Ketika aku membuka buku, mayat kupu-kupu kecil kecokelatan menempel di halaman pertama. Aku mengusapnya dengan mudah tanpa perlu takut itu adalah mayat atau repot-repot memikirkan apa harus menguburnya. Yang aku tahu, itu unik, tapi juga menjengkelkan karena mengotori halaman bukunya. Aku tidak pernah berpikir jika bukunya menjadi wadah bagi sisa-sisa kupu-kupu itu–barangkali kulit. Atau merasa perlu membuangnya karena itu masih ada sisa kehidupan yang telah mati. Jika pun bukunya jadi horor, aku yakin roh kupu-kupu itu tidak akan mampu melakukan apa pun, dan jika dia berusaha paling tidak hanya meniup beberapa halaman bukunya untuk menakutiku. Tetapi sayangnya aku hanya berpikir itu pasti hanya angin berembus, dan jika terjatuh maka itu karena aku tidak menaruhnya dengan benar. Kupu-kupu, jika mereka benar-benar bisa menjelma menjadi hantu, barangkali tidak akan menakutiku meskipun dia sangat menyeramkan. Aku punya dua tangan besar dan perlu sedikit menggerakkannya, maka itu sudah selesai. Akan tetapi, jika benar-benar muncul, itu pasti akan viral karena tak pernah ada hantu seperti itu, bahkan tukang daging yang sering membunuh ayam tidak pernah melihat gerombolan hantu ayam yang menyerangnya. Mengapa hanya manusia saja yang bisa jadi hantu?
Membaca sebentar segera kudengar suara *handphone* dari samping. Itu sepertinya adikku yang bermain. Pikiranku jadi sedikit terbelah. Di luar hujan dan karena rumah kami dekat dengan pegunungan, dinginnya mulai masuk. Suara *handphone* dan hujan hanya bisa sedikit terhalangi dinding tapi tetap merayap dari sirkulasi udara di atas. Aku tak terlalu terganggu, hanya saja meminta agar hujan cepat reda. Lalu teringat dengan ayah dan ibu. Apa mereka tidak kehujanan? Ketika mereka tidak ada di rumah, rasanya sebagian kehidupan di rumah ini menghilang, begitu pun adikku dan bahkan mungkin jika aku pergi juga. Para kucing dan anjing pun akan mengubah suasana rumah ini jika mereka mati. Sepertinya aku tidak terbiasa dengan perubahan, sebagaimana aku membayangkan hidup tanpa kedua orang tuaku, sebagaimana aku mengacaukan ketenangan ibu ketika bertanya, mengapa manusia suka sekali memberi nama, mengapa ibu tidak marah ketika nenek dan kakek memberi nama Vira, meskipun ibu tidak terlalu suka.
Aku pernah bertanya dan ibu jawab, “Karena mereka orang tua ibu, Mir. Kamu paham ‘kan?”
Ibu sedang menggoreng telur dan suaranya menggemaskan. Dia lupa membaliknya. Sehingga telurnya jadi sedikit lebih kering lalu berseru, “Mir, seharusnya kamu tak mengajak ibu bicara.”
Aku tertawa tapi pada akhirnya, suatu ingatan membentur kepalaku. “Bu...” Ibu segera mematikan kompor dan sedikit menoleh. “Kapan Tuhan ulang tahun? Mengapa manusia berani memberinya nama Tuhan? Siapa yang memberinya nama? Mengapa manusia begitu berani memberi nama seperti itu?”
“Mir, jangan tanya. Ibu juga tidak tahu. Kamu hanya perlu menerimanya saja.”
“Menurut ibu siapa sebenarnya Tuhan itu?”
Ibu menatapku. Matanya berkilauan lalu tersenyum sehingga aku menangkap kerutan di ujung matanya. “Aku suka. Bagiku bumi ini Tuhan. Ketika kita menyatu kembali bersamanya, itu tidak lain melebur menjadi tanah, bukan naik ke langit. Dulu ibu ingat orang bilang menyatu dengan Tuhan itu naik ke surga atau langit, tapi langit dipenuhi bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya, ke mana harus pergi? Jadi ibu pikir kita pada akhirnya menyatu kembali dengan tanah. Bagaimana? Apa kamu percaya?”
