Bring Me Back My Love
Author: tsuki ga kirei desu ne 月が綺麗ですね
Malam itu hujan masih menyisakan rintik dan genangan air, dari selepas maghrib tadi hujan turun sangat deras. Sepasang suami istri masih setia menunggu pembeli di tenda nasi goreng mereka dipinggir jalan. Sudah sepi, tapi dagangan masih lumayan banyak.
"Abah, sudah hampir tengah malam, kita siap-siap pulang yuk" ajak sang istri.
"sebentar lagi Ambu, sayang masih banyak, kita tunggu lewat tengah malam, kalau sudah tidak ada pembeli kita pulang" begitu jawab sang suami.
Tapi, tak berselang lama setelah percakapan itu, terdengar suara deru mesin mobil yang sangat kencang dari arah jalan raya yang sepi itu, disusul dengan suara decit ban yang bergesekan dengan aspal, kemudian dalam sekejap mata tabrakan tak terelakkan. Mobil sport warna hitam itu menghantam gerobak nasi goreng milik sepasang suami istri itu. Tak ada waktu untuk lari, jangankan keluar dari tenda, bahkan sekedar bertanya "ada apa?" pun tak sempat, semua terjadi begitu cepat, dan gelap.
Puluhan warga sekitar yang mendengar suara keributan itu, langsung berbondong-bondong keluar rumah mereka masing-masing. Mencari tahu, ada kejadian apakah dilingkungan mereka. Ternyata sebuah mobil mewah berwarna hitam menabrak gerobak dan tenda nasi goreng milik Pak Rahman dan Ibu Nurjannah sekaligus melindas keduanya.
Segera warga melihat kondisi pemilik mobil yang masih didepan kemudinya, dan melongokkan kepala mereka kebawah kolong mobil. Beberapa dari mereka mulai menghubungi rumah sakit, ambulance dan kantor polisi. Suasana menjadi mencekam tatkala suara sirine mulai bersahutan, tiga mobil ambulance dan sebuah mobil polisi datang ke lokasi kejadian, para petugas menjalankan tugasnya masing-masing dengan cepat. Tak lagi menghiraukan rintik hujan yang masih mengiringi derap langkah tegas mereka.
💖💖💖
Disebuah rumah sederhana, seorang gadis cantik, bernama Ayu yang baru saja dinyatakan lulus SMA tadi pagi, belum memejamkan matanya sama sekali. Entah kenapa, malam ini hatinya gelisah tak menentu, jantungnya berdegup lebih kencang dari yang seharusnya. Sesekali matanya melirik jam kotak kecil di atas meja belajarnya yang ia fungsikan sebagai alarm, sudah dini hari, lewat tengah malam, tak biasanya kedua orangtuanya belum kembali dari warung nasi gorengnya. Ayu turun dari tempat tidurnya menuju jendela kamar, hujan baru saja berhenti, mungkin kedua orangtuanya sedang dalam perjalanan pulang, pikir Ayu. Ia kembali ketempat tidur dan berbaring, mencoba memejamkan mata sambil terus berdo'a untuk keselamatan kedua orangtuanya dan cepat kembali ke rumah mereka. Namun jarum jam terus berputar, menuju fajar, kedua orangtuanya tetap belum pulang. Ia keluar kamar, dan membangunkan Bibinya yang tuna rungu dan tuna wicara, bertanya padanya, apakah Abah dan Ambunya memberi kabar? Bibinya bahkan terkejut, gerakan tangan bertanya "apakah mereka belum pulang?" dijawab gelengan kepala oleh Ayu. Tak berselang lama, azan subuh berkumandang dari speaker masjid, membuat keduanya semakin bertanya-tanya, ini tak seperti biasanya... ada apakah gerangan? Ayu segera membersihkan diri di kamar mandi, bertekad setelah sholat subuh akan menyusul ke warung nasi goreng orangtuanya, ia merasakan ada firasat tak baik yang terjadi. Dan, itu menyesakkan dadanya.
Ayu hendak membuka pintu rumah setelah berpamitan dengan Bibi, namun dari arah luar terdengar seperti suara deru mesin mobil berhenti tepat didepan rumahnya. Segera Ayu membuka pintu dengan tergesa. Dari dalam mobil keluarlah seorang pria muda berseragam polisi, Ayu tercekat, waktu seolah berhenti, jantungnya berdebar hebat, kakinya seolah tertancap kedalam tanah, tak bisa bergerak. Hingga pria itu mendekat, Ayu hanya mampu berkedip, ia tahu, sesuatu pasti terjadi pada kedua orangtuanya.
"Assalaamu'alaikum, bener ini rumah Bapak Rahman ya dek?" ucap polisi tersebut ketika sudah sampai tepat dihadapan Ayu.
"Wa'alaikumsalam, iya Pak, kenapa dengan Abah saya Pak?" tak sabar Ayu segera melayangkan pertanyaan.
Polisi itu tersenyum, menghela napas panjang lalu kembali bertanya :"kamu anaknya pak Rahman?"
"iya..." jawab Ayu gugup, jantungnya masih berdegup kencang, seperti mempersiapkan diri akan kabar berita yang dibawa pak polisi tentang Abah dan Ambunya.
"mari ikut kami ke Rumah sakit, Pak Rahman dan istrinya sedang dalam perawatan intensif di Rumah Sakit" ajak pak polisi.
"apa kamu sendirian, dek?" lanjutnya.
"ada Bibi saya pak, apakah boleh saya ditemani Bibi ke rumah sakitnya pak?" tanya Ayu khawatir.
"tentu saja"
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tangan Ayu menggenggam erat tangan Bibinya, telapak tangannya berkeringat meski AC didalam mobil menyala, dan pagi masih buta, matahari belum menampakkan wajahnya. Jantungnya masih berdegup kencang.
"apa yang terjadi dengan Abah dan Ambu saya pak?" tanya Ayu kepada polisi yang duduk dikursi penumpang samping supir.
"nanti biar dijelaskan oleh dokter ya, tunggu kita sampai ke rumah sakit dulu". jawabnya tanpa menoleh hanya sekilas melirik kaca spion tengah dengan tatapan iba.
💖💖💖
Sementara itu, didepan ruang IGD sebuah rumah sakit, duduk seorang Ayah dan putranya yang masih mengenakan pakaian pasien, bahu disebelah kirinya diperban karena dislokasi tulang selangka akibat kecelakaan semalam, tidak sampai retak, hanya butuh sedikit waktu untuk penyembuhan. Beruntung tak ada luka serius dari tubuhhya, padahal mobil yang ia kendarai menghantam keras gerobak dan tenda sebuah warung nasi goreng dipinggir jalan. Salah satu korbannya tewas sesaat setelah sampai di IGD dan seorang lagi sedang dirawat intensif akibat cedera serius dari batas dada hingga kaki.
"apa kata dokter tentang keadaan pasien yang cedera, Pa?" tanya Alex, pria yang mengendarai mobil yang menabrak pak Rahman dan istrinya malam itu di warung tenda nasi goreng.
"masih observasi, sepertinya sangat parah, kalau sampai cacat seumur hidup, apalagi sampai tidak selamat, kamu harus menanggung hidup anaknya. Papa sudah dapat informasi lengkap, namanya Ayu, baru lulus SMA. kamu harus biayai Ayu sampai lulus kuliah". jawab pak Dave Abraham, seorang expatriat yang menikahi wanita Indonesia berdarah Jawa. Alexander Abraham sang putra hanya bisa menunduk. Menyesalpun sudah tiada guna, karena kecerobohannya satu nyawa melayang dan satu korban sedang kritis.
Semua berawal dari malam sebelum kejadian, dia memergoki kekasihnya sedang berbagi peluh dengan pria lain, di apartemen miliknya yang sudah mereka tinggali bersama selama dua tahun ini. Alex sebenarnya hendak memberi kejutan kepada Stella kekasihnya itu dengan tidak memberitahukan kepulangannya dari dinasnya di luar negeri.
Emosi amarah tak terbendung, pertengkaran hebat keduanya tak terelakkan dan puncaknya Stella justru malah memutuskan hubungannya bersama Alex. Bukannya meminta maaf atas kesalahannya, Stella justru malah menyalahkan Alex yang terlalu sibuk bekerja dan tidak memiliki banyak waktu untuk bersama.
Alex keluar dari apartemennya dengan langkah panjang dan mengetatkan rahangnya. Telapak tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memerah. Ia menuju basement, menaiki dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh tanpa tahu kearah mana ia akan pergi. Pikirannya kalut dan masih tak terkendali.
Entah sudah berapa lama ia mengendarai mobilnya dan tidak tau kemana ia akan menuju. Hingga kecelakaan itu terjadi dengan cepat, kelelahan dan emosi membuatnya tak terkendali. Keberuntungan masih berpihak padanya, ia masih selamat, tidak terluka parah.
Namun sejak hari itu tak hanya jiwa raganya yang remuk, hatinya juga hancur lebur. Wanita yang sangat dicintainya berkhianat, dia telah kehilangan kepercayaaan dirinya.
💖💖💖
Suara derap langkah tergesa membuyarkan lamunan Alex. Kepalanya mendongak melihat seorang gadis remaja berhijab datang bersama seorang wanita setengah baya dengan wajah sedih keduanya.
Dave segera berdiri, "apa kamu Ayu? putrinya pak Rahman?"
Dengan sedikit bingung dan takut Ayu menganggukkan kepala.
"Ayahmu masih ditangani oleh dokter didalam ruangan itu" tunjuk Dave dengan dagunya.
"Ibumu sedang diurus jenazahnya, mungkin sebentar lagi akan selesai, bisa diantarkan pulang ke rumahmu" lanjut Dave langsung.
Ayu sangat terkejut, tak menyangka ibunya sudah tiada, kedua kakinya sangat lemas, hingga tubuhnya terhuyung. Beruntung Alex segera menangkap dengan tangan kanannya yang tidak sakit, dan membimbing Ayu untuk duduk dikursi yang tadi ditempatinya.
Air mata Ayu tak terbendung lagi. Bibi segera mendekat dan bertanya dengan bahasa isyarat tangannya: "bagaimana?"
meski ia tahu, adik laki-laki dan istrinya sedang tidak baik-baik saja.
Ayu menjawab dengan isyarat tangan: "Ambu sudah meninggal" diiringi dengan derai air mata.
Bibi segera memeluk Ayu dengan erat dan menangis bersama dengan suara tercekat ditenggorokan.
Alex menyaksikan keduanya dengan tatapan nanar. Didalam hatinya sangat menyesal, dan bersumpah untuk mengganti rugi semua akibat dari perbuatannya dan akan membiayai semua kebutuhan gadis dihadapannya ini seumur hidupnya.
💖💖💖
Pintu ruangan IGD terbuka dari dalam, dan seorang dokter keluar, masih dengan wajah lelahnya bertanya: "apakah ada yang bernama Ayu?"
Ayu segera berdiri: "saya, dok" jawabnya sambil mendekati dokter itu, menyeka airmata yang masih mengalir deras dari pipinya.
"pak Rahman baru saja sadar dari pingsannya, beliau memanggil putrinya yang bernama Ayu, ada yang ingin disampaikan padamu. Silahkan masuk, tolong didampingi oleh pak Dave, untuk membimbing Ayu didalam".
Dokter menyadari, Ayu mungkin membutuhkan laki-laki yang akan menopang tubuhnya jikalau ada sesuatu yang tak diinginkan. Dia sudah bertemu dan berbincang dengan Dave, tak berselang lama setelah Alex dan kedua orangtua Ayu dibawa ke rumah sakit.
Secara kebetulan, Dave sedang berada di tempat yang tak jauh dari rumah sakit di desa itu. Dia sedang menginap di hotel ketika polisi menghubungi dan mengabarkan tentang kecelakaan yang dialami oleh Alexander, putranya. Dave tidak menyangka kalau Alex akan menyusulnya ke Desa itu sesaat setelah kepulangannya ke Indonesia. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Dave.
Ayu memasuki ruangan itu bersama Dave dibelakangnya, sedangkan sang dokter beranjak menjauh, mungkin akan keruangannya sendiri, atau mungkin saja masih ada pasien yang lainnya yang perlu penanganannya.
Didalam ruangan hanya ada pak Rahman, dan seorang perawat laki-laki yang sepertinya sedang membereskan alat-alat medis, mungkin telah selesai digunakan pak Rahman.
Sedangkan pak Rahman sendiri sudah membuka mata tuanya dan menatap putrinya dengan sayu, senyum tipis dibibirnya samar terlihat. Tangan kirinya masih tertancap infus, dan kedua kakinya terbungkus selimut hingga ke dada.
Ayu tak kuasa menahan tangisnya, ingin menghambur memeluk cinta pertamanya, namun terhenti ketika tepat berada disamping ranjang pasien pak Rahman. Ayu tak bisa mengeluarkan sepatah katapun, suaranya tercekat ditenggorokan.
Dave mendekat ke ranjang pak Rahman dan menggenggam tangan kanan pak Rahman dengan lembut.
"pak Rahman, saya Dave, atas nama anak saya yang telah mengakibatkan kecelakaan ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya". ucap Dave kemudian, dengan luapan rasa haru dan penyesalan yang mendalam.
Pak Rahman hanya menatap sekilas dan mengalihkan perhatiannya kepada putri tunggalnya.
"Ayu, maafkan Abah dan Ambu, ya neng"
ucap pak Rahman lirih. Ayu menggeleng cepat, airmatanya tak berhenti mengalir, mulutnya terbuka hendak mengucapkan jangan minta maaf, Abah dan Ambu tak bersalah apapun, namun suaranya seakan tercekat ditenggorokan, tak mau keluar.
Dalam hati pak Rahman yang tak terucap, ingin meminta maaf karena Ayu telah kehilangan ibunya, dan mungkin iapun akan segera menyusul. Sedangkan Ayu masih terlalu muda untuk menanggung semua beban kehidupan ini, Ayu adalah murid berprestasi, baru saja kemaren dinyatakan lulus SMA dan mendapatkan nilai 3 besar tertinggi di sekolahnya. Ayu punya cita-cita yang tinggi. Meski ia dan istrinya hanya penjual nasi goreng dan hidup sangat sederhana, namun cukup untuk membiayai sekolah Ayu jika Ayu ingin berkuliah. Sekarang impiannya seakan runtuh dengan kejadian ini. Ia tak dapat membayangkan bagaimana manti Ayu melanjutkan pendidikannya bila ia tiada? Air mata mengalir dari mata pak Rahman, membasahi bantal diatas ranjang rumah sakit tempat ia dirawat.
Dave mengambil alih pembicaraan, seakan tahu apa yang ada dalam pikiran pak Rahman.
"jangan khawatirkan tentang apapun pak Rahman, saya sebagai orangtua Alex akan menanggung semua biaya rumah sakit hingga bapak sembuh. Saya akan membiayai sekolah Ayu hingga Sarjana, atau kalau Ayu mau sampai S2 S3, nanti biar Ayu bekerja di perusahaan milik saya atau milik putra saya, bahkan saya sanggup membiayai sampai Ayu menikah, dan berkeluarga" ucap Dave sedikit menggebu niatnya untuk menenangkan pak Rahman.
Mendengar kata menikah, pak Rahman seakan mendapatkan pencerahan. Ia berpikir, kalaupun Ayu dibiayai sekolahnya,namun siapa nanti yang akan menemani dan menjaga Ayu dan Bibinya pasca kepergiannya? pak Rahman belum bisa tenang.
