Jihan menatap layar ponselnya dengan kesal. Sudah tiga hari berturut-turut ibunya menanyakan hal yang sama.
"Kapan punya pacar?"
Padahal Jihan sedang fokus bekerja dan tidak punya waktu memikirkan urusan cinta.
Di sisi lain, Jovie juga mengalami hal serupa. Setiap pulang ke rumah, neneknya selalu mengenalkan calon pasangan baru.
"Aduh, Nek, aku belum siap nikah!" keluh Jovie.
Suatu hari mereka bertemu di acara ulang tahun teman. Saat sedang mengobrol, Jihan mendapat telepon dari ibunya.
"Jihan, Minggu depan acara keluarga. Bawa pacarmu ya!"
Jihan panik.
Jovie yang mendengar langsung tertawa.
"Tuh kan, kena juga."
"Lucu ya? Aku bingung nih!"
Tiba-tiba mata Jovie berbinar.
"Gimana kalau kita pura-pura pacaran?"
Jihan terdiam.
"Hah?"
"Iya. Cuma buat acara keluarga.
Nanti keluargamu tenang,
keluargaku juga tenang."
Jihan berpikir sejenak.
"Kayaknya... ide bodoh."
"Tapi berguna."
Akhirnya mereka sepakat.
Hari acara keluarga tiba.
Jovie tampil rapi membawa buah tangan. Begitu masuk rumah, ia langsung diserbu tante-tante Jihan.
"Wah, ganteng sekali pacarnya Jihan!"
"Kalian cocok banget!"
Jovie tersenyum sopan.
"Iya Tante, saya juga merasa begitu."
Jihan langsung menginjak kaki Jovie di bawah meja.
"Aduh!"
"Jangan lebay!"
Namun masalah mulai muncul ketika keluarga mereka terlalu senang.
Mereka diminta foto berdua.
Pegangan tangan.
Bahkan duduk berdampingan saat makan.
Suatu ketika tante Jihan berkata, "Coba suapin satu sama lain dong."
Jihan hampir tersedak es teh.
"Ta-tapi..."
"Ayo!"
Karena malu, Jihan menyuapi Jovie sepotong bakso.
Jovie malah membuka mulut lebar-lebar seperti anak TK.
"Ahhh..."
Semua orang tertawa.
Jihan ingin menghilang dari muka bumi.
Sejak hari itu, mereka sering berpura-pura menjadi pasangan saat ada acara keluarga.
Anehnya, mereka jadi semakin dekat.
Mereka sering makan bersama, menonton film, bahkan saling mengantar pulang.
Suatu malam, Jihan kehujanan sepulang kerja.
Tak lama kemudian Jovie datang membawa payung dan dua gelas kopi.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Nyari pacar bohongan aku."
Jihan tersenyum.
Untuk pertama kalinya, jantungnya berdebar bukan karena malu.
Beberapa minggu kemudian, mereka menghadiri pesta pernikahan teman.
Semua orang mengira mereka benar-benar berpacaran.
Saat sesi lempar bunga, entah bagaimana buket pengantin jatuh tepat ke tangan Jihan.
Semua tamu bersorak.
"WOOO... NIKAH! NIKAH!"
Jihan menutup wajahnya karena malu.
Saat itulah Jovie berkata pelan.
"Kalau nikah sama aku, mau nggak?"
Jihan langsung melotot.
"Ini bercanda kan?"
"Nggak."
"Serius?"
"Serius."
Jihan mendadak gugup.
"Loh... bukannya kita cuma pura-pura pacaran?"
Jovie menggaruk kepala.
"Itu masalahnya. Aku lupa kapan mulai pura-pura dan kapan mulai suka beneran."
Jihan tertawa.
"Ternyata bukan aku aja."
"Hah?"
"Aku juga suka."
Mata Jovie langsung berbinar.
"Jadi sekarang?"
Jihan tersenyum jahil.
"Sekarang kita naik pangkat."
"Jadi tunangan?"
"Bukan."
"Terus?"
"Dari pacaran bohongan jadi pacaran beneran."
Jovie tertawa lega.
"Syukurlah. Soalnya kalau masih bohongan, aku capek pura-pura kangen tiap malam."
"Dasar!"
Mereka pun tertawa bersama, sementara para tamu yang menguping dari belakang langsung bertepuk tangan.
Dan begitulah, hubungan yang awalnya hanya sandiwara akhirnya berubah menjadi kisah cinta yang nyata. Kadang, cinta datang bukan karena dicari, melainkan karena terlalu sering berpura-pura hingga hati ikut percaya. ❤️
Selesai
#pacaranbohongancintabeneran