Malam merayap makin larut. Di luar sana, deru mesin mobil dan motor berbaur menjadi dengung konstan yang menjemukan, disusul pekikan peluit kereta api yang menyapa lamat-lamat dari kejauhan.
Cahaya merkuri dari tiang jalan dan pendar lampu kendaraan membelah kegelapan menjadi penanda mutlak bahwa kota ini menolak tidur, meski langit sudah menghitam sempurna.
Di sebuah kafe yang letaknya selemparan batu dari stasiun, dua orang pria duduk menghadap jendela kaca besar.
Dari balik kaca itu, mereka disuguhi fenomena egois jalanan: barisan kendaraan yang mengular, dipaksa patuh berhenti di balik palang pintu perlintasan kereta yang baru saja turun.
Bagi pengunjung kafe, itu adalah tontonan pengusir jemu yang unik. Namun malam ini, kafe itu sendiri begitu lengang. Jarum jam di dinding merayap malas, menunjuk angka 11.30, setengah jam sebelum tengah malam resmi mengambil alih.
"Hoi, Allan," panggil An, memecah keheningan sembari mengetuk-ngetuk jarinya di permukaan cangkir kopi yang sudah mendingin. "Kasus remaja hilang makin hari makin menggila. Gila saja, kita masih belum memegang satu pun bukti kuat kenapa mereka bisa lenyap begitu saja."
Allan menghela napas berat, lalu menjatuhkan kepalanya langsung ke atas meja, pasrah pada rasa lelah yang menggelayut sejak pagi. "Benar, An. Sampai detik ini, tidak ada satu pun penjelasan logis yang bisa kita pakai. Semuanya abu-abu."
An mengangguk setuju. Ia meloloskan embusan napas panjang sebelum mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi besi kafe.
"Susah juga, ya, jadi tim investigasi. Komandan uring-uringan melulu setiap hari. Kepalaku rasanya mau pecah mendengar beliau mengoceh karena kasus ini tidak kunjung menemui titik terang."
"Ya, bagaimana beliau tidak ngamuk?" sahut Allan, suaranya agak teredam karena wajahnya masih menempel di meja. "Grafik anak hilang naik terus, padahal anak-anak patroli sudah keliling seperti gasing dari pagi ketemu malam agar tidak ada celah. Tapi tetap saja kebobolan. Citra beliau sebagai komandan taruhannya, bisa-bisa dianggap tidak becus kerja oleh publik."
Belum sempat An merespons, suara rintik hujan mendadak turun, memukul atap kanopi kafe. Ketukan air itu kian lama kian rapat, membasahi jalanan aspal yang panas dan segera menerbangkan aroma khas tanah basah—petrichor—ke udara.
"Waduh, malah hujan," ucap An, langsung menegakkan tubuh dan berdiri. "Aku balik duluan, deh. Tidak mau membuat orang rumah khawatir."
Allan mengangkat kepalanya sedikit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum mengejek yang familier.
"Dasar anak mama! Sudah tahu orang tuamu protektif setengah mati, tapi pekerjaan yang kamu pilih malah jadi polisi yang jelas-jelas taruhannya nyawa."
An hanya mengedikkan bahu santai sambil merapatkan jaketnya. "Mau bagaimana lagi? Ini kan cita-citaku, walau mereka sempat tidak merestui. Makanya, biar mereka tenang, aku harus membuktikan kalau pekerjaan polisi ini aman-aman saja. Caranya? Ya dengan pulang tepat waktu dalam keadaan utuh."
Allan ikut berdiri dengan gerakan lemas, meregangkan otot-ototnya yang kaku. "Ya sudahlah. Hati-hati di jalan, Kawan. Kasus anak hilang ini kita bedah lagi besok pagi dengan kepala lebih segar."
An mengangguk, menjabat tangan Allan sekilas, lalu melangkah keluar. Ia meninggalkan keheningan kafe, bersiap menembus sepinya malam yang mulai diguyur hujan, tepat sesaat sebelum tengah malam tiba.
