Pada rumput ilalang yang masih basah itu Diandra berharap secercah harapan, kelak saat ia mulai tumbuh agak tinggi, makin tinggi, ia akan bersembunyi di rumput ilalang itu mengendap-ngendap agar Rei susah payah mencarinya.
Diandra yakin Rey mendengar suaranya walaupun dalam siang bolong sekalipun. Pertemuan mereka yang tanpa sengaja kala itu, tanpa suara. Hanya desis angin malam yang menemani Diandra yang melewati jalan setapak menuju posko 4. Diandra ikut kegiatan Pingol, sebuah kegiatan penutup dari kegiatan MPLS.
Diandra adalah siswa baru di SMA Kartika, sekolah yang persis berada di sebelah kuburan lama. Hanya berbatasan dengan tembok tinggi semata sebagai pemisahnya.
Pada saat berjalan dari posko ke posko dengan menutup mata. Tujuannya adalah melatih keberanian dan mental sebagai seorang calon siswa di sekolah mereka. Saat sampai di tiap-tiap pos mata mereka di buka. Jadi sepanjang jalan menuju posko itu mereka bisa berpegang pada tali yang di rentangkan sepanjang jalan di posko.
Panitia Pingol yang benar-benar berpengalaman. Hal sederhana itu dipersiapkan mereka dengan matang. Diandra berjalan menyusuri jalan setapak yang tidak rata dari posko 3 ke posko 4.
Pada posko 1 dan posko 2 tidak ada masalah apa-apa. Bahkan di posko 2 saat matanya dibuka, dia diberi pertanyaan dan dia bisa menjawabnya. Tentang sejarah Pramuka dan lainnya.
Dari posko 2 ke posko 3 pun sama, dia pun menapaki jalan yang mulai tersa berbatu tidak masalah. Bahkan sampai di posko 3 dia diberi pertanyaan. Dia pun bisa menjawabnya. Barulah saat berjalan dari posko 3 ke posko 4 yang jaraknya ternyata agak jauh dari pada jarak antara posko lainnya tadi.
Awalnya Diandra mencium aroma melati merasuki rongga hidungnya. Lama kelamaan sungguh pekat dan membuat ia harus mengelus-elus ujung hidungnya karena aromanya kian menekan ke rongga hidungnya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, sebuah tangan seakan meraih jemarinya seakan mengajaknya untuk turun dari tanah setapak yang ia injak. Awalnya dia pikir itu hanya ranting yang mengenai jemarinya. Namun setelah dia pikir, tak mungkin itu ranting atau bahkan itu ilalag tinggi, karena kakinya tidak merasakan ada rumput ilalang tinggi.
Apa yang terjadi kemudian adalah dia benar-benar ditarik ke arah bawah, atau lebih tepatnya turunan dari jalan setapak itu. Mau tidak mau dia mengikuti tarikan pada tangannya itu. Namun, dia ragu, syaratnya tadi adalah dia tidak boleh membuka penutup mata sepanjang jalanan sebelum sampai di posko 7 alias posko akhir.
Puff, ini buat dia kesal. Satu sisi dia takut melanggar aturan tapi di sisi lain dia penasaran. Siapa sih yang iseng menarik tangannya.
Mau tidak mau dia ikutin juga tarikan pada tangannya itu, kalau tidak ia akan terjungkal mungkin. Hup, satu loncatan akhirnya dia berhasil sampai di turunan dari jalan setapak itu.
Tarikan dari tangannya terlepas, akhirnya dia bisa agak lega. Dia langsung membuka penutup matanya. Sedikit mengwrjap-ngerjapkan matanya. Ia melihat sekeliling, ya dia ada di depan Tanah kuburan yang berada di tanah lapang yang ditumbuhi ilalang.
Diandra melihat pada sosok yang ada di depannya. Sosok "candy jump" alias pocong itu berdiri dengan gagahnya. Diandra takjub, entahlah dia terhinotis ataukah dia sedang tidak sadar bahwa yang si depannyab bukanlah manusia.
Buku kuduknya bergidik namun dia urung lari, berteriak, ataupun pingsan. Ya, dia hanya terpaku memandang ke arah "candy jump" itu. Tak ada rasa takut namun aneh sekali bukan.
