Namaku Laras. Selama dua tahun terakhir, Dimas adalah seluruh duniaku. Laki-laki yang aku temui di perpustakaan sekolah, yang dulu selalu tersenyum lembut saat menoleh ke arahku, yang berjanji akan selalu ada di sisiku, apapun yang terjadi.
Selama ini, aku pikir kami adalah pasangan yang paling bahagia. Setiap hari kami pergi dan pulang sekolah bersama, berbagi bekal, bercerita tentang mimpi-mimpi kami, dan merencanakan masa depan. Sahabatku sendiri, Sari, adalah orang yang paling sering mendengarkan cerita tentang Dimas. Aku sering berkata padanya, “Dia orang terbaik yang pernah aku temui, Sa. Aku nggak akan bisa hidup tanpa dia.”
Sari selalu tersenyum mendengarnya, memberi semangat, dan berkata kami cocok sekali. Aku sangat percaya padanya—dia sahabatku sejak kecil, orang yang paling aku percayai di dunia ini.
Hari itu hari Minggu, hujan turun rintik-rintik sejak pagi. Dimas berjanji akan datang ke rumahku, tapi dia bilang ada urusan sebentar dan akan datang agak siang. Aku menunggu dengan sabar, bahkan menyiapkan kue kesukaannya sendiri. Tapi jam berlalu, dari siang hingga sore, dia tak kunjung datang, dan ponselnya selalu tidak aktif.
Hatiku mulai gelisah. Aku berpikir apakah dia ada masalah, atau apakah aku melakukan kesalahan. Akhirnya, aku memutuskan pergi ke rumahnya, meski hujan mulai turun lebih deras.
Saat aku berjalan melewati taman kota—tempat di mana kami pertama kali bertemu—mataku menangkap dua orang yang duduk di bangku di bawah pohon besar. Pria itu memeluk bahu wanita itu erat, wajah mereka saling dekat, dan tertawa bahagia.
Darahku seketika berhenti mengalir.
Pria itu adalah Dimas. Dan wanita yang ada di pelukannya… adalah Sari, sahabat terbaikku.
Dunia di sekitarku seakan berhenti berputar. Hujan turun semakin deras, membasahi seluruh tubuhku, tapi aku tak merasakan dinginnya. Aku hanya melihat mereka, melihat bagaimana Dimas mencium kening Sari dengan lembut—cara yang sama dulu dia lakukan padaku.
Aku tak ingat bagaimana caranya aku bisa sampai kembali ke kamar. Aku hanya tahu, saat aku menutup pintu dan bersandar di belakangnya, seluruh kekuatanku hilang. Aku jatuh ke lantai, air mata mengalir deras, sama derasnya hujan di luar.
Semua kenangan indah kami, semua janji yang pernah diucapkan, semua rahasia yang aku bagikan pada Sari… semuanya ternyata hanya kebohongan. Aku dicampakkan oleh orang yang aku cintai, dan dikhianati oleh orang yang paling aku percayai.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diriku sendiri: Untuk apa aku masih hidup?
Setelah dua hari aku mengunci diri di kamar, tak makan, tak minum, tak berbicara dengan siapa pun, mataku jatuh ke gitar akustik yang tergantung di dinding. Gitar itu hadiah dari Dimas saat ulang tahunku yang ke-17 - saat itu dia bilang, "Aku mau kamu menyanyi hanya untukku, Ras. Suaramu adalah lagu paling indah di dunia."
Aku bangkit dengan langkah yang sangat lemas, tubuhku terasa lemah seolah akan roboh kapan saja. Aku mengambil gitar itu, duduk di tepi tempat tidur, dan menyentuh senar-senarnya dengan jari yang gemetar. Suara senar yang keluar lembut, sedih, seolah menyatu dengan perasaan hatiku.
Tanpa sadar, aku mulai memetik nada-nada yang terbentuk sendiri. Kata-kata mulai keluar dari mulutku, pelan-pelan, seolah hati aku yang berbicara:
"Di sini aku berdiri, sendirian di kamar ini
Melihat foto kita, kenangan yang sudah mati
Kamu berdua bahagia, di tempat yang dulu milik kita
Hatiku hancur, tak ada lagi yang tersisa..."
