Aku lahir di sebuah Desa kecil, tempat yang jarang orang dengar namanya. Desaku begitu segar, langitnya biru dan suara jangkrik malam selalu menemani tidurku. Dulu, aku tidak pernah tau seperti apa itu dunia luar!! Karena menurutku desa ini sudah memberikan segalanya untukku. Tetapi, aku tersadarkan akan satu hal_hidupku mulai dari sini dengan langkah kecil yang penuh harapan.
Masa kecil di desa🌻🌻
Saat kecil, Aku dan beberapa temanku bermain di sekitar rumah dan sesekali bekerja bak orang dewasa. Kehidupan aku jauh berbeda dari anak kecil seusiaku. Ketika memasuki usia1 tujuh tahun, aku dihadapkan dengan kegiatan yang menurutku tergolong berat. Ayahku seorang petani. Dia adalah sosok ayah yang begitu hebat. Bekerja pagi pulang sore demi menghidupi keluarga kecilnya. Ibuku tidak kalah tangguhnya, Ia juga seorang petani, sekaligus orang yang selalu menemani hari-hariku. Mereka yang mengajarkan aku untuk jangan pernah takut bermimpi. Mereka bilang "Apapun yang kamu inginkan pasti tercapai kalau kamu terus berusaha". Nasihat itu selalu terngiang di kepalaku. Terkadang sering kali aku merasa bingung. Aku selalu bertanya pada hati kecilku "Mengapa Ayah dan Ibu ingin sekali bekerja di ladang dan tidak mau meninggalkan desa ini!!". Saking penasarannya, aku selalu bertanya seperti apakah dunia luar itu? Seakan-akan dunia luar itu begitu misterius dan menggiurkan. Saat aku sudah cukup umur, Ibuku mendaftarkan aku di sebuah sekolah dasar di desaku. Aku begitu antusias saat mendengar bahwa sekolah bisah merubah nasib seseorang. Meskipun sekolahku tak sebanding dengan sekolah diluar sana, yang mungkin fasilitasnya sangat memuaskan, tetapi aku selalu bersyukur aku masih diperkenankan untuk duduk di bangku pendidikan ini.
Memasuki masa remaja🙋
Enam tahun berlalu, Aku kini duduk di bangu SMP. Masih di tempat dan desa yang sama. Berbeda dengan sebelumnya, Aku mulai merasakan adanya perubahan. Aku semakin giat belajar, bahkan untuk jatuh cinta di masa ini pun aku belum tau. Selain itu di sekolah ini, aku mengenal lebih banyak teman. Tetapi disisi lain aku mulai merasakan adanya perbedaan antara diriku dengan teman-temanku yang berasal dari keluarga mampu. Mereka dibelikan buku
bagus,sepatu bagus, bahkan pakaian yang bagus. Ada lagi beberapa temanku yang bersekolah di kota. Aku merasa iri dengan semua barang yang mereka miliki. Aku yang hanya bisa membeli satu buku untuk beberapa mata pelajaran, bahkan saat ujian pun aku hanya bisa belajar dibawah lampu minyak. Tetapi, setelah dilakukan terus-menerus aku mulai menyadarkan diriku kembali,dan rasa iri serta minder yang merenggut pikiranku mulai hilang. Justru aku berpikir itulah yang menjadi tantangan tersendiri bagiku.
