Namaku Ujang. Aku pemilik warung bubur kecil di pinggiran kota. Salah satu pelanggan tetapku adalah seorang wanita bernama Aminah – ia sudah janda setahun setelah suaminya pergi bersama seorang teman kerja tanpa kabar.
Kita mulai akrab ketika ia meminta rekomendasi bubur yang cocok untuk sarapan. Aku memberinya bubur ayam yang lezat, dan dari situlah kita sering berbincang tentang banyak hal – dari resep bubur hingga cerita kehidupannya yang seringkali sendirian setelah suami pergi.
"Aku merasa seperti kehilangan semua arah setelah suami pergi," katanya suatu sore dengan mata merah. "Aku tidak tahu harus ke mana atau siapa yang bisa aku ajak bicara."
"Aku bisa memberikanmu tempat untuk duduk di sudut warungku setiap sore," jawabku pelan. "Kamu bisa datang kapan saja – hanya untuk bersantai atau bekerja. Tidak ada yang akan mengganggumu."
Sejak itu, ia sering datang ke warungku setiap sore. Aku selalu menyediakan tempat yang tenang untuknya, memberinya bubur hangat, dan hanya mendengarkan cerita hidupnya dengan penuh rasa hormat. Aku tidak pernah memberikan harapan palsu atau melakukan sesuatu yang bisa salah artian. Aku hanya menjadi teman yang ingin membantu.
Ketika ia akhirnya membuka usaha kecil sendiri menjual makanan ringan, ia datang mengucapkan terima kasih. "Terima kasih telah selalu membantu aku dengan tulus – bukan seperti orang lain yang mungkin akan mengambil keuntungan," katanya dengan senyum hangat.
Kini, warungku tetap ramai dengan pelanggan yang bahagia. Setiap kali aku melihat Aminah sedang berjualan dengan senyumnya yang hangat, aku merasa puas. Aku hanya seorang pemilik warung yang memberikan ketenangan bagi orang lain – bukan seseorang yang pernah berpikir untuk merusak apa pun.