Malam itu salju turun lebih tebal dari biasanya, menutup jejak darah di halaman istana.
Adelaide bukan putri yang ditunggu. Dia anak haram Marquess yang dikurung di sayap barat selama 18 tahun. Satu-satunya teman dia: bayangannya sendiri, dan sebuah locket perak berisi rambut ibunya. Sampai pria itu datang.
Dorian Valefort. Adik dari tunangan kakaknya. Pria dengan rambut hitam dan mata sedingin musim dingin. Dia dikirim untuk "mengawasi" Adelaide sampai hari pernikahan kakaknya tiba. Tapi yang dia awasi bukan Adelaide... melainkan rahasia yang Adelaide bawa.
"Jangan keluar setelah lonceng tengah malam," bisiknya malam pertama. "Istana ini memakan janji."
Adelaide mengira itu ancaman. Ternyata peringatan.
Setiap malam, dia mendengar piano dari ruang bawah tanah yang katanya sudah terkunci 30 tahun. Setiap pagi, mawar merah di kamarnya layu, diganti mawar putih. Dan Dorian selalu ada di sana, menatapnya seperti dia tahu sesuatu yang Adelaide sendiri lupa.
Rahasianya sederhana tapi mematikan: Adelaide bukan anak haram. Dia ahli waris sah. Ibunya dibunuh, identitasnya ditukar. Locket itu bukan kenang-kenangan. Itu kunci brankas yang berisi surat wasiat asli.
Dorian tahu. Sejak awal dia tahu. Dia datang bukan untuk melindungi Adelaide, tapi untuk memastikan dia nggak pernah menemukan kebenaran itu. Karena kalau Adelaide jadi Marquess, seluruh keluarga Valefort akan hancur. Termasuk dia.
Tapi salju punya caranya sendiri.
Semakin dekat hari pernikahan kakaknya, semakin Dorian kehilangan kendali. Dia mulai mengajarinya piano di tengah malam. Mulai menaruh mawar putih segar sebelum dia bangun. Mulai berdiri di depan pintu kamarnya saat suara langkah kaki mendekat.
"Cinta adalah penyakit paling jujur," katanya suatu malam, jari mereka bersentuhan di tuts piano. "Dia bikin pembohong jadi jujur, dan pembunuh jadi pengecut."
Malam sebelum upacara pertukaran identitas, Adelaide membuka brankas. Surat wasiat itu nyata. Namanya tertulis di sana.
Dan di balik surat itu, ada sketsa: ibunya, dan Dorian kecil yang digandeng tangannya. Mereka bersaudara tiri.
Adelaide tertawa. Pelan, lalu pecah. 18 tahun dikurung. Pria yang dia mulai cinta ternyata darahnya sendiri. Rencana balas dendamnya, cinta yang tumbuh, semuanya... sia-sia.
Dorian masuk saat itu juga. Dia lihat suratnya. Wajahnya nggak berubah, tapi tangannya gemetar.
"Bunuh aku," bisik Adelaide, menyodorkan belati. "Keluargamu aman. Janjimu terpenuhi."
Dorian mengambil belati. Tapi bukan untuk menusuk Adelaide. Dia memotong telapak tangannya sendiri, lalu menekan darahnya ke locket perak itu. Locket terbuka, memperlihatkan kompartemen kedua: surat dari ibu mereka berdua.
"Aku nggak pernah mau tahta," katanya, suaranya serak. "Aku dikirim ke sini karena aku satu-satunya yang bisa membakar istana ini tanpa ragu. Tapi aku nggak bisa membakarmu."
Di luar, kakaknya menyalakan obor. Kebakaran sudah dimulai. Kalau Adelaide nggak mati malam ini, rahasia akan terbongkar. Kalau rahasia terbongkar, perang akan pecah.
Adelaide menatap Dorian. Pria yang berbohong padanya, melindunginya, mencintainya dengan cara yang salah.
Dia mengambil locket, menggenggam tangan berdarah Dorian, dan berbisik, "Kalau salju menelan janji... biar kita yang jadi saljunya."
Pintu terbanting terbuka. Api menjilat tirai. Dan di tengah reruntuhan istana, dua orang dengan darah yang sama memilih berlari ke arah yang berlawanan dari dunia.
Mereka nggak dapat tahta. Nggak dapat nama baik. Tapi mereka dapat satu hal yang istana nggak bisa berikan: janji yang nggak ditelan salju.
END
Mau lagi yang lain?