Sebuah cerita pendek tentang cinta yang menembus batas dimensi.
Senja masih menebar pesona jingga di antara mega. Jemari kaki mengayuh pasir putih yang terhempas ombak. Terdiam antara resah dan gundah. Menanti asa yang tak kunjung nyata.
Di pantai ini, dahulu, dua remaja mengukir janji. Akan bertemu setiap malam purnama. Terlingkar jari kelingking di hadapan sang samudera.
"Galuh, maukah kau berjanji padaku?" tanya seorang anak laki-laki pada kekasihnya.
"Janji apa, Tro?" sahut Galuh.
"Berjanjilah bahwa kau tidak akan melupakanku," kata Sastro, nama laki-laki itu.
"Tentu saja aku tidak akan melupakanmu."
"Tidak! Kau pasti melupakanku. Besok kau pulang ke kotamu, di tempat yang jauh itu. Di sana tentu banyak pria tampan yang merayu dan merebut hatimu." tampak keresahan dalam mata Sastro.
"Ssst!" Galuh meletakkan jari telunjuknya di bibir sang kekasih. "Jangan bilang begitu. Aku akan selalu mencintaimu, bahkan di tempat yang jauh sekalipun."
"Bagaimana bila aku ingin berjumpa denganmu? Kemana aku harus mencarimu?"
"Aku akan datang ke sini setiap sebulan sekali. Pada tiap purnama ketiga," jawab Galuh.
"Kenapa harus saat purnama ketiga?"
"Karena ombak sedang menyaksikan perpisahan kita di purnama ketiga malam ini. Maka dia pula yang akan menyaksikan pertemuan kita."
"Aku tidak yakin aku akan sanggup menahan gejolak rinduku."
"Sangguplah... Karena aku sanggup mencintaimu walau harus terpisah jauh."
"Baiklah kalau memang harus begitu jadinya. Aku akan selalu menunggumu untuk menepati janjimu."
"Relakan aku pergi, Sastro," pamit Galuh.
"Ya, aku relakan kau pergi," ucap Sastro.
Mereka mengeratkan pelukan di bawah cahaya rembulan yang sedang mekar. Tetesan air mata pun mulai membasahi wajah mereka.
Malam itu adalah pertemuan terakhir antara Sastro dan Galuh. Kiranya Galuh tak akan pernah menepati janjinya.
---
Dalam perjalanan, pesawat yang ditumpangi Galuh mengalami kecelakaan. Dia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dalam hembus nafasnya yang mulai tersendat, dia menitipkan salam pada angin. "Sas- tro... Aku ak-kan dat-tang seper-ti jan-jiku...." Galuh pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Sastro sendiri melihat berita di televisi. Namun dia tidak pernah percaya bahwa salah satu korban meninggal adalah Galuh, kekasihnya.
Setiap malam purnama ketiga pun dia selalu menunggu kedatangan Galuh di tepi pantai tempat mereka mengucap janji. Dia yakin suatu saat Galuh akan datang.
Sayup terdengar di antara gemuruh suara hembusan angin, "Sastro... Aku sudah datang...."
Namun rupa itu tiada. Kadangkala Sastro merasa ada tangan seseorang yang memeluknya. Tangan selembut tangan Galuh, sewangi aroma tubuh Galuh. Dan sekelebat bayang wajah Galuh seolah mendaratkan kecupan di pipinya.
Seperti malam ini juga. Sastro menikmati semilir angin malam di tepi pantai yang berkilau memantulkan cahaya rembulan. Dia tersenyum pada sang ombak dan berkata, "Ombak sedang menyaksikan pertemuan kita, Galuh."
Angin pun berhembus lebih kencang hingga tercipta suasana dingin. Namun kehangatan yang menyelimuti tubuh Sastro. Sehangat pelukan sang kekasih.
_tamat_
SORONG, 04.06.26