"berapa umur putramu, pak" tanya pak Rahman.
"28 tahun" jawab Dave
"apakah sudah menikah?" tanya pak Rahman dengan lirih.
"belum" lanjut Dave sambil menggeleng, otaknya langsung berpikir cepat, kemana arah pertanyaan pak Rahman.
"saya minta tolong sama putra Anda, apakah bersedia untuk menikah dengan putri saya satu-satunya ini? saat ini juga?" tanya pak Rahman dengan suara yang bergetar. Ia tak pernah berpikir sejauh ini sebelumnya. Tapi ia tak punya pilihan lain, ini jalan terbaik agar ia tenang meninggalkan putrinya.
Ayu sungguh terkejut mendengar itu. Kenapa ayahnya justru memintanya menikahi orang yang telah mencelakai kedua orangtuanya, alih-alih meminta ganti rugi uang yang sangat banyak? Ayu tak habis pikir.
"saya akan tanyakan sekarang dengan putra saya, sekarang ia sedang ada diluar" jawab Dave cepat, dan langsung bergegas keluar kamar itu untuk menemui Alex, putra bungsunya.
Sepeninggal Dave, ruangan menjadi sepi. Perawat yang tadi berberes alat-alat medis yang digunakan Ayahnya sudah keluar lebih dulu. Ayu menatap mata ayahnya lekat sambil berbisik, "maksud Abah ini bagaimana? menikahkan Ayu?" air mata Ayu mengalir deras di pipinya.
"Ayu nggak mau Bah...Ayu masih mau kuliah" isak tangis Ayu pecah, melebihi tangisnya tadi ketika mendengar kabar Ambunya tidak selamat. Kini Ayu semakin khawatir jika Abahnya pun seakan mau menyusul Ambu hingga ingin segera menikahkan Ayu, saat ini juga.
Sementara itu dilorong rumah sakit, tepatnya dikursi tunggu depan ruang IGD, perdebatan dua manusia dewasa, tak luput dari pengamatan seorang wanita paruh yang masih setia menunggu dari tadi.
"Al gak mungkin menikahinya Pa, dia masih seperti anak remaja, apakah tidak melanggar aturan Undang-undang?" suara Alex makin meninggi setelah sebelumnya berbagai alasan dikemukakan untuk menolak menikahi gadis itu, anak korban kecelakaan yang disebabkan olehnya.
Dave menghela nafas panjang, sepertinya alot sekali berdebat dengan Alex.
"dia baru saja lulus SMA kemaren, umurnya sebentar lagi 19 tahun. Sekarang nikah siri terlebih dahulu, 3 bulan lagi, tepat umurnya 19 tahun kamu urus surat-suratnya di KUA". putus Dave tegas, tak ingin dibantah.
Dave berpikir ini adalah bentuk tanggung jawab yang diminta oleh korban, dan Alex harus menurutinya saat ini. Untuk besok dan apa yang akan terjadi kedepannya biar dipikirkan nanti saja. Ia segera mengammbil hp nya menelpon asistennya untuk mengurus beberapa hal yang dibutuhkan saat ini juga. Semua harus cepat dilakukan, mengingat permintaan pak Rahman harus menikahkan putrinya saat ini. Firasatnya mengatakan bahwa hidup pak Rahman tak akan bertahan lama lagi. Dave berjanji apapun yang akan terjadi, ia akan melindungi Ayu.
💖💖💖
Ruang tunggu depan IGD kini telah sunyi, Dave dan Alex pergi untuk mempersiapkan segala keperluan pernikahan dadakan Ayu dan Alex hari ini. Bibi Ayu yang bernama Sekar telah masuk kedalam ruangan pak Rahman. Ia tak dapat bicara, tapi sorot matanya mengisyaratkan kepedihan yang sangat dalam. Ia telah kehilangan saudara iparnya, ia tak ingin kehilangan saudara kandungnya juga. Hampir sepanjang hidupnya ia hidup bersama pak Rahman. Kedua orangtua mereka meninggal saat mereka berdua belum benar-benar dewasa. Wabah penyakit yang mendera desa mereka kala itu telah merenggut nyawa banyak penduduk, termasuk kedua orangtua mereka. Sekar terlahir dengan keadaan tuna rungu dan tuna wicara, pernah menikah, namun umur pernikahannyapun tak berlangsung lama, ia pun kehilangan suaminya yang seorang tentara ketika bertugas, meninggalkan dirinya seorang diri, dan kini ia merasa sedih jika Ayu akan merasakan apa yang dulu pernah dirasakannya. Jangan sampai pikirnya. Jauh dilubuk hatinya ia mendo'akan Ayu dengan tulus, semoga pernikahan Ayu akan langgeng dan bahagia selamanya.
Pintu ruang IGD terbuka perlahan, seorang dokter dan perawat masuk kedalam, memeriksa kondisi pak Rahman dengan seksama. Menyusul Dave, Alex, dan dua orang laki-laki yang sangat dikenal oleh keluarga pak Rahman, mereka adalah pak RT dan Ustadz Usman.
"apakah pak Rahman sudah siap?" tanya dokter sesaat setelah memastikan kondisi pak Rahman. Pak Rahman mengangguk dan tersenyum.
"saya sendiri yang akan menjadi wali nikahnya dok" jawab pak Rahman lirih. Ia menyiapkan tenaga lemahnya.
"siapa nama lengkap putra anda pak Dave?" tanya pak Rahman. "dan apa yang kau miliki saat ini sebagai mahar yang akan kalian berikan kepada putri saya?" lanjutnya.
"nama saya Alexander Abraham bin Dave Abraham, saya akan memberikan uang tunai 300 juta sebagai mahar" jawab Alex sambil menyerahkan tumpukan uang itu dihadapan pak Rahman. Hanya itu yang bisa dia berikan sebagai mahar saat ini, waktu yang sangat mendesak, tadi ia menyuruh asistennya untuk mengambil uang cash diberbagai atm yang tersedia di desa kecil ini.
Proses pernikahan yang sangat cepat, apa adanya berlangsung dengan duka cita. Pak Rahman sebagai wali nikah putrinya hanya mampu berbaring, dan menggenggam tangan kanan Alex dengan lemah. Alex duduk disamping ranjang pak Rahman, mengenakan pakaian sederhana yang baru dibelinya beberapa saat tadi. Ada 4 orang saksi yang tercatat dalam kertas sebagai bukti
telah dilangsungkannya pernikahan yang sah. Dipojok ruangan ada peti jenazah Ibu Nurjannah yang sengaja belum dimakamkan, dengan alasan untuk menunggu sampai pernikahan putrinya. Sedang Ayu, masih menggunakan pakaian yang ia kenakan tadi pagi, tunik sederhana berwarna salem dipadu dengan kulot dan pasmina yang senada.
Sore itu, status Annisa Ayu telah berubah, menjadi seorang istri dari Alex Abraham. Seorang laki-laki yang baru ditemui tadi pagi didepan ruangan IGD tempat sang Ayah dirawat karena kecelakaan yang diakibatkan oleh lelaki itu.
Bibi sama sekali tak bersuara, sejak tadi terus berada disamping Ayu, menggenggap tangan Ayu seakan menguatkannya, mengelus lengan Ayu seakan sedang menenangkannya, dan mengamati semua proses itu, sambil terus mendo'akan yang terbaik untuk keponakannya.
Acara sederhana itu baru saja selesai, pak Rahman meminta jenazah istrinya untuk didekatkan padanya sebelum dikebumikan. Baru saja orang-orang berbalik untuk mengangkat peti jenazah tersebut, pak Rahman memejamkan matanya, dadanya bergerak naik turun tak beraturan, nafasnya sudah tinggal satu-satu. Ayu menjerit, memanggil Ayahnya dengan kencang "Abaaaaaaah.....Abah kenapa?" jeritnya memamggil nama Abah sambil menggenggam tangan Abah dengan erat, menggoyangkannya seakan meminta jawaban. Namun Abahnya tak merespon lagi. Tubuhnya sudah tidak bergerak sama sekali. Dokter segera memeriksa nadi ditangan pak Rahman dan segera menempelkan alat stetoskop kedada pak Rahman, kemudian meihat arloji yang melingkar ditangannya.
Hari itu, bukan hanya status Ayu yang berubah menjadi istri, status Ayu juga berubah menjadi yatim piatu, kehilangan kedua orang tuanya dihari yang sama dengan tanggal pernikahannya.
💖💖💖
Malam ini adalah tepat hari ketujuh tahlilan diadakan dikediaman almarhum pak Rahman. Dari hari pertama hingga malam ini Alex belum pernah sekalipun berkunjung ke rumah Ayu, alasannya masih masa recovery bahu dan dirawat intensif di rumah sakit di ibukota. Papa Dave pernah sekali datang ke acara tahlilan entah dihari keberapa, dan selebihnya hanya orang-orang suruhannya yang selalu hadir dan membantu semua keperluan dan kebutuhan untuk tahlilan. Ayu dan Bibinya tidak mengeluarkan uang sepeserpun semua sudah ditanggung oleh Alex melalui utusannya.
Acara selesai, dan Ayu mulai berkemas, karena besok pagi Ayu akan dibawa ke rumah kediaman Alex dan keluarganya. Tak banyak barang yang ia masukkan kedalam tas ranselnya. Setidaknya seperti itu pesan papa Dave, untuk hanya membawa barang pribadi yang penting saja, selebihnya akan dibelikan disana.
Disisa waktu yang tak lama lagi, Ayu ingin menghabiskan waktu bersama Bibi. Mereka berdua masih saling berpelukan, malam ini Ayu tidur dikamar Bibi, diatas kasur yang sama, satu bantal yang sama, Ayu masih terus memeluk Bibi dan tak ingin melepaskan, airmata sudah berulang kali dihapus tapi keluar lagi, dan lagi. Bibi hanya bisa mengusap-usap punggung Ayu dengan tangan kirinya yang memeluk Ayu, dan mengelus kepala Ayu dengan telapak tangan kanannya yang dijadikan Ayu sebagai sandaran lehernya. Sebenarnya Ayu sangat berat meninggalkan Bibi sendirian dirumah ini, tapi ia pun memiliki kewajiban untuk mengikuti kemana suaminya tinggal. Bibi Sekar sangat sayang sama Ayu, beliau tidak memiliki anak, pernikahannya sangat singkat, suaminya dikabarkan meninggal ketika bertugas sebagai abdi negara.
💖💖💖
Suara kokok ayam bersahutan, tanda pagi telah tiba, Ayu baru membuka matanya, semalam dia tak bisa tidur nyeyak hingga menjelang fajar, Bibi masih berada disisinya, masih mengusap punggung dan kepalanya, seakan waktu berhenti tak bergerak dari semalam. Bibi juga merasakan hal yang sama, masih tak mau berpisah, meski tak diucapkannya, namun Ayu tahu, Bibi sangat menyayanginya.
Ayu sudah bersiap ketika utusan Alex datang kerumah untuk menjemputnya. Ayu berharap suaminya ikut menjemputnya dan berpamitan pada Bibinya, namun sepertinya Alex memang tidak menginginkan pernikahan ini, ia terpaksa melakukannya karena permintaan Abah dan Papa Dave. Seperti itulah yang dirasakan Ayu dan Bibi.
Perjalanan memakan waktu hampir hampir 3 jam untuk sampai didepan rumah mewah tinggi menjulang. Ayu mengaguminya, belum pernah ia melihat secara langsung rumah sebesar ini dengan halaman yang luas, biasanya hanya melihat di layar televisi, dan kini dedepan matanya langsung membuatnya lupa untuk berkedip.
Pak supir membukakan pintu mobil, dan mempersilahkan masuk kedalam rumah. Pintu rumah sudah terbuka lebar, Ayu melangkah dengan pelan dan ragu. Tak ada yang menyambutnya, ia sangat bingung, mau bagaimana. Hingga tak lama terdengar bunyi langkah kaki mendekat, itu papa Dave dan seorang wanita berpakaian dan berdandan glamor ciri khas wanita sosialita.
"kamu sudah datang?" tanya papa Dave.
Ayu hanya tersenyum mengangguk dan mengulurkan tangan padanya untuk bersalaman takdzim seperti yang selalu dilakukannya pada Abah dan Ambu. Tangannya masih menggantung diudara, tak ada yang menyambutnya, papa Dave bahkan terlihat bingung. Ayu menarik kembali tangannya. Mereka masih berdiri tak jauh dari pintu rumah saat ini.
"Ayu, ini mamanya Alex" tunjuk papa Dave kepada wanita disampingnya. Namanya Jessica, ia melihat Ayu dari atas sampai bawah dengan tatapan mata yang mencemooh, membuat Ayu merasa rendah diri. Ia hanya mwnggunakan stelan tunik dan kulot senada dengan hijab pasminanya, sepatu flat dan tas ransel yang sudah memudar warnanya.
Ayu memgulurkan tangannya sekali lagi, namun lagi-lagi tak bersambut. Ciut nyali Ayu berhadapan dengan mertuanya. Ini baru beberapa menit, bagaimana ia akan menjalankan kehidupan disini selama pernikahannya dengan Alex?
"Papa mau berangkat, kamu masuk aja, sepertinya Alex juga sudah berangkat pagi-pagi tadi... kalau ada perlu apa-apa ada banyak pembantu disini, kamu bisa minta tolong mereka" pamit papa Dave. Ayu hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan ragu.
Papa Dave memanggil salah satu pembantunya yang bernama Sri untuk mengantarkannya ke kamar Alex, kemudian ia sendiri langsung berangkat ke kantor.
Ayu mengikuti mbak Sri ke lantai 2 dan memasuki kamar yang ditunjukkan olehnya. Begitu ia memasuki kamar itu, nuansa maskulin begitu terasa. Dominan warna dark grey dan putih susu di semua sisi, membuat kamar ini begitu misterius. Mbak Sri sudah pamit pergi, tinggalah Ayu sendiri, pintu kamar masih terbuka, ia bingung harus bagaimana.
"itu saja barang yang kamu bawa?!" Ayu terkejut, tiba-tiba saja sudah ada mama Jessica dibelakangnya.
"i...i iya ma" jawab Ayu gugup.
"papa Dave meminta saya untuk membawa barang yang penting-penting saja, karena....karena, mmm... untuk baju-baju dan keperluan yang lainnyaa... akan dibelikan" lanjut Ayu dengan terbata-bata. Ia menundukkan pandangannya, sangat tidak nyaman ketika mama Jessica melihatnya dengan tatapan horor dari atas kepala hingga bawah kakinya seperti menelanjanginya.
"sepertinya kamu sudah deket banget ya sama suamiku?!" tanya mama Jessica dengan curiga.
Ayu spontan langsung menggeleng dengan cepat...melambaikan kedua tangannya, tapi mulutnya tak mampu berkata-kata.
"beruntung ya kamu orang kampung, bisa menikah dengan putraku. Kamu pakai pelet apa? gak ada seujung kukupun kamu dengan Stella calon menantuku!" Jessica berlalu setelah mengucapkan kata-kata tajam itu.
