Baginya, hujan hanya berarti dua hal: sepatu kanvasnya yang basah kuyup, dan antrean panjang di halte bus depan kampus yang menguji kesabaran.
"Kenapa harus deras sekarang, sih?" gerutu Aruna sambil merapatkan jaket rajut cokelatnya. Di tangan kanannya, ia memeluk erat sebuah buku sketsa yang penuh dengan coretan desain pakaian—impian besarnya yang belum terwujud.
Jarinya bergerak gelisah di atas layar ponsel. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, dan bus jemputan belum juga menampakkan batangnya. Ketika Aruna bersiap untuk menerobos gerimis demi mencari ojek online, sebuah bayangan tinggi tiba-tiba berdiri di sampingnya, menghalau rintik air yang hampir mengenai wajah Aruna.
Aruna menoleh, dan napasnya tertahan seketika.
Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah payung besar berwarna biru tua. Namanya Dewa, kating berwajah dingin dari jurusan Teknik Arsitektur yang selama ini hanya berani Aruna pandangi dari jauh di perpustakaan.
"Belum pulang?" suara bariton Dewa memecah keheningan di antara suara deru hujan.
"E-eh? Belum, Kak. Masih nunggu bus," jawab Aruna gugup, setengah tidak percaya cowok sepopuler Dewa mendadak mengajaknya bicara.
Dewa melirik ke arah buku sketsa yang dipeluk Aruna, lalu beralih menatap sepatu Aruna yang sudah mulai basah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dewa melangkah satu jepretan lebih dekat, membuat payung birunya kini menaungi kepala Aruna sepenuhnya. Sementara bahu kanan Dewa sendiri rela membiarkan dirinya basah diguyur hujan.
"Eh, Kak, payungnya miring! Kak Dewa nanti kehujanan," ucap Aruna panik, berniat menggeser tubuhnya.
"Gak apa-apa," potong Dewa cepat, matanya lurus menatap jalanan di depan. "Rumahmu di blok mawar, kan? Searah sama tempat kosku. Ayo bareng, jalan sampai depan gang saja."
Jantung Aruna mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Bagaimana Kak Dewa bisa tahu rumahnya di blok mawar? Padahal mereka tidak pernah saling kenal!
Sepanjang jalan setapak menuju depan gang, hanya ada suara rintik hujan yang menghantam payung. Aruna berjalan dengan sangat hati-hati, berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai merona merah.
"Aruna," panggil Dewa tiba-tiba, memecah kecanggungan.
"Iya, Kak?"
"Coretan di buku sketsamu... bagus," ucap Dewa pelan, ada sedikit senyuman tipis di sudut bibirnya yang dingin. "Minggu lalu di perpustakaan, kamu menjatuhkan satu lembar kertas desain gaun malam. Aku yang menyimpannya. Maaf, belum sempat mengembalikannya padamu."
Aruna terbelalak. Jadi selama ini, cowok sedingin es ini memperhatikan dirinya?
"Nanti malam, aku chat kamu untuk kembalikan desainnya. Kebetulan, aku dapat nomor kamu dari anak-anak BEM," lanjut Dewa santai, seolah ucapan itu tidak baru saja membuat dunia Aruna jungkir balik karena bahagia.
Tepat di depan gerbang gang rumahnya, hujan perlahan mulai mereda. Dewa menurunkan payungnya, lalu menatap lekat kedua mata Aruna. "Masuklah, Aruna. Jangan lupa mandi air hangat biar gak sakit."
Aruna mengangguk dengan senyum termanis yang ia miliki. "Terima kasih banyak, Kak Dewa. Hati-hati di jalan!"
Sore itu, Aruna akhirnya sadar. Mulai hari ini, ia tidak akan pernah membenci hari Jumat di musim hujan lagi. Karena di bawah rintik hujan dan payung biru tua itu, kisah barunya bersama Dewa baru saja dimulai.
— TAMAT —
#cerpen #promatis #oneshot # bikinbaper #fiksiremaja