Malam itu hujan turun tanpa suara.
Langit menggantungkan mendungnya begitu rendah, seakan ingin memeluk bumi yang kelelahan. Di sebuah halte kecil yang hampir roboh dimakan usia, seorang lelaki duduk sendirian sambil memandangi jalanan yang basah.
Namanya Arga.
Sudah tiga tahun ia menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah kembali.
Dulu, di halte yang sama, ia pernah bertemu seorang gadis yang membuat dunia terasa lebih hangat. Gadis itu datang setiap sore dengan membawa buku lusuh dan senyum yang sederhana.
Namanya Senja.
Tidak ada perkenalan yang istimewa.
Tidak ada kata-kata romantis yang terdengar seperti puisi.
Hanya dua orang asing yang perlahan saling mengenal melalui hujan dan waktu.
Hari demi hari berlalu.
Percakapan sederhana berubah menjadi kebiasaan.
Kebiasaan berubah menjadi rindu.
Dan tanpa mereka sadari, rindu itu tumbuh menjadi cinta.
Namun hidup tidak pernah bertanya apakah seseorang sudah siap kehilangan.
Suatu pagi, Senja pergi.
Tanpa janji untuk kembali.
Tanpa penjelasan yang cukup untuk dimengerti.
Ia hanya meninggalkan sebuah surat pendek.
"Jika suatu hari aku menghilang, jangan mencariku. Ada hal yang harus aku selesaikan sendiri."
Sejak saat itu, Arga belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.
Kadang cinta hanyalah tentang tetap mendoakan seseorang meski namanya tak lagi hadir dalam keseharian.
Malam demi malam berlalu.
Musim berganti.
Orang-orang datang dan pergi.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Arga masih datang ke halte itu setiap kali hujan turun.
Bukan karena berharap keajaiban.
Melainkan karena di tempat itulah ia pernah merasa menjadi manusia paling bahagia.
Hingga suatu malam, langkah kaki terdengar mendekat.
Pelan.
Ragu.
Dan ketika Arga menoleh, dunia seakan berhenti berputar.
Di bawah payung hitam yang basah oleh hujan, berdiri seorang perempuan dengan mata yang sangat ia kenal.
Waktu telah mengubah banyak hal.
Namun tidak dengan tatapan itu.
Tatapan yang pernah menjadi rumah bagi seluruh perasaannya.
Senja tersenyum.
Senyum yang selama bertahun-tahun hanya hidup di dalam kenangan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hujan tidak lagi terasa dingin.
Karena malam itu, seseorang yang hilang akhirnya menemukan jalan pulang.