Sosok itu nampak pucat dan ia menatap Diandra dengan tatapan sendu namun itu aneh bukan. Bukannya dalam cerita horor sosok itu akan melotot penampakannya. Tapi ini malah tatapannya sendu dan ada sesungging senyuman dari bibirnya.
"Kamu siapa?" hanya kalimat itu yang bisa terucap dari bibirnya. Diandra merasa bahwa dia tidak berhadapan dengan pocong tapi dengan seorang lelaki tapi dari dunia lain.
Lagi-lagi sosok itu diam membisu namun sesungging senyuman tersungging dari bibirnya.
Tidak bisa dibiarkan ini, batinnya.
"Hei, kamu mau apa menarik tanganku, aku ada tugas ke posko 5, aku harus ke sana."
Lagi-lagi dia diam, menatap Diandra dengan tangan sendu.
"Ah, kamu bisu, aku harus pergi. Diandra lalu berbalik dan berusaha naik kembali ke jalan setapak yang dia lalui tadi. Namun, sosok hantu itu mendekapnya dari belakang membuang Diandra masuk ke dalam pelukan hantu itu. Dan, Diandra pun pingsan tak sadarkan diri.
"Hai, bangunlah. Kenapa kamu susah sekali dibangunkan." Hantu itu sudah menjelma menjadi lelaki tampan memakai piyama hitam. Diandra tertidur di sebuah ranjang yang terbuat dari batu. Interior dari ruangan di sekelilingnya dari batu.
Sosok itu mengguncang-guncang badan Diandra karena Diandra tak bangun jua. Diandra akhirnya menggerakkan badannya lalu membuka matanya. Dia langsung terperanjat melihat sekelilingnya.
"Aku di mana?" Diandra memekik tidak tahu dia ada di mana dan lelaki itu siapa.
"Tenanglah Diandra, kamu aman bersamaku di sini." (Hantu)
Diandra akhirnya pecah tangisnya.
Dia menangis antara takut, khawatir, dan hal negatif yang bernaung di pikirannya.
"Huaaaaa, aku di mana?" (Diandra)
"Hei, jangan menangis begitu, semua penghuni lain akan mendengar tangisanmu. Nanti dikira aku melakukan sesuatu padamu." (Hantu)
Lambat Laun tangisnya terhenti karena hantu lelaki itu setia duduk di dekatnya. Dia duduk di bangku yang terbuat dari batu. Dia lalu duduk sembari dagunya bertopang pada kedua telapak tangannya memandang pada Diandra. Kakinya sengaja ditekuknya naik dua-duanya ke bangku. Kaki itu digunakan untuk menopang kedua tangannya
"Kamu sudah berhenti menangis?" (Hantu)
Setelah beberapa saat Diandra terdiam, lali memandangi mata sayu hantu lelaki itu.
"Kamu kenapa membawaku ke sini?" (Diandra)
Lagi-lagi Diandra bertanya pada lelaki itu. Dia berharap agar menemukan jawabannya.
"Aku membutuhkanmu untuk mengungkap kematianku." (Hantu)
"Mengapa kamu memilih aku?" (Hantu)
Hantu lelaki itu mendekatkan badannya pada Diandra. Aroma melati menusuk rongga hidung Diandra, aroma yang datang dari tubuh hantu itu.
"Kamu tidak takut padaku kini, bukan?" (Hantu)
"Tidak terlalu, tapi dikit ada." (Diandra)
"Baiklah aku akan menjawabnya. Aku membutuhkanmu untuk mengungkap kasus pembunuhanku." (Hantu)
Jadi beberapa hari yang lalu terjadi pembunuhan, tepatnya 29 hari lalu di bulan Juni. Hantu itu terbunuh dan sampai kini kasusnya belum bisa terungkap. Pembunuhnya masih bebas. Tidak ada jejak tangan, siapa pun di area sana tidak ada motif untuk membunuhnya. Mayatnya dibiarkan teronggok tanpa identitas di atas kuburan tua.
Arwahnya penasaran. Dia menjelma menjadi pocong di dunia lain. Dia adalah hantu yang kesekian mencari ruh manusia yang bisa dimintai tolong untuk mengungkap kasus pembunuhan mereka.