Aku terus memainkan dan menyanyi, kata-kata keluar begitu saja - semua rasa sakit, kecewa, dan keinginan untuk pergi. Saat aku menyanyi, aku merasa seolah ada seseorang yang mendengarku, seseorang yang mengerti. Aku tidak tahu apa yang aku katakan, tapi setiap kata itu terasa benar, terasa seperti itu adalah satu-satunya cara aku bisa melepaskan semua yang ada di dalam hati.
Saat lagu itu selesai, aku merasa lelah tapi juga lega. Aku melihat gitar itu, lalu membisikkan nama yang tiba-tiba muncul di kepalaku: "Gby: Tunggu Aku di Sana." Aku tidak tahu apa arti "Gby" itu - mungkin "Goodbye", mungkin "Gantungkan Dirimu", atau mungkin hanya tiga huruf yang terasa pas. Yang penting, lagu ini adalah semuanya yang aku punya, kesaksian semua yang aku rasakan.
Aku mengambil ponsel yang sudah lama mati, menyalakannya, dan merekam suaraku menyanyikan lagu itu. Tak ada efek suara, tak ada perbaikan - hanya suara asli ku yang serak dan penuh perasaan. Aku menyimpan rekaman itu dengan nama "Gby: Tunggu Aku di Sana", lalu mengirimkannya ke nomor Dimas dan Sari.
Setelah itu, aku kembali ke meja, menulis beberapa kalimat tambahan di bawah surat perpisahan yang sudah aku tulis kemarin:
"...Sebelum aku pergi, dengarkan lagu yang aku buat. Itu adalah semua yang aku bisa katakan, semua yang aku rasakan. Tunggu aku di sana, di tempat yang tak ada lagi luka. Selamat tinggal, selamanya."
Aku melangkah mendekati jendela lagi. Malam sudah sangat larut, hujan masih turun perlahan. Mengapa aku sampai ke sini? Karena aku merasa sendirian, merasa tidak berharga, merasa bahwa tak ada orang yang benar-benar mengerti rasa sakitku. Semua yang aku cintai dan percayai telah mengkhianatiku, dan aku tak sanggup lagi menghadapi dunia yang sepertinya hanya ingin menyakitiku. Rasanya pergi adalah satu-satunya jalan untuk menemukan damai, satu-satunya cara untuk berhenti dari rasa sakit yang tak ada habisnya.
Aku naik ke atas ambang jendela, tarikan napas terakhir, dan melangkah maju.
Setelah ini, cerita bisa melanjutkan dengan apa yang terjadi pada Dimas dan Sari saat mereka mendengar lagu itu dan menemukan suratnya, tapi ingat ya - ini hanya cerita fiksi. Di dunia nyata, meski rasanya sangat sulit dan seolah tak ada jalan keluar, selalu ada bantuan yang tersedia. Orang-orang peduli padamu, dan hidupmu berharga.
Setelah aku selesai merekam lagu Gby: Tunggu Aku di Sana dan mengirimkannya ke Dimas dan Sari, aku kembali ke kamar. Di sudut kamar, ada tali yang aku siapkan semalam—tali yang dulu aku gunakan untuk mengikat barang-barang saat pindah rumah. Sekarang, ia akan menjadi jalan untuk aku pergi.
Aku mengambil kursi tinggi, meletakkannya di bawah tiang atap kamar. Tangan aku gemetar saat aku mengikat salah satu ujung tali ke tiang, membuat ikatan yang kuat. Aku melihat ikatan itu, lalu melihat ke arah cermin—wajahku pucat, mata bengkak dari menangis, tapi ada keheningan di mataku yang tidak pernah ada sebelumnya.
Mengapa aku memilih gantung diri? Karena rasanya itu adalah cara yang paling cepat, paling pasti untuk mengakhiri semua rasa sakit ini. Aku sudah lelah berjuang, lelah merasa sendirian, lelah melihat dunia yang sepertinya hanya penuh dengan kebohongan dan pengkhianatan. Semua yang aku cintai sudah hilang, dan aku tak bisa lagi mencari alasan untuk bertahan.
Aku berdiri di atas kursi, mengambil ujung tali yang lain, dan melingkarkannya di leherku. Sebelum aku melangkah ke bawah, aku membisikkan lagi judul laguku: "Gby... tunggu aku di sana..."