Aku tersenyum dan mengangguk.
Ibu melototiku lalu mengangguk-angguk. “Jadi gadis yang baik. Ketika kehidupan mengikatmu, kamu masih punya pikiran untuk bebas.”
Aku menjawab ya dan ibu kembali menghidupkan kompor dan mulai menggoreng telur. Jujur saja setelah mendengar banyak peristiwa kompor meledak, aku tak berani berurusan terlalu lama dengan benda yang berbahaya itu, meskipun ibu bilang hanya perlu memahami sifatnya. Karena aku manusialah, aku berpikir meskipun kami mempelajari sifatnya, masih ada hal lain yang tak bisa kami kontrol.
Ibu, sekarang pergi bersama ayah menjenguk orang di rumah sakit. Aku telah meletakkan mantel di motornya dan mengecek kapan mereka berangkat. Seharusnya mereka sudah di perjalanan pulang. Jika mereka sudah di setengah perjalanan, seharusnya itu akan baik-baik saja karena banjir tidak akan terlalu mengganggunya.
Aku mengecek sisa kupu-kupu itu lagi dan meniupnya. Jadi teringat dengan kunang-kunang yang tidak sengaja kuinjak dan menyadari lampu di pantatnya masih hidup, namun aku sadar darah dari kepalanya muncrat mengotori kakinya. Apa makhluk kecil seperti itu bisa bertahan dari manusia yang begitu besar? Seharusnya dia tidak ada di sana sehingga tidak menanam rasa bersalah dalam hatiku.
Setelah beberapa saat membaca, pada akhirnya aku mengantuk sementara hujan terus jatuh. Aku berdoa agar ayah dan ibu baik-baik saja lalu pergi tidur. Adikku masih sibuk bermain HP.
Ketika aku bangun, suara dapur yang khas masuk dalam telingaku. Aku bisa membayangkan ibu sedang bermain dengan spatulanya, menggoyangkan nampan yang berisi beras untuk membersihkannya. Tapi aku juga melihat sesuatu yang besar di meja dan segera berlari mendekati ibu lalu memeluknya dari belakang.
“Kenapa Mir?” Ibu terkejut.
“Bu, aku sayang kamu...”
“Ah, kamu..”
“Enggak, aku sungguh. Mir sayang ibu.”
“Iya, iya, ibu tahu meskipun karena ibu membelikanmu mainan.”
Aku terkekeh dan membenamkan wajah dalam punggung ibu, menghirup aroma keringatnya yang unik.
“Bu, terima kasih.”
“Iya, nona cantik, bisa lepaskan pelukannya sekarang?”
Aku tersenyum lalu melepaskannya. Ibu mengomel dan aku segera kembali ke kamar untuk melihat miniatur rumah besar yang lengkap dengan perabotan dan orang-orang di dalamnya. Saatnya menjadi raksasa. Mendekatkan mata di jendela aku melihat seorang nenek kecil yang sedang duduk membaca koran. Di lantai ada dua anak kecil yang sedang bermain-main. Ibunya sedang memasak di sebelah kiri, dan pintu kanan ayahnya sudah ada di bibir pintu. Sepertinya sedang memanggil atau menyuruh. Aku senang bisa membayangkan orang-orang kecil ini bisa hidup dan aku bisa mengintip keseharian mereka tanpa mereka sadari. Ruangan tamunya indah dengan karpet permadani dan lukisan-lukisan bergaya Eropa. Lalu aku melihat di kamar sebelah, itu kamar pasangan suami istri itu, mereka sedang mematikan lampu sebelum tidur. Melihat di kamar sebelahnya lagi, itu kamar neneknya dan ia sedang membuka album foto lama. Kamar satunya lagi kosong dan kamar satunya lagi, dua anak kecil tertidur.