"Mengapa kamu memilihku?" (Diandra)
"Karena kamu adalah ruh pendamba yang merupakan titisan ruh seseorang yang telah mati." (Hantu)
"Maksudnya?" (Diandra)
Diandra makin penasaran, dia kini malah merapatkan tubuhnya pada Hantu lelaki itu. Wajah mereka hanya berjarak tiga jengkal tangan. Tiba-tiba Diandra tersadar bahwa yang di depannya adalah hantu. Dia langsung buru-buru menjaga jarak. Ya, walaupun tampan tapi dia adalah hantu.
"Maksudnya, kamu adalah reinkarnasi Diandra, kamu tak menyadarinya. Aku kini menyadarkanmu. Bisakah kamu mengingatnya?" (Hantu)
"Aku belum mengerti juga." (Diandra)
Jadi, Diandra adalah reinkarnasi dari seorang gadis dari tahun 1923 yang meninggal saat tertusuk pisau karena ia menyelamatkan kekasihnya. Demi kekasihnya Diandra dulu yang merupakan reinkarnasi dari Sonya.
Sonya adalah seorang gadis Eropa yang mati meregang nyawa dengan menyelamatkan kekasihnya Pedro saat Pedro adu duel dengan musuhnya. Saat musuhnya menghunuskan pisau pada Pedro, Sonya serta merta menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk menahan serangan pisau dari musuh pedro. Seketika tubuh Sonya bersimbah darah.
Makanya di kehidupan berikutnya Pedro meminta permintaan pada Tuhan untuk bisa ke masa depan dan menarik jiwa kekasihnya. Makanya kadang Diandra sering bermimpi ada di zaman dahulu, menjadi gadis eropa memakai gaun lalu menunggang kuda.
Diandra yang merupakan Reinkarnasi harus disadarkan ya bahwa dia adalah Rekarnasi. Namun, sebelum misinya berhasil, dia keburu dibunuh kembali oleh orang tak dikenalnya pada masa kini. Ya, tepatnya 29 hari lalu, dia di bunuh oleh seseorang.
Oleh karenanya, kini ia berusaha untuk membuat alurnya menjadi cepat biar Diandra bisa membantunya mengungkap misteri pembunuhnya pada manusia lain.
Hantu itu pun menerangkan kronologisnya pada Diandra. Diandra mengernyitkan keningnya dan memilin-milin ujung bajunya menandakan dia sedang berpikir keras saat mendengar cerita hantu itu. Diandra bingung untuk bersikap kini.
"Jadi, aku adalah kekasihmu?" (Diandra)
"Iya begitulah tepatnya." (Hantu)
"Lalu aku yang sekarang adalah reinkarnasi dari Sonya si gadis Eropa, dan kamu adalah Reinkarnasi dari Pedro, tapi kamu terbunuh lagi, begitu bukan?"
(Diandra alias Sonya)
"Ya, begitulah." (Hantu)
"Kalau begitu kamu adalah pacarku dari zaman dulu? Kita berpacaran?" (Diandra alias Sonya)
Gadis itu pun memekik kaget. Hantu lelaki itu menutup kedua kupingnya. Dia tidak mau mendengarnya.
"Diandra kamu sepertinya tidak suka mengetahui fakta aku adalah kekasihnya, ya?" (Hantu)
Hantu lelaki itu menepuk jidatnya.
"Bukan begitu, aku tidak merasakan cemistry bersamamu." (Diandra)
"Cukuppp...., aku merasa ditolak olehmu." (Hantu)
"Bukan begitu maksudku..aduh kamu kenapa jadi marah." (Diandra)
"Kalau begitu kamu kbalilah ke alam manusia. Aku tak Sudi di tolongmu." (Hantu)
Tiba-tiba Diandra mengecup pipi hantu itu, dia spontan saja menciuminya. Aroma melati dan pipinya yang sangat dingin berasal dari tubuh hantu itu. Hantu itu akhirnya melunak.
"Aku akan membantumu. Percayalah padaku." (Diandra)
Akhirnya Diandra bersedia menemukan teka-teki pembunuhan kekasihnya itu, ya walaupun belum ada cemistry cinta di hatinya, tapi Diandra berjanji untuk menolong kekasihnya dari masala lalu itu.
Kemudian, Hantu lelaki itu bersiap-siap menipu lilin yang ada di atas meja.
