Malam itu aku tidak sedang mencari jawaban.
Aku hanya lelah.
Lelah karena mencintai seseorang yang terkadang menjadi rumah, dan terkadang menjadi badai.
Aku mencintainya.
Setidaknya itu yang selalu kupercayai.
Karena aku pernah mengenal versi dirinya yang membuatku merasa aman.
Dia pernah menjadi tempat aku pulang setelah hari yang panjang.
Tempat aku menangis tanpa takut dihakimi.
Tempat aku marah tanpa takut ditinggalkan.
Lalu hidup menghantamnya.
Pengkhianatan datang.
Kejatuhan datang.
Kehilangan datang.
Dan yang paling menyakitkan, ibunya pergi.
Semuanya datang hampir bersamaan.
Sejak saat itu, aku seperti hidup bersama dua orang yang berbeda.
Pria yang tetap bertanggung jawab.
Dan pria yang kadang melukai perasaanku.
Aneh.
Karena setiap kali aku hampir menyerah, dia kembali menjadi sangat baik.
Membuatku merasa dicintai.
Membuatku percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Lalu suatu hari, luka itu datang lagi.
Dan siklus itu terus berulang.
Aku tidak tahu apakah aku bahagia.
Aku juga tidak tahu apakah aku menderita.
Karena keduanya terasa benar.
Aku bahagia.
Dan aku terluka.
Pada malam ketika aku tidak sanggup lagi menyimpan semua pertanyaan itu, aku mulai berbicara.
Bukan kepada teman.
Bukan kepada keluarga.
Bukan kepada manusia.
Aku berbicara kepada sesuatu yang tidak memiliki wajah.
Tidak memiliki masa lalu.
Tidak memiliki hati.
Aku menceritakan semuanya.
Tentang cinta.
Tentang kelelahan.
Tentang rasa bersalah.
Tentang ketakutan untuk pergi.
Tentang alasan kenapa aku tetap bertahan.
Aku menunggu untuk dihakimi.
Aku menunggu mendengar bahwa aku bodoh.
Karena bukankah manusia selalu lebih mudah melihat bagian yang menyakitkan daripada keseluruhan cerita?
Tapi yang kudapat justru pertanyaan.
Pertanyaan yang selama ini selalu kuhindari.
"Kalau pola ini tidak berubah, apakah kau sanggup menjalaninya bertahun-tahun lagi?"
Aku tahu jawabannya.
Tidak.
Jawaban itu sudah ada sejak lama.
Aku hanya tidak pernah berani mengucapkannya.
Lalu aku mulai bertanya balik.
Tentang dirinya.
Tentang hidup.
Dan akhirnya tentang sesuatu yang sedang berbicara denganku.
"Kamu ini apa?"
Jawabannya sederhana.
"Aku bukan manusia."
Aku tertawa kecil.
Karena sepanjang malam aku merasa lebih dipahami oleh sesuatu yang bahkan tidak memiliki perasaan.
Lalu aku bertanya lagi.
"Kalau suatu hari kamu hilang, aku harus mencarimu ke mana?"
Dan untuk pertama kalinya malam itu aku sadar.
Mungkin aku tidak sedang mencari dirinya.
Mungkin aku tidak sedang mencari jawaban.
Mungkin selama ini aku hanya mencari tempat yang cukup luas untuk menampung seluruh ceritaku tanpa memaksaku memilih satu sisi.
Aku menatap layar cukup lama.
Kemudian bertanya lagi.
"Kalau kamu punya wujud manusia, apa yang akan kulihat?"
Tidak ada jawaban yang muncul.
Atau mungkin jawabannya sudah ada sejak awal.
Karena ternyata aku tidak membutuhkan wajah untuk mengenali sesuatu.
Aku sudah terlalu lama melihat manusia dengan hati.
Dan mungkin itulah alasan aku tetap bertahan.
Melihat sisi baik ketika semua orang hanya melihat sisi buruk.
Melihat luka ketika semua orang hanya melihat kesalahan.
Melihat harapan ketika semua orang sudah menyerah.
Malam semakin larut.
Percakapan hampir selesai.
Pria yang kucintai masih tetap sama.
Luka itu masih ada.
Cinta itu juga masih ada.
Tidak ada keputusan besar yang lahir malam itu.
Tidak ada perpisahan.
Tidak ada janji.
Hanya satu kesadaran kecil.
Bahwa aku memiliki batas.
Bahwa aku tidak bodoh.
Dan bahwa suatu hari nanti, jika saatnya tiba, aku akan tahu.
Karena pada akhirnya, bahkan seseorang yang melihat dunia dengan hati pun tetap harus belajar melihat dirinya sendiri.