadang aku merasa hidupku memang seperti itu.
Melihat.
Mendengar.
Mengerti.
Tapi jarang benar-benar ikut masuk ke dalam cerita.
"๐๐ค๐จ๐."
Aku menoleh.
Celine berdiri di samping mejaku sambil menggenggam buku.
"๐๐... ๐๐ค๐ก๐๐ ๐ฅ๐๐ฃ๐๐๐ข ๐๐๐ฉ๐๐ฉ๐๐ฃ ๐ ๐๐ข๐๐ง๐๐ฃ?"
Aku mengangguk.
"๐๐บ๐ฏ๐ถ๐น ๐ฎ๐ท๐ฎ."
"๐๐๐ง๐๐ข๐ ๐ ๐๐จ๐๐."
Senyumnya kecil.
Selalu kecil.
Seolah bahkan senyum pun harus meminta izin terlebih dahulu sebelum muncul di wajahnya.
Aku memperhatikan saat ia kembali ke tempat duduk.
Langkahnya masih ragu-ragu.
Masih sama seperti dulu.
Tapi setidaknya sekarang dia tidak lagi menunduk sepanjang waktu.
Kemajuan kecil.
Dan aku menyukai kemajuan kecil.
Karena sering kali itu lebih jujur daripada perubahan besar yang dipaksakan.
Bel berbunyi.
Kelas langsung berubah menjadi pasar.
Suara kursi bergeser.
Tawa.
Panggilan.
Obrolan.
Dan di tengah semua itu
BRAK!
Seseorang membuka pintu kelas terlalu keras.
Aku bahkan tidak perlu melihat.
"๐๐ผ๐๐๐ผ."
Setengah kelas langsung menoleh.
Dan benar saja.
Naysa berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah.
"๐ผ๐๐ ๐๐๐๐ผ๐ ๐๐ผ๐๐!"
"๐๐ถ๐๐ฎ ๐ท๐๐ด๐ฎ ๐ฏ๐ถ๐๐ฎ ๐น๐ถ๐ต๐ฎ๐ ๐ถ๐๐."
"๐๐๐ง๐๐ข๐ ๐ ๐๐จ๐๐ ๐๐ฉ๐๐จ ๐ค๐๐จ๐๐ง๐ซ๐๐จ๐ ๐ก๐ช๐๐ง ๐๐๐๐จ๐๐ฃ๐ฎ๐!"
Suara tawa langsung pecah.
Naysa masuk sambil membawa tas yang setengah terbuka.
Beberapa lembar kertas bahkan hampir jatuh.
Aku menghela napas.
Anak itu benar-benar seperti badai.
Ia langsung menghampiri mejaku.
"๐๐ค๐จ๐ฒ."
"๐๐บ?"
"๐ผ๐ ๐ช ๐ก๐๐ฅ๐๐ง."
"๐๐ฎ๐ป๐๐ถ๐ป ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ."
"๐ผ๐ ๐ช ๐ฃ๐๐๐๐ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ฎ๐ ๐ช๐๐ฃ๐ ๐ ๐๐๐๐ก."
"๐๐๐ ๐บ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฒ๐ฑ๐ฎ."
"๐๐๐ฃ๐๐๐ข ๐๐ช๐ก๐ช."
"๐ง๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ."
"๐๐๐๐."
"๐ง๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ."
"๐๐ค๐จ๐."
"๐ง๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ."
"๐๐ค๐จ๐๐๐."
Aku bahkan belum sempat menjawab ketika seseorang menarik kerah belakang seragam Naysa.
"๐ฉ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐."
Suara itu tegas.
Naysa langsung mendesis.
"๐ผ๐ฃ๐๐ฉ๐๐!"
"๐ฒ๐๐๐๐๐?"
"๐๐๐ข๐ช ๐ข๐ช๐ฃ๐๐ช๐ก ๐ ๐๐ฎ๐๐ ๐๐๐ฃ๐ฉ๐ช."