"Hei tunggu dulu, namamu siapa di masa sekarang?" (Diandra)
"Aku adalah Doni." (Hantu)
"Oh, Doni." (Diandra)
Lalu, lilin itu pun padam dan Diandra tak ingat apa-apa lagi. Dua jam Diandra menghilang, kakak kelasnya, panitia, dan guru mencari keberadaannya. Suara Kentungan membuat Diandra akhirnya mereka temukan. Diandra ditemukan di atas kuburan seorang pria bernama Doni, yang meninggal pada tanggal 1 Juni 2020.
Diandra dibacakan doa dan diantarkan pulang ke rumahnya. Malam itu menjadi malam kegiatan Pingol yang gagal bagi panitia kegiatan Pramuka itu. Karena salah seorang peserta hilang selama dua jam.
Beberapa hari kemudian
Diandra ada di ruangan yang terbuat dari batu itu kembali. Tiga hari setelah kejadian malam itu, Diandra kembali kek kuburan itu kembali. Dia bertanya pada penjaga makam mencatat semua hal yang dia ketahui tentang lelaki yang bernama Doni seperti yang tercantum dalam baru nisan.
Diandra mencari tempat tinggal Doni, menjambani rumah Doni dan berkenalan dengan ibu dan adik perempuannya. Ia bertanya pada orang-orang yang ada di sekitar tempat tinggal Doni juga. Dia bisa mengambil kesimpulan Doni tidak dibunuh oleh keluarganya atau tetangga rumahnya.
Siapa pembunuh Doni?
Diandra duduk di bangku terbuat dari batu. Dia kembali diajak ke dalam gua itu. Di sana dia dan Doni lebih leluasa untuk berdiskusi. Tapi, anehnya tetap saja saat dia kembali ke atas tanah manusia, dia hanya hilang dua jam saja, begitu terus dia selalu di dalam gua itu dua jam. Padahal dia sudah sangat lama rasanya di sana.
Diandra saat jajan di kantin duduk di tempat duduk yang kosong sekian lama. Entah kenapa bangku itu selalu kosong. Bangku yang mengarah ke tanah kosong rumput ilalang. Tak ada yang berani duduk di sana, itulah yang sering dia dengar dari orang-orang. Dia duduk di sana.
"Hei kamu kenapa duduk di sana?" Tegur seorang wanita padanya.
Wanita sekitar umur 35tahunan mungkin. Diandra merasa bahwa perempuan itu mengusiknya.
"Memangnya kenapa kalau aku duduk di sini?" (Diandra)
Diandra jarang melihat perempuan itu. Dia adalah adik pemilik kios kantin. Kata orang-orang dia belum menikah, alias perawan tua. Tapi bisa jadi karena kakinya yang pincang dan penampilannya kurang terurus sebagai perempuan. Rambutnya berminyak, mukanya tak pakai bedak sedikitpun, apalagi lipstik.
Dia memandang Diandra dengan tatapan tajam.Hal itu membuat Diandra ciut juga. Diandra mengawasi gerak-geriknya. Dia lalu masuk ke bilik yang ada di sebelah tempat masaknya. Rasa penasaran membuat Diandra mengikutinya. Diandra berpura-puran mengambil kerupuk. Namun, dia mengintip ke celah-celah bilik. Dia kaget, ternyata di bilik itu ada foto Donk terpajang di sana, ditempelkan dengan selotip. Ada yang ditempelkan di kaca kecil juga.
Astaga, siapa perempuan ini, kenapa dia bisa terobsesi dengan Doni yang sudah mati. Bukankah Doni sudah mati, tidak kah dia tahu? Batin hati Diandra bergemuruh penuh. Tanda tanya.
Sebuah tepukan dari pemilik kios kantin membuatnya kaget.
"Hei, kenapa kamu mengintip adikku?" (Pemilik kios)
"Tidakk aku tidak mengintipnya, aku cuma tak sengaja melihatnya." (Diandra)
"Jangan macam-macam pada adikku, aku tak suka adikku disakiti." (Pemilik kios)
Sebuah kalimat bernada ancaman keluar dari mulutnya.
Tapi kini Dia tahu siapa dalang pembunuhan Doni. Doni dibunuh oleh pemilik kios karena tidak terima Doni menolak cinta perawan tua itu, yang tidak lain adiknya.
Doni adalah seorang guru olah raga beberapa hari lalu tepatnya.
Karya Cacastar