Aku tahu bahwa pendidikan yang dapat membawaku keluar dari desa ini. Mimpiku untuk mengenal lebih dalam dunia luar itu semakin besar. Sepulang sekolah aku kembali membaca buku yang dipinjamkan oleh guru, bahkan hingga aku terlarut dalam lelap saat membacanya. Meskipun kadang merasa lelah, kadang juga bosan. Aku juga menginginkan sesuatu,yang dimiliki oleh teman sejagat-ku yaitu sebuah benda yang bisa mencari hal-hal baru tanpa harus berpaku pada sebuah buku. Tetapi keinginan itu aku pendam rapat-rapat. Aku juga memikirkan kondisi perekonomian keluargaku. Aku tahu betapa kerasnya tuntutan yang dihadapi oleh kedua orang tuaku. Walaupun demikian aku merasa bahagia bisa meraih cita-cita yang sudah aku impikan sejak kecil. Tibalah waktunya kami akan dihadapkan dengan ujian. Ujian yang akan menentukan apakah kami akan lulus atau tidak. Pagi harinya saat memasuki lapangan upacara, aku sedikit dikagetkan dengan pengumuman yang disampaikan oleh kepala sekolahku. Dimana beliau mengatakan bahwa salah satu syarat untuk mengikuti ujian adalah membayar semua kewajiban, yaitu uang sekolah. Saat aku sedang duduk di pelataran perpustakaan, aku sedikit bergulat dengan pikiranku. Aku mulai bertanya apakah orang tuaku akan mampu membayar kewajibanku dalam kurun waktu yang begitu singkat. Air mata yang tidak bisa aku tahan,kembali membasahi pipiku. Tanpa aku sadari ada sepasang mata yang memantau dari jauh. Dia mendekatiku dan mengelus kepalaku dengan lembut. Dengan suaranya yang begitu lembut dia bertanya " Nak kamu kenapa, apakah ada masalah?" Jangan sungkan ceritakan semuanya pada ibu. Mendengar itu, aku menatapnya dengan mata yang sendu. Bu, aku bingung. Aku tidak tau apakah aku nanti masih diperkenankan untuk mengikuti ujian akir. Karena aku takut orang tuaku tidak bisa membayar kewajibanku. Aku tau, mengumpulkan uang yang tergolong cukup besar tidak bisa didapat hanya dua hari bekerja. Tetapi disisi lain aku takut harapan dan impianku tidak tercapai. " Nak soal biaya jangan kamu pikirkan" aku yakin orang tuamu punya begitu banyak cara untuk membayar kewajiban mereka. Kamu cukup belajar dengan tekun, semuanya pasti bisa teratasi. Ibu nanti akan coba bicara dengan kepala sekolah, siapa tau kami semua bisa membantumu. Sudah jangan bersedih lagi. Mendengar itu aku sedikit lega. Akupun kembali merapikan peralatan sekolahku, dan kembali dengan secuil senyuman ke rumah.
Malam hari kembali aku membuka buku ringkasanku. Aku mulai membacanya dari halaman satu ke halaman berikutnya. Satu menit, dua menit hingga tiga puluh menit berlalu. Tenggorokanku terasa mengering. Aku bangun dari dudukku dan melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Aku melihat ayah dan ibu sedang gelisah di ruang tamu. Dengan langkah pelan aku, duduk di samping ibu yang sedang membuka tutup secarik kertas putih. " Ayah ibu" aku mulai memberanikan diriku untuk berbicara. Tetapi tidak ayah maupun ibu yang menyahut. "Ayah, ibu tiga hari lagi aku akan ujian akir. Sontak ayah dan ibu mulai menyimak. Tapi.... Aku sedikit gugup. Tapi untuk mengikuti ujian semua kewajiban harus lunas. Aku mulai memperhatikan respon ayah dan ibu. Ayah mulai menggaruk kepala yang entah gatal atau hanya sekedar untuk gerakan refleks. Ibu mulai menatap ayah, seolah menyuruhnya untuk menyampaikan sesuatu. "Nak ayah dan ibu sudah memikirkannya dari kemarin, ayah juga sudah bekerja sekeras mungkin. Tetapi sampai saat ini yang terkumpulkan hanya sebagian. Tetapi ayah dan ibu berjanji kamu pasti bisa untuk mengikuti ujian akhirmu. Kamu jangan memikirkan terkait biayanya,urusan biayanya ayah dan ibu akan mencari seribu cara untuk bisa melunasi kewajiban itu. Iya nak. Selagi kamu punya niat dan berusaha terus,kami selaku orang tua tidak menutup mata. Kami tidak mau, anak kami seperti kami. Kami hanya ingin kehidupan kamu jauh berbeda dari kedua orang tuamu ini.