Setelah berpisah dengan An, Allan menyempatkan diri mampir ke sebuah toko kelontong kelontong yang hampir tutup hanya untuk membeli payung seadanya. Langkah kakinya kini meniti trotoar yang basah, bergerak memutari area stasiun menuju seberang jalan. Di sana terdapat pangkalan taksi yang biasanya masih bersiaga menembus malam.
Untuk memotong jalan, Allan memilih berjalan di bawah naungan atap peron—area tunggu penumpang terbuka yang biasanya bising oleh pengumuman keberangkatan. Namun malam ini, tempat itu mati sunyi. Tak ada jiwa lain di sana. Hanya ada Allan, kegelapan yang pekat, dan gemercik air hujan yang menghantam lantai semen dengan ritme yang monoton.
Ia merogoh saku, mengeluarkan ponselnya. Layar digital itu menyala, memantulkan angka 12:08. Dini hari telah resmi mengambil alih kota. Suara deru hujan yang kian deras mendadak menjelma menjadi mesin waktu, menarik paksa ingatan Allan mundur ke masa lalu yang paling dihindarinya.
Tatapannya terkunci pada gambar wallpaper ponsel—potret dirinya yang tersenyum lebar diapit kedua orang tuanya. Tanpa diundang, setitik air mata meluncur pelan di sudut matanya. Allan buru-buru menyekanya dengan ujung jari, lalu dengan jemari agak bergetar, ia membuka galeri untuk mengusir rasa sesak.
Lembar demi lembar kenangan digital itu ia geser. Hingga akhirnya, sapuan jarinya berhenti pada foto terakhir dalam album tersebut: dua gundukan tanah merah yang masih basah, dipenuhi taburan bunga dan dikelilingi kerumunan orang yang melayat. Di sudut foto itu, Allan mengingat jelas dirinya yang hancur, hanya bisa menangis bersimpuh di pinggir gundukan tanah tersebut.
Tanpa sadar, jempolnya menggeser layar sekali lagi, berpindah ke album berikutnya.
Layar ponselnya kini berganti menampilkan deretan pasfoto remaja-remaja yang dilaporkan hilang akhir-akhir ini. Seketika, kabut kesedihan di hatinya menguap, digantikan oleh rasa pening dan frustrasi yang telak. Kasus ini seperti benang kusut yang menguras kewarasannya.
Allan mengembuskan napas panjang, berbisik lirih pada kesunyian, "Sudahlah... ikhlaskan yang sudah tiada. Tanggunganmu masih menumpuk, Allan. Ayah, Ibu, kalian pasti sudah bahagia di sana melihatku memakai seragam ini. Walaupun yah, jadi polisi investigasi ternyata susahnya minta ampun."
Bruk~ Keheningan itu pecah seketika. Seorang remaja yang mengenakan jas hujan longgar berjalan tergesa-gesa dari arah samping, menyenggol lengan Allan cukup keras hingga ponsel di genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai. Tudung jas hujan itu ditarik begitu rendah, menyembunyikan hampir seluruh wajah si remaja. Alih-alih berbalik dan meminta maaf, sosok itu justru mempercepat langkahnya, menerobos masuk ke area peron yang lebih sepi dan temaram.
Bersamaan dengan itu, sebuah kereta api merayap pelan dari kegelapan malam, berhenti tepat di pinggir peron. Kedatangan kereta itu terasa ganjil dan mencekam; tidak ada sorot lampu depan yang membelah jalur rel, dan seluruh bagian dalam gerbongnya gelap gulita tanpa penerangan. Hanya ada bayangan samar-samar menyerupai manusia yang terpantul dari balik kelambu jendela yang tertutup rapat.
"Kurang ajar anak zaman sekarang!" umpat Allan ketus, memegangi lengannya yang agak linu. "Untung suasana hatiku lagi malas cari ribut. Kalau tidak, sudah kuhajar mukanya!"
