Di dalam rumah, suasana lebih mencekam. Dinding penuh coretan baru yang sepertinya muncul sendiri:
Andi… kenapa lo lupa?.
Aku mati karena lo.
Cinta kita terlambat.
Tiba-tiba semua pintu di rumah itu tertutup sendiri. Angin berhembus kencang dari dalam, padahal tak ada jendela terbuka. Suara tangisan perempuan terdengar dari lantai atas, diikuti suara motor yang direm mendadak dan benturan keras.
Andi gemetar. “Rin… kita pulang yuk..”.
Tapi Rina malah menarik tangannya naik ke lantai dua. Di sana ada kamar kecil dengan tempat tidur reyot. Di dinding ada foto wisuda dan foto Rina sendiri, dengan lilin kecil di depannya.
“Andi… ini kamar gue dulu”, bisik Rina. Suaranya bergema aneh.
Tiba-tiba Andi melihat kilasan masa lalu yang lebih jelas:
Ia ngebut setelah wisuda. Rina melintas. Tabrakan. Darah di aspal. Rina yang tergeletak dengan dress putihnya yang robek. Andi yang panik turun dari motor, memeluk tubuh Rina yang sudah tak bernyawa sambil menangis histeris.
“And… maafin gue…” bisik Andi sambil jatuh berlutut.
Rina memeluknya dari belakang. Pelukannya dingin seperti es, tapi penuh kasih.
“Gue sudah maafin dari dulu... Makanya gue nemenin lo berbulan-bulan ini... Biar lo bisa bahagia dulu sebelum sadar...”.