Hari ujian pun tiba. Aku sangat bersyukur karena aku bisa mengikuti ujian dan menjawab soal dengan sangat baik. Sekembalinya aku di rumah, aku langsung disambut dengan senyuman manis ibu. Aku melihat rumah sedikit ramah. Ayah langsung mengelus rambutku dan memberi aku salut,dengan jari jempolnya yang begitu keriput. "Nak ayah dan ibu bangga sama kamu" kamu bisa mengikuti ujian hari ini tanpa sepeser uang pun dari orang tuamu. Aku kembali menyimak kata-kata yang dilontarkan ayah itu. Ayah melanjutkan ceritanya hingga aku menemukan inti dari cerita tersebut. Bahwa yang membayar semua kewajiban aku adalah dari pihak sekolah. Tiba harinya pengumuman kelulusan dibacakan. Aku sangat mengapresiasi diriku, karena berhasil menjadi juara satu umum dari banyaknya peserta didik seangkatan kami. Ayah dan ibu tidak kalah senangnya. Tetapi satu kalimat kembali ayah bisikan padaku " jangan merasa tinggi hati, pencapaianmu hari ini harus kamu pertahankan hingga akir hidupmu kelak". Hari berganti hari,bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Hari ini aku diantarkan oleh ayah, untuk kembali mendaftarkan aku ke jenjang menengah atas. Rasanya begitu senang, perjuangan dan impian yang aku tanamkan sejak dulu sedikit demi sedikit terwujudkan. Dunia luar yang aku anggap misterius dan tergiurkan mulai aku jelajahi. Aku bersekolah tidak lagi di desaku, melainkan disekolah yang cukup jauh dari desa. Tetapi dengan tekad dan semangat, aku akhirnya bisa duduk dibangku ini. Aku mulai memikirkan bagaimana aku disini. Aku tidak punya kenalan, sahabat ataupun orang baru yang mau ku ajak bicara. Rasanya sepi. Hingga suatu ketika aku di ajak oleh seseorang untuk pergi berdoa di gua Maria,yang bertepatan dengan gereja sekaligus biara yang menjadi tempat pastor paroki kami tinggal. Ketika aku sedang berdoa, aku dikagetkan dengan suara maraton yang menyapa aku sore itu. Hallo selamat sore. Sontak akupun mengakhiri doa yang sedang aku daraskan. Hallo selamat sore pater. Kebetulan aku juga sudah mengenal beliau. Em.. kamu ya!!! Kamu tinggal dimana? Hari ini tadi pater, aku datang bersama dengan ayahku untuk mendaftar sebagai peserta didik baru di SMAN 1 Citra. Rencananya mau tinggal di asrama. Oh begitu ya. Tapi kalau kamu mau, kebetulan di belakang dibutuhkan dua orang lagi untuk tinggal, supaya meringankan kamu punya ayah untuk tidak membayar uang asrama,kamu bisa tinggal di belakang. Akupun kembali bergelut dengan pikiranku. Aku begitu senang ketika ditawarkan untuk tinggal di rumah yang nyaman dan plus-nya gratis. Tetapi disisi lain aku juga berfikir bahwa tinggal dalam rumah nyaman itu pasti juga tidak gratis. Meskipun tidak harus bayar dengan uang tetapi aku yakin pasti ada kerjaan yang harus aku kerjakan. Tanpa menunggu waktu lama, akhirnya aku menyetujui tawaran tersebut.
Disinilah kehidupan baru mulai. Aku yang dulunya bangun pagi jam 06.00 sekarang harus jam 04.00😇 Aku yang dulunya tidak pernah mandi pagi, sekarang harus wajib,dan yang paling baru bagi aku adalah misa setiap pagi. Tetapi itu semua aku lakukan tanpa mengeluh. Aku mulai memaksakan diri untuk beradaptasi dengan semua situasi yang ada. Dalam diri aku selalu menanamkan bahwa semua kebiasaan itu akan menjadi terbiasa.