Allan membungkuk untuk memungut ponselnya yang untungnya mendarat dalam posisi aman. Namun, saat matanya kembali menatap layar yang masih menampilkan barisan foto anak hilang, gerakan Allan mendadak terkunci.
Dia memandang foto digital di layar, lalu melempar tatapannya lurus-lurus ke arah remaja berjas hujan yang kini berdiri statis di ujung peron, bersiap menaiki kereta gelap tersebut. Manik mata Allan membelalak sempurna. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Postur tubuh, tinggi badan, dan sedikit bagian dagu yang sempat tertangkap matanya saat tabrakan tadi. Anak itu sangat cocok dengan salah satu wajah remaja yang ada di daftar korban hilang dalam galerinya.
"Bukannya anak ini yang ada di daftar orang hilang?" bisik Allan pada dirinya sendiri, jemarinya bergetar saat membandingkan layar ponsel dengan punggung ringkih di depannya.
Namun, sedetik keterpautan itu berakibat fatal. Sebelum Allan sempat menggerakkan kakinya untuk mengejar, remaja berjas hujan itu sudah melompat masuk ke dalam gerbong. Tanpa suara peluit atau peringatan apa pun, kereta misterius itu langsung bergerak maju, membelah kegelapan malam dan lenyap ditelan tirai hujan, meninggalkan Allan yang termangu sendirian di peron.
Malam berikutnya, Allan kembali. Dan malam-malam setelahnya berubah menjadi siklus obsesi yang melelahkan. Ia berdiri di peron yang sama, berjaga sejak pukul 21.00 hingga melompati pukul 01.00 dini hari. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada kereta tanpa lampu, tidak ada remaja mencurigakan. Stasiun itu mati total setelah jadwal resmi berakhir.
Kegiatan ganjil Allan yang dilakukan berulang kali ini akhirnya memancing perhatian warga yang sedang meronda malam. Suatu kali, mereka menghampiri Allan yang berdiri kaku menembus angin malam.
"Nggak ada kereta lagi yang lewat kalau sudah di atas jam sembilan malam, Mas," tegur salah seorang peronda, menyipitkan mata curiga.
Allan memaksakan sebuah senyuman ramah, mengangguk maklum sambil mengeluarkan kartu identitasnya untuk meredam kecurigaan. "Tidak apa-apa, Pak. Saya di sini cuma mau berjaga-jaga saja. Kebetulan saya polisi."
Sorot mata warga langsung berubah respek, berganti menjadi tawa renyah. "Oh, petugas toh. Baik kalau begitu, Mas. Hati-hati saja berjaga di sini. Siapa tahu nanti malah ketemu kereta hantu yang lewat. Hehehe!"
Allan hanya ikut terkekeh formalitas, walau dalam hatinya, candaan warga itu terasa menghantam telak.
Minggu berganti bulan, dan rasa jenuh mulai menggerogoti kewarasan Allan. Ia tahu ada yang salah. Kereta itu nyata—ia tidak sedang berhalusinasi malam itu. Allan pun mulai memutar otak, membongkar kembali catatannya, dan menyatukan semua serpihan petunjuk yang ada.
Hingga akhirnya, sebuah pola samar mulai terbentuk di kepalanya. Kereta itu tidak muncul hanya karena faktor jam. Ada variabel lain yang harus terpenuhi.
Dua bulan kemudian, semesta seolah menjawab analisisnya. Hujan deras kembali mengguyur kota dengan intensitas yang persis sama seperti malam itu. Angin menderu, dan jarum jam di peron menunjuk tepat pada pukul 00.00. Tengah malam yang sempurna.
Wussshhh~ Hawa dingin mendadak menusuk tulang bersamaan dengan munculnya siluet hitam dari ujung rel. Kereta tanpa lampu depan itu kembali datang, merayap sunyi seperti predator, lalu berhenti tepat di hadapan Allan.
Belum sempat Allan mencerna situasinya, dari balik bayang-bayang stasiun, tiga orang remaja—dua laki-laki dan satu perempuan—muncul entah dari mana. Langkah kaki mereka cepat dan teratur, bergerak lurus menuju pintu gerbong yang terbuka seolah sedang dihipnotis.