Ayu tercengang...ternyata Alex sudah memiliki calon istri? dia menikahiku karena Abah yang memintanya. Ayu sadar, memang pernikahan mereka tanpa dasar cinta, hanya karena rasa tanggung jawab untuk menggantikan Abah menafkahinya. Kalau ia tahu, Alex sudah memiliki calon istri, ia pasti akan menolak keras keinginan Abah itu. Tanggung jawab Alex karena kecelakaan itu tak harus dengan menikahinya, cukuplah dengan membiayai kuliahnyapun sudah bagus, ia bisa bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Namun Abah justru ingin mengikat Alex seumur hidupnya? apakah ia lebih baik mengajukan cerai saja? toh pernikahan ini belum resmi juga, belum tercatat di KUA. Ayu akan menunggu Alex dan membicarakan hal ini.
💖💖💖
Dikantor Abraham co.,ltd Alex sedang membaca laporan keuangan di komputernya ketika Luna mengetuk pintu ruangannya. Luna masuk setelah dipersilahkan oleh Alex. Ia membawa beberapa paper bag dari butik ternama.
"pak Alex, ini titipan dari Tuan Dave untuk istri Bapak" ucap Luna sambil meletakkan beberapa paper bag itu dimeja sofa.
Luna adalah salah satu sekretaris Dave, ia baru saja diutus oleh Dave untuk membeli beberapa pakaian rumah, setelan formal dan blouse, dalaman, sandal, sepatu, tas, dan beberapa hijab pasmina. Kata atasannya, itu semua untuk istri Pak Alex. Luna bahkan baru tahu kalau Alex sudah menikah.
Alex menghentikan kegiatan membacanya, mengangkat kepala dan mengerutkan keningnya.
"lalu kenapa kamu antar itu kesini? antarkan ke rumah!" tolak Alex.
Luna terkejut, "tapi, Tuan Dave meminta saya mengantarkan ini...." suara Luna terhenti karena Alex menyelanya,
"katakan pada papa, suruh orang untuk mengantarkannya. Kau pikir aku kurir?!" kata Alex ketus.
Luna mangambil kembali paper bag itu dan membawanya keluar.
"baik Pak, saya permisi...terima kasih" ucap Luna dan keluar dari ruangan itu.
"huft...." Luna tak habis pikir, kenapa Alex sangat emosional? bukankah itu semua untuk istrinya?
"padahal papanya orang yang lemah lembut, ini anaknya kayak singa galaknya" guman Luna sambil berjalan meninggalkan ruangan Alex.
💖💖💖
Ayu sedang duduk diatas sofa dalam kamar Alex, ia sungguh bingung mau melakukan apa, bahkan ia takut membuka lemari Alex untuk membereskan barang-barangnya. Baru saja ia mendapatkan kiriman beberapa paper bag yang langsung diantarkan ke depan kamarnya oleh mbak Sri, kata mbak Sri ini dari Tuan Alex. Hati Ayu berdebar mengetahui Alex sangat memperhatikannya. Satu-satu paper dibuka, ada beberapa pasang piyama tidur berlengan panjang, warna-warna yang lembut, motif animasi yang imut, Ayu tersenyum sendiri,
"ya Allah....ini kenapa dia tau seleraku?" guman Ayu tersipu malu.
Ayu mengambil salah satunya, ia akan memakai setelah mandi sore nanti.
Ayu berjalan menuju deretan lemari yang ada di sebuah ruangan, ia tau, itu adalah walk-in closet, meski berasal dari desa tapi bukan berarti ia tak berpengetahuan luas. Ayu membuka beberapa pintu lemari, hampir semuanya sudah terisi penuh, Ayu pikir mungkin memang Ayu tak diberi tempat oleh Alex? tak mengapa, ia bisa pakai kardus saja pikirnya. Tapi pintu terakhir yang ia buka ternyata masih kosong.
"aah, ternyata disini rupanya tempatku" batinnya sambil tersenyum simpul. Hatinya lega, sekaligus meringis. Mengetahui Alex memberikan space yang sangat kecil diujung deretan lemari yang besar itu, letaknya sangat dekat dengan pintu kamar mandi. Ayu mulai berbenah, ia menata rapi pakaian yang dibawa dari rumah dan yang barusan dibelikan Alex.
Senja datang, langit memperlihatkan lukisan indah, Ayu sangat takjub menyaksikan kebesaran illahi. Usai mandi tadi Ayu mengenakan piyama panjang yang dibelikan Alex, ukurannya sangat pas, bahannya sangat lembut, warnanya hampir menyatu dengan warna kulit Ayu yang kuning langsat, bersih dan bersinar bagai rembulan. Ayu berdiri diatas balkon kamar Alex, tanpa hijab, ia menggerai rambut hitam legam panjangnya yang tebal dan lurus. Memandang matahari yang hampir tenggelam. Didesanya ia biasa menyaksikan matahari terbit, tapi tak pernah bisa menyaksikannya tenggelam, ini pertama kalinya bagi Ayu, dan ia sangat takjub.
Pintu kamar terbuka dengan pelan, Alex muncul dari sana, Ia berhenti melangkah ketika melihat ada seseorang berdiri diatas balkon kamarnya. Ia tau, kalau mulai malam ini Ayu menginap disini. Ayu adalah istrinya, tentu saja mereka harus tidur satu kamar. Tapi Alex tidak pernah membanyangkan ternyata Ayu melepas hijabnya, dan pemandangan didepannya seperti ia melihat seorang gadis dengan pesonanya, meski hanya terlihat dari belakang saja.
Mendengar pintu terbuka, Ayu menoleh tanpa membalikkan badannya. Ia tersenyum melihat Alex pulang kerja, dengan kemeja lengan panjang yang sudah digulung sesiku dan jas yang menggantung dilengan kirinya, Alex terlihat sangat mempesonanya.
"Sudah pulang, Aa'?" tanya Ayu, membalikkan badanya dan maju beberapa langkah mendekati Alex.
Alex mengernyitkan kedua alisnya,
"tadi kamu panggil aku apa?" tanya Alex spontan.
Pertanyaan yang bodoh, Ayu salah tingkah, dia bingung harus memanggil apa?
"panggilan orang kampung!!" lanjut Alex sambil berlalu menuju walk in closet meletakkan jasnya, melepas sepatu, dan menuju ke kamar mandi.
Ayu bergeming, dari tempatnya berdiri ia terpaku, melihat Alex masuk hingga beberapa detik lamanya.
Ayu kembali duduk diatas sofa, termenung, hari ini ia sedang berpuasa, sebentar lagi mahgrib tiba, tadi ia sudah memberitahukan hal ini kepada mbak Sri, kalau ia akan ke dapur menjelang maghrib untuk berbuka puasa. Tapi Ayu kini ragu, apakah akan turun ke dapur meninggalkan Alex yang sedang mandi? atau menunggu Alex selesai?
Suara adzan mahgrib berkumandang dari speaker masjid yang mungkin letaknya sangat jauh dari rumah ini, karena hanya terdengar sayup-sayup. Didalam kamar itu tidak ada dispenser, Ayu belum mwnyediakan air, Ayu ingin segera membatalkan puasanya maka ia bergegas mengenakan hijab instannya yang sudah ia siapkan, dan keluar kamar Alex menuju dapur di lantai 1.
Didalam kamar mandi, Alex menenangkan jantungnya yang berdegub kencang. Dalam hati Alex takjub terpesona dengan istrinya yang polos tanpa make up, Kulitnya kuning langsat bercahaya, bersih dan berkilau untuk ukuran orang dari desa yang mungkin tidak mengenal skin care mahal. Senyumnya sangat manis, dan matanya mengikuti garis senyum lebarnya, ada lesung pipi dikedua pipinya, menambah daya tarik seorang gadis belia yang bahkan baru lulus SMA.
Ketika Alex tadi melewatinya, tercium harum menguar dari rambutnya yang tergerai, membuat bulu kuduk Alex meremang. Entah samphoo apa yang dipakainya? Alex melirik kesana kemari mencoba mencari apa ada peralatan mandinya yang berbeda? yang ia temukan hanya ada satu sikat gigi murahan berwarna ungu.
"jadi dia memakai samphoo ku? sabunku juga? kenapa harumnya berbeda? lembut sekali?" guman Alex.
Ia menyudahi membilas tubuhnya, keluar kamar mandi hànya mengenakan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya saja, dan menggunakan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
Alex mencari keberadaan Ayu, tapi rupanya Ayu tak berada di kamarnya. Ayu masuk ke dalam kamar tepat ketika Alex sedang membuka handuk dibadannya dan akan menggunakan underwear, Ayu sangat terkejut dan langsung membalikkan badannya.
"apa itu tadi?!" pikirnya mengernyitkan kedua alis... Ayu gadis dewasa, tentu ia tau bagian tubuh pria, karena pelajaran biologi di SMP dan SMA pernah mengajarkannya. Tapi, sungguh ini adalah pertama kalinya ia melihat langsung dan tak pernah mengira jika bentuknya seperti itu.
"kamu lihat apa?!!" sentak Alex, ia sangat terhibur melihat muka kaget Ayu dengan mata bulatnya yang membesar.
Ayu menggelengkan kepalanya, tapi tetap tidak menoleh dan tetap memejamkan matanya. Hingga beberapa saat kemudian,
"sssuudah?!" tanya Ayu terbata
"sudah apanya?!" sentak Alex pura-pura tak mengerti maksud Ayu.
"mmm....apakah sudah selesai menggunakan pakaiannya?" tanya Ayu kembali, menggunakan bahasa yang sangat jelas.
"awas aja kalau masih nggak ngerti juga" batin Ayu, ia hanya berani mengumpat dalam hati. Mana berani lah, langsung ngomong dihadapan manusia salju ini. Lebih dari seminggu menjadi pasangan suami istri, namun baru kali ini benar-benar mereka berkomunikasi langung.
"Aku kalau tidur tidak pakai baju" jawab Alex sekenanya, sambil berlalu menuju sofa, dan duduk disana.
"mm...tapi kan ini belum mau tidur? ssaa
...saya mau sholat maghrib dulu" kata Ayu sambil melirik Alex yang duduk di sofa tempat seharian ini Ayu merebahkan tubuhnya ketika berada didalam kamar Alex. Ternyata Alex sudah berpakaian ràpi, sedang memegang hp. Ayu berlalu ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya itu di pojokan ruangan.
Ketika Ayu sudah selesai, Alex sudah tidak berada ditempatnya lagi. Sebenarnya Ayu sangat canggung. Bagaimana harus bersikap dirumah besar ini. Sedari tadi pagi sesampainya dirumah megah ini, sore baru turun ke lantai 1 dan tidak bertemu siapapun kecuali mbak Sri dan seorang pembantu paruh baya bernama Ibu Maysaroh, Ayu baru masuk ke dapur menjelang maghrib tadi untuk berbuka puasa. Semua orang disini memiliki kesibukan masing-masing.
Ayu memutuskan untuk turun ke lantai 1 menyusul Alex dan ingin bertemu dengan keluarga yang lain, mungkin bisa bercengkerama sebagaimana keluarga. ia belum tahu bagaimana kebiasaan yang ada didalam rumah ini.
Ayu berhenti melangkah ketika terdangar perdebatan antara Alex dan kedua orangtuanya. Samar-samar Ayu mendengar namanya disebut, ia menajamkan pendengaran, bukan mau mencuri dengar, tetapi namanya disebut, maka ia menjadi sangat penasaran.
"....tapi Al sama sekali nggak cinta sama Ayu, pa... jangan paksa Al untuk melakukan apa yang Al nggak mau dan nggak suka!!" suara Alex sangat terdengar jelas karena sangking kencangnya lalu terdengar bunyi langkah kaki tergesa, Alex keluar rumah dan tak lama terdengar deru suara mobil meninggalkan rumah.
"Alex pergi..." guman Ayu, dengan langkah cepat Ayu kembali naik ke lantai 2, hanya didalam kamar ini ia merasa lebih aman, dibanding berkeliaran dirumah yang luas itu.
Dan, sejak malam itu, ia belum lagi melihat Alex hingga beberapa minggu lamanya, entah berapa lama Alex pergi, Ayu tidak pernah menghitungnya. Ia menyibukkan diri dengan belajar kisi-kisi soal ujian masuk universitas negeri favoritnya. Sesuai arahan papa Dave, Ayu dibelikan banyak buku-buku penunjang. Bahkan papa Dave membelikannya laptop untuk Ayu belajar dan Handphone keluaran terbaru.
Ayu tidak diperkenankan oleh papa Dave untuk turun ke dapur dan tidak diperbolehkan untuk memegang kerjaan apapun. Namun Ayu memohon untuk diperbolehkan merawat tanaman, ia sangat menyukai tanaman dan bunga-bunga. Di halaman rumah ini jarang terlihat tanaman bunga, hanya ada beberapa tumbuhan sebagai hiasan dan pagar tanaman. Ayu dan bibi memiliki hobi yang sama, yaitu menanam dan merawat berbagai macam bunga. Dihalaman rumahnya tumbuh berbagai macam bunga yang indah dan wangi semerbak tersebar sampai kedalam rumah sederhananya. Dirumah mertuanya ini, ia meminta ijin pada papa Dave untuk menanam bunga-bunga ditaman dan halaman untuk mengisi waktunya setelah lelah belajar.
💖💖💖
Dua bulan telah berlalu sejak kepergian Alex, Ayu pun sudah menyelesaikan ujian masuk di universitas diantar langsung oleh papa Dave, menurut papa Dave, ini adalah bentuk penyemangat untuk Ayu yang akan menghadapi ujian, papa Dave benar-benar berperan sebagai orang tua bagi Ayu.
Malam sudah sangat larut, entah jam berapa ketika tiba-tiba Alex pulang dan masuk kedalam kamarnya. Ayu memang tidak pernah mengunci pintu, itu karena Ayu masih beranggapan siapa tau Alex akan pulang, ini kamar Alex, maka bisa saja sewaktu-waktu Alex akan masuk ke dalam kamarnya. Dan, malam ini dengan kasar Alex mengangkat Ayu dari sofa menuju ranjang besar dan membantingnya disana. Ayu sangat terkejut, ini secara tiba-tiba saja Alex sudah membuka seluruh pakaiannya sendiri hingga tak bersisa, lalu naik keatas tubuh Ayu dan merobek baju bagian atas yang dikenakan Ayu dan membuka paksa sisanya. Ayu meronta, tapi tetap saja kalah tenaga. Ayu berteriak, namun suaranya tenggelam dengan suara derasnya hujan di luar sana. Alex Menciummm bibir Ayu dengan brutal dan menggigit leher Ayu dengan kasar, lalu kedua tangan Alex merremmas dadda dengan kuat. Dan, dengan satu hentakan keras Alex menghunus Ayu dengan kejam, tanpa pemanasan yang cukup. Ayu menangis, ia kesakitan, ini adalah pertama kalinya, dan tanpa ampun Alex menghujamnya lagi dan lagi.
"aaaahhh....kenapa rasanya sangat enak hmmm... Stella, oh... Stella.... oh, kamu apakan milikku...hmm??" rancau Alex tak jelas.
Mendengar Alex merapalkan nama Stella membuat hati Ayu mencelos....ternyata Alex mengira dirinya adalah orang lain. Ayu sangat yakin, ini bukan pertama kalinya bagi Alex, ia pasti sudah pernah melakukannya dengan Stella, dan kenyataan itu entah membuat Ayu menjadi sangat jijik.