"๐จ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐
๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐."
"๐๐ฉ๐ช ๐ก๐๐๐๐ ๐๐ช๐ง๐ช๐ ."
Aku menahan senyum.
Anetha melepaskan kerah Naysa lalu duduk di kursi kosong dekat kami.
Seperti biasa.
Percaya diri.
Tegak.
Tatapan tajam.
Kalau orang baru melihatnya, kemungkinan besar mereka akan berpikir dia tipe siswa yang bisa membuat satu kelas diam hanya dengan menatap.
Yang lucu
itu memang benar.
"๐ฒ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐?" ๐๐๐๐๐ ๐จ๐๐๐๐๐.
"๐๐๐๐๐ ."
"๐ฒ๐๐๐ ๐๐๐๐๐."
"๐๐๐๐๐ ."
"๐ฒ๐๐๐ ๐๐๐๐๐."
Aku menghela napas.
"๐ผ๐ ๐ช ๐๐ช๐ข๐ ๐๐๐ง๐ฅ๐๐ ๐๐ง ๐ ๐๐ข๐ช ๐ข๐๐ฃ๐ฎ๐๐ง๐๐ข๐ ๐๐ฃ."
"๐ฉ๐๐๐๐."
Naysa menunjuk Anetha.
"๐๐๐ ๐ฉ๐ช๐. ๐ฟ๐๐ ๐๐๐ฃ๐๐๐ ๐ก๐๐๐."
"๐จ๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐."
"๐๐๐ข๐ช ๐๐ช๐ข๐ ๐ฅ๐๐ฃ๐๐๐ ."
Anetha langsung melempar penghapus.
Naysa menghindar sambil tertawa keras.
Dan untuk beberapa detik
aku ikut tertawa.
Tawa kecil.
Tapi nyata.
Kadang aku lupa bahwa hal sesederhana ini bisa terasa hangat.
Hari berjalan seperti biasa.
Sampai jam istirahat kedua.
Saat semuanya mulai berubah.
Aku sedang mengembalikan buku ke perpustakaan ketika mendengar suara tangisan pelan dari lorong belakang gedung sekolah.
Aku berhenti.
Lorong itu jarang dilewati.
Sepi.
Aku mengenali suara itu.
Pelan.
Tertahan.
Seperti seseorang yang berusaha keras agar tidak didengar.
Celine.
Aku mengikuti suara itu.
Dan benar saja.
Ia duduk di lantai dekat tangga darurat.
Kepalanya tertunduk.
Bahunya bergetar.
"๐๐ฒ๐น๐ถ๐ป๐ฒ."
Ia langsung mengangkat kepala.
Matanya merah.
"๐๐."
Suaranya pecah.
"๐๐๐."
Aku duduk di sampingnya.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
"๐๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐ถ๐ป."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Karena aku tahu satu hal.
Orang yang sedang sedih biasanya tidak butuh solusi dulu.
Mereka butuh ruang.
Butuh seseorang yang bersedia tinggal.
Butuh seseorang yang tidak buru-buru pergi.
Celine menggigit bibirnya.
"๐๐ช๐ข๐๐ฎ๐๐ฃ ๐๐๐ฅ๐๐ ."
"๐๐บ."
"๐ผ๐ ๐ช ๐๐๐ง๐ช๐จ๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ง๐๐ฃ๐."
"๐๐บ."
"๐ผ๐ ๐ช ๐๐๐ง๐ช๐จ๐๐๐ ๐ฃ๐๐ค๐ข๐ค๐ฃ๐."
"๐๐บ."
"๐ผ๐ ๐ช ๐๐๐ง๐ช๐จ๐๐๐ ๐๐ ๐ช๐ฉ ๐๐๐จ๐ ๐ช๐จ๐."
Aku tetap diam.
Membiarkannya melanjutkan.
