Sesil tidak pernah membayangkan dirinya akan jatuh cinta pada seorang duda.
Baginya, pria idaman adalah yang sederhana, baik hati, dan bisa membuatnya tertawa. Soal kaya atau tidak, itu bukan hal yang penting.
Suatu sore, saat sedang menikmati kopi di sebuah kafe, Sesil tanpa sengaja menabrak seorang pria tinggi yang baru masuk.
Bruk!
Tas Sesil jatuh, begitu juga berkas-berkas pekerjaannya.
"Aduh, maaf!" kata pria itu sambil membantu memungut kertas yang berserakan.
Sesil menatap wajahnya dan langsung terpaku.
Pria itu tampan. Rambutnya rapi, senyumnya hangat, dan penampilannya sangat elegan.
"Enggak apa-apa," jawab Sesil gugup.
Pria itu tersenyum.
"Nama saya Ruben."
Sesil menyebutkan namanya pelan.
Sejak pertemuan itu, Ruben sering datang ke kafe yang sama. Mereka mulai mengobrol, bercanda, dan saling mengenal.
Barulah Sesil tahu bahwa Ruben adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki beberapa perusahaan. Rumahnya besar, mobilnya mewah, dan kehidupannya jauh berbeda dari kehidupan Sesil yang sederhana.
Namun yang paling membuat Sesil terkejut adalah satu hal.
Ruben seorang duda.
Pernikahannya berakhir beberapa tahun lalu karena perbedaan prinsip yang sudah tidak bisa dipertahankan.
Awalnya Sesil ragu.
Ia takut hanya menjadi bahan pembicaraan orang.
"Masih banyak wanita lain yang lebih cocok untukmu," kata Sesil suatu hari.
Ruben tersenyum kecil.
"Aku tidak mencari yang paling sempurna. Aku mencari yang membuatku nyaman."
Jawaban itu membuat pipi Sesil memanas.
Hubungan mereka semakin dekat.
Ruben ternyata tidak seperti yang dibayangkan banyak orang.
Meski kaya raya, ia tidak sombong.
Ia lebih suka makan di warung sederhana bersama Sesil daripada di restoran mahal sendirian.
Suatu malam, Ruben mengajak Sesil makan malam di sebuah restoran mewah.
Sesil gugup melihat lampu kristal dan meja-meja elegan.
"Aku takut mecahin gelas di sini," bisiknya.
Ruben tertawa.
"Kalau pecah, aku beli satu restoran ini."
Sesil membelalak.
"Jangan bercanda!"
"Aku serius."
Mereka tertawa bersama sampai beberapa pengunjung menoleh.
Beberapa bulan kemudian, hubungan mereka semakin serius.
Meski banyak orang yang berbisik tentang status Ruben sebagai duda, Sesil memilih mengenalnya dari hatinya, bukan dari masa lalunya.
Suatu sore menjelang senja, Ruben mengajak Sesil berjalan di tepi pantai.
Angin berembus lembut.
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat.
Ruben menghentikan langkahnya lalu menggenggam tangan Sesil.
"Terima kasih sudah menerima aku apa adanya."
Sesil tersenyum.
"Terima kasih juga karena sudah menunjukkan bahwa seseorang tidak harus sempurna untuk dicintai."
Ruben menatapnya penuh kehangatan.
"Sesil, maukah kamu menemaniku
menulis bab baru dalam hidupku?"
Sesil tersenyum sambil mengangguk.
"Ya."
Di bawah langit senja yang indah, keduanya tertawa bahagia.
Bagi Sesil, yang membuat Ruben istimewa bukanlah kekayaan atau kemewahannya. Melainkan cara Ruben menghargai, menjaga, dan mencintainya dengan tulus.
Dan bagi Ruben, Sesil adalah bukti bahwa setelah patah hati, kehidupan masih bisa menghadirkan cinta yang baru dan lebih indah. ❤️
Selesai