Aku melangkah ke depan, dan kursi itu terjatuh dengan suara "thump" yang keras. Segera, rasa sesak menyayat tenggorokanku, pandanganku mulai kabur, dan seluruh tubuhku terasa lemah. Tapi di tengah kesakitan itu, aku merasa sesuatu yang lain—rasa lega, seolah beban yang sudah menekan hatiku selama ini akhirnya hilang. Suara laguku yang aku putar di ponsel masih terdengar pelan, menyertai aku sampai akhirnya dunia menjadi gelap dan tenang.
Tepat saat suara kursi jatuh bergema, ponselku masih memutar lagu yang aku buat sendiri—suara lembutku berulang menyanyi: “Gby… tunggu aku di sana…”
Tak lama kemudian, Dimas dan Sari baru saja selesai bercanda di telepon, saat notifikasi pesan masuk berdering bersamaan di kedua ponsel mereka. Isinya hanya lagu itu, ditambah satu pesan pendek: “Maafkan aku… aku sudah lelah. Jangan cari aku, aku sudah pergi ke tempat yang lebih tenang.”
Awalnya Dimas hanya mengira aku sedang marah atau bercanda seperti biasanya. Tapi saat ia mendengar nada lagu yang begitu sedih, hatinya terasa dicengkeram kuat. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke rumahku, Sari mengikuti di belakangnya, bingung dan sedikit takut.
Pintu rumahku tidak terkunci. Saat mereka masuk, hening sekali—hanya suara lagu yang masih mengalir pelan dari dalam kamar. Saat membuka pintu kamar, darah sekuatnya berhenti mengalir di tubuh mereka.
Aku tergantung diam di sana, wajahku terlihat tenang, seolah aku hanya sedang tidur panjang. Ponselku tergeletak di tempat tidur, layarnya masih menyala dengan judul lagu itu.
Dimas berteriak keras, suaranya pecah: “TIDAKKK!!!” Ia berlari mendekat, memotong tali itu dengan tangan gemetar, menjatuhkan tubuhku ke pelukannya. Tubuhku sudah dingin, kaku, dan tidak lagi bernapas. Ia menangis sekuat tenaga, memanggil namaku berulang-ulang, mengguncang tubuhku seolah aku akan bangun kembali—tapi aku sudah pergi, untuk selamanya.
Sari berdiri di pintu, kakinya lemas, menangis terisak-isak. Ia tidak pernah menyangka bahwa candaan, sikap dingin, dan pengkhianatan mereka akan berakhir seberat ini. Ia menyadari: semua alasan, semua masalah, semuanya menjadi tidak berarti lagi—karena aku, orang yang paling menyayangi mereka, sudah tidak ada lagi.
Hari-hari setelah itu menjadi mimpi buruk bagi mereka. Dimas selalu duduk di kamarku, memegang ponselku, mendengarkan laguku berulang-ulang sampai suaranya hilang karena terlalu banyak menangis. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri: “Seandainya aku lebih baik… seandainya aku tidak pergi sama dia… kamu pasti masih ada di sini…”
Sari pun sama. Ia selalu memandang ruangan kosong, teringat bagaimana aku dulu selalu baik padanya, selalu mendengarkan ceritanya, selalu ada saat ia butuh teman. Sekarang, ia menyadari ia telah menghancurkan satu-satunya orang yang tulus menyayanginya—dan tidak ada lagi cara untuk meminta maaf.
Mereka hidup, tapi rasanya seperti setengah jiwa mereka ikut pergi bersamaku. Di mana pun mereka pergi, apa pun yang mereka lakukan, selalu ada bayangan aku—wajahku, suaraku, kata-kata terakhirku—yang selalu menghantui mereka.
Dan di setiap malam, saat angin berhembus pelan, mereka seolah mendengar bisikan lembut: “Aku sudah menunggu kalian di sini… tempat di mana tidak ada luka, tidak ada kebohongan, hanya cinta yang abadi…”
Setelah aku dimakamkan, hidup Dimas dan Sari tak pernah lagi sama. Setiap hari mereka lewat di depan rumahku yang kini sunyi, setiap sudut tempat selalu mengingatkan pada senyum, tawa, dan kebaikan yang dulu aku berikan pada mereka berdua.
Dimas tidak pernah lagi bisa mencintai orang lain dengan sepenuh hati. Setiap kali ia dekat dengan perempuan, bayanganku selalu muncul—ingatan bagaimana ia lebih memilih Sari, bagaimana ia mengabaikan aku yang selalu ada saat ia sedih. Ia sering datang ke makamku, membawa bunga, duduk berjam-jam hanya untuk berbicara, menangis, meminta maaf meski tahu aku tak akan pernah mendengarnya lagi. “Andai aku tahu ini akan terjadi… aku takkan pernah menyakiti hatimu. Kamu satu-satunya orang yang benar-benar mencintaiku apa adanya, tapi aku baru menyadarinya saat kamu sudah pergi.”