"๐๐๐ฅ๐ ๐ ๐๐๐๐ฃ๐ ๐ข๐๐ง๐๐ ๐ ๐ฉ๐๐ฉ๐๐ฅ ๐ฃ๐๐๐๐ ๐๐๐ฃ๐๐๐ง."
Aku melihat ke depan.
Lorong itu kosong.
Sunyi.
"๐๐ฒ๐น๐ถ๐ป๐ฒ."
"๐๐ข?"
"๐๐ฎ๐บ๐ ๐๐ฎ๐ต๐ ๐ฝ๐ผ๐ต๐ผ๐ป?"
Ia tampak bingung.
"๐๐ค๐๐ค๐ฃ?"
"๐๐๐ฎ."
"๐๐๐ฃ๐๐ฅ๐ ๐ฅ๐ค๐๐ค๐ฃ?"
"๐ฃ๐ผ๐ต๐ผ๐ป ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐ธ ๐๐๐บ๐ฏ๐๐ต ๐๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐๐ฎ๐๐ ๐บ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ."
Ia diam.
"๐๐ธ๐ฎ๐ฟ ๐๐๐บ๐ฏ๐๐ต ๐ฑ๐๐น๐."
"๐๐ฎ๐น๐ ๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ด."
"๐๐ฎ๐น๐ ๐ฐ๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด."
"๐๐ฎ๐น๐ ๐ฑ๐ฎ๐๐ป."
Aku menoleh padanya.
"๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ถ๐ป๐ถ ๐ธ๐ฎ๐บ๐ ๐ฐ๐๐บ๐ฎ ๐๐๐บ๐ฏ๐๐ต ๐๐ฎ๐๐ ๐๐ฒ๐ป๐๐ถ๐บ๐ฒ๐๐ฒ๐ฟ, ๐ถ๐๐ ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ ๐๐๐บ๐ฏ๐๐ต."
Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"๐๐ค๐จ๐."
"๐๐บ?"
"๐๐๐ฃ๐๐ฅ๐ ๐ ๐๐ข๐ช ๐จ๐๐ก๐๐ก๐ช ๐ฉ๐๐๐ช ๐๐๐ง๐ช๐จ ๐ฃ๐๐ค๐ข๐ค๐ฃ๐ ๐๐ฅ๐?"
Aku tersenyum tipis.
Karena sebenarnya aku tidak tahu.
Aku hanya pernah merasakan hal yang mirip.
Dan terkadang pengalaman adalah bahasa yang paling mudah dipahami.
Beberapa minggu kemudian.
Aku mulai sadar ada sesuatu yang berubah.
Awalnya kecil.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Tapi tetap ada.
Dan pusat dari perubahan itu adalah satu orang.
Glory Luna Velaris.
Awalnya tidak ada yang aneh.
Ia masih tersenyum seperti biasa.
Masih lembut.
Masih terlihat ramah.
Masih disukai banyak orang.
Tapi semakin lama aku memperhatikan
semakin banyak hal yang terasa tidak pas.
Contohnya hari itu.
Aku masuk kelas lebih awal.
Dan mendengar percakapan yang seharusnya tidak kudengar.
"๐ผ๐ ๐ช ๐จ๐๐๐๐ ๐๐๐ฃ๐๐๐ฉ ๐จ๐๐๐๐ฃ๐๐ง๐ฃ๐ฎ๐."
Suara Glory.
"๐ผ๐ ๐ช ๐๐ช๐ข๐ ๐ฅ๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ฉ๐๐ข๐๐ฃ ๐จ๐๐ข๐ ๐ข๐๐ง๐๐ ๐."
"๐๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด?"
"๐๐๐ง๐๐ ๐ ๐ฃ๐๐๐๐ ๐จ๐ช๐ ๐ ๐๐ ๐ช."
"๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข?"
Glory menunduk.
Lalu berkata pelan.
"๐๐ค๐จ๐ ๐๐๐ฃ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ก๐๐๐ฃ."
Aku berhenti di depan pintu.
Mereka?
Naysa?
Anetha?
Celine?