Ayu tak sadar entah sampai berapa lama Alex melakukan itu padanya... bahkan ketika Ayu sudah hampir diambang kesadarannya Alex masih mengayun diatas tubuhnya. Dan ketika Ayu membuka mata di pagi hari itu, Ayu merasakan sakit semua seluruh badannya, terutama dibagian inti tubuhnya. Ayu hendak beranjak, namun tangan dan kaki Alex masih mengukungnya. Berlahan dia singkirkan tangan Alex, namun tangan itu seakan mencengkeram dengan kuat. Ayu mencoba sekali lagi, matahari sudah terang, tapi dia belum menjalankan kewajiban, jadi Ayu berusaha keras untuk turun dari tempat tidur.
Alex membuka mata, seketika pandangan keduanya bertemu. Alex membelalakkan matanya, sangat terkejut. Ternyata semalam ia bersama Ayu, istrinya. Bukan Stella, wanita yang mengkhianatinya. Alex melepaskan cengkraman tangan dan kakinya dari tubuh Ayu, dan Ayu segera meraih kain apapun yang bisa menutupi tubuh pollossnya. Ayu berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi, dan Alex melihat semua itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa menyesal, kasihan, tapi semalam ia sangat menikmatinya, berkali-kali, dengan durasi waktu yang sangat lama.
Alex bangun dan bersandar diatas dashboard tempat tidurnya, mengusap kasar wajahnya, meremmass rambutnya, sekilas ia melihat bercak darah mengering diatas sprei, ia tau, ini pertama kalinya buat Ayu, ia merasakannya sendiri, dan, itu tidak didapatkannya dari Stella. Dalam hati ia sangat bangga dan tersanjung, Ayu menjaga mahkotanya dengan baik, dan dipersembahkan untuknya, suaminya.
Gemericik suara air dari kamar mandi sudah berhenti, tanda Ayu sudah menyelesaikan mandinya. Alex beranjak dari tempat tidur, memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, "ya Tuhan...apa yang kulakukan semalam?" batinnya perih. Terlihat dari betapa kacaunya kamarnya, menandakan betapa brutalnya ia semalam.
Ayu keluar dari kamar mandi, Alex sengaja menunggunya didepan pintu. Ayu terkejut, ia mendongak, tampak kedua matanya yang memerah, ia menangis dari semalam, sampai tadi didalam kamar mandi pun ia masih menangis.
"maafkan aku..." ucap Alex spontan. Ia menyesal, semalam ia minum-minum di bar dan sedikit mabuk.
Ayu menggelengkan kepalanya. Air matanya luruh lagi. Kakinya melangkah meninggalkan Alex yang masih terpaku. Ayu segera mengambil mukena dan beribadah, meski sudah sangat terlambat, tapi ia harus tetap mengerjakannya.
Alex masuk dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Ayu segera membereskan tempat tidur setelah selesai berdo'a, ia pasrah, apapun yang terjadi sudah menjadi kehendak ilahi.
💖💖💖
Hari ini adalah hari libur, minggu pagi yang cerah, Ayu menunggu Alex berpakaian, ia hendak turun ke lantai 1 bersama, ada papa dan mama yang sudah menunggu di meja makan untuk sarapan, tadi mbak Sri datang memberi tahu. Keduanya turun tangga dengan bergandengan, tepatnya Ayu menggandeng lengan kokoh Alex, ia memberanikan diri, satu tangannya menopang tubuh dengan pegangan tangga, bagian inti tubuhnya nyeri, dan pinggangnya juga sakit, jalannya sangat pelan, Alex melihat itu, merasa bersalah karena ulahnya membuat Ayu berjalan seperti pinguin.
Mereka sampai diruang makan, papa Dave melihat aneh cara berjalan Ayu dan ia tersenyum lebar, mengerling nakal kearah Alex, hal itu tidak luput dari pandangan mama Jessica, ia mengernyit, menelusuri arah pandang suaminya, dan sangat murka karena yang dilihatnya adalah tubuh Ayu.
"apa yang kau lihat!!" sentak mama Jessica sambil memukul paha papa Dave yang duduk disampingnya.
Papa Dave tersentak, dan mengalihkan pandangan kepada istrinya.
"sepertinya semalem ada penganten baru malem pertama, lihat jalannya Ayu Ma...." bisik papa Dave pelan ditelinga mama Jessica.
"perhatian banget papa ya?!" cibir mama Jessica. Ia sudah beberapa kali memergoki suaminya memperhatikan Ayu, mengajak ngobrol, diskusi tentang kuliah, sampai ke hobi berkebun pun suaminya paham.
Alex dan Ayu sampai di meja makan dan keduanya duduk sejajar berhadapan dengan papa dan mama.
"lama banget ditungguin dari tadi, ngapain aja sih!!" tanya mama Jessica menggerutu.
"maklumin ma...kan mereka pengantin baru, mama kayak yang nggak pernah ngrasain muda aja" jawab papa santai.
Ayu hanya menundukkan kepalanya, ia malu baru kali ini bangun kesiangan.
Alex tak sedikitpun menanggapi pernyataan papa dan pertanyaan mamanya. Alex mengambil piring dan menawarkan Ayu mau makan apa? semua orang yang ada diruangan itu terkejut, terutama sang mama, ia benar-benar membeku Alex memperlakukan istrinya bak ratu. Ayu tersipu, pipinya memerah, terlihat jelas dikulit cerahnya dengan pencahayaan yang terang. Alex mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk Ayu,menyerahkannya ke Ayu dengan lembut "makan yang banyak" pintanya. Ayu mengangguk dan mengucapkan terima kasih pelan, hampir berbisik, hanya Alex yang mendengar tepat ditelinganya.
Mereka berempat makan dengan hening, mama Jessica tak lagi banyak protes, menikmati sarapannya dengan anggun. Papa Dave masih terus memperhatikan Ayu, dan itu tak lepas dari pengawasan mama Jessica.
Selesai sarapan, Alex mengajak Ayu keatas, masuk ke kamar mereka. Mama dan papa tidak protes, mereka hanya heran, Alex sangat berubah.
💖💖💖
Didalam kamar, Alex mengajak Ayu duduk diatas sofa, tempat yang biasa Ayu pakai tidur selama tinggal di rumah keluarga Alex.
"aku minta maaf..." kata Alex tiba-tiba
Ayu mengernyitkan kedua alisnya,
"mm...maaf untuk..?" tanya Ayu bingung
"semalam, aku....sedikit mabuk, dan.... hmmm.... menyakitimu" sambung Alex, ia sungguh menyesal semalam menggauuuli Ayu dengan brutall dan kassar.
Ayu tersenyum, sampai tampak lesung pipinya yang dalam dikedua pipinya. Alex membelalakkan kedua matanya, ia tercenung, terpesona, senyum itu sangat manis, wajah Ayu sangat cantik.
"tak mengapa" jawab Ayu
"sudah jadi kewajiban saya untuk melayani....Aa'..." lanjut Ayu, agak meragu ketika menyebut Alex dengan panggilan Aa'.
Alex tidak protes, meski panggilan itu terdengar asing dan aneh, kampungan sekali pikirnya, tapi dia diam saja.
"berarti gak papa?" tanya Alex
Ayu menggeleng sebagai jawaban.
Melihat hal itu, Alex seperti mendapatkan jalan terbuka dan kesempatan untuk melakukannya lagi, dan lagi. Ayu membuatnya melayang dan candu.
Alex mendekat, ia meraih dagu Ayu, dan mulai menciummnya, memberi jeda sebentar, lalu menciuuum lagi, seperti memberi Ayu waktu jika menolak, tapi Ayu diam, itu artinya diperbolehkan. Alex mulai lagi menciumm, kali ini lebih lama, melummat bibir ranum Ayu dengan penuh perasaan, Ayu memejamkan matanya. Alex semakin gencar menyerang Ayu, lidahnya masuk mengabsen isi didalamnya satu persatu. Ayu tergagap, ia belum berpengalaman, ini adalah pertama kalinya bagi Ayu, dan Alex menyadari hal itu. Dalam hati ia sangat senang dan bangga karena menjadi yang pertama. Nafas Ayu mulai habis, ia tersengal, kedua telapak tanganya mencengkram lengan Alex dengan kuat. Alex melepaskannya, Ayu langsung meraup udara dengan rakus, ia kehabisan udara.
"jangan ditahan nafasnya, sambil bernafas ketika kita berciiuuman" Alex mengajarkan sambil tersenyum nakal.
Alex melakukannya lagi, kali ini lebih lama, Ayu cepat belajar, bahkan tangannya meraba tengkuk Alex lalu meremas rambut Alex dengan lembut. Alex tersulut gairah, meski baru dini hari tadi selesai menghamburkan benihnya ke rahim Ayu, kini ia ingin lagi, Ayu sangat nikmat, menggigit mencengkeram miliknya dengan denyutan yang dahsyat. Alex menjadi candu dalam sekejap.
💖💖💖
Matahari sudah condong ke barat ketika Ayu membuka mata, tubuhnya lelah luar biasa, Alex sangat lama menghajarnya tadi, kini ranjang king size itu bagai kapal yang baru saja diterjang badai, porak poranda...
Hawa dingin AC menyerpa kulit tubuhnya seketika, ia sadar, belum mengenakan apapun, matanya berpendar mencari selimut, malah menemukan Alex yang masih lelap tidur telentang tanpa sehelai kainpun. Pipinya memerah seketika melihat pahatan tubuh sempurna milik suaminya. Ia hendak turun, belum sholat dzuhur, sepertinya akan terlambat karena ia harus mandi besar dulu, namun baru saja hendak memiringkan tubuhnya untuk bangun, ada dua lengan kekar yang langsung menariknya. Alex memeluk Ayu dari belakang, kulit punggungnya bertemu langsung dengan kulit dada Alex, membuat bulu kuduknya meremang, ditambah lagi ia merasakan sesuatu yang bergerak mulai mengeras menekan bagian tubuh belakangnya.
"mau kemana hmmmm....?" suara berat Alex berbisik pelan tepat ditelinga Ayu. Ayu makin merinding. Belum sempat juga menjawab pertanyaan itu, tangan nakal Alex merremmas dua gundukan yang sedari semalam selalu dilummaatt Alex dengan gemas. Ayu mendesah.
"aahh..." suara merdu ini membuat singa yang baru bangun tidur langsung bergairrah.
Ayu sudah tak punya tenaga untuk melawan, ia pasrah, apapun yang dilakukan Alex kemudian Ayu hanya mengikutinya saja.
"ooh yess, sayang...wow...yaa...oohh" Alex terus memacu dan mendessahh. Ayu tak habis pikir, suaminya seperti tak punya rasa lelah... entah sudah berapa kali pelepasan sejak semalam, Ayu tak mampu menghitungnya. Apakah produksi sperrmaa nya begitu banyak? hingga tak habis-habis? Ayu hanya mampu memejamkan matanya, merasakan semua yang tak bisa ia jabarkan, antara sakit, lelah, dan nikmattt menjadi satu.
💖💖💖
Ayu tak mampu lagi berdiri, Alex menggendongnya ke kamar mandi. Tadi ia telah menyiapkan air hangat di bathub sebelumnya lalu meletakkan Ayu dengan sangat hati-hati kedalamnya dan menyusul masuk kemudian. Alex menggosokkan sabun ke punggung Ayu dengan lembut, membilas seluruh tubuh Ayu dengan sangat lembut, seakan-akan Ayu adalah boneka porselen yang rapuh dan mudah retak. Sesekali Ayu tersenyum geli merasakan sentuhan Alex dibeberapa titik tubuhnya yang sengaja disentuh lebih lama oleh Alex. Senyuman Ayu makin membuat Alex tak dapat menahan diri. Inti tubuhnya sudah sangat menegang, ia mengangkat Ayu kepangkuannya, menghujamkan langsung miliknya yang sudah sangat siap sedari tadi tepat kedalam milik Ayu yang sempit dan hangat.
"aaahh..." suara keduanya bersahutan bersama dengan gemericik air yang menyebar keluar dari bathub.
Ayu terdiam, hanya mampu memeluk Alex dan menyandarkan kepalanya dibahu kanan Alex. Alex sadar Ayu sudah sangat kelelahan, tapi gairrahhnya membara setiap bersama Ayu, membuatnya tak bisa menahan diri. Kemudian Alex membimbing Ayu untuk bergerak maju dan mundur, menggesek-gesekkan miliknya berlahan, Ayu mengikuti arahan Alex, ia mulai merasakan kenikmatan, dan dalam sekejap melupakan rasa sakit dan lelahnya, Ayu mencari titik nikmattnya sendiri, yang mana itu membuat Alex semakin menambah kecepatan bimbingan tangannya di pinggul Ayu.
"oooh, yaaa.... terus sayang....terus sayang..." rancauan Alex bersamaan dengan bunyi cipratan air keluar dari bathup. Alex menyemburkan benihnya tepat bersamaan dengan Ayu mencapai klimaks nya. Lalu mereka berpelukan sangat erat. Ayu baru benar-benar merasa kelelahan luar biasa.
Alex menggendong Ayu menuju shower dan membilasnya disana, memakaikan handuk dan membawanya keatas ranjang. Alex mengeringkan badan dan rambut Ayu dengan lembut. Ayu hanya berbaring dan pasrah ketika Alex mengambil pakaian dan memakaikannya pada Ayu. Alex masih berbalut handuk, dan itu tak bisa menutupi bagian diantara kedua pahanya yang mencuat lebih panjang dari posisi handuk yang seharusnya.
"apakah milik Alex itu tidak mengenal rasa lelah?" batin Ayu heran. Entah ini sudah keberapa kalinya dalam kurun waktu belum sampai 24 jam.
Membayangkan hal itu, pipi Ayu memerah, dan itu tak luput dari penglihatan Alex. Ia tau arah pandang Ayu kebagian mana dalam tubuhnya. Dan itu sungguh membuatnya tak bisa menahan diri lagi.
"mau lagi? hmmm...." bisik Alex tepat ditelinga Ayu sambil mengerlingkan matanya nakal.
"Ayu belum sholat Aa'...." jawab Ayu berlahan sambil menundukkan pandangannya, malu karena ketahuan sedang melihat kearah mana matanya tadi.
Tadi setelah membasuh badan dibawah shower Ayu mengambil air wudhu. Saat ini dengan tubuh lemahnya, ia mendirikan 2 waktu sholat sekaligus, dan berniat menunggu sekalian masuk waktu yang ketiga, baginya lebih baik terlambat mengerjakan daripada tidak sama sekali.
Alex memperhatikan semua gerakan Ayu dari awal hingga akhir, ia duduk diatas sofa dan menggenggam hp, membaca beberapa pesan masuk dan memberi perintah kepada mbak Sri untuk mengantarkan makan malam mereka ke kamar. Mereka telah melewatkan makan siang, jadi diujung senja ini Alex ingin memajukan waktu makan malamnya.
Hp Alex berdering, itu panggilan dari papa Dave, setelah tadi melihat beberapa pesan dan banyak panggilan tak terjawab darinya, tapi Alex mengabaikan panggilan itu, ia hanya menjawab sudah meminta mbak Sri mengantarkan makanan ke kamar untuk pertanyaan papa kenapa tidak turun makan siang tadi.
Alex melirik pergerakan Ayu yang belum juga selesai. Dahinya mengernyit, kenapa lama sekali? Selama ini Alex jarang melaksanakan ibadah, hampir tak pernah. Hanya sesekali mengikuti sholat jum'at dan sholat idul fitri atau idul adha. Tapi melihat istrinya beribadah begitu damai, ia pun ingin mencobanya nanti.