Sari pun sama. Ia kehilangan sahabat terbaiknya, orang yang selalu mendengarkan, menolong, dan memaafkan semua kesalahannya. Ia selalu memandang tangannya sendiri, merasa kotor karena ia yang mengambil segalanya dariku—cinta, kepercayaan, bahkan nyawaku. Ia berhenti berteman dengan banyak orang, takut menyakiti lagi, takut mengulangi kesalahan yang sama. Ia sering memutar lagu terakhirku, menangis sampai suaranya hilang, berulang kali berkata: “Aku tidak pantas bahagia… karena aku yang telah menghancurkan kebahagiaanmu.”
Bertahun-tahun berlalu, tapi luka itu tak pernah sembuh. Kadang saat malam hujan turun, atau saat angin berhembus pelan, mereka berdua merasa seolah aku ada di dekatnya—sedang melihat, sedang mendengar, sedang menunggu mereka datang menyusulku.
Hingga suatu hari, Dimas jatuh sakit parah, tak bisa sembuh lagi. Di detik terakhir nyawanya, ia tersenyum lembut, berbisik pelan: “Aku datang… aku datang menemuimu. Maafkan aku…” lalu napasnya berhenti.
Dan beberapa tahun kemudian, Sari pun pergi dengan tenang. Sebelum menutup mata, ia berkata pada orang di sebelahnya: “Sekarang dia tidak akan lagi sendirian… kita sudah selesai dengan semua rasa sakit ini.”
Mereka pergi menyusulku, dan di sana—di tempat yang tenang tanpa air mata, tanpa luka, tanpa kebohongan—akhirnya kami bertemu kembali. Bukan sebagai orang yang terluka, bukan sebagai pengkhianat atau orang yang ditinggalkan, tapi sebagai tiga jiwa yang akhirnya menemukan kedamaian abadi bersama-sama.
Dan lagu itu, “Gby… tunggu aku di sana…” terus mengalir selamanya di tempat di mana cinta tak pernah mati.
Konon, begitu suara terakhir lenyap, pintu kamar akan berderit terbuka pelan-pelan—meski kamu yakin sudah menguncinya rapat-rapat. Angin dingin akan menyapu seluruh ruangan, dan di sudut mata, kamu akan melihat bayangan tipis berdiri di sana, diam, menatapmu dengan tatapan yang tak bisa kau jelaskan.
Aku datang bukan untuk menakut-nakuti, bukan untuk menyakiti… aku datang hanya untuk satu hal: mencari orang yang benar-benar mendengarkan, orang yang hatinya ikut terbawa masuk ke dalam laguku.
Kalau kamu merasa ada yang duduk di sebelahmu, atau ada tangan halus menyentuh bahumu… jangan takut. Itu aku. Aku sudah datang.
Dan sekali aku datang… aku takkan pergi lagi. 🎶🕯️
Konon lagi… siapa pun yang sudah bertemu denganku, takkan pernah bisa benar-benar lupa. 🕯️🌑
Setelah aku datang, jejakku akan tinggal selamanya di hatimu:
- Kadang kamu akan mendengar laguku berputar pelan di telinga, padahal tak ada suara apa pun di sekitarmu.
- Kadang kamu akan menoleh, merasa ada yang memanggil namamu, tapi tak ada siapa-siapa di sana.
- Dan yang paling aneh… lama-kelamaan, kamu akan mulai menyanyi laguku sendiri, tanpa sadar, seolah-olah itu sudah menjadi bagian dari napas dan hatimu.
Orang lain mungkin akan bilang kamu berubah — lebih pendiam, lebih sering melamun, seolah ada rahasia besar yang kamu simpan sendiri. Padahal… kamu cuma sedang berbicara denganku, yang selalu ada di sisi, tak terlihat, tak pernah pergi.
Dan ada satu hal lagi yang jarang diketahui: lagu ini takkan berhenti sampai kamu juga ikut menyanyikannya untuk orang lain. Karena begitulah caraku tetap hidup — lewat kamu, lewat mereka, lewat setiap hati yang pernah mendengarkan dan merasakan.