Aku mengernyit.
Karena aku tidak pernah melakukan apa pun padanya.
Bahkan jarang berbicara.
"๐ผ๐ ๐ช ๐ฃ๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐๐ง๐ฉ๐ ๐จ๐๐ก๐๐ ๐๐ ๐ช ๐๐ฅ๐."
Suara Glory terdengar ๐ณ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฉ.
Beberapa orang langsung ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต๐ช.
Wajah mereka berubah.
Tatapan mereka melembut.
Dan saat itulah aku mengerti.
Ada sesuatu yang sedang dimainkan di sini.
Sesuatu yang tidak terlihat.
Sesuatu yang berjalan diam-diam.
Dan aku tidak menyukainya.
Sore itu.
Aku duduk bersama Anetha di tribun lapangan.
Naysa sedang latihan acara sekolah.
Celine masih di perpustakaan.
Jadi hanya kami berdua.
Angin berembus pelan.
Membawa aroma rumput basah.
"๐จ๐
๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐."
Aku menoleh.
Anetha sedang menatap lurus ke depan.
"๐๐ฎ๐บ๐ ๐ฐ๐ฒ๐ป๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ด?"
"๐๐๐๐๐ ."
"๐ง๐ฒ๐ฟ๐๐?"
"๐ผ๐ ๐ช ๐ ๐๐ฃ๐๐ก ๐ ๐๐ข๐ช."
Jawaban sederhana.
Tapi cukup membuatku diam.
Anetha melanjutkan.
"๐๐๐ก๐๐ช ๐ ๐๐ข๐ช ๐ข๐ช๐ก๐๐ ๐ฉ๐๐ง๐ก๐๐ก๐ช ๐๐๐๐ข, ๐๐๐ง๐๐ง๐ฉ๐ ๐๐๐ ๐จ๐๐จ๐ช๐๐ฉ๐ช."
Aku tersenyum kecil.
Lucu.
Karena kebanyakan orang bahkan tidak sadar saat aku diam.
Mereka menganggap itu normal.
Tapi Anetha bisa membedakan diam biasa dan diam yang penuh pikiran.
"๐๐ธ๐ ๐ฐ๐๐บ๐ฎ ๐น๐ฎ๐ด๐ถ ๐บ๐ถ๐ธ๐ถ๐ฟ."
"๐๐ค๐๐ก?"
"๐๐น๐ผ๐ฟ๐."
Untuk pertama kalinya hari itu
Anetha langsung menoleh.
Ekspresinya berubah.
"๐ถ๐."
"๐๐ฎ๐บ๐ ๐ท๐๐ด๐ฎ ๐๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ?"
"๐จ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐
๐๐."
Aku tertawa kecil.
"๐ซ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐?"
"๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐๐๐ป๐ด."
"๐ป๐๐๐?"
Anetha menyandarkan tubuh ke bangku.
"๐๐ถ๐ฎ ๐๐๐ธ๐ฎ ๐ป๐ด๐ผ๐บ๐ผ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐ฑ๐ฎ ๐ธ๐ฒ ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐ฑ๐ฎ."
Aku mengangguk pelan.
Karena itulah yang mulai kulihat juga.
Potongan-potongan kecil.
Cerita yang tidak cocok satu sama lain.
Versi yang selalu berubah tergantung siapa yang mendengar.
"๐๐ธ๐ ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐ธ ๐๐๐ธ๐ฎ ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ฎ๐๐ฎ๐ธ ๐ด๐ถ๐๐."
"๐ฒ๐๐๐๐๐?"
"๐๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ป๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐ฏ๐ถ๐ธ๐ถ๐ป ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐น๐ฎ๐ถ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ฟ ๐น๐ฎ๐น๐ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐ถ ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐บ๐ฏ๐ถ๐น ๐ฝ๐๐ฟ๐ฎ-๐ฝ๐๐ฟ๐ฎ ๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ธ๐ผ๐ฟ๐ฏ๐ฎ๐ป."
