BAB 1
Hari Aku Dijual
"Alya, kamu harus menikah dengannya."
Kalimat itu membuat sendok yang sedang dipegang Alya berhenti di udara.
Perlahan ia mengangkat kepala.
Menatap ayahnya.
"Ayah bercanda?"
"Tidak."
Suasana ruang makan yang biasanya tenang mendadak terasa sesak.
Alya tertawa kecil.
Tawa yang terdengar dipaksakan.
"Sangat lucu."
Tidak ada yang tertawa balik.
Wajah ayahnya tampak lelah.
Sementara ibunya hanya menunduk.
Jantung Alya mulai berdegup tidak nyaman.
"Ayah?"
"Kondisi perusahaan semakin buruk."
Suara itu terdengar berat.
"Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah bekerja sama dengan Grup Wijaya."
Alya mengerutkan dahi.
"Lalu?"
"Mereka mengajukan syarat."
Keheningan.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Dan saat kesadaran itu datang, wajah Alya langsung memucat.
"Tidak."
Ayahnya memejamkan mata.
"Alya..."
"Tidak."
"Ayah tidak punya pilihan."
"Aku punya!"
Alya berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser keras.
"Aku bukan aset perusahaan!"
Tidak ada yang menjawab.
Dan justru itulah yang membuat dadanya semakin sakit.
Karena diam mereka adalah jawaban.
Mereka memang sedang menjualnya.
Malam itu Alya tidak bisa tidur.
Ia berdiri di balkon kamar sambil memandang lampu-lampu kota.
Pikirannya kacau.
Marah.
Kecewa.
Terluka.
Lalu ponselnya bergetar.
Pesan masuk.
Dari nomor tidak dikenal.
Besok pukul 10 pagi.
Hotel Grand Arcadia.
Kita perlu membahas pernikahan ini.
Arsen Wijaya
Alya menatap layar cukup lama.
Lalu membalas.
Saya tidak setuju.
Balasan datang hanya beberapa detik kemudian.
Saya juga tidak.
Alya berkedip.
Apa?
Sebelum sempat berpikir lebih jauh, pesan kedua muncul.
Tapi kita berdua tidak diberi pilihan.
Untuk pertama kalinya malam itu...
Alya merasa ada orang lain yang sama tidak beruntungnya dengan dirinya.
Keesokan harinya.
Pukul sepuluh tepat.
Alya memasuki restoran privat hotel mewah tersebut.
Dan langsung melihatnya.
Arsen Wijaya.
Pria itu duduk sendirian di dekat jendela.
Mengenakan setelan hitam yang terlihat mahal.
Posturnya tinggi.
Rahangnya tegas.
Wajahnya nyaris sempurna.
Terlalu sempurna malah.
Sayangnya ekspresinya sedingin lemari pendingin.
Saat melihat Alya mendekat, ia berdiri.
"Alya."
Alya duduk tanpa basa-basi.
"Saya tidak mau menikah."
Arsen mengangguk.
"Saya juga."
"Bagus."
"Sayangnya pendapat kita tidak penting."
Alya terdiam.
Pria itu benar-benar berbicara tanpa emosi.
Seolah sedang membahas laporan keuangan.
Bukan pernikahan.
"Apa tidak ada cara membatalkannya?"
"Tidak."
Jawaban cepat.
Terlalu cepat.
Seolah ia sudah mencoba semua kemungkinan.
Arsen meletakkan sebuah map di atas meja.
"Kontrak pernikahan."
Alya menatapnya tidak percaya.
"Kontrak?"
"Kita akan menikah selama dua tahun."
"Apa?"
"Setelah dua tahun, kita bebas bercerai."
Alya membeku.
" Dua tahun terlalu lama.." Ujar Alya menolak.
" Dua tahu itu waktu yang pas untuk kita bisa memutuskan untuk berpisah,kalau satu tahun itu terlalu cepat." Tegas Arsen.
Arsen dan Alya bukanlah orang asing, keduanya sudah saling mengenal jauh sebelumnya saat mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas,tapi hubungan keduanya bisa di bilang tidak baik..karena sejak di bangku sekolah keduanya sering terlibat cekcok dan saling membenci hingga hati ini mereka tak pernah terlihat akur.
Arsen melanjutkan.
"Saya tidak akan mencampuri hidup kamu."
"Kita tinggal serumah."
"Tapi kamar terpisah."
"Aku tidak akan menuntut apa pun."
Alya menatap pria itu lekat-lekat.
Ada sesuatu yang aneh.
Sangat aneh.
Karena meskipun semua ucapannya terdengar dingin...
Matanya justru tampak lelah.
Seolah ia juga tidak menginginkan semua ini.
"Kenapa kamu setuju?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Untuk pertama kalinya Arsen terdiam.
Lalu pria itu menjawab singkat.
"Karena saya harus....." Jawaban itu menggantung tanpa ada niat untuk di selesaikan.
Dan entah kenapa...
Jawaban itu terasa lebih menyedihkan daripada yang seharusnya.
Tiga bulan kemudian.
Hari pernikahan mereka tiba.
Gaun putih yang dikenakan Alya terasa seperti rantai.
Setiap langkah menuju altar terasa berat.
Ratusan tamu memenuhi ballroom.
Semua tersenyum.
Semua terlihat bahagia.
Kecuali kedua mempelai.
Saat akhirnya berdiri berdampingan dengan Arsen...
Alya menatap lurus ke depan.
Tidak berani melihat pria itu.
Sampai suara rendah tersebut terdengar pelan di samping telinganya.
"Kalau kamu berubah pikiran, masih ada waktu untuk lari."
Alya menoleh kaget.
Arsen tetap menghadap depan.
Ekspresinya datar.
Seolah tidak mengatakan apa pun.
"Kamu serius?"
"Ya."
"Aku tidak bisa."
"Aku tahu."
Dan untuk pertama kalinya...
Alya melihat sesuatu di mata pria itu.
Bukan kebencian.
Bukan ketidaksukaan.
Melainkan rasa bersalah.
Yang sangat dalam.
Malam pertama.
Mansion keluarga Wijaya.
Rumah itu terlalu besar untuk dihuni dua orang.
Alya berdiri canggung di kamar yang kini menjadi miliknya.
Pintu diketuk.
Arsen masuk.
Membawa sebuah kotak kecil.
"Apa itu?"
"Kunci."
"Kunci?"
"Kunci seluruh rumah."
Alya mengerutkan dahi.
Arsen meletakkannya di meja.
"Lantai satu."
"Ruang kerja."
"Perpustakaan."
"Kolam renang."
"Garasi."
"Semuanya."
Alya semakin bingung.
"Kenapa memberikannya padaku?"
Arsen menatapnya selama beberapa detik.
Lalu menjawab pelan.
"Karena ini rumahmu juga."
Dan sebelum Alya sempat berkata apa pun...
Pria itu sudah berbalik pergi.
Meninggalkan dirinya sendirian.
Dengan perasaan yang semakin sulit dipahami.
Karena pria yang katanya membencinya...
Baru saja memperlakukannya dengan jauh lebih baik daripada yang ia bayangkan.
Dan Alya belum tahu.
Bahwa pernikahan ini bukanlah awal dari kebencian.
Melainkan akhir dari penantian panjang seseorang yang telah mencintainya diam-diam selama tujuh tahun.