Aku menjauhkan wajah lalu melihat ke halaman. Nenek sedang menyiram taman. Dua cucunya berlarian. Melihat ke salah satu ruangan secara acak, ternyata itu ruangan *laundry* di mana sang istri sedang memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci, sementara suaminya membawa sekeranjang pakaian kotor. Aku jadi berpikir, apakah semua hal yang kami para manusia lakukan tidak lebih seperti miniatur ini dan seluruh kejadian telah ditangkap. Apakah Tuhan itu memiliki mata seperti angin yang dapat melihat kami para manusia sebagaimana aku memperhatikan setiap ruangan miniatur ini? Inikah rasanya mengamati kehidupan?
Aku sejenak melihat ventilasi udara yang masuk. Menatapnya sebentar dan kurasa pikiranku terlalu jauh. Karenanya aku segera membangunkan adikku sembari berteriak lalu mengambil pakaian untuk pergi ke sekolah. Salah satu hal kubenci di kehidupanku adalah ke sekolah. Mungkin ketika aku lebih besar, aku akan membenci pekerjaanku.
Aku dan adikku lalu makan bersama dan akhirnya pergi setelah bersalaman dengan ibu. Ketika aku berjalan, aku mengecek buku yang kubawa dan memeriksanya, tidak ada yang kurang, lalu berusaha berpikir apa lagi. Aku takut ada beberapa hal yang kulupakan. Namun aku tidak menemukan apa-apa. Pelajaran pertama pagi itu Matematika dan aku benci Matematika. Ibu gurunya juga aneh. Seringnya ia mengajari menjawab pertanyaan A tapi memberi soal latihan B dan aku tak bisa menjawab. Memangnya Matematika itu bisa dibelokkan ya seperti ide atau soal gagasan? Aku tak mengerti dan karena itu pura-pura mengerti saja. Lalu jam kedua kami belajar tentang struktur sastra. Sedikit menarik, tapi aku hanya belajar struktur, bukan sesuatu yang menyenangkan. Jam terakhir mendapatkan IPA dan kupikir ini jauh lebih menyenangkan karena aku bisa tahu, ternyata kupu-kupu itu dari kepompong dan kepompong berasal dari ulat. Aku juga tahu berbagai jenis hewan, energi dan senyawa.
Pada siang harinya, akhirnya aku pulang. Seperti biasa, melihat bekas sepatu adikku di lantai. Berusaha tidak mempedulikannya, dan melakukan sesuai kata ibu. Memang benar, sulit mengajari orang yang tak ingin belajar, tapi pada akhirnya kebodohannya mempengaruhi perasaanku. Mencuci kaki, berganti, dan ya aku harus melototi adikku yang tidak paham mengapa harus melepas seragam sebelum makan. Biarlah dia yang mengerti nantinya, tapi aku harus berusaha tidak peduli. Malam, dan segera belajar, sementara adikku bermain.
Kubuka lagi buku bacaan tadi malam yang masih ada sedikit bekas mayat kupu-kupu itu, membacanya lalu akhirnya sesekali melihat miniatur rumah di meja. Ibu benar-benar baik pada anak-anaknya, bahkan bisa dibilang terlalu baik sehingga memaafkan segala kesalahan adikku. Mungkin biarlah Tuhan yang memberi pelajaran atau guru yang keras ini, sementara ibu dan aku melakukan kewajiban sebagai kakak. Tapi aku sering merasa kalau mempedulikannya jika itu membuatku sakit untuk apa aku harus melakukannya? Mungkinkah karena darah kami sama jadi aku tidak bisa berpaling darinya. Suatu saat aku pasti akan pergi dan pada saat itu kehidupanku mungkin jauh lebih tenang. Namun sampai kapan?