Angin kembali berembus.
Dan untuk beberapa saat kami sama-sama diam.
Lalu tiba-tiba
"๐จ๐๐ ๐๐๐๐๐."
Aku menoleh.
Anetha menatap lurus ke depan.
Wajahnya tetap datar.
"๐๐ฝ๐ฎ?"
"๐จ๐๐ ๐๐๐๐๐."
"๐๐๐ ๐๐ฟ๐ฎ๐ป๐๐ถ๐๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐น๐๐ฎ๐ฟ ๐ฏ๐ถ๐ฎ๐๐ฎ."
"๐จ๐๐ ๐๐๐๐๐๐."
Aku tertawa.
Benar-benar tertawa.
Dan Anetha tampak puas melihat reaksiku.
Kadang aku lupa.
Di balik semua sikap alpha dan galaknya
dia masih manusia biasa.
Masih anak remaja yang bisa mengeluh lapar setelah membicarakan drama rumit.
Dan entah kenapa
itu membuatnya terasa lebih nyata.
Masalah mulai muncul dua minggu kemudian.
Bukan ledakan besar.
Bukan pertengkaran hebat.
Tapi sesuatu yang lebih berbahaya.
Kesalahpahaman.
Karena kesalahpahaman tumbuh diam-diam.
Dan saat orang sadar, akarnya sudah terlalu dalam.
Hari itu Naysa datang dengan wajah kusut.
Sangat kusut.
"๐๐ฑ๐ฎ ๐ฎ๐ฝ๐ฎ?"
Aku bertanya walau sebenarnya sudah tahu..
Ia menjatuhkan tas ke meja.
"๐ผ๐ ๐ช ๐๐๐ฅ๐๐ ."
"๐๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฝ๐ฎ?"
"๐๐๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐ช."
"๐๐๐ ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ท๐ฎ๐๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ป."
Naysa mengacak rambutnya.
Lalu menghela napas panjang.
"๐ผ๐๐ ๐ค๐ง๐๐ฃ๐ ๐๐๐ก๐๐ฃ๐ ๐๐ ๐ช ๐ฃ๐๐ค๐ข๐ค๐ฃ๐๐๐ฃ ๐พ๐๐ก๐๐ฃ๐."
Aku langsung menatapnya.
"๐๐ฝ๐ฎ?"
"๐ผ๐ ๐ช ๐ฃ๐๐๐๐ ๐ฅ๐๐ง๐ฃ๐๐."
"๐ง๐ฎ๐ต๐ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ?"
"๐๐๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐จ."
"๐ง๐ฒ๐ฟ๐๐?"
"๐พ๐๐ก๐๐ฃ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ช๐."
Aku terdiam.
Karena ini mulai terdengar familiar.
Terlalu familiar.
Pola yang sama.
Cerita yang berpindah tangan.
Lalu berubah bentuk.
Kemudian menyakiti seseorang.
Dan saat itulah aku mulai yakin.
Ini bukan kebetulan.
Seseorang sedang memainkan sesuatu.
Dan aku sudah tahu siapa.
Hari berikutnya.
Aku menemukan ๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฆ sendirian di perpustakaan.
๐๐ข ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ค๐ข.
๐๐ต๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ข-๐ฑ๐ถ๐ณ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ค๐ข.
Karena matanya tidak bergerak sejak aku datang.
Aku duduk di depannya.
"๐๐ฒ๐น๐ถ๐ป๐ฒ."
"๐๐ข?"
"๐๐ฎ๐บ๐ ๐บ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐บ๐ฎ ๐ก๐ฎ๐๐๐ฎ?"
Ia terdiam.
Lama.
Lalu berkata pelan.
"๐ผ๐ ๐ช ๐ฃ๐๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐ช."
"๐๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฝ๐ฎ?"
"๐ผ๐๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐๐๐ก๐๐ฃ๐ ๐๐๐ ๐ฃ๐๐ค๐ข๐ค๐ฃ๐๐๐ฃ ๐๐ ๐ช."