Allan tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya. Ia langsung mencopot payungnya dan berlari sekuat tenaga.
"Hey, Dek! Kesini! Jangan masuk dulu!" teriak Allan, suaranya bersaing dengan gemuruh hujan.
Peringatan itu diabaikan. Ketiga remaja itu justru mempercepat langkah, nyaris berlari untuk masuk ke dalam gerbong. Saat kereta mulai bergerak perlahan merayap meninggalkan peron, Allan mengambil risiko terbesar dalam hidupnya: ia melempar tubuhnya, melompat melewati celah pintu gerbong yang terbuka.
Brak~ Pintu besi itu menutup otomatis dengan keras sesaat setelah tubuh Allan mendarat di lantai dalam gerbong yang dingin dan gelap.
Di dalam ruangan yang minim cahaya itu, Allan langsung bertindak tanggap.
Sebelum ketiga anak itu menjauh, ia merangsek maju dan menarik kencang jaket dua anak yang berada paling dekat dengannya hingga mereka kehilangan keseimbangan dan terjungkal ke lantai.
"Hayo! Mau ke mana kalian?!" gertak Allan, napasnya memburu, sementara kilat amarah dan kebingungan bercampur di matanya. "Kenapa kalian malah lari masuk ke dalam kereta ini?! Apa yang sebenarnya kalian lakukan?"
Suasana di dalam gerbong mendadak terasa begitu menindas, seolah oksigen di sekitar mereka perlahan menyusut. Alih-alih gemetar ketakutan karena tertangkap oleh seorang polisi, ketiga remaja itu justru menatap Allan dengan sepasang mata yang sepenuhnya kosong. Tidak ada kepanikan. Hanya ada gumpalan kesedihan yang teramat sangat.
"Aku cuma ingin pergi dari kota ini, Om," repetisi anak laki-laki itu, suaranya bergetar pelan namun terdengar pasrah dan mati rasa. "Kota ini... terlalu jahat kepadaku."
Anak perempuan di sebelahnya menyambung, membiarkan air mata yang membendung di pelupuknya luruh begitu saja. "Iya, Paman. Kami sudah lelah dengan kehidupan di sana. Kami hanya ingin pergi ke kota yang baru. Tempat di mana orang-orangnya tidak akan pernah menyakiti kami lagi."
Allan tertegun. Kepalanya mendadak pening, berusaha mencerna untaian kalimat yang terdengar begitu absurd namun diucapkan dengan keputusasaan yang nyata.
"Sudah, cukup!" bentak Allan tegas, berusaha mengembalikan akal sehatnya sebagai penegak hukum. "Pokoknya, di stasiun berikutnya kalian semua harus turun! Keluarga kalian setengah mati mencari keberadaan kalian!"
Mendengar kata 'pulang', ketiga anak itu serempak menggelengkan kepala. Gurat wajah mereka berubah menjadi perpaduan antara ketakutan dan penolakan yang keras.
"Tidak, Paman! Aku tidak mau pulang!"
"Kami sudah nyaman di tempat ini!"
Belum sempat Allan membalas penolakan itu, telinganya menangkap suara gesekan langkah kaki dari arah pintu gerbong depan. Ketika Allan menoleh, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Dari kegelapan gerbong sebelah, belasan—bahkan puluhan—anak-anak berhamburan. Mulai dari yang masih bocah hingga usia remaja, mereka berdiri berdesakan, menatap Allan dengan tatapan cemas dan penuh selidik.
"Loh, ada orang dewasa yang masuk ke sini?" bisik salah satu anak di kerumunan.
"Paman itu sedang apa? Kok dia seperti sedang memaksa?" tanya anak yang lain, menyembunyikan wajahnya yang ketakutan di balik punggung temannya.
Allan memandang kerumunan itu dengan mutlak tak percaya. Wajah-wajah mereka... adalah wajah-wajah yang selama ini menghiasi papan pengumuman orang hilang di kantornya.