Aku jadi ingat tentang adikku yang pergi begitu saja ke rumah temannya untuk menginap atau sekadar bermain tanpa meminta izin kepadaku, ayah atau ibu. Ayah tidak terlalu peduli, mungkin karena adikku itu masih kecil, dan ketika aku bertanya pada ibu, ibu menjawab, “Adikmu masih kecil.” Jawaban yang sama dari dua orang tua. Seharusnya, bukan seharusnya, sebaiknya aku tidak perlu memusingkannya dan lagipula aku harus memperhatikan apa yang benar-benar penting untukku, jadi semua energiku digunakan dengan baik, sayangnya ketika melihatnya terus bermain tanpa menanggung tanggung jawabnya, aku jadi kesal dan melapor pada ibu. Kupikir ibu akan membentaknya sebagaimana aku dulu, tapi hanya berseru, “Adik, belajar dulu.” Dan adikku akan berpura-pura belajar. Mungkin, belajar baginya hanya perlu diikuti agar ibu tidak marah padanya. Tapi seiring waktu berlalu, sikapnya jauh lebih buruk dan mulai tidak bisa dikendalikan. Ibu pasti marah, dan berteriak memarahinya. Aku sebagai kakak–mungkin bukan kakak yang baik, menikmati kemarahan ibu. Dan setelah berpikir ternyata aku sangat menyukai bagaimana sikap ayah dan ibu memperlakukannya sebagaimana aku dulu. Namun karena kemarahan itu, aku jadi merasa rumah ini penuh masalah dan konflik.
Sekarang, aku masih mendengar suara HP dari balik dinding dan membayangkan betapa menyenangkan adikku berbaring menonton video pendek yang dipenuhi hal-hal yang menggelikan. Aku ingin menyuruhnya belajar tapi rasanya aku harus menahannya agar tidak ada konflik malam ini. Aku membaca sebentar, menggeser miniatur rumah dan melihat jadwal pelajaran sebelum akhirnya mulai belajar. Tapi selama itu, suara HP di samping benar-benar mengganggu dan aku kesal. Kenapa ya dia bisa santai seperti itu? Mungkinkah kehidupan sekolahku dulu dan sekarang benar-benar berbeda? Adikku sering tidak belajar dan ibu sering memperingatinya, tapi selalu saja tidak mau dan merasa dirinya pintar seperti malam ini. Ibu sepertinya lelah mengurusnya dan berusaha dengan hati yang tenang menasihati adikku. Namun semakin ibu baik, maka adikku semakin menjadi-jadilah. Pernah akhirnya Bu Sentosa datang, mengatakan anaknya dipukul adikku. Aku tidak tahu bagaimana itu terjadi, tapi ibu berusaha tenang dan meminta maaf. Ibu juga menasihati adikku dan dia hanya menjawab ya sembari menunduk. Aku akan maklum jika dia melakukan kesalahan karena tidak tahu itu salah.
Tapi, setelah beberapa bulan lagi, akhirnya dia dikatakan memukul anak perempuan dan ketika ibu bertanya, dia menjawab awalnya hanya bermain-main tapi kemudian jadi berkelahi. Anak-anak memang selalu seperti itu, tapi ibu gadis itu datang ke rumah kami sembari marah-marah dan mengancam akan melaporkan ke polisi. Ini terasa berlebihan, tapi kami sekeluarga terpukul. Ayah marah dan ibu berusaha menahan air mata. Baru, waktu itu aku melihat ibu menangis karena anak kecil, padahal dia selalu kuat bekerja, memasak dan melakukan apa saja demi sekeluarga baik-baik saja. Tapi ibu masih baik pada adikku dan aku penasaran lalu bertanya mengapa ibu baik sekali.
“Ibu juga baik pada Mir bukan?” Ibu tersenyum dan menuangkan nasi.
Tidak atau mungkin aku anak yang sensitif sehingga sedikit kemarahan membuatku takut. Ibu sering marah padaku ketika kecil juga. Ibu sering marah karena aku buang sampah sembarangan dan ketika bu guru menyatakan itu perbuatan yang baik, aku jadi bangga walaupun dimarahi ibu. Ibu sering memberiku aturan tentang jam berapa harus pulang, mandi dan belajar. Ibu juga pastinya melakukan ini pada adikku, tapi adikku tidak setakut diriku.
“Mir... ibu selalu adil ‘kan? Tak pernah membedakan kalian?”