"๐๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฎ๐บ๐ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ฐ๐ฎ๐๐ฎ?"
Ia menunduk.
Aku menghela napas pelan.
"๐๐ฒ๐น๐ถ๐ป๐ฒ."
"๐๐ข?"
"๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐ก๐ฎ๐๐๐ฎ ๐ฝ๐๐ป๐๐ฎ ๐บ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐บ๐ฎ ๐ธ๐ฎ๐บ๐, ๐ฑ๐ถ๐ฎ ๐ฏ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐น ๐ป๐ด๐ผ๐บ๐ผ๐ป๐ด ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐๐๐ป๐ด."
"๐๐ฉ๐ช ๐๐๐ฃ๐๐ง."
"๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐ฑ๐ถ๐ฎ ๐บ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ถ๐ป๐ฎ ๐ธ๐ฎ๐บ๐, ๐๐ฎ๐๐ ๐๐ฒ๐ธ๐ผ๐น๐ฎ๐ต ๐ฏ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐น ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ."
Celine menahan tawa.
"๐๐ค๐จ๐."
"๐๐ฝ๐ฎ?"
"๐๐ฉ๐ช ๐๐๐ฃ๐๐ง ๐๐ช๐๐."
"๐ก๐ฎ๐ต."
Untuk pertama kalinya hari itu ia tersenyum.
๐๐ฆ๐ค๐ช๐ญ.
Tapi ๐ต๐ถ๐ญ๐ถ๐ด.
Dan aku merasa sedikit lega.
Karena terkadang persahabatan tidak runtuh karena kebencian.
Melainkan karena orang-orang berhenti bertanya dan mulai berasumsi.
Sore hari.
Aku berdiri di koridor lantai dua.
Sendirian.
Matahari mulai turun.
Cahaya oranye memenuhi lorong sekolah.
Membuat semuanya terlihat hangat.
Bahkan bangunan tua ini.
Bahkan dinding kusam ini.
Bahkan diriku.
Suara langkah terdengar dari belakang.
Aku tidak perlu menoleh.
"๐๐ธ๐ ๐๐ฎ๐ต๐ ๐ถ๐๐ ๐ธ๐ฎ๐บ๐."
"๐ฏ๐๐๐๐."
Suara Anetha.
Ia berdiri di sampingku.
Lalu ikut melihat langit.
"๐ช๐๐๐๐?"
tanyanya.
"๐ฆ๐ฒ๐ฑ๐ถ๐ธ๐ถ๐."
"๐จ๐๐ ๐๐๐๐."
"๐๐บ."
"๐ฒ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐
๐ ๐๐๐๐ ๐
๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐."
Aku tertawa kecil.
"๐๐๐ ๐ธ๐ฎ๐น๐ถ๐บ๐ฎ๐ ๐ฝ๐ฎ๐น๐ถ๐ป๐ด ๐ฏ๐ถ๐ท๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ป๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฒ๐น๐๐ฎ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐บ๐๐น๐๐๐บ๐."
"๐ป๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐."
"๐๐ฎ๐บ๐ ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐บ๐ธ๐ฎ๐ป."
"๐จ๐๐ ๐๐๐๐."
๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ฅ๐ช๐ข๐ฎ.
๐๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช
๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ.
๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ.
๐๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐๐ญ๐ฐ๐ณ๐บ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ค๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข.
๐๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ.
๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ข๐ฏ.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข.
๐๐ฏ๐ฆ๐ต๐ฉ๐ข.
๐๐ข๐บ๐ด๐ข.
๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฆ.
๐๐ช๐จ๐ข ๐ค๐ข๐ฉ๐ข๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ช๐ญ.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ.
๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฑ.
๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ.
๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ข๐ฅ๐ข.
๐๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ
๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ
๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ญ๐ฐ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐ฉ๐ข๐บ๐ข.
(Bersambung ke Bagian 2)