Malam sudah melewati pukul sebelas. Rumah tipe 36 ini sangat sepi, hanya menyisakan dengung rendah dari mesin kulkas tua di sudut dapur dan gemercik air yang mengalir dari keran.
Aku berdiri di depan wastafel, masih mengenakan pakaian tidur sehari-hari. Kaos oblong kebesaran warna abu-abu yang sudah agak pudar dan celana tidur kulot bermotif batik yang longgar.
Rambut panjangku sengaja dicepol asal-asalan ke atas agar tidak mengganggu kegiatan. Tanganku penuh busa sabun, menggosok permukaan gelas kaca terakhir dengan gerakan ritmis.
Aku benar-benar lelah. Seharian kuliah online dan mengerjakan tugas di depan laptop membuat mataku perih. Mencuci piring sebelum tidur adalah ritual terakhir yang harus kuselesaikan agar tidak mengundang semut keesokan harinya.
Sret.
Gerakan tanganku mendadak terhenti. Keran air masih mengalir, membasahi punggung tanganku yang mendadak kaku.
Melalui pantulan samar pada kaca jendela kecil di atas wastafel, yang langsung menghadap ke halaman belakang yang gelap gulita, aku menangkap sesuatu. Di pantulan itu, tampak bayangan koridor sempit di belakang punggungku yang menghubungkan area dapur dengan ruang tengah.
Pada sudut tembok pembatas koridor tersebut, ada sebuah bayangan yang mencurigakan.
Sebuah kepala. Seseorang sedang mencondongkan tubuhnya dari balik tembok, mengintip langsung ke arah punggungku.
Jantungku seperti berhenti berdetak sedetik. Bulu kuduk di leher dan lenganku langsung berdiri tegak. Sensasi dingin yang aneh merayap dari telapak kaki hingga ke ubun-ubun.
Aku tidak berani bergerak sedikit pun. Aku terpaku, menatap lurus ke pantulan kaca jendela yang buram oleh uap air. Sosok di dalam pantulan itu tampak gelap, kepalanya miring dengan aneh, seperti sedang mengamati setiap gerak-gerikku dengan intensitas yang mengerikan.
"Sial, jangan diingat," batinku mengutuk diri sendiri.
Otakku secara otomatis memutar memori tentang adegan-adegan klise di film horor yang sering kutonton. Alur cerita seram selalu bermula dari rasa penasaran tokohnya yang bodoh. Tokoh utama yang sedang sendirian, malam hari, lalu ada sesuatu yang mencurigakan.
Aku memejamkan mata rapat-rapat. Menarik napas dalam-dalam, mencoba mengembuskannya perlahan demi menenangkan debaran dada yang kian menggila.
"Cuma halusinasi. Kamu kecapekan. Mata kamu udah blur karena seharian liat layar," ujarku mencoba merasionalkan keadaan.
Aku membuka mata, lalu dengan gerakan cepat membasuh gelas di tangan, mematikan keran, dan mengelap tangan yang basah ke celana tidur kulotku. Begitu keran mati, keheningan malam langsung menyergap dapur ini seperti kabut tebal. Aku memberanikan diri menoleh ke belakang.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa di sudut koridor itu. Sudut tembok itu tampak normal di bawah temaram lampu ruang tengah yang sengaja diredupkan. Aku mengembuskan napas panjang, tersenyum kecut pada ketakutanku sendiri.
Aku berbalik, hendak melangkah menuju kamar untuk segera tidur. Namun, langkah kakiku tertahan tepat di batas ubin dapur.
Rasa penasaran itu tiba-tiba datang tanpa diundang. Padahal aku tahu betul, rasa penasaran ini bisa jadi petaka.
Harusnya aku langsung lari masuk kamar, mengunci pintu, dan menenggelamkan diri di balik selimut. Tapi, ada bagian dari jiwaku yang menolak untuk abai.
Logikaku berbisik, jika aku tidak memastikannya sekarang, aku tidak akan bisa tidur semalaman karena terus membayangkan sudut tembok itu.
Aku harus memastikannya.
Pada akhirnya, aku membalikkan badan kembali. Mataku menyipit, menatap lekat-lekat pada sudut tajam semen yang membatasi dapur dan koridor.
Aku berjalan pelan, hampir tanpa suara. Langkah kaki yang telanjang di atas ubin terasa sedingin es. Setiap jengkal jarak yang terkikis membuat dadaku semakin sesak.
Aku melangkah begitu pelan. Masih menimbang, apakah sebaiknya mundur saja atau terus berjalan.
