Lukman adalah seorang anak laki-laki yang berumur 14 tahun. Pada pagi hari ini, Lukman baru selesai bersiap sekolah, saat Lukman mengambil uang jajannya hari ini, dahi Lukman mengerut.
"uang segini ngak cukup untukku buk... Aku maunya 20.000Rp." Lukman mengeluh, mengulurkan uang 5.000Rp nya kepada ibunya, minta diganti. Lukman memang setiap uang jajan diberi 5.000 dan selalu mengeluh.
"tapi kan ibu ngak punya uang lain nak, ibu punya segini aja."
"eleh, alasan, pasti ibu nyembunyiin uangnya."
"ibu ngak pernah nyembunyiin sesuatu darimu nak."
"ibu pasti bohong."
"ibu juga ngak pernah bohong kepadamu nak..."
Setelah itu Lukman akhirnya pergi ke sekolah sambil masih mengeluh tentang uang jajannya, masih marah kepada ibunya. Saat diajak ke kantin juga Lukman menolah karena uang jajannya hanya 5.000, Lukman terus di dalam kelas sampai sepulang sekolah.
Saat sepulang sekolah, Lukman disambut baik oleh ibunya, tapi Lukman masih marah tentang uang jajannya.
Di esok hari, ia mengeluh lagi ke ibunya, uang jajannya hanya 2.000Rp, Lukman jadi lebih marah.
"kenapa ibu memberikanku segini saja? Ibu mau aku diketawain teman-temanku!?"
"ibu tidak bermaksud begitu nak-"
"alah, alasan saja itu."
Lukman akhirnya pergi ke sekolah lagi dengan perasaan sangat marah. Saat istirahat sekolah, dia menolak ajakan temannya ke kantin.
"kenapa kamu ngak mau kekantin Lukman?"
"aku cuman diberikan uang saku 2.000Rp"
Teman-temannya berkata lagi "kamu ngak boleh begitu, bersyukur masih diberi uang jajan untuk sekolah, lagian masih bisa beli sesuatu kok di kantin."
Tapi Lukman menghiraukan ucapan teman-temannya itu, dia tidak peduli karena baginya uang 2.000Rp tetap saja sangat kecil meskipun maish bisa dibelanjakan, akhirnya teman-teman Lukman pergi ke kantin meninggalkan Lukman.
Saat pulang sekolah, Lukman merasa ada yabg aneh, rumahnya sepi. Tapi Lukman mengira ibunya itu mungkin hanya pergi sebentar, belanja, atau hal lainnya yang tidak akan lama. Lukman pergi ke kamarnya, meletakkan ranselnya lalu berbaring di kasurnya. Mulanya Lukman hanya mau bersantai, tapi akhirnya dia tertidur dan bangun saat sore.
Lukman terus di kamarnya, memainkan ponselnya, melirik ranselnya, dia punya pr, tapi dia malas mengerjakannya. Sampai saat jam menunjukkan pukul 21.11, Lukman mendapatkan telpon dari ayahnya. Lukman menerima telpon itu.
"kenapa yah?"
"nak.... Punya waktu ngak kerumah sakit?" terdengar tanya ayahnya dari telpon, suara ayahnya serak seperti menahan tangis.
"kenapa yah? Memangnya ada apa di rumah sakit?"
"ibumu kena struk, kamu bisa datang secepatnya ngak kesini?"
Lukman kaget mendengar ucapan ayahnya itu, Lukman langsung menjawab dengan cepat.
"oke yah, Lukman kesana secepatnya, tapi gimana caranya kesana?"
"minta antarin tetangga kita, tetangga kita udah tau rumah sakit yang mana."
"oke."
Saat sudah di rumah sakit, Lukman bergegas ke tempat ayahnya lalu bertanya.
"ayah, gimana keadaan ibu sekarang?" Lukman bertanya saat sudah di dekat ayahnya.
"n-nak... Ibumu sudah meninggal dunia..." ayahnya menjawab pelan dnegan suara bergetar.
Luman tertegun seketika, dia menyesal selalu memarahi ibunya selama ini karena dia kurang bersyukur. Sejak saat itu Lukman belajar dari kesalahannya itu, mulai bersyukur akan keadaan yang ada.
Amanat: sesuatu sekecil apapun yang diberikan seseorang kepada kita akan membuat kita bahagia sekecil apapun nilainya, karena pemberian orang lain akan menjadi lebih berharga daripada mempunyai hal tersebut langsung, dan keberhargaannya juga tergantung pada bagaimana kita mensyukurinya