Waktu berlalu begitu cepat. Aku mulai merasakan tinggal dirumah yang tanpa dibayar ternyata tidaklah mudah. Setiap hari harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak terlalu suka dengan keberadaan aku di sini. Mereka mulai menceritakan seakan-akan aku begitu malas di mata mereka. Bahkan orang yang serumah dengan aku mulai membolak-balikkan fakta. Aku mulai takut. Jika suatu hari nanti, pater yang memperkenalkan aku dengan rumah ini ikut membenci aku.
Malam harinya, aku kembali membuka buku bacaan yang mengantarkan aku dalam tidurku. Tanpa aku sadari, masalah sedang di depan pintu. Tenyata orang yang aku anggap sebagai pengganti orang tuaku dalam rumah ini, menjadi musuh dalam selimut. Pintu kamarku digedor seakan-akan aku telah mencuri sesuatu. Aku panik dan keluar kamar, satu pukulan melayang di pipiku. Aku di hina,dianggap sebagai orang yang hanya menumpang. Aku yang tidak mengetahui apa-apa sangat terpukul,air mata mulai mengalir membasahi pipiku. Bagiku kata-kata lebih sakit dari tamparan. Keesokan paginya, aku kembali melaksanakan rutinitas sebagai pelajar. Aku berangkat sekolah dengan mata bengkak. Tetapi langkah demi langkah yang aku lalui, aku masih memikirkan kejadian semalam. Aku belum tau, apa yang menjadi akar masalah sehingga aku di perlakukan seperti itu. Di sekolah aku tidak terlalu fokus dengan mata pelajaran yang dibahas. Hingga lonceng pulang berbunyi. Aku takut, aku takut saat aku kembali pulang di rumah itu, masalah baru akan muncul. Tetapi dengan tekad, aku memberanikan diriku untuk melangkah meskipun dengan tangan gemetar.
Keesokan harinya kembali aku duduk di perpustakaan. Aku membaca begitu banyak buku mata pelajaran yang tersedia di perpustakaan ini. Saking asiknya membaca, tak berselang waktu lonceng pun kembali berbunyi. Aku memutuskan untuk rehat sejenak dengan bacaanku. Memilih duduk di bawah pohon jati, dan kembali melamun. Saking lamanya lamunanku. Samapi aku kaget ketika ada sosok lelaki yang duduk di sebelahku. Dia menawarkan segelas teh. Haiii.. ini aku bawain kamu teh. Kata orang tidak baik tau kalau melamun terlalu lama, nanti kemasukan setan. Oh ya, mana ada setan di siang bolong begini, sahutku. Aku langsung beranjak dari tempat itu, tanpa memperdulikan
tawarannya.
Ketika hari senja, aku disuruh oleh pater untuk membeli sesuatu di warung terdekat. Ketika aku berangkat, aku tidak sengaja berpapasan dengan seorang laki-laki, agak berumur menuju rumah kami. Aku seketika memikirkan mamaku,yang sendirian di rumah. Mamah yang serumah dengan ku, yang sekaligus musuh dalam selimut itu. Tanpa aku ketahui ternyata laki-laki itu adalah sang kekasihnya. Mereka menjalin hubungan sejak sebelum aku masuk ke rumah itu. Aku sampai berpikir, kalau mama marah dengan aku kemungkinan dia takut aku membongkar rahasianya. Benar saja, setelah pulang berbelanja aku seketika di marahin oleh pater. Aku sedikit shock. Tetapi pater berbisik di telingaku, maaf!! Bukan bermaksud untuk marahin kamu. Sebenarnya aku kecewa dengan kelakuan mama itu. Dia membawa tamu tanpa seizin kami disini. Aku mencerna semua kalimat itu. Seketika aku kembali teringat dengan sosok laki-laki yang berpapasan dengan aku. Ternyata pater melampiaskan semua amarahnya kepadaku,tetapi sebenarnya dia mau memberi pelajaran kepada mama. Pater memarahi aku dengan suara yang begitu keras.