Ketika sudah berdiri tepat di depan sudut tembok itu, aku menahan napas. Lalu dengan satu gerakan cepat, aku melongokkan kepala ke balik tembok, memeriksa koridor panjang yang menuju ke ruang tengah.
Nihil. Hanya ada sofa kosong, TV yang sudah mati, dan kegelapan yang menggantung di sudut-sudut ruangan. Rumahku benar-benar sepi.
Aku mendengus, merutuki kebodohanku yang terlalu paranoik. Aku membalikkan badan, berniat kembali ke dapur untuk memastikan pintu belakang sudah terkunci sebelum memutuskan naik ke kasur.
Krieeek … Shhhh …
Aku membeku. Suaranya kecil, tapi terdengar sangat jelas di tengah keheningan rumah.
Itu suara keran air. Keran air di wastafel dapur yang baru saja kumatikan beberapa saat lalu.
Suara gemercik air mengalir itu disusul oleh bunyi yang sangat akrab di telingaku, bunyi benturan pelan antara piring kaca dan wastafel stainless steel. Seseorang atau sesuatu, sedang mencuci piring di dapurku.
Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis. Rasa takut yang sempat surut kini menghantamku dua kali lipat lebih dahsyat, berubah menjadi teror yang mencengkeram otak.
Logikaku berputar balik. Siapa yang ada di sana? Aku tinggal sendirian di rumah ini. Pintu depan terkunci, jendela teralis besi.
Mungkinkah ada orang asing yang masuk tanpa suara dalam waktu beberapa detik saat aku memeriksa koridor?
Didorong oleh rasa penasaran yang kini bercampur dengan keputusasaan. Tubuhku bergetar hebat. Aku berjalan jinjit menuju dapur, mendekati sudut tembok yang sama. Namun, kali ini dari arah yang berlawanan.
Aku harus melihatnya. Aku harus tahu.
Aku menempelkan punggung pada tembok, persis di sudut belokan menuju dapur. Suara gemercik air dan gesekan spons pada piring terdengar semakin nyata dan tenang.
Aku memejamkan mata, memantapkan hati, lalu perlahan-lahan mencondongkan kepala ke samping, mengintip dari balik sudut tembok ke arah area tempat cuci piring.
Di bawah sinar lampu dapur yang putih pucat, terlihat punggung seorang perempuan.
Perempuan itu sedang berdiri membelakangiku di depan wastafel, tampak sedang menggosok gelas dengan gerakan kaku. Pundaknya naik-turun, napasnya terdengar memburu seolah sedang menahan ketakutan yang luar biasa.
Mataku terbelalak lebar saat pandangan turun ke pakaian yang dikenakan sosok itu. Kaos oblong kebesaran warna abu-abu yang pudar.
Celana tidur kulot bermotif batik. Cepolan rambutnya yang asal-asalan, postur tubuhnya, bahkan cara berdirinya yang sedikit bertumpu pada kaki kiri.
Itu seperti diriku sendiri, tapi aku tidak punya kembaran.
Aku tersentak hebat. Sebelum sosok yang di depan wastafel itu sempat menoleh ke belakang karena menyadari keberadaanku, aku langsung menarik kepalaku kembali. Menyembunyikan diri di balik tembok koridor dengan cepat, merapatkan seluruh tubuhku pada dinding semen yang dingin.
Napas seolah tersangkut di tenggorokan. Jantungku berdetak sangat kencang, bergemuruh di dalam dada seperti genderang perang yang siap pecah.
Membekap mulutku sendiri dengan kedua tangan yang gemetar, berusaha meredam suara napasku yang memburu. Kepalaku pening luar biasa menghadapi kegilaan ini. Aku ketakutan setengah mati.
Lalu, dalam keheningan yang mencekam itu, suara gemercik air di dapur mendadak mati.
Suasana menjadi senyap. Satu-satunya hal yang bisa kudengar sekarang adalah detak jantungku sendiri yang berdegup gila-gilaan.
Apa yang baru saja kulihat?
Air mataku meledak tanpa suara. Terdengar suara langkah kaki telanjang di atas ubin dapur. Langkah kaki itu terdengar pelan, berjarak, dan berjalan perlahan menuju ke arah sudut tembok tempatku bersembunyi saat ini.
Sial, dari suaranya, dia ke sini!
Langkah kaki itu semakin dekat dan aku tidak punya tempat lagi untuk lari.
»»————> GC Rumah Menulis <————««
Horor — Tema 4