Pintu kamar diketuk dari luar, mbak Sri datang mengantarkan makanan, Alex memintanya untuk masuk kedalam, meletakkan makanan diatas meja dan sekalian memberi perintah untuk membereskan tempat tidurnya. Alex tau Ayu biasa melakukannya sendiri, tapi kali ini ia tak tega jika Ayu yang membereskannya, selain Ayu yang masih kelelahan, tempat tidur itupun terlalu berantakan seperti habis terkena gempa.
Mbak Sri tersenyum penuh arti, ia tahu apa yang baru saja terjadi disini hingga tempat tidur ini sudah seperti kapal tergulung ombak. Ia mengganti sprei dan semua sarung bantal guling serta selimut, kemudian membawa seperangkat sprei kotor itu keluar dari kamar.
Tempat tidur sudah rapi kembali dengan sprei baru yang wangi, Ayu baru saja selesai.
"siapa yang ganti sprei nya Aa'?" tanya Ayu heran, ia bermaksud akan menggantinya setelah selesai beribadah.
Alex tidak menjawab, hanya melambaikan tangannya meminta Ayu datang padanya, duduk diatas sofa dan makan. Ayu menurut. Ia makan dengan lahap, memang perutnya sangat lapar.
"pelan-pelan aja, nggak ada yang mau berebut makanan denganmu" kata Alex mengingatkan Ayu sambil menyeka mulut Ayu yang ada sisa nasi yang masih menempel dibibirnya.
💖💖💖
Alex masih belum memahami, perasaan apa yang saat ini sedang berkecamuk dihatinya. Ia merasa tidak mungkin jatuh cinta secepat ini pada Ayu. Baru saja semalam dia mabuk karena mendapatkan undangan pernikahan Stella, dan pulang ke rumah untuk melampiaskan semua hasratnya kepada Ayu yang sudah lebih dari 2 bulan ini menjadi istrinya. Bahkan seharian ini mengurung Ayu dikamar, meneguk nikmatnya tubuh istrinya berulang kali. Membayangkan kilas balik kebersamaannya dengan Ayu saja sudah langsung membuat sesuatu menggeliat dibawah sana.
Alex berbaring miring memperhatikan wajah polos Ayu dalam tidur tenangnya. Kecantikan alami khas gadis sunda priyangan. Kalau tersenyum nampak lesung pipinya membuat wajah cantiknya bertambah manis dan tidak membuat orang bosan memandangnya. Nafasnya teratur, dadanya naik turun, Alex menelan ludahnya kasar, tangannya mengelus lembut pipi Ayu, turun ke bibir ranumnya. Alex mendekatkan wajahnya, ia mengecuppp pelan bibir yang menggoda itu, lalu turun ke leher jenjang Ayu, sudah banyak sekali tanda merah disana, itu karyanya, dan sekarang ia ingin membuat karya lagi, tangannya dengan cepat membuka kancing piyama yang dikenakan Ayu, dan dengan cepat membuka pengait branya seakan sudah sangat terlatih.
"aah...Al...oh Alex...oh Al..." rancau Ayu mengejutkan Alex. Ia melihat ke wajah Ayu, masih memejamkan matanya, artinya masih tertidur, dialam bawah sadarnya ternyata dia merasakan sensasi bersama suaminya, biasanya Ayu tidak menyebutkan nama Alex, hanya berguman dan memanggil Alex dengan sebutan Aa'.
Alex semakin bergairahh, entah sejak kapan ia sudah membuka semua pakaian keduanya yang tersisa. Alex mengabsen semua yang ada dalam tubuh Ayu dengan bibirrnya, tanpa kecuali. Ayu kembali memanggil dan menyebut nama Alex dalam desssahhannnya. Alex menancapkan miliknya yang sudah siap siaga sejak tadi, dan Ayu langsung membuka matanya. Ia terkejut, Alex sudah berada diatasnya, mengayun naik turun berirama.
"Aa'?" panggil Ayu, diantara kenikmatan dan pertanyaan besar.
"panggil namaku sayaaangg..." pinta Alex berbisik tepat ditelinga Ayu dan tetap mengayun.
"Alex?" tanya Ayu sedikit bingung
"ya...yess...lagi...panggil namaku lagi yanggg...oh...oh..." rancau Alex, semakin kencang mengayun.
"Al....Al... oh Alex..." Ayu terbawa suasana dalam kenikmatan tiada tara.
💖💖💖
Pagi menyapa, hari senin ini harusnya ada rapat penting di kantor, tapi Alex enggan meninggalkan tempat tidurnya. Ayu masih pulas bersandar di lengan kokoh Alex, tidur dalam pelukan sang suami dengan damai. Salah satu tangan Alex mengelus pipi Ayu, menyingkirkan beberapa rambut yang menutupi wajah cantik sang istri. Rambut Ayu panjang hampir melebihi pinggangnya, ada sedikit gelombang diujung rambut lurusnya yang berwarna hitam pekat dan sangat lebat. Alex mengelus rambut halus yang beraroma khas sampho miliknya. Ia mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan, hidung Ayu tidak semancung dirinya, tapi juga tidak pesek, proporsional diwajah Ayu yang oval. Alex menggesekkan hidung mereka, Ayu menggeliat, matanya terbuka berlahan, ia tersenyum, manis sekali, Alex tidak tahan untuk tidak mengecupnya, sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali. Ayu terkekeh, Alex mengangkat dagu Ayu dengan ujung ibu jarinya. Lalu melummatt bibir ranum itu dengan rakus... Ayu pasrah, ketika Alex berangsur keatas tubuhnya. Tangan Alex tak tinggal diam, menjelelajah dengan bebas ke tubuh tak berpenghalang itu.
"say my name baby...." rancaunya serak
Ayu menurut, memanggil namanya dengan merdu dan mendayu seiring tubuh Alex yang mengayun naik turun.
💖💖💖
Dering telepon berulang kali berbunyi kencang ketika Alex baru saja keluar dari kamar mandi, Ayu masih ada didalamnya, belum selesai dengan urusannya saat Alex meninggalkannya.
"ya..." ucap Alex menjawab panggilan telepon dari asistennya di kantor.
"maaf Pak, rapat sudah hampir dimulai..." suara asistennya agak ragu, selama ini tak pernah sekalipun Alex terlambat ke kantor, tapi hari ini, sang asisten tidak yakin kalau Alex melupakan rapat penting pagi ini.
"WFH aja saya pimpin rapat dari rumah, sambungkan koneksi ke sini" perintah Alex.
Alex masih mengenakan baju rumahan ketika membuka laptop dipangkuannya, bahkan rambutnyapun belum ia rapikan setelah tadi mandi keramas. Ini seperti bukan Alex yang biasanya tampil rapi dan perfeksionis. Koneksi tersambung, diruang rapat ada para petinggi perusahaan yang sudah siap berjajar mengikuti rapat.
"pak?!" Ben yang merupakan asistennya memekik kaget, lalu mematikan koneksi. Segera ia menghubungi ponsel Alex.
"kenapa?!!" jawab Alex ketus setelah telepon tersambung.
"maaf Pak, itu....hmmm...Bapak masih menggunakan pakaian santai....apakah yakin akan tetap memimpin rapat?" tanya Ben dengan hati-hati.
"memangnya kenapa?!" tanya Alex balik dengan ketus.
"hmmm....tadi ada istri Bapak yang terlihat dari kamera..." Ben mencari alasan yang menurutnya masuk akal.
Alex segera membalikkan badan, dan benar saja Ayu masih menggunakan bathrop sebatas lutut yang memperlihatkan betis rampingnya yang mulus dan rambutnya tergelung handuk kecil, hingga tampak tengkuk lehernya yang putih bersih. Muka Alex memerah, marah entah pada siapa, tapi yang jelas Alex tidak rela siapapun melihat Ayu dalam keadaan seperti itu.
"tunda rapat setelah makan siang!" Alex menutup telepon.
💖💖💖
Papa Dave memasuki ruangan kerja di kantor Alex dengan tergesa.
"Al...apa yang terjadi tadi diruang rapat?" Dave berseru segera setelah membuka pintu.
"nothing" jawab Alex santai.
"bagaimana bisa kamu mau memimpin rapat dengan pakaian rumahan, dan Ayu terlihat jelas di kamera, mana profesionalismemu?" papa Dave bertanya sambil mengencangkan kedua rahangnya.
Alex melihat papa sekilas, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.
"persiapkan minggu depan ke Canada, rapat investor harus hadir, ada beberapa dokumen yang memerlukan tandatanganmu. Ingat, kamu belum menyelesaikan pekerjaanmu disana, malah tiba-tiba pulang...." sambung papa Dave sambil duduk dihadapan Alex.
Memang Alex belum berencana untuk pulang waktu itu, dia sangat merindukan Stella, dia hanya tidak bisa melampiaskan pada wanita lain karena cintanya pada wanita itu. Tak mengira ternyata malah dibalas dengan pengkhianatan Stella. Kemarahan
dan kekecewaan Alex malah membawanya pada kecelakaan yang menyebabkan kedua orang tua Ayu meninggal hingga ia harus menikahi Ayu dengan terpaksa.
Alex menghentikan kegiatannya, menarik nafas dalam.
"Al ajak Ayu pa, biar sekalian bulan madu" bujuk Alex
Kalau saja perginya sebelum hari sabtu kemaren, mungkin Alex tidak keberatan. Bahkan 2 bulan yang lalupun ia sangat sibuk dengan pekerjaannya, untuk mengalihkan semua perhatiannya dari memikirkan Stella dan pernikahan dadakannya, bahkan ia pulang selalu larut malam dan kembali ke kantor ketika pagi masih menyapa dunia. Alex tidak pulang kerumah orangtuanya dimana ada Ayu yang tinggal di kamarnya. Tapi Alex memilih pulang ke apartemen yang baru dibelinya sesaat setelah pernikahannya dengan Ayu. Maksudnya adalah agar mereka bisa tidur terpisah, berbeda bila tinggal dirumah orangtuanya. Namun keinginan itu dihalangi oleh papa Dave, alasannya Ayu sedang mempersiapkan untuk pendaftaran kuliah dan lain sebagainya, Ayu butuh teman dan bimbingan, sedangkan di apartemen dia akan tinggal sendirian, karena papa Dave tahu, bagaimana watak Alex yang dingin dan gila kerja. Hal itu bisa menyiksa Ayu dan tidak bisa konsentrasi untuk persiapan ujian masuk kuliahnya.
"bagaimana bisa ajak Ayu, sebentar lagi pengumuman masuk kuliahnya, disana pekerjaanmu sangat padat, masih ada waktu seminggu untukmu bulan madu, didekat2 sini saja" putus Dave lalu berjalan keluar ruangan Alex.
Alex menyentuh kedua pelipisnya dengan penuh tekanan. Tidak bisa dibayangkan dia akan meninggalkan Ayu ke negara yang jauh dalam waktu yang mungkin akan lama.
Alex membereskan berkas-berkas dokumen yang masih berserakan diatas mejanya, pikirannya sudah tidak fokus bekerja, lalu ia keluar dari kantor, ia ingin cepat pulang, ia merindukan Ayu, menghidu aroma tubuh Ayu yang wangi bunga segar, yang sampai saat ini Alex belum tau minyak wangi apa yang dipakai oleh istrinya itu.
💖💖💖
Alex benar-benar memanfaatkan waktu satu minggunya untuk mengurung Ayu dalam kamarnya, ia janji akan mengajak Ayu jalan-jalan ke luar negeri nanti kalau Alex sedang dalam masa santai, untuk saat ini pekerjaannya diluar negeri sangat padat.
Seminggu berlalu, dan hari ini Alex harus berangkat ke luar negeri, ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan disana, Ayu memaksa untuk ikut mengantar ke bandara, ia belum pernah menginjakkan kakinya di bandara internasional ini, apalagi sampai terbang menaiki pesawat, itu dulu hanya mimpi baginya, karena suatu hari nanti Alex janji akan mengajaknya. Sebenarnya Alex tak ingin diantar Ayu, itu hanya akan membuatnya berat meninggalkan Ayu, kalau meninggalkan Ayu dirumah akan lebih mudah baginya karena hampir setiap hari ketika ia berangkat ke kantor pun ia meninggalkan Ayu dirumah.
Sepanjang perjalanan menuju bandara sampai sebelum Alex masuk boarding pass, kedua tangan mereka saling bertaut, seakan tak ingin terlepas. Alex memeluk Ayu dengan erat seakan-akan meninggalkannya dalam waktu yang sangat lama...dan entah kenapa Ayu terus meneteskan airmatanya tanpa henti, seakan-akan takut tidak bisa bertemu suaminya lagi.
Suara pengumuman untuk penerbangan Alex terdengar, lalu ia menangkup kedua pipi Ayu dengan telapak tangannya yang besar, mengusap airmata Ayu dengan ibu jarinya perlahan, mengecup kening Ayu dengan sangat lama, lalu menempelkan kedua hidung mereka menggesekkannya dan terakhir ia mengecup bibir istrinya sekilas.
"jaga diri baik-baik ya, kuliah yang bener, jangan lirik2 cowok manapun, inget kamu udah punya suami!!" pesen Alex.
Ayu tak dapat menjawab apapun, ia hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanda mengiyakan pesan Alex untuknya. Alex melepaskan tangannya lalu bergerak maju menuju pintu masuk penerbangan tanpa menoleh lagi. ia tau kalau ia menoleh lagi kearah Ayu pasti airmatanya jatuh, ia sudah sangat menahan diri sedari tadi untuk tidak menangis dihadapan Ayu.
Alex pergi bersama Ben, ini akan memakan perjalanan yang sangat panjang, dan sepanjang perjalanan itu Alex merasa ada sesuatu yang hilang dari hatinya, apakah Alex sudah benar-benar jatuh cinta pada Ayu? Dan, Ayu kembali ke rumah orang tua Alex bersama supir. sepanjang perjalanan ini ada sesuatu yang hilang dari sisi hatinya. Apakah ia sudah jatuh cinta pada Alex?
💖💖💖
Papa Dave menerima sebuah amplop coklat di meja kantornya, Luna mengatakan tadi ada orang yang mengirimkannya, isinya adalah surat-surat penting dari KUA milik Alex. Papa Dave membawanya pulang. Ketika sampai dirumah ternyata rumah dalam keadaan sepi.
"kemana Ayu dan mamanya?" tanya Dave kepada mbak Sri yang kebetulan membukakan pintu.
"Nyonya belum pulang sedari tadi pagi pergi Tuan, dan nona Ayu baru saja masuk ke kamarnya setelah tadi mengurus taman" jelas mbak Sri
Papa Dave lalu menaiki tangga menuju kamar Alex dengan membawa amplop ditangannya, ternyata pintu kamar Alex tidak ditutup dengan rapat, dan papa Dave leluasa untuk masuk ke dalam kamar itu.
Papa Dave tidak menemukan Ayu didalam kamar, amplop coklat ia letakkan diatas meja, ternyata diatas meja itu laptop Ayu terbuka, dan terlihat jelas disana ada pengumuman penerimaan mahasiswa baru yang terpampang jelas nama Annissa Ayu disana, papa Dave sangat bangga.
