Bagi Raelyn, rumah bukan sekadar bangunan dengan dinding dan atap. Rumah adalah tempat ia bisa melepaskan semua topeng yang dipakainya di luar. Di luar sana, Raelyn dikenal kuat, pendiam, dan selalu terlihat baik-baik saja. Tapi di dalam rumah, ia boleh lelah. Ia boleh diam tanpa harus menjelaskan apa pun.
Setiap sore, Raelyn suka duduk di dekat jendela kamarnya. Angin masuk pelan, membawa suara pohon dan aroma hujan yang tersisa. Di sanalah ia merasa paling aman—seolah dunia tak menuntut apa pun darinya. Rumah mengajarkannya bahwa pulang bukan tentang siapa yang menunggu, tapi tentang menerima dirinya sendiri apa adanya.
Meski kadang rumah terasa sunyi, Raelyn tahu satu hal: selama ia bisa kembali dan menjadi dirinya sendiri, selama itu pula rumah akan selalu ada di hatinya.