*Mungkin Aku Memang Pertama, Tapi Tak Selamanya*
Gaun itu masih muat.
Warna dusty pink, bahan satin yang kalau kena lampu jadi kayak kulit persik. Bagian punggungnya V dalam, ada pita kecil buat diikat. Dulu aku nggak berani pakai baju kebuka segitu. Katanya, “Kamu malu-maluin, tapi kalau sama aku, malunya jadi lucu.”
Gaun itu dia yang belikan. Dua tahun lalu. Ulang tahun aku yang ke-21. Gajinya waktu itu baru cair, dia rela nggak jajan sebulan demi gaun yang “pas banget sama kulit kamu”.
Hari ini aku pakai lagi. Bukan karena aku belum move on. Tapi karena ini satu-satunya gaun bagus yang aku punya, dan undangan pernikahannya tertulis “dress code: formal”.
Pengantinnya Arka. Sahabat kuliahku. Cowok yang ujungnya bukan aku.
---
Aku kenal Arka sejak OSPEK. Dia anak teknik yang logikanya lurus, tapi kalau ngomongin kopi bisa muter dua jam. Aku anak sastra yang suka bikin kalimat nggak selesai. Kami ketawa sama-sama di sela ketidakcocokan itu.
Jadian di tahun kedua. Nggak ada nembak-nembakan. Tiba-tiba aja dia nyodorin kopi tubruk, terus bilang, “Kalau pahitnya bisa kamu nikmatin, berarti kita cocok.”
Empat tahun kami bareng. Empat tahun yang isinya dia ngajarin aku bedain robusta sama arabika, aku ngajarin dia bedain “aku capek” sama “aku butuh dipeluk”. Kami bertengkar hebat cuma dua kali. Pertama soal masa depan: dia mau kerja di Jakarta, aku mau S2 di Jogja. Kedua soal keluarga: mamanya nggak suka aku, karena aku “anaknya nggak jelas, kuliahnya lama”.
Putusnya pelan. Nggak ada yang selingkuh. Nggak ada yang teriak. Cuma tiap malam obrolan kami makin pendek. “Udah makan?” “Udah.” “Oke, istirahat ya.” Sampai akhirnya satu hari dia bilang, “Kayaknya kita capek jadi rumah buat satu sama lain.”
Aku nangis tiga hari. Hari keempat aku simpan gaun dusty pink itu ke kardus paling atas lemari. Kardus yang aku kasih lakban, tulisannya “JANGAN BUKA”.
Tahun lalu dia kirim chat: “Gue mau nikah, Ra. Sama Dara. Anaknya temen nyokap.” Aku bales: “Selamat ya, Ka. Bahagia terus.” Jempolku gemetar, tapi aku kirim juga emoji jempol.
Undangan digitalnya datang bulan lalu. Aku hampir nggak datang. Tapi Arka nulis di akhir: “Dateng ya. Kamu bagian dari cerita gue. Nggak enak kalau babnya nggak lengkap.”
Jadi aku datang. Pakai gaun dusty pink itu. Rambut dikuncir rendah, lipstik nude, sandal hak 5 cm yang bikin betis pegal. Aku nggak mau kelihatan kayak “mantan yang masih luka”. Aku mau kelihatan kayak “mantan yang udah berdamai”.
---
Gedung pernikahannya mewah tapi nggak norak. Banyak bunga putih. Banyak tawa. Aku duduk di baris keempat, sebelah Mbak Rani, temen Arka juga.
Pas ijab kabul, suaraku ikut bergetar. Bukan karena sedih. Karena aku baru sadar: aku nggak cemburu sama Dara. Aku cemburu sama versi aku yang dulu. Versi aku yang gampang ketawa karena Arka nyebut “robustanya kurang nendang, kayak kamu kalau bangun tidur”. Versi aku yang percaya kalau cinta itu cukup buat ngalahin beda kota, beda visi, beda restu.
Dara cantik. Gaunnya putih, megah. Tapi senyumnya kikuk pas disuruh suapin Arka. Arka yang bantuin. Tangannya tetap sama: tangan yang dulu ngikat pita di punggung gaunku, sekarang motong kue buat istrinya.