Pintu kamar mandi terbuka dan Ayu keluar hanya mengenakan handuk dibatas dada sampai dengan pahanya, dan itu sangat terlihat jelas oleh papa Dave, ia mematung seakan waktu berhenti menyaksikan keindahan didepan matanya. Ayu terkejut, dan reflek menutupkan kedua tangannya didepan dadanya. Ia tidak menyangka papa Dave akan masuk ke dalam kamarnya. Bersamaan dengan itu tiba-tiba dari arah pintu mama Jessica berteriak histeris.
"papa, apa yang kamu lakukan disini?!!" matanya melotot kearah Ayu yang masih mengenakan handuk dengan tubuhnya yang setengah basah.
Mama berangsur maju kedepan Ayu dengan tergesa dan menampar pipi Ayu dengan kencang.
"dasar jallang kecil, kamu menggoda suamiku ya?!" teriak Mama Jessica tepat didepan wajah Ayu, hingga memyemprotkan air liurnya tepat dimata Ayu.
Ayu merasakan perih dibagian bibirnya, terasa aliran darah dari sudut bibirnya yang terasa asin dan anyir. Ayu meneteskan airmatanya, kepalanya menggeleng, ia tidak melakukan apa-apa pikirnya. Papa Dave yang tetiba sudah berada dalam kamarnya. Tetapi kata-kata itu hanya keluar dari dalam hatinya saja.
Papa Dave masih shock dengan apa yang terjadi barusan, kejadiannya sangat cepat, dan jantungnya seperti berhenti berdetak, ia masih mematung, hingga mama Jessica berlari kearahnya dan memukul dadanya dengan sangat kencang. Emosi membuatnya kalap dan lupa diri.
Tiba-tiba papa Dave jatuh tersungkur dilantai, membuat suara yang keras, dan keributan itu membuat beberapa langkah kaki berlari naik ke lantai atas, untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi dikamar Alex.
Ibu Maesaroh dan mbak Siti muncul tergesa, mama Jessica berteriak minta tolong, mbak Sri segera berlari kebawah untuk memanggil satpam dan supir untuk membawa papa Dave ke Rumah sakit, ibu Maesaroh langsung menyuruh Ayu untuk segera berpakaian, dan mama Jessica masih berteriak memaki Ayu.
Papa Dave sudah dibawa ke rumah sakit, mama Jessica melarang Ayu ikut, malah mengusir Ayu untuk segera berkemas dan keluar dari rumahnya.
Didalam kamarnya Ayu termenung, pipinya memar ada bekas telapak tangan memerah, diujung bibirnya sobek dan menyisakan darah kering. Ayu melihat kosong didepan laptop yang masih terbuka itu lalu menutupnya, ia tadi sudah melihat pengumuman itu dengan hati yang membuncah ingin segera memberitahukan khabar ini kepada Alex, tapi keinginan itu tertunda karena ternyata ponselnya mati karena kehabisan daya, ia mengisi dayanya lalu ditinggal mandi terlebih dahulu, rencananya ia akan menghubungi Alex setelah mandi. Tetapi rencananya belum dilakukannya karena kejadian papa Dave yang masuk kedalam kamarnya.
Pandangannya menyapu meja dan mendapati amplop coklat yang mungkin tadi dibawa oleh papa Dave. Ayu membukanya, itu adalah 2 buku akta nikah dari KUA. Ayu membuka salah satunya yang bertuliskan untuk istri. Lalu Ayu menyimpan amplop itu didalam laci yang biasa Alex gunakan untuk menyimpan dokumen.
💖💖💖
Alex mendapat khabar tentang papanya yang masuk ICU dan semua cerita mama Jessica tentang Ayu menurut versinya. Alex segera memesan tiket pesawat saat itu juga dan berkemas. Alex sampai ke Indonesia dan langsung menuju Rumah sakit tempat papanya dirawat. Didapatinnya mama Jessica yang sedang berpelukan dengan seorang pria didepan ruang ICU. Ia memanggil mama Jessica dan itu membuat pelukan itu merenggang, Jessica terlihat terkejut dan canggung, Alex menyadari itu, lalu dia melihat pria yang belum dikenalnya itu tersenyum kikuk.
"bagaimana papa?" tanya Alex kepada mama
"papa terkena serangan jantung, masih koma, kata dokter kemungkinannya kecil untuk selamat" jelas mama Jessica memperlihatkan muka sedihnya dengan air mata yang menggenang.
Alex menarik nafas panjang, ia lelah, baru beberapa hari yang lalu perjalanannya ke Luar negeri, langsung mengerjakan tugasnya yang sudah menanti, dan sekarang sudah kembali lagi ke negaranya langsung dihadapkan pada kenyataan yang pahit, bahkan jetlag nya saja belum hilang sepenuhnya.
Alex duduk diruang tunggu bersama mama yang terus saja mengoceh melaporkan apa saja yang sudah dilakukan Ayu bersama papa. Berduaan didalam kamar dengan masih mengenakan handuk, ketika mama tidak berada dirumah. Mereka berdua sering pergi bersama dengan alasan membeli buku kuliah, papa mengantarkan Ayu ke universitas. Mama sering mendapati keduanya serius berdiskusi mengenai dunia pendidikan dan bisnis, bahkan mereka bersama-sama menanam bunga-bunga yang ada ditaman belakang rumahnya.
Mendengar semua itu membuat hati Alex menjadi panas dibakar api cemburu. Selama ini Alex tidak memperhatikan hal itu. Tapi dengan adanya cerita mamanya Alex berfikir kilas balik bagaimana dulu papanya memaksanya untuk menikahi Ayu, memaksanya tinggal dirumah orangtuanya, dan ternyata memang selama ini semua kebutuhan Ayu dibelikan oleh papanya.
Belum sampai Alex berpikir jernih, dokter keluar dari ruang ICU dengan tergesa, dan mengabarkan bahwa papa Dave tidak dapat diselamatkan. Hati Alex mencelos, tak menyangka papanya akan pergi secepat itu.
💖💖💖
Alex kembali ke rumah orangtuanya setelah semua urusan pemakaman papa Dave selesai. Dan selama proses itu pula mama Jessica tidak mengijinkan Ayu untuk terlibat dalam urusan papa Dave sedikitpun, sehingga Alex belum sekalipun bertemu dengan Ayu sejak kepulangan dadakannya ke negara ini. Dia tidak ingin bertemu dengan Ayu dalam keadaan marah atau sedih, karena dia masih memendam rindunya untuk sang istri.
Namun setelah bertemu langsung dengan Ayu didalam kamarnya yang penuh kenangan keduanya itu, yang terjadi hanya kekecewaan dihatinya. Melihat mata Ayu yang sembab dan merah karena terlalu lama menangis membuatnya sangat kecewa, apakah Ayu bersedih hati karena kehilangan papanya? Hingga menangis berlarut-larut?
Masih segar diingatannya ketika papa Dave memandang Ayu dengan cara yang berbeda. Ditambah dengan banyaknya cerita yang masuk ketelinganya, baik dari mama Jessica, mbak Sri, bu Maesaroh, atau satpam dan supir. Adakah kebenaran tentang hubungan keduanya? Meski dàlam hati terdalamnya ia tidak percaya Ayu seperti itu. Ia masih meyakini ialah yang pertama buat Ayu, dan Ayu menjaganya selama ini untuknya. Namun ia sungguh terpengaruh oleh laporan mama Jessica tentang hubungan Ayu dan papa. Dan itu membuatnya sangat muak dan trauma disebabkan oleh Stella.
"kemasi barang-barangmu, besok pagi supir akan mengantarkanmu kembali ke rumah orangtuamu" perintah Alex dengan kejam. Ia bahkan belum menanyakan tentang kejadian yang sebenarnya kepada Ayu.
Ayu terkejut, kemaren mama sudah memperingatkannya untuk angkat kaki dari rumah ini, Ayu masih bertahan karena menunggu kepulangan Alex sebagai suaminya. Tapi kini, Alex sendirilah yang memerintahkannya dengan dingin.
Ayu mengangguk patuh.
Alex keluar dari kamar tanpa menoleh lagi, ia menuju kamar tamu, dan berbaring disana. Jiwa raganya lelah. Hatinya kecewa, pikirannya kacau, ia mengambil keputusan dalam keadaan emosi yang tidak stabil.
💖💖💖
Ayu sudah sampai didepan rumah masa kecilnya, ada bibi yang menyambutnya didepan dengan senyum merekah. Ayu meletakkan tas ransel yang dulu dibawanya, ia hanya membawa pulang apa yang dulu dibawanya pergi. Semua barang yang dibelikan Alex dan papa Dave ia tinggalkan dirumah suaminya. Pakaian, tas, sepatu, Handphone, Laptop, buku-buku, semua perhiasan dan kartu yang mungkin berisi uang puluhan atau bahkan ratusan juta, ia tak tau pastinya, hanya saja papa Dave pernah bilang Ayu bisa membeli apapun dengan kartu itu.
Ayu memeluk erat bibi dengan derai airmata yang tak dapat dibendungnya. Bibi tau apa yang dirasakan Ayu, semalam Ayu sudah mengirimnya banyak pesan, ada foto buku nikah dan foto Alex yang pernah diambil melalui ponselnya tanpa sepengetahuan Alex.
Mereka kini sudah berada di kamar Ayu, Bibi tak membiarkan Ayu sendiri, ia ingin Ayu berbagi cerita dengannya. Bibi tidak bisa mendengar tapi bisa memahami dengan gerak bibir, Bibi bisa membaca dan menulis, Bibi hanya tidak bisa berbicara dengan normal.
Ayu menceritakan semua kejadian tentang papa Dave, dari awal hingga papa Dave meninggal dunia, tentang tuduhan mama Jessica yang ditujukan padanya. Dan tentang Alex yang bahkan belum mendengarkan penjelasan darinya.
Bibi bertanya, apakah Ayu sudah diceraikan Alex? Ayu menjawab tidak tahu, tidak ada ucapan talak darinya, hanya akan diantarkan kembali ke rumah orangtuanya, apakah itu artinya Alex sudah menceraikannya? Ayu belum pahami itu. Umurnya baru saja 19 tahun, dan umur pernikahannya baru 3 bulan, bila benar bercerai maka ia menjadi janda diusia belia.
Bibi mengangguk mengerti, Bibi sudah melihat dari awal bagaimana Alex menolak keras menikahi Ayu ketika papa Dave memintanya di depan ruang tunggu IGD saat Abah masih dirawat pasca kecelakaan. Dan selama ini Alex pun belum pernah datang kerumah ini, baik ketika pemakaman Abah dan Ambu hingga tahlilan tujuh harinya, sampai menjemput dan mengantar Ayu pun hanya diwakilkan oleh supir. Dari situ Bibi sudah bisa menilai bagaimana Alex tidak menginginkan Ayu sama sekali. Bibi menyarankan kepada Ayu untuk menunggu dirumah sampai 3 bulan kemudian sebagai masa iddahhya baru setelah itu Ayu boleh melangkah jauh. Ayu masih muda dan masa depan Ayu masih sangat panjang.
💖💖💖
Celotehan bocah yang baru berumur 2 tahun itu menggema memenuhi ruang makan mungil dirumah kecilnya yang asri. Ayu memberinya nama Alfairus Abraham, kecerdasannya diatas rata-rata anak seusianya. Alfa bisa berbahasa inggris dengan fasih ketika berbicara dengan Ayu, dan berbicara bahasa indonesia dengan sopan kepada nenek Sekar dan 3 pegawai Mommy di AA Florist yang didirikan Ayu sebagai mata pencahariaannya selama 3 tahun terakhir ini.
Ya, selama masa penantian itu Ayu berinisiatif untuk mendirikan toko bunga di atas tanah kosong milik Bibi Sekar didaerah puncak tak terlalu jauh dari rumah orangtuanya yang ditinggali Bibi. Genap 3 bulan tanpa kabar apapun dari Alex, maka Ayu pindah ke rumah mungil sekaligus toko bunga yang dia bangun menggunakan uang mahar 300juta dari Alex yang dulu ia simpan direkening Bibi sebelum pergi ke rumah Alex. Tempatnya sangat strategis, dipinggir jalan raya menuju puncak, sangat dekat dengan banyak hotel dan vila.
Beberapa hari setelah kepindahan itu, Ayu baru menyadari bahwa demam, pusing, dan mual yang dirasakannya adalah sebab kehamilannya. Bibi sangat terkejut ketika mendengar khabar itu, tidak menyangka bahwa dalam 3 bulan pernikahan Ayu dan Alex membuahkan benih. Ayu masih terlalu muda, harus berpisah dengan suaminya dalam kondisi hamil. Ayu harus dipaksakan untuk dewasa, tegar dan mandiri. Ia kehilangan Abah dan Ambu, kehilangan papa Dave sebagai pengganti orangtuanya juga kehilangan suaminya, tapi ia mendapatkan bayi dalam sekejap. Semuanya adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan sebagai anugerah yang harus ia jalankan dengan penuh rasa syukur.
Sarapan pagi ini Alfa minta dibuatkan bubur dengan taburan ayam suwir diatasnya, Ayu belum selesai membuatnya ketika Alfa dengan tidak sabarnya penuh celoteh dan tuntutan diruang makan itu. Dan ketika Ayu keluar dari dapur, Alfa sudah tidak ada ditempatnya.
Ayu mencari Alfa keluar rumah melalui pintu samping yang berhadapan langsung dengan halaman yang ia bangun untuk tempat bermain outdoor, ada ring basket yang tingginya disesuaikan dengan tinggi badan Alfa dan gawang kecil tempat Alfa bermain bola. Namun Ayu tak menemukan Alfa dilapangan. Ayu melihat pintu pagar terbuka lebar, Ayu melangkah dengan cepat, pintu pagar itu menuju taman yang ia gunakan untuk menanam berbagai macam tanaman bunga yang akan dia jual dalam berbagai pot dan polybag. Dan itu berbatasan langsung dengan jalan raya. Ada pak Maman penduduk setempat yang Ayu pekerjakan untuk mengurus taman itu yang sedang menyiram tanaman, tapi tak menemukan Alfa, Ayu segera berlari keluar dan memanggil nama Alfa dengan kencang.
"Al....?!!!"
Ayu berhenti berlari melihat Alfa diam mematung dipinggir jalan, Ayu memanggil sekali lagi, Alfa menjawab tapi tidak mengalihkan pandangannya. Ayu menelusuri arah pandang Alfa, dan terkejut membelalakkan matanya, Ayu ikut mematung, waktu seakan berhenti berputar, dadanya naik turun, dengan cepat ia mengatur nafasnya. Ia segera menundukkan pandangannya ketika beberapa detik kedua netranya bersiborok dengan mata indah pria yang pernah menjadi suaminya.
Dihadapannya berdiri sosok laki2 yang baru muncul setelah 3 tahun ini. Ia mengenakan kaos tshirt polo, celana pendek berwarna putih, dan sandal selop santai, disebelahnya ada seorang wanita berambut blonde dan berwajah bule sedang hamil besar menggandeng sebelah lengan tangannya, dan sebelahnya lagi ia masukkan kedalam saku celana.
"Mommy.... is he my Daddy?" tanya Alfa polos. Matanya masih tetap melihat ke arah Alex meski dia bertanya kepada Ayu. Ayu tak mampu menjawab.
Alfa setiap hari diajarkan Ayu untuk mendoakan Daddy sambil memeluk dan mencium foto Alex sebelum ia tidur, tentu saja anak itu hafal betul muka Daddy nya. Yang tidak disangka-sangka adalah pertemuan Alfa dan Alex secepat ini, ditempat ini. Dan Ayu tidak memperkirakan hal ini.