Hari berikutnya, aku kembali berangkat sekolah. Pagi itu aku sedikit datang lebih awal, karena ada tugas piket. Setibanya di ruangan kelas aku menemukan sepucuk surat, yang bertuliskan " untukmu orang yang kusukai". Awalnya aku mengabaikan surat itu, tetapi rasa penasaran yang begitu besar menuntut ku untuk membuka surat itu. Aku sedikit terkejut, ketika namaku tercantum dalam surat itu.
"Rabu, 14 Desember 2022. Pagi itu aku menatapmu dari jauh. Aku tidak tau kenapa jantung ini berdebar tak karuan. Aku berusaha menyimpan perasaan ini, sudah sejak lama. Tetapi hari ini, aku mau menyatakan satu hal, aku orang yang memberi mu teh hangat itu dan aku orang yang sudah jatuh cinta denganmu sejak lama. Apakah kamu mau membangun cinta denganku!!".
Hari itu aku masih memikirkan surat tersebut. Aku bukanlah tipe orang yang gampang jatuh cinta. Tetapi entah mengapa setelah membacanya jantungku berdegup kencang. Hingga lonceng masukpun berbunyi. Aku kembali mengikuti les dengan serius. Satu jam berlalu, Akirnya les pun berakir. Aku kembali membaca buku di taman. Dia kembali mendekatiku, tetapi hari ini dia tidak lagi menyodorkan segelas teh. Dia terlihat gugup, tangannya bergetar, dan keringat dingin membasahi kerah bajunya. Entah angin yang munculnya dari mana, aku langsung membuka suara. Surat itu dari kamu ya?. Em iya. Maaf ya. Aku memang pengecut, aku tidak bisa menyatakan perasaan aku secara langsung ke kamu. Tapi aku tidak akan memaksamu untuk menerima surat itu. Aku bersyukur banget karena kamu mau membuka surat itu. Begitu detailnya dia menjelaskan kepadaku. Tidak ada angin tidak ada hujan, aku langsung menyatakan setuju, kalau aku mau membangun cinta dengannya. Diapun begitu senang, raut wajahnya yang keringat dingin, tergantikan dengan senyumannya yang manis. Tiga bulan berlalu. Kami sudah menjalankan hubungan asmara kami sejauh ini. Hingga pada akhirnya kami dipisahkan oleh takdir kami masing-masing. Dia memilih untuk merantau di Bali. Sementara aku, aku tetap bertahan dengan impian dan cita-citaku. Awalnya kami masih berhubungan baik, meskipun jarak memisahkan.
Malam hari pun tiba, kembali kami sekeluarga berkumpul di ruang tamu. Ayah yang selama ini kuat mulai sakit-sakitan. Ibu yang selama ini sebagai ibu rumah tangga mulai mendapatkan peran baru, yaitu sebagai tulang punggung keluarga. Ayah kembali membuka suara, memecahkan keheningan malam. Nak, ayah dan ibu begitu bangga atas pencapaianmu. Ayah dan ibu bangga kamu sudah melangkah sejauh ini. Ayah tau keinginanmu untuk mengejar cita-citamu begitu besar. Ayah dan ibu akan mendukungmu terus. Ayah mau, ketika ayah nanti sudah tiada kamu sebagai anak ayah harus jauh lebih baik dari ayah. Aku kembali menyimak semua kata-kata ayah. Kembali deraian air mata membasahi pipiku. Aku takut ayah dan ibu tidak bisa membayar uang kuliah. Sepengetahuanku uang kuliah jauh berbeda dengan uang sekolah SD,SMP,maupun SMA. Tetapi satu kalimat yang kembali menyemangati aku waktu itu adalah saat ibu mulai angkat bicara. Nak.. kami tau kamu memikirkan biaya, dan juga kondisi kami sebagai orang tua. Tetapi kemarin ibu mendapat tawaran dari orang, bahwa di Flores ada universitas yang