Resepinya mulai. Aku ambil risoles. Nggak enak. Tapi aku kunyah pelan-pelan biar nggak kelihatan canggung.
“Ra?”
Suara itu. Empat tahun aku hafal nada naik-turunnya.
Aku nengok. Arka. Jasnya hitam, dasinya udah agak kendor. Di sebelahnya Dara, megang buket.
Aku berdiri. Agak kikuk karena haknya tinggi. “Hai. Selamat ya, kalian berdua. Cantik banget, Dar.”
Dara nyengir malu. “Makasih, Mbak. Mas Arka cerita banyak tentang Mbak. Katanya Mbak jago bikin caption puitis.”
Aku ketawa. “Itu dulu. Sekarang captionku isinya ‘diskon 50%’ doang.” Aku kerja di admin marketplace sekarang. Hidupku nggak sepuitis dulu.
Arka ngeliat aku dari atas ke bawah. Matanya berhenti sebentar di pita kecil di punggungku. Dia tau itu pita yang dulu dia yang ikatin karena aku nggak bisa.
“Gaunnya...” katanya pelan. Nggak selesai.
Aku bantuin nyelesaiin. “Iya. Gaun yang kamu beliin dulu. Masih muat. Berarti aku nggak banyak berubah ya. Masih segini-gini aja.” Aku nepuk perutku, ngeledek diri sendiri.
Arka ketawa kecil. Tapi ketawanya nggak sampe mata. “Kamu... kelihatan bagus, Ra.”
Dara nyolek lengan Arka. “Mas, foto kita sama Mbak Ra yuk. Buat kenang-kenangan.”
Kami bertiga foto. Aku di tengah, kayak dulu waktu kami bertiga sama Mbak Rani. Bedanya, sekarang tangan Arka nggak di bahuku lagi. Dia di bahu Dara. Dan itu nggak sakit. Anehnya.
Setelah foto, Arka narik aku dikit ke samping. “Boleh ngobrol bentar?”
Kami ke balkon kecil belakang gedung. Anginnya kencang. Pita di punggungku berkibar. Dia nawarin jasnya. Aku tolak. “Nggak usah. Aku kuat kok kedinginan.”
Dua detik diem. Terus dia ngomong: “Maaf ya, Ra. Dulu gue nggak bisa ngasih kamu kepastian yang kamu mau. Gue terlalu takut gagal kalau ninggalin Jakarta. Gue pengecut.”
Aku geleng. “Nggak usah minta maaf, Ka. Kita putus baik-baik. Kamu pilih jalan kamu, aku pilih jalanku. Sakitnya udah, sekarang tinggal bekasnya doang.”
“Kamu benci gue nggak?” tanyanya jujur banget. Kayak dulu kalau dia nanya “kopinya kurang gula nggak?”
Aku mikir. Beneran mikir. “Benci? Nggak. Kecewa? Iya, dulu. Tapi sekarang... makasih ya udah pernah jadi rumahku, walau sementara.”
Arka nunduk. “Gue seneng kamu dateng. Gue takut kamu nggak dateng, terus gue ngerasa kayak bab penting dalam hidup gue hilang tanpa pamit.”
“Kamu nggak hilang, Ka. Kamu pindah ke bab baru. Bab aku juga udah ganti. Bab yang isinya aku belajar masak sendiri, nggak nunggu kamu bilang ‘kopinya aku yang bikin ya’.”
Dia senyum. Kali ini sampe mata. “Kamu emang jago bikin kalimat yang nggak selesai, tapi bikin orang ngerti.”
“Berkat kamu juga. Dulu kamu yang ngajarin aku kalau nggak semua cerita harus happy ending. Ada yang endingnya ‘mereka berdua memilih bahagia, tapi nggak bareng’.”
Kami diem lagi. Kali ini diemnya nyaman. Kayak dulu waktu kami nongkrong di kafe, nggak ngomong apa-apa tapi nggak canggung.
Dari dalam kedengeran MC manggil: “Mempelai pria dimohon kembali ke pelaminan untuk sesi foto keluarga.”
Arka berdiri. “Gue balik dulu ya.”
Aku manggut. Terus, nggak tau kenapa, aku muterin badan dikit. “Ka.”