Alex maju beberapa langkah meninggalkan wanita bule itu, dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Alfa, Alex memegang kedua pipi Alfa dan mengelusnya dengan lembut. Tanpa tes dna pun ia tahu, kalau bocah dihadapannya ini adalah putranya. Rambut coklat ikalnya, hidung tinggi mancungnya, kulit putih pucatnya, dan mata hazel itu tak bisa membohongi bahwa anak ini adalah fotokopi dirinya sewaktu kecil.
"Al, aku kembali ke hotel, kamu selesaikan dulu masalahmu disini" Alex mengangguk, perempuan itu berlalu.
Alex masih bergeming ditempatnya sampai Alfa meraih tangannya dan mengajaknya masuk
"come on Daddy, welcome home..." Alfa menggandeng tangan Alex. Mereka masuk melalui pintu depan yang merupakan toko bunga bersambung kedalamnya berhubungan langsung dengan rumah yang ditempati oleh Ayu dan Alfa selama kurang lebih 3 tahun ini.
Ayu menyusul keduanya kemudian, masuk melalui pintu samping yang berhubungan langsung dengan taman dan lapangan mini tempat Alfa bermain.
Mereka bertemu diruang tengah, pandangan Alex tak lepas dari wajah Ayu. Alfa mengajak Alex duduk di sebuah sofa panjang berwana abu-abu metalic dan dibawahnya dipasang karpet bulu dengan warna senada. Dihadapannya terpampang televisi 32 inchi yang menempel ditembok sedang menayangkan acara discovery tentang alam semesta menggunakan bahasa inggris.
"Daddy, Why did it take you so looong time to come here?" tanya Alfa setelah mereka berdua duduk dengan kedua tangan yang direntangkan panjang ketika mengucapkan kata "long".
Sedangkan Ayu bergegas ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya tadi menyiapkan sarapan Alfa.
Alex tak dapat menjawab pertanyaan itu, matanya masih mengikuti kemana Ayu bergerak. Hingga Alfa menanyakan ulang pertanyaannya.
"Daddy...where have you been all this time? I always pray every night to meet you"
Alex hanya tersenyum, anak sekecil ini sudah membuat pertanyaan yang sulit dijawab, bagaimana ia bisa tahu kalau Ayu tinggal disini? sudah lebih dari 2 tahun ini dia mencari keberadaan Ayu.
Setelah kepergian Ayu dari rumahnya pada hari itu, Alex langsung terbang ke Canada untuk menyelesiakan pekerjaannya. Sepeninggal Dave, semua urusan perusahaan Alex yang menangani. Alex adalah putra tunggal Dave dan Jessica, jadi semua perusahaan milik Dave jatuh ketangan Alex, termasuk sebuah Hotel yang baru setahun ini mulai beroperasi, letaknya tidak jauh dari rumah Ayu, cukup jalan kaki, dalam 2 tahun terakhir ini Alex beberapa kali mengunjungi Hotel miliknya termasuk ketika awal pembukaannya. Itu artinya Alex sering melewati rumah ini. Rahasia takdir tak ada yang tau, kalau saja tadi ia menolak Imelda yang mengajaknya jalan-jalan pagi, mungkin ia tak akan bertemu dengan Ayu dan Alfa, putranya.
"Al..." panggil Ayu, dan 2 laki-laki beda generasi ini sama-sama menoleh, Ayu baru sadar, jika nama panggilan keduanya sama. Ayu sudah menyiapkan sarapan dan mengajak keduanya untuk makan.
"Daddy...Let's breakfast, Mommy make my favorite delicious Bubul Hayam" ajak Alfa menarik pergelangan tangan Alex.
Alex mengikutinya dan duduk dikursi, sedang Alfa digendong oleh Ayu dan mendudukkannya diatas baby chair khusus miliknya. Semua pergerakan Ayu tak luput dari pengamatan Alex.
Alex baru benar-benar memperhatikan wajah Ayu, masih polos tanpa make up sama seperti dulu hanya saja sekarang semakin dewasa dan mengenakan pakaian syar'i tertutup dengan hijab lebar, berbeda dengan 3 tahun lalu yang lebih suka mengenakan tunik dan pasmina khas anak remaja.
Mereka makan bertiga bagai satu keluarga utuh. Dan ini membuat hati Ayu semakin tertusuk duri, bubur dimulutnya terasa hambar, meski makanan itu lembek, tapi sangat alot ketika Ayu menelannya. Ia mengingat dengan jelas, tadi Alex bergandengan tangan dengan seorang perempuan yang sedang hamil besar, dan itu pasti istrinya batin Ayu, dan hal itu membuat dada Ayu menjadi sesak.
Alfa makan dengan patuh, tak berceloteh lagi, masih sedikit berantakan bubur dimeja dan mulutnya, Ayu sudah membiasakan Alfa makan sendiri mengajarinya disiplin dan mandiri sejak dini.
Dalam hati Alex sangat mengagumi istrinya dalam mendidik Alfa, ya... Ayu masih istrinya, dia belum menceraikan Ayu, belum juga menalaknya, Memang dulu ia sempat kecewa dengan Ayu, tapi ternyata semua yang dikatakan oleh mamanya tidak terbukti benar.
Setelah Alex menyelesaikan pekerjaannya diluar negeri dan kembali ke Indonesia, Alex mengecek semua CCTV dirumah itu dan bertanya kepada semua penghuni rumah. Hubungan papa dengan Ayu hanya sebatas ayah dan anak, tidak lebih dari itu. Alex tau Dave hanya bertindak sebagai pengganti ayah bagi Ayu yang telah kehilangan orangtunya.
Didalam kamarnya, Alex menemukan laptop dan ponsel Ayu yang dibelikan papa Dave dalam keadaan mati, ia menghidupkannya, tak ada kunci atau kata sandi, sehingga mudah mengecek isi didalamya, hanya ada percakapan singkat dengannya dan papa Dave tentang informasi kuliah. Daftar kontakpun hanya ada namanya dan papanya.
Alex membuka laci lemari, ada amplop coklat yang didalamnya ada 2 buku nikah, cincin nikah, dan kartu debit yang diberikan papa Dave. Alex membuka lemari Ayu, semua pakaian dan perlengkapan milik Ayu masih tertata rapi. Alex tertegun, Ayu hanya membawa pulang kembali barang yang dibawanya kesini.
Dan, 2 tahun yang lalu ia mencari Ayu kerumah orangtuanya, tapi kata Bibi, Ayu sudah lama tidak tinggal disana, dan bibi bilang tidak tau Ayu tinggal dimana sekarang. Alex menyuruh orang untuk mencari keberadaan Ayu, tapi orang tersebut bilang tidak bisa menemukan jejak Ayu, seakan memang Ayu sengaja bersembunyi dari Alex. Ayu tak memiliki ponsel, tak ada akun media sosial, dan tidak ditemukan rekening bank atas nama Annissa Ayu. Bahkan Alex sampai memeriksa semua daftar mahasiswa baru disemua universitas, tak ada jejak Ayu, dan mereka kesulitan berkomunikasi dengan Bibi. Padahal Ayu hanya tinggal tidak lebih 10km dari rumah Abah.
💖💖💖
Alex masih menemani Alfa bermain basket dilapangan mini, setelah sebelumnya Alfa mengajak Alex ke kamar mungil yang difungsikan sebagai ruang belajar Alfa, ada rak buku yang penuh dengan buku cerita full color, ada meja dan kursi kecil yang khusus untuk Alfa belajar membaca, menulis dan mewarnai. Ada kotak kontainer yang berisi berbagai macam mainan edukasi, mobilan, robot, dan berbagai macam hewan. Sepertinya Alfa hidup dengan baik bersama Ayu, meski hidup dari berjualan bunga dan tanaman hias lainnya.
Ayu berada di toko bunga miliknya, akhir pekan biasa ramai pengunjung, ada banyak pula pelanggan yang memesan lewat online. Biasanya ketika dia sibuk ditoko Alfa akan belajar dan bermain sendiri, dan sesekali Ayu akan mengecek kegiatan Alfa.
Hari ini ada Alex yang menemani Alfa bermain, tapi bukannya tenang, Ayu justru khawatir, takut jika suatu ketika Alex akan membawa Alfa pergi darinya. Mereka belum berkomunikasi dengan benar sejak pertemuan tadi pagi.
Sekarang tepat jam 10 pagi biasanya adalah waktunya Alfa minum jus atau makan buah dan snack. Ayu menyiapkan 2 gelas jus strowbery dan beberapa mini cupcake. Ayu meletakkannya di nampan dan membawanya ke pinggir lapangan, ada meja bulat kecil dan 2 kursi.
"Alfa...cemilannya Mommy letakkan disini ya?" Setelah mendengar jawaban Alfa, Ayu bergegas masuk kembali. Hari ini ada banyak pesanan bucket bunga segar. Hanya ada 2 pegawai wanita yang membantunya didalam toko, dan pak Maman dibagian luar.
Alfa dan Alex menghentikan bermain bolanya dan beranjak menuju meja kecil dengan 2 kursi yang berhadapan, mereka meminum jus strowbery yang segar dan memakan cemilan manis buatan Ayu.
Alfa bercerita banyak hal disela-sela mengunyah cemilannya. Dari situ Alex tahu, Ayu berjuang sendiri dalam mendidik dan membesarkan Alfa, juga mengelola toko bunga miliknya. Alex merasa sangat bersalah karena waktu mengambil keputusan untuk memulangkan Ayu kerumah orangtuanya dalam keadaan emosi. Saat ini belum ada kesempatan mereka untuk berbicara, ia akan menunggu waktu yang tepat.
Kumandang adzan dzuhur bergema, waktunya toko tutup selama 1 jam untuk beristirahat sholat dan makan. Ayu masuk kedalam rumah dan mendapati Alfa dan Alex sedang berada diruang belajar. Melihat Ayu ada diambang pintu ruangan, Alfa segera menghambur kepelukan Ayu...
"Mommy... Daddy said want to sleep with me tonight, is it okey? please..." dengan puppy eyes nya Alfa memohon dan menangkupkan kedua tangan mungilnya.
Pandangan Ayu bertemu dengan Alex yang mengisyaratkan permohonan, besok ia harus kembali ke Jakarta, jadi seharian ini ia ingin bersama Alfa dan ingin menanyakan banyak hal pada Ayu.
Ayu mengangguk, dan itu membuat Alfa bersorak melompat dengan senang. Ayu mengajak keduanya untuk makan siang. Tadi ia sudah memasak soto ayam sewaktu membuatkan Alfa bubur ayam, jadi sekarang tinggal menghangatkan sebentar.
"tokonya tutup?" tanya Alex ketika menunggu Ayu menyiapkan makan siang untuk mereka bertiga.
"iya, hanya 1 jam untuk istirahat makan siang dan sholat" jawab Ayu.
"terus pegawai kamu?" Alex sempat bertemu dengan 2 pegawai wanita Ayu ketika masuk rumah melalui toko bersama Alfa tadi pagi.
" mereka pulang, nanti jam 1 siang akan kembali lagi"
"rumahnya dekat dari sini" sambung Ayu karena melihat kening Alex berkerut.
Alex menganggukkan kepalanya tanda mengerti. sedangkan Alfa sudah siap dengan sendok dan garpu dikedua tangannya.
"mmm...Mommy, where is the food?" tanya Alfa dengan nada yang lucu sambil matanya menyapu meja yang hanya ada nasi dipiringnya.
Ayu segera mengambil soto yang baru saja dia hangatkan diatas kompor, dan membaginya kedalam 3 mangkok, lalu menyediakannya diatas meja.
Mereka makan dengan tenang. Alfa meniup makanan disendoknya sebelum masuk kemulut mungilnya. Alex hendak bertanya namun dia tahan, nanti menunggu waktu yang tepat. Sedangkan Ayu memikirkan nanti malam Alex akan tidur dimana? mengingat kamarnya hanya 1 dengan ranjang queen size, tidak akan cukup bertiga, kalau diminta tidur diruang tengah apakah sopan?
Seusai makan Alfa seperti biasa akan tidur siang, dan meminta Alex untuk menemaninya sambil membacakan buku cerita. Alex tidak menolak dan Ayu tidak bisa melarang. Ia lebih memilih meninggalkan kedua anak dan ayah itu tidur siang dikamarnya, dan menjalankan ibadah diruang belajar Alfa.
Tak memakan waktu lama Alfa tertidur, mungkin dia lelah seharian ini bermain bersama Alex. Sebelum beranjak dari atas tempat tidur, Alex melihat kesekeliling kamar yang baginya sangat mungil itu, tidak ada hiasan apapun didinding kamar itu, hanya ada lemari 2 pintu dan sepasang meja kursi kecil dengan kaca rias diatasnya, tidak banyak pernak pernik skincare milik Ayu, sebagian besar adalah skincare baby milik Alfa. Matanya berhenti mengamati pigura kecil diatas nakas, itu foto dirinya, yang diambil tanpa sepengetahuannya, sepertinya Ayu pernah mencuri foto Alex tanpa disadarinya ketika mereka masih bersama. Itu sebabnya kenapa Alfa langsung mengenalinya ketika pertama kali bertemu dengannya tadi pagi.
Alex keluar dari kamar dan mendapati Ayu juga baru saja keluar dari ruang belajar Alfa. Mukanya sangat bersih dan terdapat tetesan sisa-sisa air wudhu. Ia baru saja selesai beribadah.
Alex mengajak Ayu duduk diatas sofa, ada banyak hal yang ingin ditanyakannya. Ayu menurut. Mereka duduk berdampingan.
"kenapa tidak memberitahuku kalau kamu hamil?" Alex memulai pertanyaan.
"hmmm...aku tidak tau bagaimana caranya memberitahu Aa'..." jawab Ayu setelah berpikir keras.
Dulu waktu masih menjadi istrinya Alex, mereka memang jarang berkomunikasi, dan Ayu tidak menyimpan nomer Alex.
"kamu meninggalkan handphone mu, dan aku tidak bisa menghubungimu" Alex mengambil nafas panjang.
"aku mencarimu, kerumah orang tuamu, tapi kata Bibi, kamu sudah lama pindah, dan Bibi tidak tahu kamu pindah kemana, Bibi tak memiliki nomer handphonemu" Alex bicara sambil meremas rambutnya putus asa.
"tidak ada transaksi perbankan atas namamu, tidak ada satupun namamu di universitas manapun" lanjut Alex.
"dalam dua tahun ini, aku ada beberapa kali melewati rumah ini, papa mendirikan hotel didekat sini, aku yang mengurusnya setelah papa meninggal" Alex melirik Ayu yang hanya diam.
"tidak ada yang ingin kamu jelaskan padaku?" tanyanya lagi.
Ayu melihat Alex sekilas, lalu menggeleng. Alex mengernyitkan keningnya dalam.
"kamu hamil dan melahirkan tanpa memberitahuku, pergi dari rumah orang tuamu, kamu sengaja menyembunyikan Alfa dariku?!" intonasi Alex sedikit meninggi.