bisa kuliah gratis. Aku terkejut sekaligus senang, aku tau maksud ibu. Ibu mengharapkan supaya aku harus bisa lulus tes beasiswa itu. Satu minggu berlalu, aku dinyatakan lolos sebagai salah satu peserta penerima beasiswa. Aku, ayah dan ibu begitu senang. Akhirnya aku kembali menempuh pendidikanku di universitas yang aku kagumi selama ini. Disini aku dibentuk menjadi pribadi yang semakin dewasa. Satu tahun aku di universitas, aku begitu bangga dengan pencapaianku. Kebahagiaan menyelimuti hatiku. Tetapi kebahagiaan itu tidak berujung lama, suatu ketika aku begitu merindukan kedua orangtuaku, entah kenapa aku merindukan mereka sampai tetesan air mataku kembali membasahi pipi. Sebenarnya aku ingin memberi tahukan kepada orang tuaku bahwa sebentar lagi aku ujian. Hingga siang harinya, aku langsung menghubungi kedua orangtuaku. Tetapi saat itu, panggilannya di angkat oleh kakak iparku. Awalnya kakak iparku, tidak mau menceritakan kepadaku soal ayah. Tetapi setelah aku mendesak, mau berbicara dengan mereka akirnya kakak iparku menceritakan semuanya. " Dek.. Ayah saat ini di rujuk ke Rumah sakit". Mendengar itu aku langsung drop, dunia terasa gelap, aku menangis sekencang-kencangnya. Tetapi kakak iparku, menenangkan aku lewat telepon, " dek, kamu harus tenang, kamu tidak boleh menangis doakan saja, semoga ayah baik-baik saja. Kamu harus Fokus dengan kuliahmu. Malam harinya tiba, aku mulai fokuskan pikiranku dengan buku-buku yang berceceran di atas meja belajar. Aku tidak lagi memikirkan kondisi ayah, karena aku mau aku harus bisa nunjukin ke ayah kalau aku bisa menjadi anak kebanggaannya. Aku memilih belajar di ruangan yang sunyi, Handphone ku titipkan di temanku. Tetapi, yang tidak aku ketahui, ternyata ayah malam itu mau bicara denganku. Tibalah tepat pukul 10.00, aku kembali membereskan semua buku-buku itu, kemudian menuju kamar tidur. Sesampainya di kamar aku langsung membaringkan tubuhku, selang beberapa detik temanku mengantarkan handphone ke tempat tidurku. Tetapi Ia tidak menceritakan kalau ada yang menelpon saat aku di ruang belajar. Entah apa yang merasukinya malam itu, sampai dia lupa memberitahu. Hingga tepat, pukul 11.30 handphoneku kembali berbunyi. Aku langsung gercep mengangkat telepon tersebut. Aku begitu lemah, ketika melihat ibuku menangis dilayar handphone tersebut. Aku tidak langsung tanya, mengapa? Tetapi aku sudah merasakan ada sesuatu yang hilang dari tubuhku. Ayahhh... Orang yang menyuruhku untuk berproses, tetapi tidak lagi hadir dalam proses itu. Orang yang menyuruhku untuk melangkah sejauh ini, orang yang memberikan 100% energinya untuk mendukung cita-citaku. Kini sosok itu sudah tiada. Ia berbaring di kedinginan malam, tanpa nyawa. 😭😭 Malam itu menjadi malam, yang paling aku benci. Malam itu menjadi malam yang membuat impianku hilang. Aku tidak tau lagi apakah aku bisa tanpa sosok ayah. Dalam kesedihan itu aku tetap percaya, bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata. Tuhan tidak pernah menguji hambanya,di luar batasannya. Dan Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan baik. Akhirnya sampai titik ini, aku masih diperkenankan untuk meneruskan impian dan cita-citaku.