"Kalian... kalian anak-anak yang dilaporkan hilang itu, kan? Apa yang kalian lakukan di dalam kereta ini?!" seru Allan, suaranya naik satu oktav. "Hey, Dengar! Orang tua kalian menangis mencari kalian! Kenapa kalian tidak mau pulang?!"
Di tengah kepungan suara bisikan yang kian riuh, kerumunan anak-anak yang menutupi jalan tiba-tiba membelah, memberi ruang bagi seseorang yang berjalan dari gerbong belakang. Dari kegelapan, muncul seorang pria tua dengan seragam kondektur kereta api klasik yang tampak usang.
"Sudah, Anak-anak. Ayo kembali ke tempat duduk kalian masing-masing. Tujuan kalian akan sampai sebentar lagi," ucap si pria tua dengan suara bariton yang terlampau tenang.
Mendengar perintah itu, anak-anak tersebut patuh tanpa suara. Mereka membubarkan diri, menyisakan Allan dan sang kondektur tua dalam keheningan gerbong yang hanya diterangi pendar lampu jalanan yang samar dari balik jendela.
Klik.
Allan langsung menarik pistol dari sarungnya, mengarahkannya tepat ke dada pria tua itu. "Siapa kau?! Apa yang sudah kau lakukan pada anak-anak itu?"
Pria tua itu tidak gentar sama sekali. Ia justru tersenyum tipis, lalu membungkuk sopan. "Aku hanya seorang kondektur kereta api biasa, Tuan Allan. Anak-anak di sini tidak saya apa-apakan. Mereka melangkah ke dalam gerbong ini murni atas keinginan mereka sendiri."
"Jangan bohong! Jelaskan apa tujuanmu!" gertak Allan, tangannya yang memegang senjata tetap kokoh. "Aku ini polisi investigasi! Aku bisa menjebloskanmu ke penjara seumur hidup atas kasus penculikan anak!"
Kondektur itu menghela napas panjang, tatapannya berubah melembut, penuh rasa iba yang ganjil. "Semua anak di sini bahagia, Nak Allan. Di kereta ini, mereka mendapatkan apa yang tidak pernah bisa mereka dapatkan di tempat mereka sebelumnya. Itulah alasan mengapa tidak ada satu pun dari mereka yang ingin kembali."
"Omong kosong! Jangan mendongeng di depanku, Pak Tua!"
Sang kondektur mengangguk santai, seolah sudah memprediksi reaksi Allan. "Kalau begitu... apakah Nak Allan tidak ingin mencobanya sendiri? Kau juga bisa mendapatkan apa yang selama ini hilang dari duniamu."
Allan mengernyitkan dahi, perlahan menurunkan moncong pistolnya satu inci. "Apa maksudmu?"
"Bayangkan saja apa yang paling Nak Allan inginkan di dunia ini. Pejamkan matamu sesaat saja, maka kau akan mendapatkan buktinya."
Entah karena pengaruh atmosfer kereta yang magis atau rasa lelah yang teramat sangat, Allan menuruti ucapan itu. Ia memejamkan matanya. Satu detik, dua detik. Sembari sebuah memori lama yang paling ia rindukan terlintas di benak.
Allan membuka matanya kembali dengan cepat. "Mana? Aku tidak melihat apa pun!"
Kalimatnya terputus. Kakek tua di hadapannya tersenyum penuh arti, lalu memberikan penghormatan terakhir.
"Selamat menikmati perjalananmu, Nak Allan! Risiko ditanggung penumpang ya!"
Wusss~ Seketika, seluruh lampu di dalam kereta padam total.
Kepala Allan mendadak dihantam rasa pusing yang luar biasa. Pandangannya berkunang-kunang, dan sekelilingnya terasa berputar hebat seperti pusaran air raksasa, memaksanya untuk kembali memejamkan mata demi menghalau rasa mual.