Ayu menggeleng, "setelah pak Sigit mengantarku pulang kerumah Abah, aku menunggu khabar dari Aa' selama 3 bulan. Kata Bibi nggak boleh kemana-mana selama masa iddah, setelah pindah kesini, baru tau kalau aku hamil Alfa. Bibi nggak pernah cerita kalau Aa' mencariku. apakah akan memberikan surat cerai?" jelas Ayu. Pak Sigit adalah supir yang diminta Alex mengantarkan Ayu pulang, dan sebelumnya juga pernah menjemput Ayu.
"surat cerai?" tanya Alex bingung. Apakah Ayu ingin menuntut cerai darinya?
Ayu mengangguk samar, dia berfikir Alex sudah menceraikannya. Alex meraih pergelangan tangan Ayu, dan menggenggamnya erat, Ayu menariknya, mereka sudah bukan lagi mahrom pikir Ayu. Namum genggaman Alex terlalu kuat.
Suara kunci terdengar, pintu toko terbuka, rupanya Diana dan teh Wanda sudah datang, berarti sudah pukul 13.00 dan toko terbuka kembali.
Ayu segera berdiri dan meminta Alex untuk pergi, Alfa sedang tidur siang, mungkin akan sampai sore baru bangun, sedangkan ia harus kembali bekerja, ada beberapa pesanan yang belum selesai dirangkai.
Alex melepaskan genggamannya, mereka belumn selesai bicara. Alex pamit ke hotel dan berjanji nanti sore akan kembali kesini lagi.
💖💖💖
Suara tangis menggema dalam ruang tengah, Alfa bergulingan diatas karpet bulu.
"I wanna daddy...I wanna daddy..." teriak Alfa menangis meraung-raung.
Ia baru saja bertemu dengan daddy nya tadi pagi, bermain bersama hingga siang, lalu tidur dalam pelukan daddy, dan ketika dia terbangun disore hari, tak ia temukan daddy disampingnya, mencari ke sekeliling rumah dan toko juga tak menemukan daddy, apakah ia bermimpi? karena itulah ia menangis.
Ayu tak dapat membujuk Alfa, teh Wanda dan Diana pun tak dapat membantu. Bahkan Pak Maman yang biasanya sering mengajak Alfa naik motor keliling desa pun tak digubris sama Alfa. ia cuma ingin daddy nya saja.
Toko sudah tutup, ketiga pegawai Ayu sudah pulang, tapi tangis Alfa masih menggema, isak sesenggukan masih terdengar parau, air mata masih terus mengalir.
"Mommy...why did Daddy leave me again? am i do something noughty? have i been bad?" tanya Alfa masih menangis
Ayu tak dapat menjawab, hanya bisa memeluknya, seperti inilah yang ditakutkan Ayu... Ia menarik nafas panjang, mulutnya terbuka hendak bicara
"Alfa..." tiba-tiba ada suara Alex dibelakangnya, Alex berdiri didepan pintu samping rumah yang terbuka, disebelahnya berdiri wanita hamil yang bersamanya tadi pagi. ketika baru saja sampai didepan rumah ini, toko sudah tutup, tapi gerbang samping terbuka dan Pak Maman keluar hendak mengendarai motornya, jadi ia meminta pak Maman untuk mengijinkannya masuk.
"Daddy..." Alfa langsung menghambur kepelukan Alex. Alex menyambutnya. Wanita disebelahnya tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya pada Ayu.
"Hai, kenalkan aku Imelda"
Ayu menyambutnya dengan tersenyum getir, hatinya bagai tertusuk ribuan jarum, lebih sakit seribu kali dibandingkan ketika Alex menyuruhnya berkemas dan akan diantarkan ke rumah Abah 3 tahun yang lalu. Ayu takut Alex akan merebut Alfa darinya. Membayangkan hal itu, air mata Ayu menetes deras tak terkendali.
"Mommy, why are you criying?" Ayu segera menghapus air matanya. Ia menyambut tangan Imelda dan mempersilahkannya masuk.
Dirumahnya tidak ada ruang tamu hanya ada ruang tengah dengan 1 sofa panjang dan karpet tebal dibawahnya. Dia tidak biasa menerima tamu, kalaupun ada klien yang akan memesan bunga itupun di jam kerja dan dia menerimanya di toko. Maka ia mempersilahkan tamu dadakannya itu untuk duduk di sofa panjang satu-satunya, dan ia menyiapkan snack serta minuman kemasan yang ia letakkan di meja kecil ditengah ruangan itu, lalu Ayu mengambil kursi makan untuk ia duduki didekat sofa.
Alfa masih saja berada dipelukan Alex seakan takut ditinggalkan, isak tangisnya sudah berhenti berganti dengan seseggukan yg sesekali muncul.
"Haven't I already promised you that I'd be with you tonight?" bisik Alex ditelinga Alfa, Alfa mengangguk mengerti.
"Ayu, bolehkah kami bawa Alfa malam ini menginap di hotel?" tanya Alex kemudian
Ayu memejamkan matanya, baru minta ijin buat dibawa malam ini saja hati Ayu sudah tak karuan... bagaimana jika Alfa dibawa pergi selamanya? batin Ayu
Melihat Ayu hanya diam Alex melanjutkan
"besok aku harus kembali ke jakarta, dan mungkin akan lama lagi untuk kesini bertemu Alfa"
Ayu masih diam, tak bisa menjawab, hanya bisa menelan lidahnya kasar. Dalam hatinya tak rela, tapi ia bisa apa? Alex memang ayah biologis Alfa.
"Mommy, may I?" pinta Alfa disela-sela sesenggukan tangisnya yang sudah mereda.
"tapi Alfa belum mandi,bangun tidur tadi langsung cari Dadddy nya dan menangis." kata Ayu yang ditujukan kepada Alex.
" nggak papa, nanti kita mandikan di bathub Hotel dengan air hangat, ya kan sayang?" jawab Imelda sambil mengelus kepala Alfa.
Alfa mengangguk lemah.
"saya siapkan baju gantinya dulu, silahkan diminum" Ayu beranjak dari kursinya menuju kamar mengambil pakaian dan perlengkapan yang diperlukan Alfa.
Kini tinggalah Ayu sendiri dirumah mungilnya, Ini pertama kalinya Ayu sendirian dirumah ini. Awal kepindahannya kesini ditemani oleh Bibi, tak lama kemudian ada Alfa didalam perutnya yang menemani hari-hari Ayu hingga petang tadi Alfa dibawa pergi Alex dan Imelda.
Rasa sesak didada makin kuat, hingga Ayu kesulitan bernafas. Kemudian ia mengambil air wudhu dan beribadah, semua kesedihan ditumpahkan pada sang pemilik alam semesta.
Ia sudah pasrah kalau suatu hari Alex memgambil hak asuh Alfa, hanya saja ia akan meminta waktu hingga Alfa beranjak dewasa. Selama ini Ayu sudah sangat mempersiapkan Alfa untuk bisa bersanding dengan kehidupan ayahnya. Makanya ia mengajarkan bahasa inggris untuk bisa berkomunikasi dengan Alex bila suatu saat bertemu diluar negeri, tapi ternyata, baru umur 2 tahun dia sudah bertemu dengan daddynya, ini diluar perkiraan Ayu.
💖💖💖
Disebuah kamar hotel yang biasanya sepi, kini ramai dipenuhi oleh celotehan 3 anak bersaudara yang baru bertemu.
Alfa sangat antusias ketika diperkenalkan sebagai adik pada 2 anak gadis kembar yang wajahnya tak bisa ia bedakan. Setelah sampai di kamar hotel milik Alex, tadi Alfa langsung dimandikan oleh Alex. Sedangkan Imelda segera mengajak 2 putri kembarnya dikamar sebelah untuk bertemu dengan adik sepupunya. Ya, Imelda adalah kakak tiri Alex. Mama Jessica memikiki saudara kembar perempuan yang sudah lama tinggal diluar negeri dan menikah dengan papa Dave. Tapi setelah melahirkan Imelda, sang istri meninggal, dan kemudian papa Dave menikah kembali dengan mama Jessica, yang merupakan adik iparnya. Imelda mengajak kedua anak kembarnya liburan musim panas ke Indonesia, ia sedang hamil 5 bulan, tapi karena anak yang dikandungnya ini kembar, maka terlihat seperti sudah berumur 8 bulan.
Disela-sela keriuhan anak-anak, Imelda dan Alex menyusun rencana selanjutnya. Imelda sangat yakin, bahwa Ayu masih mencintai Alex, kecemburuan jelas terlihat. Ayu masih sangat muda, jadi Imelda berkesimpulan, kalau tidak mencintai Alex, pastilah Ayu sudah mengajukan cerai pada Alex dan menikah kembali. Tapi apa yang dilakukan Ayu justru sebaliknya, ia mengenalkan Alfa pada ayahnya meski melalui foto, mengajarkan untuk mendoakan ayahnya setiap malam, dan sudah mempersiapkan Alfa sedemikian rupa dengan pendidikan dan fasih berbahasa inggris sejak dini agar ketika bertemu dengan Alex, Alfa sudah benar-benar membanggakan. Dan kini kesempatan Alex untuk meraih kembali cinta Ayu.
💖💖💖
Keesokan harinya, Alex menepati janjinya, mengantarkan Alfa kembali ke rumah Ayu, karena dia masih ada banyak urusan pekerjaan dan rencana lainnya di Jakarta. Andai bisa ditunda lagi, maka ia ingin benar-benar enggan pergi dari sisi Alfa dan Ayu.
"Aku denger dari cerita Alfa semalam, dia ingin sekolah tapi dia nggak bisa mendaftar sekolah karena gak ada dokumen. Dokumen apa yang diperlukan?" tanya Alex ketika akan berpamitan keluar rumah Ayu.
Ayu berpikir, gak ada salahnya buat minta tolong Alex uhtuk membawakan surat nikahnya yang asli, atau kalau memang sudah cerai maka surat cerai yang asli yang ia butuhkan.
"Alfa belum punya Akta Kelahiran" jawab Ayu.
Alex mengerutkan keningnya dalam.
"kok bisa?"
Ayu menjawab dengan lugas, " untuk membuat akta kelahiran butuh surat nikah yang asli."
Alex tersenyum sumringah, merasa ada kesempatan untuk memjalankan misinya.
💖💖💖
Hari ini libur tanggal merah menjelang akhir pekan, long weekend ditanggal muda, sudah bisa dipastikan kalau jalanan menuju puncak akan sangat padat. Begitupun dengan pesanan yang datang ke toko Ayu sangat banyak. Bahkan besok akan ada pernikahan di hotel dekat rumah Ayu yang memesan banyak buket bunga.
Ayu beserta timnya sedang mengerjakan pesanan itu, ketika Alex tiba. Alfa sangat senang sekali bisa bertemu kembali dengan ayahnya. Hari ini katanya ia akan diajak daddy jalan-jalan dan menginap di hotel. Ayu membolehkannya, asalkan Alfa senang, iapun akan turut merasakannya. Meski malamnya dia akan kesepian tanpa Alfà.
Keesokan harinya, Alfa menghubungi Ayu untuk menjemputnya di hotel, Ayu tidak keberatan, dan tidak curiga apapun, mungkin Alex berhalangan untuk mengantar Alfa pulang, makanya meminta Ayu untuk datang ke kamar president suit di lantai paling atas. Ketika ia baru sampai di lobi hotel suasana sudah sangat meriah, banyak bunga-bunga segar yang dipajang diberbagai sudut, dan disebuah ballroom telah didekorasi panggung pelaminan untuk sebuah pernikahan megah.
Ayu sampai di depan kamar yang tadi diminta untuk menjemput Alfa, Alex membukakan pintu kamar dan mempersilahkan Ayu untuk masuk kedalam. Ayu sedikit ragu untuk melangkah, sampai Alfa menyerat dengan tangan mungilnya masuk kedalam. Didalam kamar, ternyata sangat ramai, ada Imelda yang tersenyum manis dan melambaikan tangannya.
"hai..." sapanya.
Ayu hanyà tersenyum mengangguk.
Ada Mama Jessica yang duduk bersama... Bibi? Ayu membelalakkan matanya.
"Bibi?" bagaimana Bibi Sekar bisa ada disini?
Bibi hanya tersenyum.
Dan, masih ada beberapa orang yang Ayu tak kenal.
"Ayu..." Alex maju hingga tinggal selangkah lagi dihadapan Ayu, lalu ia berlutut, dan membuka kotak beludri warna merah yang berisi sebuah cincin berlian yang berkilauan.
"Ayu, hari ini aku, Alexander Abraham memintamu untuk tetap menjadi istriku satu-satunya dan selamanya hidup bahagia bersama dengan anak-anak kita" Alex meraih tangan kanan Ayu dan menyematkan cincin dijari manis Ayu yang polos.
Ayu masih belum sepenuhhya sadar dengan apa yang terjadi saat ini, pikirannya masih sedikit kaget, karena tiba-tiba saja Alex ini....apakah sedang melamarnya? lalu Imelda?
"Mommy...today Daddy wanna merry you again... yey yey...from now on, we're going to live together and never be apart again." sorak sorai Alfa, diikuti oleh 2 gadis kecil lainnya.
Alex berdiri, mengenggam tangan Ayu. Imelda maju bersama sang suami, ia tau arah pandang bingung Ayu kepadanya.
"Ayu, kenalin ini suamiku, Gerry, dan dua gadis kembar itu anakku...aku kakaknya Alex..." sambil tersenyum Imelda memperkenalkan keluarganya.
Mata Ayu membelalak, ia mengira Imelda adalah istri Alex, ternyata ia adalah kakaknya, sewaktu tinggal bersama Alex dirumah papa Dave, ia belum pernah bertemu dengan Imelda. Air mata menetes dikedua matanya, sebenernya mata Ayu sudah agak membengkak karena menangis semalaman, dan Alex memperhatikan itu, segera Alex memeluk Ayu dan pecahlah tangisan Ayu... kali ini ia menangis bahagia...
💖💖💖
Ballroom hotel itu ramai dengan ratusan tamu undangan, sebagian besar adalah relasi Alex dan almarhum papa Dave. Ayu tampil cantik dengan gaun pengantin yang sudah disiapkan oleh mama Jessica, ya mama Jessica kini telah sadar bahwa kebahagiaan Alex adalah hidupnya. ia telah ditipu habis-habisan oleh laki-laki muda yang bernama Zack. Karena perkenalannya dengan Zack ia mengkhianati papa Dave semasa hidupnya, dan Zack telah menguras habis hartanya. kalau saja bukan karena Alex memaafkannya, saat ini ia sudah menjadi gembel jalanan. kini ia berjanji, kebahagiaan Alex dan keluarganya adalah yang utama. Maka ketika Alex menceritakan niatnya, ia sangat antusias untuk membantu anak semata wayangnya.
Ini adalah pernikahan keduanya bagi kedua insan yang tengah berbahagia itu. Pernikahan pertama mereka secara mendadak karena terpaksa menuruti permintaan Abah. Dan, setelah berkonsultasi dengan beberapa Ustadz untuk pernikahannya, maka akan lebih afdhol diadakan akad nikah ulang dengan wali hakim tanpa mengubah surat nikah.
Senyuman tak pernah lepas dari wajah Alex ketika bersalaman dengan teman, sahabat dan relasi kerjanya. bahkan ketika foto bersama pun Alex tersenyum lebar. Padahal ia adalah manusia es yang jarang tersenyum. Kini bersama dengan Ayu senyum itu akan terus mengukir wajah Alex. Dan kelak kebahagiaan akan selalu menyertai keluarga Alexander Abraham.
💖💖💖💖💖