Dia nengok.
“Tolong iketin pita ini ya. Tangan aku nggak nyampe.” Bohong. Aku bisa. Tapi aku kangen rasanya ada yang benerin hal kecil buat aku.
Arka diem dua detik. Terus dia maju. Jari-jarinya masih sama: hangat, agak kasar karena dulu suka ngoprek motor. Dia ikat pitanya pelan-pelan. Nggak buru-buru. Kayak dulu.
“Udah,” bisiknya di belakang telingaku. Napasnya masih bikin aku merinding, tapi sekarang merindingnya nggak bikin mau nangis. Cuma... nostalgia.
“Makasih,” kataku tanpa nengok. “Jaga Dara baik-baik ya. Dia beruntung.”
“Kamu juga beruntung, Ra. Kamu beruntung karena kamu berani pergi dari orang yang nggak bisa kasih kamu rumah. Dan kamu bakal nemu rumah baru. Yang pintunya nggak dikunci dari luar.”
Aku nengok. Senyum. “Amin. Kamu juga.”
Dia jalan masuk. Punggungnya tegak. Jas hitamnya nyatu sama keramaian. Aku liatin sampe dia ketawa bareng bapaknya Dara.
Aku duduk lagi. Mbak Rani nyodorin aku es teh. “Kuat ya kamu, Ra.”
Aku nyeruput. Manisnya pas. “Kuat, Mbak. Dulu aku mikir kalau cinta itu harus jadi yang terakhir. Ternyata ada cinta yang cukup jadi yang pertama. Yang ngajarin kita caranya dicintai, biar pas orang berikutnya dateng, kita udah tau jalannya.”
Acara selesai jam 9 malam. Aku pulang naik ojek online. Di jalan, aku buka kaca. Angin masuk, ngangkat rambutku. Gaun dusty pink itu berkibar.
Aku nggak nangis. Beneran. Dulu aku kira kalau ketemu dia lagi aku bakal runtuh. Ternyata aku cuma... lega. Lega karena kami berdua udah di tempat yang seharusnya. Dia jadi suami orang. Aku jadi perempuan yang udah nggak nunggu dipilihin.
Sesampainya di kos, aku buka lakban kardus “JANGAN BUKA” yang dulu. Di dalamnya nggak cuma gaun. Ada surat yang belum pernah aku kasih ke dia. Surat yang aku tulis malam setelah kami putus.
_Ka,
Kalau kamu baca ini, berarti aku udah nggak ada di hidup kamu. Atau kamu udah nggak ada di hidup aku. Nggak apa-apa.
Makasih ya udah jadi orang pertama yang ngajarin aku kalau aku pantas diprioritasin. Maaf ya kalau aku pernah maksa kamu jadi prioritas satu-satunya.
Gaun ini aku simpan. Bukan buat nunggu kamu. Tapi buat ngingetin aku: aku pernah dicintai sedetail itu. Sampai ada cowok yang hafal ukuran pinggang aku.
Semoga kamu bahagia. Semoga aku juga.
- Aku yang dulu_
Aku sobek surat itu kecil-kecil. Terus aku masukin ke vas bunga kering di meja. Biar jadi dekorasi. Kenangan nggak harus dibuang. Bisa ditaruh di sudut, jadi hiasan.
Sebelum tidur, aku liat kaca. Gaun itu masih nempel di badan. Aku buka pelan, lipat rapi, gantung di hanger. Besok mau aku hibahin ke yayasan. Biar ada perempuan lain yang ngerasa cantik pake gaun itu di pesta, di wisuda, di apapun. Biar gaun ini nggak cuma jadi saksi patah hati. Tapi jadi saksi perempuan-perempuan yang terus jalan.
Aku rebahan. Langit-langit kosku masih bocor dikit kalau hujan. Tapi malam ini nggak hujan.
Aku merem. Di kepala nggak ada Arka lagi. Yang ada aku. Aku yang dulu takut nggak ada yang mau. Sekarang aku tau: mungkin aku memang pertama buat Arka. Tapi aku nggak harus jadi yang terakhir buat bahagia.
Dan itu cukup.
Cukup banget.