Rafi biasa bangun saat matahari mulai redup—sore.
Di kamarnya yang sempit di lantai dua rumah kontrakan, tirai selalu tertutup.
Suara dunia luar hanya terdengar lewat dering notifikasi atau lagu favoritnya.
Setahun terakhir, Rafi tak lagi sekolah.
Bukan karena dia malas belajar, tapi karena takut bertemu teman-teman, suara-suara yang membuatnya gugup, dan rasa malu setiap kali ditanya, “Kok lama banget nggak ke sekolah?”
Setiap pagi, ibunya memanggil dari bawah:
“Rafi, sarapan dulu, yuk.”
Rafi hanya menjawab lewat pintu kamar.
Kadang ia lapar, tapi seringnya rasa cemas lebih besar daripada rasa lapar.
Di kamarnya, Rafi memiliki tiga hal yang ia sayangi:
📌 tumpukan buku komik,
📌 poster band favorit di dinding,
📌 dan jendela kecil yang menghadap gang.
Suatu sore, saat senja jingga merayap masuk lewat celah tirai, Rafi melihat anak tetangga baru di seberang jalan.
Anak itu membawa skateboard dan sering tertawa sendiri. Ia terlihat bebas—berbeda sekali dengan Rafi.
Anak itu beberapa kali melambai padanya.
Awalnya Rafi hanya membeku.
Hari ketiga, ia melihat anak itu menulis sesuatu di selembar kertas, lalu mengangkatnya ke arah kamarnya.
Tulisan itu berbunyi:
“Mau main skateboard bareng?”
Rafi ragu.
Jantungnya berdebar.
Rasa cemas hampir membuatnya menutup tirai—tapi ada sesuatu di kata “bareng” yang membuatnya ingin mencoba.
Dia menulis balasan dengan tinta tebal di kertas lain:
“Aku belum siap keluar. Tapi…
boleh aku lihat skateboard-nya dari jendela?”
Si anak tersenyum, lalu muncul di bawah jendela Rafi.
Ia mengangkat skateboard-nya ke atas, seolah menunjukkannya.
Rafi membuka sedikit tirai.
Sebelah mata melihat dunia—dan senyum itu terasa hangat.
Itu bukan kemenangan besar.
Bukan juga perubahan drastis.
Tapi bagi Rafi, itu sudah langkah kecil pertama keluar dari dunia sendiri.