Aku tidak bertanya lagi, tapi ingat jika aku perempuan sementara adikku laki-laki. Walaupun ibu bilang begitu, nyatanya aku hanya anak yang dibesarkannya lalu pergi dari rumah ini. Sementara adikku adalah pewaris dan anak yang akan selalu bersama ibu di rumah. Apakah kemarahan ibu padaku karena jika pun aku membencinya aku juga akan tetap pergi? Kenapa tidak katakan saja jika semua harapan ayah dan ibu ada pada anak laki-laki bungsunya. Namun jika itu yang keluar dari mulut ibu, betapa aku akan tersiksa mendengarnya. Jadi, berusaha percaya dengan jawabannya adalah pilihan yang baik.
Setelah belajar aku membaca bukuku lagi dan setelahnya mematikan lampu lalu tertidur. Suara HP di seberang masih saja terdengar.
Besoknya aku bangun pagi dan berteriak lagi untuk membangunkan adikku. Kami berangkat dan ketika pulang, kudapati sikapnya yang menjengkelkan itu lagi. Berusaha tidak peduli dan melakukan apa yang patutnya kulakukan.
Malam harinya, aku ingin membuka buku bacaan lagi setelah belajar, tapi tiga ketukan pintu terdengar. Ibu ada di luar, memanggil, “Mir, boleh ibu bicara sebentar?”
Aku jadi penasaran apa yang terjadi dan segera kubuka, mendapati wajah ibu yang kelelahan.
“Bu, ada apa?”
“Hanya bicara sebentar saja.”
Aku menutup pintu lalu duduk berhadapan dengannya, ibu, wanita tua yang kecantikannya tergerus karena menjaga keluarga agar tetap makan dan bahagia. Aku menatapnya sebentar dan menyuruhnya untuk berkata.
“Mir, tadi pagi Ibu Suna datang menghampiri ibu ketika jalan-jalan di pasar, dan setelah...”
Ceritanya jadi panjang. Ibu Suna tidak menghampiri ibu dengan membawa hal baik. Dia bercerita jika Suna anaknya akhirnya dibawa ke rumah sakit. Kepalanya harus dijahit karena terluka. Lalu bilang pada ibu bahwa, jika Dedi, adikku telah melemparkannya batu. Ibu Suna berusaha tidak mengatakan ini, tapi Suna terluka parah sehingga Ibu Suna tidak mau berdiam diri.
Aku bertanya, apa Ibu Suna menyakiti ibu.
“Tidak, Mir. Ibu Suna baik, hanya saja....”
Aku mengerti. Sebagai ibu tidak ada anaknya yang ingin terluka dan ibu, serta sebagai ibu memahami bagaimana perasaan seorang ibu melihat anaknya terluka. Tanpa Ibu Suna marah-marah atau menjelaskan perasaannya, ibu tahu bagaimana itu. Air mata ibu mulai menetes dan aku membencinya.
“Mengapa begitu ya?” Ibu bertanya setelah mengusap air matanya.
Aku hanya bilang, ibu tidak salah.
“Tapi Mir, bagaimana bisa?”
“Tenang Bu, kesehatan ibu lebih penting. Jangan dipikirkan. Nanti kita jenguk Suna ya.”
Ibu mengangguk, diam sebentar lalu melihat miniatur di meja dan bertanya padaku. “Apa Mir suka?”
Aku tersenyum. “Tentu saja. Mainannya sangat menyenangkan.”
Ibu berusaha tersenyum lalu akhirnya pergi dari kamarku. Aku memperingatinya, “Jangan memikirkan masalah itu ya.”
Ibu mengangguk lalu pergi.
Aku masih mendengar suara HP di seberang dan memikirkan mengapa adikku tidak merasa bersalah, mengapa dia melakukannya? Ingin rasanya menghampiri dan marah-marah, namun aku menahannya dan berusaha tidak mempedulikannya. Aku kesal dan akan lebih kesal jika melontarkannya. Sebagai gantinya, aku berusaha melihat sudut-sudut rumah miniatur yang ada dan belum kulihat. Pasti Tuhan melihat semuanya sebagaimana aku melihatnya. Apakah Tuhan tidak akan bersedih jika melihat miniatur rumah kami? Tidak mengasihani ibu yang terus berusaha dan mengirim malapetaka bagi adikku? Ah, miniatur ini indah sekali, penuh kehidupan.