Gerimis sore itu seolah menertawakan ketukan jantung Amanda. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menyodorkan sebuah kotak bekal berisi kue cokelat buatan sendiri kepada lintang, ketua OSIS sekaligus kakak kelas yang sudah setahun ini mencuri perhatiannya."Kak, ini ada kue buat Kak Lintang," ucap Amanda dengan suara lirih.Lintang menerima kotak itu, namun matanya tetap tertuju pada layar ponsel. "Oh, makasih ya, Man."Tepat saat itu, sebuah notifikasi muncul di ponsel Lintang. Senyum cowok itu langsung merekah—sebuah senyuman tulus yang tidak pernah Amanda dapatkan. Lintang langsung mengetik balasan dengan antusias. Amanda tahu betul senyum itu milik siapa. Kak Lintang menyukai Kak Sheila, siswi populer di kelas sebelah.Kenyataan bahwa Lintang menyukai orang lain bukanlah rahasia lagi. Lintang pun sebenarnya tahu kalau Amanda menyimpan rasa padanya. Perhatian Amanda yang berlebih, tatapan matanya, hingga bekal-bekal kecil itu sudah menjadi petunjuk yang sangat jelas. Namun, Lintang memilih tidak peduli. Bagi Lintang, Amanda hanyalah adik kelas biasa yang melintas di hidupnya.Ironisnya, takdir seolah sengaja mempermainkan Amanda. Sekolah mereka tidak terlalu besar, membuat keduanya sangat sering berpapasan. Setiap kali berpapasan di koridor, Amanda akan menahan napas, berharap ada sedikit anggukan atau sapaan. Namun, Lintang selalu berjalan melewatinya begitu saja, sibuk mengobrol dengan temannya atau asyik dengan dunianya sendiri.Puncaknya adalah saat proyek kolaborasi antar-kelas. Nama mereka berdua terpilih dalam satu kelompok kecil untuk mengurus pensi sekolah. Selama berminggu-minggu, Amanda harus duduk berdekatan dengan Lintang, membahas dekorasi dan anggaran.Berada di dekat Lintang adalah kombinasi antara kebahagiaan dan siksaan bagi Amanda. Ia bisa menghirup wangi parfum Lintang dan mendengar suaranya dari dekat. Namun, di saat yang sama, Amanda harus menyaksikan bagaimana Lintang mendadak hilang fokus dan tersenyum sendiri saat Kak Sheila berjalan melewati ruang rapat mereka. Lintang benar-benar menjaga jarak profesional, tanpa sedikit pun memberikan ruang bagi perasaan Amanda.Sadar bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan diabaikan, Amanda mulai mengambil keputusan besar. Ia harus melupakan Lintang.Amanda mulai menyibukkan diri. Ia mengambil kelas bahasa asing di luar sekolah, menghapus nomor kontak Lintang, dan sengaja memutar jalan lewat lapangan belakang agar tidak perlu berpapasan dengan Lintang di koridor utama. Setiap kali bayangan senyum Lintang muncul di benaknya, Amanda buru-buru menepisnya dengan membaca buku atau mendengarkan lagu berirama cepat.Waktu terus bergulir hingga tibalah hari kelulusan kelas dua belas. Hari itu, riuh tangis dan tawa memenuhi halaman sekolah. Amanda melihat Lintang dari kejauhan, memakai selempang kelulusan, tertawa bersama teman-temannya.Kabar yang Amanda dengar, Lintang diterima di universitas ternama di luar kota dan akan pindah dalam beberapa hari. Amanda memilih tidak mendekat. Ia tidak memberikan surat perpisahan atau hadiah terakhir. Ia hanya memandang punggung Lintang yang perlahan berjalan menjauh, keluar dari gerbang sekolah, membawa seluruh dunianya pergi ke kota yang baru. Amanda menarik napas lega, berpikir bahwa dengan perpisahan fisik ini, perasaannya juga akan ikut terkubur.Satu tahun berlalu, kini Amanda yang berada di posisi Lintang, mengenakan seragam putih abu-abu di hari kelulusannya.Malam harinya, saat Amanda sedang merapikan kamar dan menyortir barang-barang sekolah, ia menemukan sebuah pulpen hitam di laci mejanya. Pulpen itu adalah pulpen yang dipinjamkan Lintang saat mereka kerja kelompok dulu, yang lupa Amanda kembalikan.Amanda memandangi pulpen itu cukup lama. Detik itu juga, dadanya mendadak sesak. Memori tentang koridor sekolah, aroma parfum Lintang, suara tawanya saat rapat, hingga rasa sakit saat diabaikan kembali berputar di kepalanya dengan sangat jelas.Amanda terduduk di tepi tempat tidur, menatap ke luar jendela kamar yang menampilkan langit malam. Jarak ratusan kilometer dan waktu satu tahun ternyata tidak mengubah apa pun. Kak Lintang telah lama pergi menjalani hidup baru di kota lain, mungkin sudah bahagia dengan orang lain. Namun di sini, di sudut kamar ini, Amanda menyadari satu kenyataan pahit: hatinya masih tertinggal pada orang yang sama, dan ia tetap tidak bisa melupakannya.