Namun, ketika rasa pusing itu memudar dan Allan membuka matanya kembali, sensasi dingin gerbong kereta telah lenyap. Ia mendapati dirinya sedang berdiri di ambang pintu sebuah kereta api yang berhenti tegak, menghadap langsung ke arah peron stasiun yang terang benderang.
"Apa yang terjadi? Kepalaku!" gumam Allan, memegangi dahinya yang masih berdenyut.
Saat ia mengucek matanya untuk mengumpulkan kesadaran, pendengarannya menangkap dua suara yang teramat sangat familier. Suara yang seharusnya hanya ada di dalam mimpi setumpuk penyesalannya.
"Allan! Nak! Ayo cepat turun! Kamu sedang apa sih, berdiri bengong di depan pintu gerbong?" seru seorang wanita paruh baya dari bawah peron, wajahnya tampak cemas namun hangat.
"Iya, Allan! Cepat turun, ayo kita pulang! Besok kamu harus siap-siap buat tes masuk kepolisian!" sahut seorang pria di sebelah wanita itu, melambaikan tangannya.
Allan melongo. Jantungnya berdegup kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. Ia mengusap matanya berkali-kali, menolak memercayai penglihatannya sendiri. Di depannya, berdiri tegak kedua orang tuanya yang masih hidup dan sehat.
Tanpa sadar, air mata hangat mulai meleleh di pipinya. "Ayah, Ibu? Ini beneran kalian? Aku tidak sedang bermimpikah? Seingatku, kalian kan sudah meninggal."
"Ngomong apa sih kamu ini, Allan?" potong ibunya dengan nada ketus yang amat ia rindukan. "Kamu malah mendoakan orang tuamu meninggal, ya? Kualat nanti kamu!"
Ayah Allan menatapnya dengan pandangan menyelidiki, berkacak pinggang. "Kamu tadi habis mabuk ya di kereta, Allan? Mau tes polisi kok malah mabuk-mabukan! Kalau sampai Ayah tahu kamu macam-macam, Ayah hajar kamu, ya!"
Allan tidak marah dituduh begitu. Ia justru tersenyum, lalu tertawa pelan di sela-sela tangisnya yang pecah. Ia melangkah turun dari kereta, menghambur mendekati kedua orang tuanya.
Saat itulah ia menyadari sesuatu yang aneh. Postur tubuhnya terasa berbeda. Tidak ada lagi tubuh tegap, besar, dan lelah milik seorang polisi investigasi berusia matang. Ketika ia melirik pantulan dirinya di kaca jendela stasiun, ia mendapati sosok dirinya yang jauh lebih muda.
Dia telah kembali menjadi seorang remaja yang baru saja lulus SMA.
Ingatannya berputar cepat. Ini adalah malam di mana ia bersikeras ingin mendaftar menjadi polisi, sama seperti profesi kedua orang tuanya. Padahal, ayah dan ibunya mati-matian melarang Allan untuk masuk ke dunia kepolisian, terutama menjadi polisi militer seperti ayahnya.
Mereka terlalu takut jika Allan harus berhadapan dengan jaringan kriminal yang kejam, atau lebih buruk lagi: dipaksa menjadi 'tameng' dan membekingi pengusaha-pengusaha korup agar posisi mereka aman.
Ketakutan orang tua Allan terbukti menjadi kenyataan yang tragis di masa depannya yang lalu. Kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan mengerikan akibat rem mobil yang mendadak blong tepat saat melintasi rel kereta api di suatu malam.
Rumor yang beredar di kalangan internal korps menyatakan bahwa mobil ayahnya telah disabotase oleh pihak-pihak yang menaruh dendam, karena ayah Allan menolak untuk terus membekingi bisnis kotor seorang pengusaha kelas kakap. Namun, hingga Allan tumbuh dewasa dan menjadi detektif, kasus itu ditutup begitu saja tanpa pernah menemui titik terang.
End (open-ended)
Lomba GC Rumah Menulis — Urban Legend, Delusi, Trauma - Tema 1, 2 dan 3.